
🌾🌾🌾🌾🌾
Ingin tertawa namun nyatanya tidak bisa keluar dan terus bertahan dalam mulut, ingin tersenyum namun takut akan melukai hati Tasya yang kini masih terus diam karena merasa bersalah.
Kenapa dia merasa begitu sensitif sekarang, dia selalu merasa seolah ada masalah yang akan membuat Tasya dan Faisal berpisah. Tasya begitu tidak suka ketika Faisal berpapasan dengan seorang wanita dan tersenyum, dan dia juga tidak suka ketika ada orang laki-laki yang dengan sengaja mendekatinya.
Mungkin ini biasa terjadi kepada orang yang tengah mendapatkan sebuah cinta dan mulai merasakannya semua kenyamanan yang telah datang. Tentu dalam beberapa situasi akan merasa terancam dan akan merasa ada yang ingin merebut cintanya. Apakah itu yang dinamakan dengan cemburu?
"Sayang, Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Bukankah Mas tadi sudah menjelaskan semuanya dia juga sudah memaafkan Terus kenapa kamu masih cemberut seperti ini?"
Mobil yang seharusnya sudah berjalan kini malah sama sekali belum menyala mesinnya. Faisal tidak mau menjalankan mobilnya selama Tasya masih terus diam seperti itu, itu sangat tidak menyenangkan.
Faisal sangat ingin hari terakhirnya mereka berada di villa dan berjalan-jalan di sekitarnya penuh dengan kebahagiaan dan tidak seperti sekarang ini yang Tasya terus cemberut.
"Mas, Aku sangat malu. Kenapa Mas tidak bilang kalau mata orang tadi memang bermasalah sih, kalau mas bilang kan aku tidak akan berbicara begitu panjang seperti itu dan menuduh dia yang bukan-bukan."
Kini Tasya malah menyalahkan Faisal yang sebenarnya tadi ingin menjelaskan semua kepada Tasya namun Tasya sendiri yang sudah berlalu tertawa akan marah, hingga dia sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Faisal.
"Bagaimana kalau orang tadi orang jahat? Pasti dia akan membalas apa yang dilakukan oleh Tasya dan tentu dia juga akan menyakiti kita berdua dan Tasya tidak mau itu terjadi." imbuh Tasya.
"Aku takut mas akan kenapa-napa," begitu takut kalau Tasya akan kehilangan Faisal atau melihat Faisal terluka karena ulahnya. Pasti hal itu akan membuat Tasya semakin merasa bersalah.
"Sudah jangan disesali semua yang telah terjadi tetapi Jadikan semua ini adalah pelajaran untuk kedepannya. Kamu harus bisa menjaga kata-katamu dengan baik jangan sampai kata-katamu akan menyakiti orang lain."
"Mulutmu harimaumu, jadi kamu harus menggunakan dengan sebaik mungkin. Bicaralah jika itu memang penting dan jika tidak penting maka lebih baik diam."
"Meski seperti apapun amarah yang muncul dalam dirimu jika kamu bisa menahannya maka lebih baik diam karena itu yang lebih baik. Tapi bukan berarti kita harus diam ketika ada orang yang berusaha menginjak harga diri kita, kita harus membela dirinya. Jadi Mas mohon sama kamu jaga ucapan dengan baik dan jangan sampai karena ucapan mu akan membuatmu dalam masalah."
Tasya mengangguk meski sebenarnya dia masih mencerna semua perkataan yang dikatakan oleh Faisal saat ini. Dia belum benar-benar paham akan semuanya tetapi dia akan berusaha untuk bisa memahaminya.
"Kita pulang sekarang?" tanya Faisal setelah melihat Tasya lebih tenang daripada yang tadi.
Mesin mulai menyala dan perlahan mobil juga mulai berjalan menuju ke Villa. Mereka berdua harus menyiapkan untuk kepulangan mereka besok pagi dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya di hari yang terakhir ini.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bugh....
Ilham langsung terjatuh ketika ada orang yang tidak dia kenal tiba-tiba langsung memukul di bagian perutnya. Tentu Ilham sangat terkejut meski dia harus menahan rasa sakit perlahan dia mengangkat wajah untuk melihat siapa yang telah melakukannya.
Dua orang yang sangat tidak dia kenal namun terlihat begitu menyeramkan ketika dilihat. Terlihat mereka berdua begitu kuat dan Ilham belum tentu akan bisa melawan mereka berdua.
"Siapa kalian!" Perlahan Ilham berdiri masih dengan memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Dia juga mengambil tas jinjing yang dia bawa.
"Tidak usah kamu tahu siapa kami, kamu teman dari pemuda yang bernama Faisal bukan? Sekarang katakan, Di mana dia berada?"
Pertanyaannya begitu menegaskan dan juga terdengar sangat tidak sabar bahkan juga tersimpan amarah yang sangat besar, entah masalah apa yang membuat mereka mencari Faisal dengan kemarahan yang seperti itu.
"Saya tidak tau, lebih baik kalian mencari di tempat lain karena saya tidak mengetahui keberadaannya," kilah Ilham yang tidak akan mungkin memberitahu keberadaan Faisal sekarang pada orang itu.
"Jangan bohong kamu, katakan! Di mana Faisal!" mereka semakin marah karena Ilham tidak mau mengatakan di mana keberadaan Faisal saat ini.
"Saya tidak tahu!" suara Ilham juga ikut tinggi seolah menyamakan orang itu dan seolah mengisyaratkan kalau Ilham tidak takut pada mereka.
"Katakan atau..."
Bugh... Bugh... Bugh...
Ilham seolah menjadi bulan-bulanan untuk mereka berdua. Ilham yang sama sekali tidak dalam keadaan siap pasti akan sangat mudah mendapatkan serangan mereka.
Namun tidak setelahnya, Ilham bisa sesekali menghalau serangan mereka berdua dan pertarungan terjadi.
Mata kedua orang itu terlihat begitu merah karena begitu marah, sementara Ilham? Matanya juga sudah memerah karena amarah yang juga akan meledak.
Perkelahian terjadi semakin ganas pada mereka berdua, saling lawan dan juga saling mempertahankan diri supaya tidak terkena pukulan.
Begitu pintar kedua orang itu menghadang Ilham, ketikan Ilham jalan sendiri di salah satu jalan yang sepi dan mereka langsung melancarkan aksinya.
"Katakan! Di mana dia. Atau kamu mau habis di sini sekarang juga!" sentak nya.
Namun perkataan itu sama sekali tidak di gubris oleh Ilham, dia tetap kekeuh dan tidak akan mengatakan di mana keberadaan Faisal sekarang.
"Tidak, saya tidak akan mengatakannya," Ilham menjawab dengan penuh keberanian. Dia sama sekali tidak takut dengan kedua orang itu meski kalah jumlah dan kalau tinggi juga kalah tubuh kekar.
"Kurang ajar!" Mereka semakin marah dan kini kembali menyerang Ilham tanpa ampun, namun Ilham juga mempertahankan dirinya dan juga melawan dengan sekuat tenaga.
Sementara di seberang jalan ada Dina yang telah melihat apa yang terjadi, dia sangat bingung apa yang harus dia lakukan untuk bisa membantu Ilham.
Dina terus mengedarkan pandangan, mencari orang yang mungkin bisa di mintai bantuan tapi nyatanya tidak ada satupun yang melintas di tempat itu.
"Bagaimana ini, kalau lawan dua seperti itu pasti nas Ilham bisa kalah," Dina begitu gusar, dia terus mondar-mandir dengan tidak tenang. Terus melihat-lihat namun tetap tidak ada orang lain di sana.
"Mas Ilham...!" Teriak Dina memanggil. Namun apa yang di lakukan Dina malah membuat Ilham menoleh hingga dia lengah.
Bugh bugh bugh...
Ilham kembali terjatuh karena mendapatkan serangan yang luar biasa di saat dia lengah.
"Polisi polisi polisi!!" teriak Dina lagi dengan keras.
Kali ini teriakannya berguna dan langsung membuat kedua orang itu lari kocar-kacir dan meninggalkan Ilham yang terjatuh.
"Mas Ilham!" Dina berlari menghampiri, dia ingin membantu.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....