Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Gangguan saat makan malam



🌾🌾🌾🌾🌾


Hingga malam Tasya juga Faisal berasa di panti, membantu bebenah di sana hingga hampir sembilan puluh persen. Kalau di pesantren sudah banyak yang bantu, tapi kalau di panti?


Di perjalanan pulang mereka sempatkan dulu untuk membeli makan malam. Tidak di tempat yang mewah sih, hanya di warung biasa saja sudah cukup untuk mereka.


Makanan yang enak tidak hanya di tempat yang mewah, yang terpenting tempatnya nyaman dan juga bersih bisa jadi makanannya kuga enak.


Makan malam mereka juga menjadi lebih istimewa meski tempatnya ramai dan penuh, tapi itulah yang menjadi kesan bagi mereka berdua. Bukankah itu artinya makanan di sana memang sangat enak?


Begitu manja Faisal saat ini, lagi-lagi tingkahnya hanya membuat Tasya menggeleng namun merasa sangat geli karena lucu. Masak iya, Faisal yang sudah segede itu minta di suapin oleh Tasya, bukankah itu kebalik?


Tidak biasa kan Faisal meminta seperti itu karena biasanya dia yang akan menyuapi Tasya. Tapi sekarang? Seakan terbalik sikap mereka berdua.


Dengan senang hati Tasya melakukan, tapi lebih senang hati Faisal mendapatkan perhatian juga suapan dari Tasya. Faisal begitu lahap, seperti anak kecil yang sedang mendapatkan suapan demi suapan dari ibunya, nikmat sekali bukan?


Senyum terus mengembang di bibir Faisal, matanya memandang wajah istrinya yang terlihat berbeda. Yah! Berbeda karena senyum yang keluar seperti senyuman yang begitu kaku.


Inginnya menikmati secara bersama-sama tapi malah sebaliknya, Faisal yang begitu menikmati sementara Tasya hanya terus menyuapinya dan kini makanannya sendiri masih utuh.


Tak sedikit yang melihat apa yang terjadi, ada yang hanya sebatas tersenyum, ada yang berbisik iri dan meminta pasangannya dengan hal yang sama, tapi ada juga yang bicara sedikit nyinyir. Itulah serba-serbi kelakuan manusia.


"Mas, makan sendiri ya. Tasya juga pengen makan nih," Tasya ingin melakukan nego, siapa tau suaminya mau mendengar perkataannya dan memberikan izin atas keinginannya.


"Sebentar lagi, kan hanya tinggal sedikit." Faisal hanya tersenyum sembari mengatakan itu.


Astaghfirullah, sepertinya Tasya harus benar-benar bersabar saat ini. Entah hanya akan hari ini saja atau sampai besok-besok, semoga saja tidak akan berlarut-larut.


Meski melakukan keinginan suami dan mematuhinya akan menjadi ladang pahala untuknya tapi lama-lama juga akan bosan kan? Di tambah lagi dengan kemanjaan Faisal yang tak ketulungan.


Baru sehari saja Tasya sudah terus beristighfar, bagaimana kalau sampai dalam waktu yang panjang?


Brakk...


Kenyamanan semua orang yang ada di rumah makan itu harus terganggu dengan kedatangan dua preman dengan wajah garangnya. Matanya melotot tajam dengan tangannya yang menggebrak salah satu meja yang ada tepat di depan pintu.


"Minta makan!" seruannya begitu keras, membuat para pengunjung mulai bergidik ngeri dan jelas saja tak berani melihat kearah dua preman itu.


"Kenapa lihat-lihat!" ucapannya juga begitu bengis ketika melihat ada seseorang yang melirik takut kearahnya. Terlihat orang itu sangat takut, tapi juga ada rasa penasaran awalnya hingga dia melihat dan berujung mendapatkan teguran sadis.


Orang itu seketika memalingkan wajah, tentu saja dia sangat takut. Melihat tubuh besar dengan otot-otot kuat itu siapa yang tidak akan takut. Di tambah lagi dengan wajah mereka yang lebih seram.


Kedua orang itu nampak menyeringai karena tak ada yang berani melihat mereka berdua. Matanya seakan mengelilingi tempat yang tak begitu luas itu, mengabsen satu persatu orang yang ada.


Tasya juga Faisal tetap tenang dan tak merasa terganggu, selama mereka tidak mengganggu mereka jelas mereka berdua akan diam.


"Hahaha, lihatlah itu. Dasar laki-laki tidak berguna. Apakah dia cacat sampai-sampai makan saja minta di suapin? Hahaha!" tawanya. Jelas dia mengejek Faisal yang masih di suapin oleh Tasya.


"Nasibmu sungguh buruk, dapat laki nggak guna seperti itu. Mending dengan ku saja, aku akan menjadikan kamu ratu bukan babu," timpal satunya seraya melirik kearah Tasya.


Tasya juga Faisal tetap diam dan tak menanggapi, menanggapi orang seperti mereka hanya akan membuang-buang tenaga saja, lagian juga tidak ada faedahnya.


Bukannya menghentikan Tasya malah semakin semangat menyuapi Faisal, begitu juga dengan Faisal yang semakin menikmati. Memang sangat enak makan di suapi seperti itu.


"Cari masalah mereka," Satunya beranjak karena kesal ucapannya tidak di gubris oleh Tasya juga Faisal. Kakinya melangkah dengan tergesa-gesa menuju tempat keduanya berada.


Brakk...


"Hey, sombong sekali kalian! Kalian tidak mengenal ku?!" Pekik nya dengan marah.


Tasya menoleh malas, tangannya masih tertahan di udara dengan memegangi sendok yang penuh.


"Tidak kenal juga tidak ingin mengenal. Kenapa, masalah?!" jawab Tasya berani.


Meski sekarang terlihat alim karena pakaiannya jiwa Tasya masih belum berubah, jiwa anak jalanan yang begitu bar-bar masih tetap melekat dalam dirinya.


"Ish, songong sekali kau bocah. Di jadikan babu saja sok-sokan," ocehan preman itu masih tidak meledakkan amarah Tasya, dia masih tetap tenang.


Benar kata Faisal, pelajaran yang paling sulit itu adalah belajar sabar dan Tasya baru mempelajarinya sekarang. Entah sampai seberapa pelajaran kesabaran itu bisa dia dapat.


"Songong tidak masalah yang terpenting masih punya etika," Tasya menyeringai, sepertinya akan menyenangkan jika dia bisa meledakkan amarah preman itu lebih dulu.


Penasaran saja, orang yang terlihat sok kuat itu punya kekuatan seberapa besar. Apakah dapat menyaingi kekuatannya? Sombong sedikit tak masalah kali ya menurut Tasya.


Brakk...


"Pedas juga omongan mu," Kembali preman itu menggebrak meja Tasya juga Faisal. Sepertinya usaha Tasya sudah mulai membuahkan hasil.


Dengan preman itu bisa marah berarti Tasya berhasil dalam menghasutnya.


"Siapa bilang, omongan ku tidak sepedas cabai ini. Coba saja kalau tidak percaya," dengan santai Tasya menaikan satu cabai hingga sampai di hadapan wajah preman itu. Siapa yang tidak akan marah kalau sudah seperti itu, apalagi kebiasaan terbesar para preman pasti mereka akan sangat gampang terhasut, mereka akan mudah marah.


Tangannya yang kasar cepat ingin menepis tangan Tasya namun Tasya juga lebih cepat membalikkan tangan hingga tangan mereka tidak berhasil bersentuhan.


Semakin marah preman itu karena usahanya telah gagal, tangannya kini masih berada di udara dengan tatapan mata yang semakin nyalang kearah Tasya yang kini tetap santai.


Faisal hanya bisa menggeleng dengan perbuatan istrinya tersebut, dia masih saja meladeni orang-orang seperti orang yang ada di hadapan mereka saat ini.


"Sudahlah, Sya," Faisal berusaha menegur.


"Sudah apa sih, Mas sayang. Kan Tasya nggak ngapa-ngapain," Tasya malah mencubit gemas pipi Faisal.


Bagaimana? Pastinya preman itu semakin marah melihat kelakuan Tasya.


"Hey! Kau anggap apa saya! Nyamuk?!" serunya.


Kedua bahu Tasya terangkat, bibirnya juga menyeringai sinis.


"Saya tidak mengatakan itu," masih saja Tasya berani, meski dia mengatakan tidak dengan melihat wajahnya.


"Sudah kah, Sya. Nggak enak di lihat orang. Jangan sampai terjadi kekacauan di sini, kasian pedagangnya. Lebih baik sekarang kamu makan, sini makanan mu," Bukannya Faisal takut terjadi sesuatu di sana nantinya, tapi Faisal hanya kasian saja sama pemilik warung kalau sampai terjadi keonaran yang akan merugikan mereka.


Faisal beralih menyuapi Tasya sekarang, punyanya sudah lebih dulu habis dan sekarang adalah gilirannya. Sungguh romantisnya mereka berdua, seandainya tidak ada pengganggu pasti makan malam mereka akan semakin menyenangkan.


Satu suap, dua, tiga, hingga empat..., tak ada pergerakan yang terjadi dari preman itu, tapi dia masih tetap ada di sana.


"Kenapa paman, mau makan juga? Sok atuh pesan. Nanti saya yang bayar," Tasya menoleh, menawarkan kebaikan pada preman itu yang sepertinya tidak mengindahkan kata-katanya.


"Dasar sombong!" kesalnya.


Kembali Tasya menaikan bahunya acuh, dia sudah berniat baik dengan menawarkan kebaikan pada preman itu tapi kalau tidak di terima mau bagaimana lagi?


Lima suap, enam, tujuh, delapan dan sembilan...


Pranks...


Piring Tasya sudah hancur di lantai karena perbuatan preman itu. Dia merasa tidak senang, jelas tidak senang karena keberadaannya tidak di anggap oleh Tasya.


Sungguh berani juga Tasya karena mendiamkan preman penguasa tempat itu.


"Astaghfirullah hal adzim, paman..., tidak baik buang-buang makanan," Tasya berdiri, melihat makanannya yang sudah berserakan. Menyesal, jelas Tasya menyesal.


Bukan karena apa, hanya merasa mubazir saja kan karena harus di buang sia-sia.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung...