Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Tasya di mana?



🌾🌾🌾🌾🌾


"Assalamu'alaikum," cepat Faisal langsung menutup pintu kamar setelah doa masuk. Alhamdulillah, kegiatan pagi ini dia sudah menyelesaikannya dengan sangat lancar tanpa adanya hambatan apapun seperti biasanya.


Faisal menoleh ke sana-sini mencari keberadaan Tasya tapi sama sekali tak dapat dia temukan keberadaannya. Faisal melirik ke arah kamar mandi tapi tetap saja tak ada tanda-tanda Tasya di sana.


"Tasya ke mana?" gumamnya begitu lirih hampir tak terdengar oleh telinga.


Faisal melihat jendela, jendelanya terbuka sangat lebar. Kakinya melangkah mendekati jendela melihat ke arah luar dan ke segala arah yang bisa dia lihat. Tak mungkin Tasya ada si luar dengan melompati jendela kan?


"Apa ke tempat oma?" gumamnya lagi.


Faisal sungguh di buat penasaran sebenarnya pergi ke mana itu istrinya. Di kamar tidak ada semoga saja dia di tempat oma atau mungkin di tempat lain di sekitar pesantren karena dia sedang jalan-jalan.


Faisal semakin cepat mengayunkan kaki menuju tempat oma tak ketinggalan dia akan selalu bertanya kepada orang yang berpapasan dengannya yang siapa tau melihat Tasya, namun dari semua yang Faisal tanya satupun gak ada yang melihat.


Pikiran Faisal terus menjurus ke tempat oma karena Tasya hanya akrab dengan oma. Memang dia akrab dengan semuanya tapi paling akrab hanya oma. Bahkan Tasya akan selalu banyak bicara jika dengannya.


Sampailah Faisal di tempat oma, dia mengetuk pintu dengan sangat pelan. Pelan namun pasti dan tetapi akan terdengar dari sang penghuni kamar.


"Assalamu'alaikum, oma!" serunya. Begitu berharap kalau Oma akan secepatnya mendengar kedatangannya dan akan membukakan pintu untuknya.


Tok tok tok...


"Assalamu'alaikum, oma," Faisal mengulang dan ini sudah yang kedua kalinya.


"Wa'alaikumsalam," akhirnya suara jawaban itu Faisal dengar.


Faisal merasa sangat aneh, tak ada suara perbincangan di dalam dan terdengar begitu sepi apakah mungkin Tasya tidak ada di sana?


Perlahan pintu terbuka wajah oma juga perlahan menyembul dari dalam.


"Wa'alaikumsalam, Sal. Ada apa?" pertanyaannya begitu sangat lembut begitu khas suara tuanya tapi masih sangat jelas.


"Maaf oma, apakah Tasya ada di sini bersama oma?" Faisal langsung to the poin begitu saja tanpa menunggu-nunggu waktu lagi. Dia langsung bertanya akan keberadaan istrinya.


Mata oma malah menajam ke arahnya.


"Ada apa oma, kenapa melihat ku seperti itu?" Faisal menjadi kikuk karena tatapan mata dari oma yang tak biasa seperti itu.


Tangan oma langsung terangkat mengarah langsung ke telinga Faisal dan menariknya. Tentu hal itu langsung membuat Faisal memekik kesakitan. Tangannya juga langsung menyentuh tangan oma supaya cepat di lepaskan.


"Aw! sakit oma, sakit!" pekiknya yang merasa sangat kesakitan.


Belum menjawab tapi oma malah langsung menarik Faisal supaya masuk ke dalam kamar nya.


Sebenarnya ada masalah apa, apa kesalahan Faisal sampai-sampai Oma langsung menjewernya.


"Oma, apa kesalahan Faisal. Lepasin oma, sakit," keluhnya.


"Hem, darimana kamu tau baju sarang Laba-laba?" dan ternyata hal itu yang membuat oma kesal pada Faisal. Jelas ini Tasya yang bercerita dengan Oma. Benar kan?


"Tasya mengatakannya pada Oma?"


"Kamu membuat oma pusing untuk menjelaskannya, Sal. Sekarang katakan, darimana kamu tahu yang kayak begituan. Jangan-jangan kamu memang berniat untuk membelikannya pada Tasya," oma terlihat begitu curiga.


"Astaghfirullah, nggak Oma. Hanya Faisal melihatnya saja ketika di butik kemarin. Lah, saya pikir dia juga beli kayak begituan jiwa perempuan kan laki nggak tau oma," terang Faisal.


"Beneran? kamu tidak bohong kan sama Oma?"


"Demi Allah, Oma. Faisal tidak bohong. Sekarang oma gau nggak di mana Tasya, atau mungkin tadi sempat ke sini?"


"Nggak ada. Dari pagi nggak ada yang datang," jawab Oma begitu yakin.


"Emangnya dia pergi nggak pamit kamu?" Oma terlihat sangat menyelidiki.


"Udah ya oma, Faisal keluar dulu mungkin Tasya sudah kembali ke kamar. Dah oma, assalamu'alaikum!" tidak menjawab tapi Faisal malah langsung pergi begitu saja. Sepertinya Faisal menghindar dari Oma.


"Eh, kamu belum menjawab Oma! Sal!" teriak Oma seolah tak rela karena Faisal yang belum menjawab, "Wa'alaikumsalam," katanya lirih.


Oma hanya menggeleng karena tingkah cucunya itu. Wajahnya benar-benar sama persis dengan mendiang suaminya ketika lagi panik.


"Faisal Faisal, kamu benar-benar mirip dengan opa mu," gumamnya Oma dengan sedikit tersenyum.


🌾🌾🌾🌾🌾


"Wih, neng Tasya udah makin cantik aja nih. Satu minggu nggak kelihatan sekarang udah berbeda begini. Dapat hidayah darimana, Neng?" ucap salah satu pedagang yang ada di pasar.


Sudah seperti tersangka Tasya saat ini, daritadi dia terus di interogasi oleh ibu-ibu pedagang. Mereka sangat senang dengan kehadiran Tasya, bahkan mereka tidak segan memberikan makanan ringan untuknya.


"Bu, saya boleh minta ini nggak bu?" Tasya mengambil satu slop permen karet. Ah, dia sangat merindukan makanan itu yang sudah berhari-hari tidak dia dapatkan.


"Boleh Neng, ambil saja," ibu itu tersenyum dengan begitu ikhlas memberikan makanan yang menjadi favorit Tasya tersebut. Dia tak akan kaget lagi karena Tasya memang biasa seperti itu, dia akan menjadi pelanggan untuk jika mengenai permen karet.


Dia tidak meminta begitu saja, karena setelahnya Tasya tidak akan meminta uang iuran pada ibu itu.


"Terima kasih, Bu." Tasya langsung mengantongi permen-permen itu dan membuka satu kaku langsung dia makan.


"Akhirnya, bisa makan kamu lagi," seperti tak makan bertahun-tahun Tasya, hingga dia begitu lega seperti sekarang ini. Dia terlihat langsung begitu menikmati permen itu.


Rasa manis nya sangat menjadi candu untuk Tasya, rasa kenyalnya terus menjadi kesenangan. Dia akan selalu puas ketika memakannya. Tidak makan sehari saja tenggorokannya terasa sangat kering dan ini sudah hampir satu minggu, sudah benar-benar kekeringan.


"Makasih ya bu! assalamu'alaikum!" Tasya pamit, melambaikan tangan dan langsung melenggang begitu saja.


"Wa'alaikumsalam!" jawab sang ibu.


"Dia kesambet makhluk apaan ya? tapi alhamdulillah deh," gumamnya.


Tasya gak tau kalau dia terus di ikuti oleh Bimo dan teman-temannya dari tadi. Kemanapun Tasya pergi tak lepas dari penglihatan mata mereka.


Semua perubahan Tasya benar-benar sangat terlihat oleh mereka semua menjadikan rasa penasaran yang begitu besar.


Kini mereka kembali berjalan mengendap-endap lagu untuk mengikuti kepergiaan Tasya. Entah dia akan ke mana lagi yang penting mereka harus tau sekarang Tasya tinggal di mana.


Tasya keluar dari sekitar pasar, dia terus melaju di trotoar.


"Dia mau kemana?" gumam Bimo dan ketiga temannya hanya menggeleng.


Tasya menoleh karena merasa ada yang janggal seperti ada yang mengikuti taoi ketika dia menoleh tak dia lihat. Bimo cs tentu tengah bersembunyi kan.


"Mungkin hanya perasaan mu saja," Tasya kembali melangkah.


Hingga akhirnya langkah Tasya berhenti di sebuah rumah. Di sana banyak anak-anak yang tengah bermain di pekarangan.


"Kak Tasya!" teriak Salwa. Dan ternyata Tasya pergi ke tempat anak-anak.


"Jadi Tasya tinggal di sini sekarang dengan anak-anak yang lain?" Bimo kembali berbicara.


Bimo cs terus melihat dari kejauhan dan tak berani masuk tentunya.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....