Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Percayalah



🌾🌾🌾🌾🌾


Faisal langsung berlari menuju ke arah toilet yang lebih dekat dari tempat di mana diadakan acara untuk pernikahan Ilham dan Dina. Faisal begitu buru-buru untuk cepat sampai, tidak peduli dengan semua orang yang melihatnya dan bertanya apa yang sedang terjadi Faisal tidak menjawab dan tetap berlari.


Faisal sudah sangat tidak tahan untuk mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya, padahal dari tadi dia terus saja mengeluarkan apa yang ada di perutnya dan jelas saja sekarang sudah kosong, kamu apa lagi yang harus dikeluarkan?


Bukan hanya Faisal saja yang dilihat oleh semua orang karena bagi lari dengan tergesa-gesa, tetapi Tasya juga mendapatkan tatapan yang sama seperti yang dia lakukan kepada Faisal. Penasaran, jelas mereka semua sangat penasaran dan sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka berdua.


"Mas! Mas!" pintu toilet yang ditutup dari dalam oleh Faisal membuat Tasya langsung mengetuk setelah dia sampai. Tasya ingin ikut masuk dan mengetahui apa yang terjadi pada suaminya itu, kalau dia tetap berada di sana jelas saja dia tidak akan bisa mengetahui apa yang telah terjadi.


Tok tok tok...


"Mas, buka pintunya. Tasya ingin masuk juga. Mas!" tak henti-hentinya Tasya mengetuk pintu, dia benar-benar ingin masuk dan tidak peduli jika toilet itu adalah toilet pria.


Entah apa yang akan dipikirkan oleh para santri yang melihatnya, entah mereka akan mengatakan sesuatu tentang Tasya atau apapun tetapi Tasya sama sekali tidak peduli karena dia lebih mempedulikan keadaan suaminya yang ada di dalam.


Tok tok tok...


"Mas, buka. Kalau tidak buka Tasya akan dobrak pintunya, Mas!" ancam Tasya.


Santri yang melintas dan mendengar perkataan dari Tasya jelas langsung menoleh dan merasa sangat penasaran, sebenarnya apa yang tengah terjadi pada mereka berdua.


Tidak lama setelah Tasya memberikan ancaman kepada Faisal, Pintu itu terbuka dari dalam Faisal yang telah membukanya. Wajah Faisal terlihat semakin pucat, bahkan lebih pucat dari yang tadi ketika dia mengalami hal yang sama di saat pagi hari.


"Mas, tuh kan?" Tasya langsung menangkap tubuh Faisal yang terhubung dan ingin jatuh di hadapannya, sepertinya Faisal benar-benar tidak kuat untuk berdiri apalagi untuk berjalan.


Karena tidak kuat untuk berjalan membuat Tasya mengajak Faisal untuk duduk sementara di bangku depan toilet, terus saja Tasya mengelus punggung Faisal dan membuatnya lebih nyaman dari sebelumnya. Apa yang dilakukan oleh Tasya cukup berguna karena Faisal terlihat lebih baik dan perlahan rasa mual itu hilang.


"Tadi kan Tasya sudah katakan, lebih baik Mas istirahat saja di kamar. Bagaimana kalau sekarang saja kita periksa ke dokter? kalau nanti Tasya takut mas akan semakin parah," ucap Tasya yang terlihat begitu sangat khawatir.


Faisal masih saja menggeleng, dia tidak setuju dengan keinginan Tasya saat ini. Dia masih merasa kuat untuk menunggu sampai acaranya selesai.


"Nanti saja, Sya. Aku masih kuat kok," jawab Faisal. Ucapannya terdengar begitu lesu tak semangat, jelas saja itu yang dia rasakan saat ini.


"Tapi, Mas. Mas sudah sangat pucat, Tasya tidak tega melihatnya." jawab Tasya.


"Beneran, Mas tidak apa-apa, Mas masih kuat kok," Faisal terus membujuk, dia benar-benar masih kuat.


Tasya bernafas lega, tapi juga tidak sih. Meski lega, tapi itu bukan lega yang sesungguhnya.


Tasya mengangguk pasrah, Faisal tidak akan bisa di bubuk lagi kalau sudah seperti itu. Apapun yang Tasya katakan pastilah tidak akan berpengaruh padanya.


"Mas, sebenarnya Mas kenapa sih kok bisa seperti ini?" Tasya sangat penasaran, itu jelas saja kan?


"Mas tidak tau, tadi Mas tidak apa-apa, tetapi ketika Mas bau parfum Mas benar-benar tidak kuat dan akhirnya mual deh," jawab Faisal.


Suaranya sudah lebih baik daripada yang tadi, membuat Tasya mulai lega.


"Mas bau parfum orang lain mual, tapi mas pakai parfum sendiri sudah kayak mandi parfum," jawab Tasya sedikit sinis.


Tasya yang memang tidak terbiasa memakai parfum sai setiap acara apapun jelas saja menganggap apa yang di pakai oleh Faisal sangat berlebihan.


Tapi itu sebenarnya tidak sih, parfum yang Faisal pakai juga bukan parfum yang ada alkoholnya dan baunya juga tidak begitu menyengat.


"Kan beda, Sya. Tadi yang masuk ke dalam hidung Mas baunya sangat menyengat, sangat berbeda dengan yang mas pakai."


"Iya, pokoknya beda jauh lah. Mas benar-benar tidak kuat dengan baunya. Perut seperti langsung di aduk-aduk," terang Faisal.


"Hem... Mas ini, kayak perempuan yang sedang hamil saja. Kata ibu pengasuh ciri-ciri orang hamil kan sama persis seperti yang Mas alami sekarang," Tasya menggeleng, mengatakan dengan tidak menoleh sama sekali kearah Faisal.


Faisal mengernyit,"Hamil?" kembali Faisal terdiam dengan menoleh ke arah Tasya dan melihat ke wajah istrinya itu yang hanya terlihat setengah saja.


"Apa iya?" tanya Faisal dan masih dalam posisi yang sama.


"Ya mana tau kebenarannya, itukan hanya kata ibu pengasuh. Kalau Mas tidak percaya bisa Mas tanyakan sendiri padanya," kini Tasya menoleh.


"Kenapa Mas melihat ku seperti itu?" Tasya merasa gak enak ketika di lihat dengan tatapan aneh oleh Faisal.


"Tidak, tidak ada apa-apa," Faisal memalingkan wajahnya laku berpikir sejenak.


'Ciri-ciri wanita hamil?' batin Faisal lalu kembali menoleh ke arah Tasya.


Tasya tetap tidak melihat Faisal dan melihat beberapa santri yang terlihat sibuk kesana-kemari.


"Mas, mau ke kamar untuk istirahat atau mungkin Mas mau ke sana lagi?" tanya Tasya dan kali ini dia menoleh.


Sebenarnya Tasya tidak enak juga jika pergi terlalu lama. Semua orang pasti akan berpikir hal yang macam-macam padanya dan mengira kalau Faisal ada apa-apa.


"Kita kembali saja, acara akan segera di mulai kan? tidak enak kalau tidak datang," jawab Faisal.


"Yakin?" Tasya lebih dulu memastikan, takut saja kalau ujung-ujungnya Faisal akan kembali berlari ke toilet lagi.


"Benar, Mas tidak akan apa-apa untuk kali ini. Mas akan cepat menyingkir kalau ada bau yang tidak enak dan bikin Mas mual."


"Benar ya, jangan sampai mual lagi," tidak hanya lewat bibir saja Tasya begitu berharap, tetapi Tasya juga sangat berharap meski di dalam hatinya.


Tasya sangat tidak mau kalau sampai Faisal akan mengalami hal yang sama lagi, apalagi jika semakin parah.


"Iya, Mas akan jaga-jaga."


Tasya yakin karena Faisal juga sangat yakin, jika saja Faisal tidak seyakin itu maka Tasya juga tidak akan.


Meski sebenarnya Tasya menginginkan Faisal untuk istirahat saja tapi Tasya tidak mau egois. Faisal juga harus menghadiri pernikahan sahabatnya.


Jika Faisal tidak datang pastilah Ilham akan sangat kecewa padanya dan Tasya tidak ingin hubungan mereka akan ada masalah nantinya.


Tasya mengangguk, dia juga mulai melangkah untuk kembali ke tempat acara. Melihat jam yang melingkar di tangannya sepertinya acara akan segera di mulai.


"Mau gandeng?" tanya Faisal.


Tasya merasa sangat bahagia dengan tawaran Faisal, dia mengangguk dan langsung melakukan apa yang Faisal tawarkan. Cepat Tasya menggandeng lengan Faisal tanpa mengatakan apapun.


Keduanya berjalan dengan beriringan masuk lagi ke tempat acara dan membuat semua orang merasa lega karena mereka berdua sudah kembali lagi.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung...