
🌾🌾🌾🌾🌾
Semua begitu buru-buru untuk ke rumah sakit, mereka terlihat sangat khawatir dengan keadaan Faisal juga Ilham yang entah bagaimana sekarang.
Setelah bertanya di bagian informasi, akhirnya mereka bisa menemukan dimana tempat keduanya di rawat. Mereka semakin tergesa-gesa karena ingin sampai.
Pikiran Tasya dan juga Dina yang paling khawatir, jelas saja mereka adalah istrinya kan?
Dengan berlari di depan akhirnya Tasya bisa sampai di depan pintu ruangan yang di yakini ada suaminya di dalam. Dia menangis, dia sangat takut kalau sampai ada apa-apa dengan suaminya.
"Maaf, untuk menjenguk hanya boleh boleh sari saja karena pasien harus istirahat. Pasien juga belum sadar," ucap perawat yang tiba-tiba keluar dari ruangan.
Itu adalah ruangan Faisal, sementara untuk Ilham ada di sebelahnya. Dina sudah langsung masuk di sana sementara Tasya masih harus melalui persetujuan pihak rumah sakit, apa itu artinya Faisal lebih parah?
"Saya, Sus. Saya istrinya." ucap Tasya. Dengan tangis yang berderai dia menatap semua keluarganya, meminta izin untuk dia yang lebih dulu masuk.
Semua orang mengangguk, memang Tasya_lah yang harus masuk lebih dulu.
"Silahkan, tapi mohon jangan terlalu banyak bicara." Suster itu mengingatkan.
"Baik, Sus." Tasya langsung masuk, dia begitu buru-buru karena ingin melihat keadaan Faisal.
Perlahan Tasya menutup pintu setelah berhasil masuk, langkahnya pelan begitu tak kuasa melihat suaminya yang terbaring tak berdaya dengan beberapa selang yang ada.
Tangis Tasya semakin pecah meski tak bersuara, kakinya melangkah semakin dekat hingga akhirnya berhenti di samping Faisal.
"Astaghfirullah, kenapa bisa jadi seperti ini, Mas?" Tak mampu rasa hati Tasya melihat keadaan Faisal.
Ada beberapa luka di sekitar wajahnya, kepala bahkan di tangan juga. Entah di bagaimana yang lain.
Bagaimana mungkin akan kuat bagi istri melihat keadaan suaminya seperti itu. Dia pergi dalam keadaan baik-baik saja, tapi sekarang?
"Mas, cepatlah bangun aku merindukanmu. Katanya kamu akan selalu membuatku tersenyum maka bangunlah, senyumku akan hilang kalau mas tidak kunjung bangun."
Suaranya begitu lirih tapi terasa menyakitkan jika ada yang mendengar. Di peluk dengan pelan tubuh suaminya itu, tentu tidak ingin membuatnya semakin kesakitan.
"Mas, bangunlah. Tasya tidak mau melihat mas seperti ini."
Air mata juga pasti membawahi baju Faisal yang melekat pada dirinya. Tak ada harapan lain selain melihat suaminya membuka mata dan cepat sembuh. Tasya ingin melihat suaminya tersenyum padanya, dan bermanja-manja padanya.
"Mas, bangunlah."
Semakin gak kuasa Tasya saat ini. Dia ingin menahan tangisnya, dia ingin menahan air matanya untuk tidak kembali jatuh tapi nyatanya dia belum berhasil.
Tak terdengar kata-kata lagi yang keluar dari Tasya di ruangan itu. Hanya ada isak tangis yang berlomba-lomba dengan suara semua mesin canggih yang ada di dekat mereka.
Ingin rasanya Tasya menumpahkan segalanya, tapi itu tak kuasa dia lakukan. Tasya tidak kuasa, dia hanya terus menggenggam tangan suaminya saja dan juga sesekali meniup luka di tangan Faisal.
"Ini pasti sakit kan?" ucapnya yang kembali terdengar.
Setiap tiupan yang berhasil keluar, keluar juga air matanya. Sungguh, Tasya menjadi cengeng sekarang karena ini.
"Ini juga pasti sangat sakit," Tasya beralih di wajah Faisal. Meniupnya, dan berharap itu bisa membantu meringankan rasa sakitnya.
"Ini pasti akan cepat sembuh." Dengan tersedu Tasya mengucapkan. Entah sampai kapan tangis Tasya akan berhenti. Padahal dia sendiri tau kalau Faisal tidak akan suka melihatnya rapuh seperti ini, tapi dia tidak bisa menahannya.
"Bangunlah, Mas. Aku merindukan mu." Tangannya mengelus pelan bagian yang tak ada lukanya. Sedih sekali hati Tasya saat ini.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....