Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Hanya Pura-pura



🌾🌾🌾🌾🌾


Gugup nggak gugup setelah waktu semakin malam. Tasya masih berada di sofa dengan membaca buku yang sempat dibaca oleh Faisal.


Tentu Tasya bisa membacanya karena tulisannya hanya tulisan latin biasa yang dia bisa membaca meski tidak terlalu lancar. Dia juga bisa memahami sedikit demi sedikit meski tetap harus membutuhkan bimbingan dari orang yang lebih pintar.


Wajahnya menoleh ke arah jam dinding yang nangkring di atas pintu, waktu sudah menandakan pukul 09.00 malam tetapi Faisal belum juga kembali karena masih ada acara di masjid.


Tasya sangat mendengar kalau suara Faisal begitu menggema dari masjid dengan menggunakan pengeras suara sepertinya dia tengah memberikan tausiah malam kepada para santri.


Apakah setiap malam Faisal akan selalu melakukan itu? pikir Tasya.


Tetapi tak lama suara Faisal terhenti setelah berakhir dengan ucapan salam dan setelah itu benar-benar tidak ada suara lagi yang Tasya dengar. Apakah itu artinya Faisal akan kembali ke kamar?


Tasya panik dia langsung menutup buku dan berlari lalu melompat naik ke atas kasur, menarik selimut tinggi sampai menutup sekujur tubuhnya dan dia benar-benar tidak akan terlihat oleh Faisal ketika dia masuk.


Tasya begitu was-was apa yang akan terjadi di malam ini, ini adalah malam pertama untuk mereka apakah itu artinya?


"Tidak tidak, aku belum siap," Tasya menggeleng namun dengan mata yang tertutup.


Tasya langsung diam dan anteng seperti boneka tidur ketika suara pintu mulai terdengar bukankah itu artinya ada orang yang masuk? Jangan-jangan itu adalah Faisal?


"Assalamu'alaikum." dan benar yang masuk adalah Faisal suara salam darinya sudah sangat menjelaskan tanpa Tasya harus melihat wajahnya secara langsung.


Tasya semakin was-was jantungnya semakin berdegup kencang dengan pikiran-pikiran yang melanglang buana hingga ke tempat yang belum pernah dia singgahi sebelumnya.


"Bagaimana ini, ibu Tasya takut,' Tasya menjerit dalam hati sepertinya dia benar-benar takut jika apa yang ada di dalam bayangannya itu akan terjadi malam ini juga.


Faisal tersenyum saat melihat Tasya yang sudah berbaring di atas kasurnya dia berpikir kalau istrinya itu sangat lelah dan sudah tertidur. namun lagi lagi perbuatan Tasya membuat Faisal menggeleng, kenapa harus menutup sekujur tubuhnya saat tidur bukankah itu akan membuatnya susah untuk bernafas?


Setelah meletakkan buku di dalam rak Faisal langsung mendekati Tasya dan membuka selimut di bagian wajahnya, bukan ada maksud apa-apa tetapi hanya sekedar untuk membuat Tasya tidak kesusahan untuk bernafas.


"Menggemaskan sekali kamu Sya," ucap Faisal tentu dengan sangat mudah dia berhasil membuka selimut yang menutupi bagian wajah Tasya.


Tasya terus berpura-pura tidur, dia begitu anteng dengan berusaha sekuat tenaga untuk nafasnya berhembus seperti biasa supaya tidak membuat Faisal curiga kalau dia hanya pura-pura.


Meski sudah seperti itu namun jantung Tasya tetap tidak bisa bekerja dengan baik begitu cepat seolah Tasya habis lari maraton dua kali keliling lapangan sepak bola.


Sejenak Faisal memandangi wajah damai milik Tasya. Tak pernah di bayangkan kalau kini dia sudah memiliki seorang istri dan dia akan selalu ada teman di setiap keseharian dan setiap malam-malamnya.


Begitu cantik, wajah Tasya yang di hiasi dengan rambut yang sedikit menutupi wajahnya karena selimut yang Faisal buka.


Perlahan tangan Faisal mendekat dan menyingkirkan rambut Tasya yang pasti sangat mengganggu.


Tasya terlihat semakin cantik dengan semua rambut yang menutupnya telah tersingkir. Begitu cantik hingga Faisal seolah enggan untuk berpaling darinya.


Sekali Faisal meniup wajahnya dan membuat mata Tasya sedikit berkedip, mata Faisal memicing melihat mata istrinya yang seperti itu, apalagi wajahnya yang terlihat panik, terkejut juga sangat tegang itu membuat Faisal yakin kalau Tasya hanya pura-pura.


Melihat itu Faisal malah lebih senang mengganggunya, Faisal duduk di samping Tasya dengan menghadap ke wajah Tasya.


Faisal membungkuk dan tentu wajahnya semakin dekat dengan wajah Tasya. Hembusan nafas semakin terasa membuat Tasya semakin merinding.


Tasya semakin gelisah, pikirannya sangat berkelana.


'Nih kenapa malah duduk, dan ini juga kenapa malah mendekat?' batin Tasya. Darah Tasya semakin berdesir, dia juga sangat merinding.


'Gila, ini benar-benar sangat gila,' Tasya begitu kesal karena tiba-tiba saja Faisal malah dengan sengaja menempelkan bibirnya dengan bibirnya.


Melihat Tasya yang semakin gelisah membuat Faisal semakin semangat, dia juga terus menahan tawa. Kira-kira sampai mana Tasya akan bertahan dan tetap akan pura-pura tidur.


Bukan hanya kecupan tapi dengan sangat iseng Faisal juga menggigit kecil bibir Tasya, matanya melihat ke arah mata Tasya apakah sudah terbuka atau tidak tapi ternyata tidak.


Ingin Tasya menendang suaminya itu, tapi jelas dia pasti akan kalah. Faisal memang terlihat kalem dan juga tak banyak tingkah tapi dia begitu banyak akal. Bisa saja Tasya akan mendapatkan hal yang dia hindari saat ini.


Benar-benar kuat si Tasya karena dia sama sekali tidak membuka mata.


'Kamu menang, Sya. Kamu benar-benar luar biasa,' batin Faisal.


Karena tak ada pergerakan apapun Faisal kembali beranjak dan masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum dia tidur. Tak langsung menutup pintu dengan rapat tapi Faisal mengintip dari pintu. Ternyata benar, Tasya hanya berbohong saja.


Terlihat jelas kalau Tasya membuka mata dengan mulut megap-megap seolah kehabisan nafas.


Faisal tersenyum, ternyata pintar juga si Tasya menghindarinya. Padahal Faisal juga tidak akan pernah memaksa.


Ekhem...


Faisal kembali keluar setelah selesai bersih-bersih. Terlihat Faisal sudah melepaskan baju koko nya dan kini hanya kembali memakai kaos oblong dan juga sarung sembari mengeringkan wajahnya yang basah.


Sebentar Faisal menoleh sembari meletakkan handuknya. Dia tersenyum melihat Tasya yang sudah kembali pura-pura tidur lagi.


Sekarang sudah tidak sendiri lagi, sudah ada temannya saat tidur. Dia akan selalu melihat seorang wanita yang tidur di sebelahnya. Semoga Tasya benar-benar akan menjadi makmum yang terbaik untuk Faisal.


Faisal beralih miring ke arah Tasya, melihat wajah Tasya. Ingin sekali dia memeluk Tasya daripada memeluk guling di hadapannya tapi dia tidak mau melakukan tanpa ada izin dari Tasya, dia sangat takut kalau Tasya akan marah padanya.


Meski dia punya hak untuk melakukan apapun atas Tasya tapi dia tidak mau memaksa. Dia ingin semuanya mengalir dengan sewajarnya dan akan sampai di lautan kebahagiaan di waktu yang sudah Allah tentukan.


Tak lupa Faisal melantunkan doa sebelum tidur, tiga surat Qul juga di tambah dengan doa-doa yang lainnya. Kemudian Faisal mendekat dan meniupkannya ke wajah Tasya.


"Selamat tidur, Sya. Semoga Allah memberikan mimpi terbaik untuk ku," ucap Faisal.


Tak berapa lama setelah itu Faisal benar-benar tertidur bukan hanya Faisal saja tapi Tasya yang sedari tadi merasa takut dan gelisah dan tentu tak bisa tidur langsung tertidur setelah Faisal berdoa untuknya.


Tasya benar-benar seperti di beri obat tidur oleh Faisal. Hanya dengan hitungan detik saja Tasya sudah langsung terbang ke alam mimpi.


🌾🌾🌾🌾🌾


"Akk!!" teriak Tasya ketika menyadari ada tangan yang memeluk di bagian perut atasnya.


Kakinya juga langsung bergerak hingga dia menendang Faisal dan membuatnya terjatuh ke lantai.


Gludug....


"Aww!" pekik Faisal, tentu dia sangat sakit karena punggungnya terbentur dengan lantai.


Sebenarnya waktu masih sangat dini hari karena biasanya Faisal yang bangun untuk shalat malam dia belum bangun.


"Astaghfirullah hal 'adzim, Sya. Apa yang kamu lakukan," Faisal meringis menahan sakit. Perlahan dia juga beranjak dengan tangan yang memegangi punggungnya yang benar-benar kesakitan.


Jantung Tasya yang berdetak hebat, nafasnya megap-megap karena dia yang begitu terkejut hingga rasanya ingin jantungan.


"Ka_kamu sih, kenapa kamu memeluk ku? Aku pikir ada orang jahat. Lagian aku juga belum terbiasa dan masih merasa tidur sendiri," ucap Tasya yang jujur.


Bahkan Faisal sendiri pun juga tidak sadar sejak kapan gulingnya hilang dari pelukan dan tergantikan dengan tubuh Tasya. Mungkin karena tubuh Tasya lebih hangat untuk di peluk, benar kan?


"Maaf, aku juga tidak sengaja. Semalam aku kan meluk...?" matanya langsung mencari guling yang semalam menjadi pembatas untuk mereka dan ternyata gulingnya ada pada Tasya di sisi satunya.


Guling itu tertindih oleh lengan Tasya juga kaki sebelahnya. Jadi, siapa yang telah mengambil gulingnya? Jelas Tasya kan pelakunya.


Tasya mengikuti arah pandang Faisal dan tertuju pada guling itu, "kenapa bisa ada di sini?" Tasya pun ikutan bingung.


"Mana saya tau. Saya kalau tidur kan nggak banyak tingkah," jawab Faisal.


"Hah! Jadi kamu pikir aku banyak tingkah!" mata Tasya melotot.


"Ya mungkin saja," ucap Faisal sinis. Semakin menambah kesal Tasya saja.


"Nih, ambil guling mu!" dengan marah Tasya melemparkan guling itu dengan kasar pada Faisal tentu langsung tertangkap.


Dengan jalan menghentak-hentak Tasya masuk ke kamar mandi, dia sangat dongkol dan tak terima di sebut banyak tingkah.


"Sya, sekalian ambil wudhu ya. Kita shalat tahajud bersama!" Faisal sedikit berteriak.


"Bodo," Tasya menoleh sebentar dan langsung berlalu ke kamar mandi.


Shalat tahajud benar-benar di lakukan mereka berdua. Meski tadi dengan kesal namun Tasya melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Faisal juga.


Mereka berdua tidak kembali tidur tapi Faisal langsung mengajarkan Tasya mengaji. Di mulai dari Iqro jilid satu.


"Kenapa ini lebih susah daripada belajar berkelahi?" celetuk Tasya.


Tuk...


Satu sentilan pelan mendarat di hidung Tasya oleh Faisal.


"Mulai sekarang belajarlah mengaji biar bisa buat bekal ke akhirat. Tidak usah belajar berkelahi yang akan membuat bonyok," ucap Faisal.


"Halah, padahal mas bilang gitu karena mas nggak bisa berkelahi kan? Asyik loh, Mas."


"Melakukan kekerasan tidak ada yang asyik Anastasya."


"Hem, iya iya!" dengan kesal Tasya kembali dengan pelajaran yang Faisal ajarkan.


"A, Ba, Ta..."


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....