
🌾🌾🌾🌾🌾
Suara yang sangat cerewet selalu membuat Ilham merasa kesal, tetapi juga suara itu kadang dia rindukan ketika lama tidak bertemu. Rasanya ada yang kurang sebelum dia benar-benar bertemu dengan sang pemilik suara tersebut, Siapa lagi kalau bukan Dina.
Karena tidak pernah bertemu secara kebetulan lagi membuat Ilham sengaja datang ke panti untuk bertemu dengan Dina. Meski dia akan mendengarkan celoteh yang begitu banyak dari Dina tapi rasanya tidak masalah karena memang itulah yang dia rindukan.
Dia pergi ke Panti juga atas izin dari Rayyan, tidak mungkin dia akan pergi begitu saja tanpa izin dari pemilik pesantren di mana dia mengajar sebagai ustadz.
Tetapi tidak dengan Faisal juga Hasan, Ilham sama sekali tidak pamit kepada mereka berdua kalau dia pamit tentu akan digoda atau mungkin malah diceramahi oleh keduanya.
Dengan mobil dia berangkat ke panti seorang diri dia sudah sangat ingin bertemu dengan Dina yang sudah sangat lama tidak pernah bertemu semenjak dia dihajar oleh orang yang tidak dia kenal waktu itu.
Tentu dia datang ke sana untuk mengucapkan rasa terima kasihnya karena Dina telah membantu ketika dia terluka. Tentu juga dengan membawa maksud lain.
Ilham sangat berharap bahwa hari ini Dina tidak berangkat kerja seperti apa yang dikatakan oleh Ibu pengasuh panti. Ilham juga tidak sabar untuk bertemu dia juga sangat khawatir karena Ibu pengasuh mengatakan kalau Dina tengah sakit maka dari itu dia tidak berangkat bekerja.
"Semoga dia tidak kenapa-napa, semoga tidak ada hal yang serius dan hanya masuk angin biasa saja," ucap Ilham yang benar-benar sangat berharap bahwa Dina tidak kenapa-napa.
Mobil melaju semakin kencang karena Ilham sudah sangat tidak sabar untuk secepatnya bisa bertemu dengan Dina dan mengetahui bagaimana keadaannya. Apakah cukup hanya dengan minum obat dari Apotek saja atau harus dibawa ke rumah sakit.
Hingga akhirnya mobil berhenti di depan panti, dan ketika dia datang pintu gerbang langsung terbuka oleh beberapa anak yang telah membukanya. Ilham langsung kembali menjalankan mobilnya setelah gerbang terbuka dan memarkirkan di depan bangunan panti.
"Assalamu'alaikum, Kak Ilham," sapa beberapa anak setelah Ilham turun dari mobil. Anak-anak itu langsung menyambut kedatangannya, dan menyalami Ilham dengan hormat.
"Wa'alaikumsalam," Ilham begitu senang karena mendapatkan sambutan yang begitu hangat dari anak-anak panti.
Sudah lama dia tidak datang dan ternyata mereka semua tidak lupa pada dirinya dan tetap melakukan hal yang seperti biasa juga sangat begitu menghormatinya. Semua ini tidak akan pernah terjadi jika tidak ada campur tangan dari pengasuh.
"Kak Ilham mencari Kak Dina ya?" Ilham menoleh melihat Siapa yang bertanya dan ternyata dia adalah Salwa. Gadis kecil yang begitu menggemaskan dan juga sangat lucu dan selalu dirindukan bukan hanya dirinya tetapi juga Faisal dan Tasya.
"Kak Dina sedang sakit, dia terus menggigil, batuk dan juga terus bersin-bersin," ibu Salwa menjelaskan, padahal Ilham belum bertanya sama sekali tentang Dina tetapi Salwa seolah tahu apa yang dia pikirkan.
"Hem," Ilham ingin bertanya tetapi belum juga keluar pertanyaan itu dari dalam mulutnya tangannya sudah ditarik oleh Salwa dan dituntun untuk diajak masuk ke dalam rumah pastilah untuk melihat keadaan Dina.
"Ayo Kak, kita temui Kak Dina_nya," ucap Salwa dengan menarik Ilham begitu antusias Ilham pun tidak bisa menolak lagi dan langsung mengikuti ke mana Salwa mengajaknya.
"Assalamu'alaikum..." sapa Ilham ketika masuk ke dalam panti.
"Wa'alaikumsalam," tidak ada yang menjawab lagi selain Salwa yang masih terus menuntunnya.
Hacih hacih hacih..
Suara bersin langsung menyambut kedatangan Ilham dan itu sangat jelas.
Ilham melihat ke arah kursi dan ternyata Dina rebahan di sana dengan berselimut kain tipis berwarna batik.
Terlihat Dina menempelkan koyo di depan kedua telinganya bukan itu saja, tetapi dia juga memakai baju hangat dan juga mengikat syal di lehernya.
Dina juga terlihat menggigil sepertinya dia kedinginan meski dia sudah memakai kain untuk menyelimuti dirinya sendiri.
"Kami semua sudah meminta Kak Dina untuk tidur di kamar, tetapi dia tidak mau karena ingin menjaga kami karena bapak dan ibu tengah pergi," ucap Salwa kembali menjelaskan Kenapa Dina sampai tidur di sana.
Meski dalam keadaan sakit ternyata Dina masih tetap menjaga amanah untuk menjaga semua anak-anak di rumah meski dia sendiri tidak bisa benar-benar mengawasi semuanya. Kembali Ilham dibuat salut olehnya.
"Apakah Kak Dina sudah minum obat?" tanya Ilham.
Salwa terlihat menggeleng, itu tandanya Dina sama sekali belum minum obat.
"Katanya Kak Dina tidak suka minum obat hingga dia hanya memakai koyo saja dan juga beberapa kali mengoleskan balsem. Katanya dengan seperti itu biasanya dia akan sembuh," jawab Salwa menirukan apa yang dikatakan oleh Dina tadi dan sekarang dia jelaskan kepada Ilham.
"Apakah ada obat di rumah?" tanya Ilham.
"Ada, sebentar Salwa ambilkan," gadis kecil itu langsung berlari masuk ke dalam untuk mengambilkan obat yang diminta oleh Ilham.
"Assalamu'alaikum," sapa Ilham. Meski dalam mata tertutup tetapi Ilham sangat yakin kalau sebenarnya Dina tidak tidur, dia hanya memejamkan mata dan menahan rasa sakit yang tengah dia derita saat ini.
"Wa_Wa'alaikumsalam..., hacih hacih hacih!" Dina menjawab dan juga langsung membuka mata tapi dia juga langsung bersin-bersin.
Perlahan Dina duduk dengan tangan mengusap hidungnya sendiri yang sudah merah. Matanya perlahan melihat siapa yang telah datang dan langsung menyapanya.
"Ma_Mas Ilham?!" tangannya beralih mengusap kedua mata meyakinkan kalau penglihatannya tidak salah dan dia benar-benar melihat Ilham datang dan sekarang duduk di hadapannya.
"Apakah aku tidak sedang berhalusinasi?" Dina masih tidak percaya dengan apa yang telah dilihat kalau yang ada di hadapannya itu memang Ilham bukan dia yang sedang berhalusinasi.
"Kamu tidak berhalusinasi, Din," jawab Ilham menjelaskan.
"Benarkah?" mata Dina membulat terang dan ternyata benar Ilham berada di hadapannya. Untuk lebih jelas lagi Dina juga melihat kaki Ilham yang menapak lantai.
"Ternyata bukan hantu, hehehe," Dina meringis malu karena sempat mengira bahwa yang ada di hadapannya adalah hantu penghuni tempat itu.
"Emangnya ada hantu di siang bolong seperti ini?"
Dina langsung menggeleng tapi dia juga menjawab, "Ya, siapa tahu ada hantu yang berkeliaran di siang hari. Ya seperti Mas Ilham yang terus menghantui kepala Dina dan terus melayang-layang tidak menyentuh lantai," katanya dengan santai.
"Ada-ada saja kamu ini... , Hem? kamu sudah minum obat?" tanya Ilham. Dina langsung menggeleng dia memang tidak pernah meminum obat setiap sakit seperti ini, apalagi hanya masuk angin biasa.
"Kak, Ini obatnya," Salwa datang dengan berlari dan juga membawa obat yang ada di kotak obat yang memang selalu tersedia di sana. menyerahkan kepada Ilham dan Salwa menyusul duduk di sebelahnya.
"Terima kasih, Salwa," Ilham menerima kotak tersebut Dia sangat berterima kasih kepada Salwa meski hanya pertolongan kecil tapi itu sangat membantu.
Salwa mengangguk,"Iya Kak, sama- sama."
Ilham beralih menoleh ke arah Dina yang matanya membulat sempurna, dia tahu obat itu untuk siapa dan itu adalah untuk dirinya.
"Sekarang kamu harus minum obat," kata Ilham.
"Sebentar, aku ambilkan air putih dan sedikit nasi dulu," seketika Ilham beranjak berniat untuk menampilkan apa yang dia katakan.
"Tidak, tidak usah Mas! Dina tidak perlu minum obat. Dengan seperti ini nanti pasti akan sembuh kok," Dina ingin menolak apa yang dilakukan oleh Ilham saat ini. Tetapi kata yang dia teriakan sama sekali tidak digubris oleh Ilham dia tetap melangkah masuk ke dapur.
"Ye ye,, sekarang kak Dina harus minum obat, ye ye!" ledek Salwa.
"Ih, Salwa kok gitu sih. Kak Dina kan tidak pernah minum obat, nanti kalau Kak Dina kenapa-napa bagaimana. Nah loh Salwa mau bertanggung jawab?"
Dina berusaha memprovokasi Salwa dan menakut-nakutinya. Siapa tahu Salwa akan takut dan akan melarang Ilham untuk memberikan obat kepadanya.
"Mana ada, dengan minum obat Kak Dina tidak akan kenapa-napa tetapi Kak Dina akan segera sembuh. Kak Dina bagaimana sih udah besar masa nggak tahu?"
Dina kalah kalau sudah seperti ini. Meski masih kecil tapi otak Salwa tidak bisa di ragukan lagi dia selalu lebih encer di bandingkan dengan otak Dina.
"Sekarang makan lebih dulu lalu minum obatnya."
Dina terkejut ketika Ilham datang dengan membawa piring dan juga gelas berisi air putih.
"Tidak, Mas. Aku tidak biasa minum obat," Dina terus menolak.
"Minum obat atau kita ke rumah sakit," tandas Ilham.
"Nah loh! mau minum obat atau ke rumah sakit? Di rumah sakit Kak Dina akan di suntik dan juga di infus, hiii," Salwa semakin gencar menakuti Dina.
Dina diam berpikir apakah dia harus benar-benar ke rumah sakit?
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....