Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Dua Kalimat Syahadat



🌾🌾🌾🌾🌾


Suara adzan maghrib berkumandang dengan sangat jelas, seperti biasanya Faisal lah yang mengumandangkannya. Suaranya begitu sangat merdu juga sangat indah terasa mulai menggetarkan sebuah hati yang sedari tadi masih terus gelisah.


Ingin sekali Tasya kembali ke pasar tapi sampai sekarang belum juga mendapat izin dari Oma bahkan sekarang bukan hanya Oma saja melainkan dari Mamanya Faisal.


Tasya terus mondar-mandir di masih di kamar Oma, matanya seolah terus menghitung ubin hingga berulang kali dengan jari-jari tangan yang saling bertautan. Bukankah bisa di tebak seberapa gelisahnya dia sekarang?


"Aku harus kembali, tapi..?" sekali Tasya melirik kearah pintu dan berharap Oma akan masuk hingga dia bisa minta izin untuk secepatnya pergi. Tasya sudah sangat tak sabar.


Namun, pintu itu terus saja diam tak bergerak sama sekali apalagi terbuka.


"Bagaimana kalau aku kabur saja?" rencana yang sangat buruk sebenarnya, memang dia datang karena tidak sengaja karena yang kebetulan menumpang mobil Faisal saja tapi dia kan memang mendapatkan undangan. Masak iya dia akan pergi dengan diam-diam juga?


"Mana udah sangat gerah lagi, apakah aku boleh membuka kain ini sekarang?" kedua tangannya beralih menggenggam hijab yang masih menempel pada dirinya sendiri ini sekali dia melepaskannya, tapi rasa sungkan lebih mendominasi.


Allahu akhbar Allahu akhbar....


Suara itu begitu jelas, seruan adzan itu sudah berakhir dan kini Tasya benar-benar tersadar sepenuhnya. Dia terdiam mendengar suara yang tak lagi terdengar.


"Udah selesai ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Jelas suara adzan yang tadi dia dengar ini sudah berhenti karena memang Adzan sudah berakhir. Tasya terlihat begitu Ingin mendengar lagi dia memasang telinga lebar-lebar namun tetap saja tidak dia dengar.


Kecewa? jelas Tasya sangat kecewa karena alunan adzan yang begitu merdu tak lagi terdengar oleh telinganya. Tasya terduduk di atas ranjang sang oma dengan wajah yang ditekuk kusut.


"Suaranya sangat indah, juga sangat merdu tetapi kenapa hanya sebentar?" pertanyaan itu muncul pada dirinya sendiri jelas hanya sebentar karena adzan tidak membutuhkan waktu lama kan?


Tasya begitu tertarik dengan hal-hal baru yang belum pernah dia jalani sebelumnya. Semua terasa indah dan membuatnya terasa nyaman, yang jelas juga membuat dia merasa sangat tentram.


"Ternyata agama yang mereka pelajari sangat indah. Seharusnya aku juga sudah seperti mereka kan? tetapi nyatanya Tuhan tidak menakdirkan itu untukku. Entah mungkin selamanya aku akan menjadi orang bodoh gelap mata hati seperti ini atau mungkin akan mendapatkan sebuah anugerah yang indah sehingga membuat hidupku lebih bercahaya dan bisa menjadi orang terhormat seperti mereka semua," ucap Tasya.


Begitu besar angan juga harapan yang muncul di hati Tasya ingin dia menjadi lebih baik dan bisa berguna untuk semua orang tetapi rasanya semua itu tidak akan mungkin mengingat keadaan dan takdirnya yang seperti sekarang ini.


Rasa penasaran ilmu-ilmu yang semua orang di pesantren pelajari ingin sekali Tasya juga bisa mempelajarinya sama seperti mereka, tapi apakah bisa?


"Sudahlah Tasya, jangan terlalu berangan-angan yang tidak pasti kalau tidak kesampaian nanti kamu akan merasa sedih," ucapnya untuk dirinya sendiri.


Sama sekali Tasya tak melihat karena dia begitu asik dengan angannya sendiri sehingga dia tidak melihat kalau sang Oma sudah masuk ke dalam kamar itu dengan membawa mukena juga sajadah.


Oma tersenyum mendengar semua pembicaraan Tasya sendiri Oma langsung menghampiri dan berdiri di hadapan Tasya dengan menyodorkan mukena juga sajadah.


"Ini untuk apa Oma?" Tasya mengangkat wajah Dia sangat bingung melihat apa yang ada di hadapannya sebuah mukena. Tasya tidak mengerti dan tidak tahu apa kegunaan dari mukena itu sementara Oma tersenyum dengan sembari memberikan mukena pada Tasya.


"Bukankah kamu mau mempelajari semua tentang agamamu? bukankah kamu islam kan?" Tasya seketika mengangguk dia memang Islam tetapi dia tidak tahu apa itu sebenarnya Islam dan apa saja yang diwajibkan ataupun sebenarnya yang diharamkan, yang dia tahu hanyalah orang yang baik akan mendapatkan imbalan yang baik pula sementara orang yang jahat akan mendapatkan sesuatu yang lebih jahat dari apa yang dia perbuat.


"Tapi, Oma?" Tasya begitu takut.


"Oma tidak akan memaksa semua tergantung kamu sendiri. Oma hanya ingin mengatakan, kalau untuk urusan hal yang baik bukankah lebih baik di segerakan?"


Tasya menerima mukena dari Oma dengan tangan yang gemetar setelah itu. "tapi Oma, Tasya tidak bisa melakukannya, Tasya juga belum pernah apakah tidak akan apa-apa?" ucap Tasya dengan suara parau.


"Percayalah pada Oma. tidak akan apa-apa jika kamu belajar melaksanakannya. Kamu memang belum bisa sekarang tapi Oma sangat yakin jamu akan bisa secepatnya," Begitu yakin alma pada Tasya.


"Ayo," Tasya begitu menurut saat Oma menarik tangannya.


Wudhu Oma ajarkan pada Tasya, dengan begitu sabar dan juga penuh ketelatenan hingga akhirnya Tasya bisa melakukan wudhu.


Hati begitu senang, ada sebuah perasaan bahagia ketika dia sudah bisa berwudhu.


"Pakai mukenanya lalu kita ke masjid," kata-kata Oma ini mampu membuat Tasya melotot matanya. Ke masjid? itu artinya semua orang akan tau, bagaimana kalau dia akan di tertawakan kalau dia tidak bisa melakukan apapun.


"Tidak usah takut, ada Oma yang akan selalu bersamamu," seperti seorang ibu saja Oma pada Tasya, dia membantu untuk Tasya memakai mukenanya.


Lagi-lagi Tasya hanya menurut bahkan dia juga menurut saat Oma menuntunnya untuk berangkat ke masjid.


"Ayo," ajak Oma lagi.


Tentu semua orang tak ada yang menertawakan Tasya namun tetap saja membuat Tasya gugup bukan main.


Ternyata kedatangan Tasya sudah di tunggu oleh papa Rayyan di sana. Semua orang langsung memandangnya dan juga memberikan jalan untuk Oma juga Tasya untuk maju di barisan paling depan.


'Kenapa semua orang menatap ku? dan, apakah semua orang saat melakukan shalat dengan posisi yang seperti ini?' batin Tasya.


Tak tau pasti Tasya saat ini tapi semua orang malah menghadap ke arahnya. Sebenarnya belum semua orang datang sih, hanya baru beberapa saja mungkin semuanya tengah bersiap.


Tetapi, cara mereka melihat dan tersenyum kepada Tasya membuat dia menjadi sangat gugup, dia bahkan bersembunyi di belakang sang Oma.


"Oma, mereka semua pada kenapa?" tanya Tasya.


"Duduklah sini," ajak sang Oma dan malah mendekat dimana Rayyan dan dua laki-laki sepuh berada. Bahkan ada Faisal juga di sana.


"Oma," Tasya semakin takut.


Tetapi dengan begitu bangga Oma malah mengajak Tasya duduk tentu Tasya tak berani mengelak lagi.


Ingin sekali dia kabur dari sana, darahnya berdesir semakin panah hingga membuat dia mulai mengeluarkan peluh.


Sebenarnya apa yang Oma inginkan darinya?


"Bagaimana keadaan mu, Nak?" tanya Rayyan dengan penuh kelembutan.


"Sa_saya?" Tasya malah bertanya tentu Rayyan akan mengangguk. "Sa_saya baik, Pakde," ucap Tasya. Panggilan dari Tasya untuk Rayyan membuat semua tersenyum. Hal itu membuat Tasya semakin gugup, merasa serba salah deh.


"Tidak apa-apa, panggil saya sesuka hatimu."


"Anda tidak ma_marah?" Rayyan menggeleng tentu dia tidak akan marah dan membuat Tasya merasa sangat lega.


"Sebelum kamu memulai mempelajari semuanya, pakde minta kamu mengucapkan dua kalimat syahadat lebih dulu, kamu bisa?"


Orang tua Tasya keduanya beragama Islam, bahkan saat lahir Tasya tentu dengan keadaan islam juga tetapi sejak lahir Tasya belum pernah mengucapkan dua kalimat syahadat bahkan kata Tasya tadi pada Oma saat dia lahir juga tak ada yang mengadzaninya. Itu sebabnya Oma ingin Tasya mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda dia mengawali segalanya.


"Tapi saya tidak bisa," Tasya tertunduk lesu. Dia merasa sangat malu dengan semua orang yang ada di sana.


"Ada Abah Hasyim Muzadi yang akan membantumu. Apakah kamu mau memulai semuanya, Nak?" tanya Rayyan.


Tentu semuanya sudah di pertimbangan lebih dulu dan semua itu adalah keinginan yang Tasya katakan tadi.


"I_iya," Tasya mengangguk dia memejamkan mata memantapkan hati untuk meneguhkan diri bahwa dia akan menyakini dengan benar-benar apa itu islam dan akan belajar mulai sekarang untuk menjalankannya.


'Bis_bismilah,' batin Tasya bahkan kata basmalah saja Tasya juga belum bisa tapi dia tetap kekeuh ingin melakukannya.


"Ikuti abah ya, Nak," Tasya mengangguk.


Tak berkedip Faisal memandangi Tasya, baru saja dia memulai hidup barunya wajahnya sudah terlihat sangat berbeda, ada sebuah cahaya yang sudah jelas terpancar.


'Subhanallah, semoga Allah meridhoi setiap jalan yang kamu ambil, Sya,' batin Faisal.


Sekali Tasya di tuntun untuk mengucapkan dia kalimat syahadat. Dua kalimat yang kini kembali membuat hati Tasya bergetar.


Perlahan bibir berucap, semua terasa dingin dan bergetar begitu hebat. Wajah bahkan semua kulit Tasya begitu pucat, begitu putih seperti tak ada darah di dalamnya. Air mata juga kembali mengalir mengiringi dua kalimat yang terucap keluar dari mulutnya yang di tuntun oleh Abah Hasyim Muzadi.


Begitu haru, atau entah karena apa Faisal yang biasanya tegar tak dia sengaja juga menitihkan air matanya. Seolah perasaan Tasya ikut masuk ke dalam hatinya.


'Ya Allah, benarkah dia adalah perempuan yang telah Engkau ciptakan untuk ku?' Kembali Faisal membatin.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....