
🌾🌾🌾🌾🌾
Baru saja kembali dari acara makan bersama Faisal kini Tasya sudah di hadang oleh Bimo di depan pasar. Wajahnya terdapat kekesalan yang besar membuat Tasya bingung karena dia merasa tak melakukan kesalahan.
Sebenarnya, bukan ada maksud apa-apa Faisal mengajak Tasya dan anak-anak jalanan makan di warung makan tadi. Itu juga tidak di rencanakan karena kebetulan mereka lewat dan melihat Tasya juga anak-anak.
Dan Faisal berinisiatif untuk mengajak makan sekaligus berterimakasih karena Tasya yang sudah menyelamatkan keluarganya dari bahaya.
"Bim, loh kenapa?" Tasya menghentikan langkah dengan kening yang mengernyit. Tak biasanya Bimo terlihat seperti ini.
"Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Tasya lagi. Memang secara nyata Tasya tidak melakukan apapun, dia tak punya masalah tapi Bimo yang membuatnya menjadi masalah.
"Kenapa kamu menerima ajakan pria itu untuk makan bersama? Dia itu orang kaya, Tasya. Apapun bisa mereka lakukan pada kita!"
"Tunggu tunggu, kenapa kamu mulai mengatur ku. Mau aku makan sama siapapun itu bukan urusan mu kan?" Jawab Tasya.
"Memang bukan urusan ku, Tasya. Tapi mereka itu para orang kaya! Bisa saja mereka hanya mau mengambil keuntungan darimu. Aku tidak mau itu, Tasya."
"Keuntungan yang seperti apa maksudmu?" Tasya sudah mulai tak menyukai perkataan Bimo.
"Ya, ya dia kan orang kaya. Bisa saja kan di melakukan sesuatu padamu," Bimo terus berkilah.
"Aku lebih paham ya dengan hidupku sendiri. Mau mereka orang kaya atau tidak bukan urusanku. Aku juga sudah bisa jaga diri, jadi jangan sok perhatian deh," Mungkin terdengar sadis tapi Tasya memang tidak mau hidupnya di campuri orang lain.
Dia akan selalu melakukan apapun yang dia ingin. Meski Faisal orang kaya bukan berarti dia juga menghakimi karena kekayaannya dengan dia tidak mau berteman.
Berteman bisa bebas, siapapun bisa menjadi teman bagi Tasya. Tasya juga bisa menilai mana yang orang benar-benar baik atau yang tidak.
"Tasya, apa kamu tidak memikirkan kejadian kemarin. Orang kaya itu ribet, banyak masalah nyatanya mereka mengalami masalah seperti kemarin. Bagaimana kalau itu juga terjadi padamu, Tasya."
Sebenarnya bukan itu alasan sebenarnya, tapi yang sebenarnya karena Bimo tidak suka Tasya dekat dengan pria lain selain dirinya.
"Udah ya, Bim. Masalah kemarin itu masalah mereka. Kita hanya membantu saja dan itu sudah kelar. Kita tidak bisa memperpanjang atau mengungkit-ungkit masalah mereka, itu bukan ranah kita."
"Jadi, stop mengaturku. Sama siapapun aku berteman itu hak ku. Aku bisa berteman dengan kamu, kenapa aku tidak bisa berteman dengannya? Kaya atau miskin bukan halangan, Bim. Tapi hati kita sendiri yang selalu menjadi penghalangnya!"
Begitu banyak Tasya berbicara.
"Saya mohon, Tasya. Jauhi dia. Dia tidak baik untuk menjadi teman mu!"
"Kenapa, apa kamu pikir kamu juga baik menjadi temanku? Kalau aku mengatakan kamu juga tidak baik berteman dengan ku apa yang akan kamu lakukan, hah!"
"Sudah ya, Bim. Jangan permasalahkan ini lagi. Aku tidak tau masalah mu dengan dia, tapi jangan bawa-bawa aku ke dalam masalahmu. Permisi!"
Tasya berlalu begitu saja meninggalkan Bimo yang kini terpaku dengan rasa yang semakin panas.
"Sabar ya, Bos." Kipli yang lebih dulu mendekat.
"Iya, Bos. Yang sabar." Dadang ikut andil.
"Cinta butuh kesabaran, Bos. Jangan terlalu di tekan nanti ujungnya akan hancur sebelum kesampaian," Kini Agus yang berbicara.
"Arghhh! Jangan ikut campur kalian!" Kini Bimo yang berlalu dan meninggalkan mereka bertiga.
"Ini nih bahayanya orang yang sedang jatuh cinta," Celetuk Dadang.
Semua memang tak bisa di kendalikan dalam urusan cinta. Apalagi cinta buta yang akan membutakan semuanya. Melakukan semua hal tanpa berpikir dan seolah berlaku di bawah kesadaran.
🌾🌾🌾🌾🌾
Tasya terus ngedumel di sepanjang jalannya. Jelas tak habis pikir dan memang sengaja tak mau memikirkan juga sih, tapi Tasya hanya heran saja kan?
Tadi Bimo masih baik-baik saja, tapi setelah dia pulang makan bersama Faisal dan anak-anak dia semarah itu pada Tasya dan begitu tak suka.
"Apa karena aku tidak mengajaknya ya tadi?" Dan hanya itulah perkiraan yang keluar di kepala Tasya.
Ya! Biasanya Bimo kan akan marah jika soal makanan. Apa sekarang juga sama?
"Hey kamu!" Tasya seketika menoleh dan melihat dua preman datang.
"Paman panggil saya?" Tangan Tasya menunjuk ke arah dirinya sendiri tapi wajahnya celingukan mencari yang lain.
"Siapa lagi, apa ada yang lain di sini?!" Suaranya menggelegar berat. Khas preman yang bertubuh kekar, "sini!" Pintanya.
"Ada apa, Paman?" Dengan nurut Tasya melangkah menghampiri.
Tasya berdiri di hadapan dua orang itu tanpa rasa takut. Yah! Tasya kan memang tak pernah punya rasa takut pada siapapun.
Tiba-tiba saja satu tangan di antara preman itu terangkat dan di letakan di pundak Tasya.
"Iuran iuran!" Ucapnya sementara tangan yang satu terangkat dan ibu jari juga jari telunjuk saling bergesekan untuk minta uang.
"Haduh paman. Paman ini sudah segini besar minta uang sama anak kecil, perempuan lagi! Apa nggak malu? Malu sama otot lah paman. Otot besar gini loh," Kini Tasya yang berani menyentuh tangan preman itu yang terlihat berotot.
Yang jelas keberanian Tasya ini membuatnya sangat kesal apalagi Tasya juga menurun tangannya dari pundak dengan sedikit kasar.
"Kalau aku ya, Paman. Lebih baik gunakan nih otot untuk bekerja. Masak paman kalah sama bapak tua yang bertubuh kecil itu. Dia saja yang bertubuh kecil tidak malu jadi kuli panggul. Kenapa paman malah malakin orang seenak jidat seperti ini?"
Sepertinya benar-benar nantangin nih Tasya.
Amarah seketika hadir pada kedua preman itu, bukan mendapatkan apa yang mereka ingin tapi malah mendapatkan ceramah dari anak kecil seperti ini.
"Kamu berani sama kita! Mana iurannya, jangan banyak kata loh bocah!" Seru yang satunya.
"Sini ini kawasan kita, siapapun yang ada di sini harus bayar iuran!" Satunya lagi menyahuti.
"Hadeh paman, jangan galak-galak deh ya. Saya bilangin ya, ini tempat bukan tempat paman-paman. Ini pasar, tempat umum! Siapapun bebas di sini. Ini milik pemerintah bukan punya paman," Jawab Tasya.
"Banyak kata loh bocah!" Semakin kesal kan tuh preman.
"Sekarang bayar iurannya atau kamu tidak akan bisa bergerak lagi," Ancamnya.
"Hadeuh paman. Jangan suka ngancam gitu dong paman. Aku jadi takut..., tapi boong!" Tasya meledak menjulurkan lidahnya lalu lari tunggang langgang.
Entah, tak seperti kemarin yang melawan tapi sekarang Tasya lebih memiliki berlari. Mungkin dia ada alasan tertentu sampai dia memilih menghindar.
Tak mau kelepasan dua preman itu mengejar Tasya, berlari keluar pasar. Mungkin Tasya lebih memilih melawan di tempat yang sepi daripada di tempat ramai.
Dan benar saja, Tasya berhenti di tempat sepi yang tidak ada satupun orang lain di sana. Hanya ada mereka bertiga.
"Pintar juga kamu cari tempat, Bocah!" Sepertinya kemarahan para preman itu akan berlangsung. Di tempat yang sepi pertempuran beradu kekuatan terjadi.
Kecil-kecil cabe rawit! Itulah yang perumpamaan yang pantas di berikan pada Tasya. Meski dia kecil tapi dia berani. Tidak takut dengan orang yang seperti apapun bahkan dia juga tak bisa di kalahkan.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung...