
🌾🌾🌾🌾🌾
Sesekali Tasya menurunkan Daster yang dia pakai karena begitu pendek, apalagi Faisal juga ada di sana tentu menjadikan dia merasa tidak nyaman meski sebenarnya mereka berdua telah menyatu seutuhnya.
Bukan hanya karena dingin tetapi juga merasa risih karena tidak terbiasa dengan pakaian yang seperti itu. Seandainya dia tahu siapa yang telah menyiapkan semua baju tersebut mungkin dia akan menjitak orang itu.
Tasya menghampiri Faisal yang ada di dapur dan tengah menyiapkan untuk makan siang. Sebenarnya Faisal sudah meminta Tasya untuk tetap berada di dalam kamar namun Tasya merasa bosan juga merasa sangat kesepian jika harus berada di dalam kamar sendiri hingga akhirnya memutuskan untuk menyusul Faisal. Siapa tahu dia bisa membantunya?
"M_Mas sedang masak apa?" Kedatangan Tasya langsung mengalihkan pandangan Faisal dari pekerjaannya. Dia menoleh ke arah Tasya dan terlihat Tasya yang hanya berpakaian Mini.
Daster pendek sedikit di atas lutut juga tanpa lengan tak akan di bagian depan dan belakang begitu terbuka membuat siapa yang melihat pasti akan meronta imannya.
Faisal terus menatap bahkan tidak berkedip sama sekali entah siapa yang telah tega menyiapkan baju istrinya seperti itu semua, benar seolah menyiksa Faisal.
Faisal menghela nafas panjang dan berusaha menahan gejolak yang tiba-tiba muncul dan meminta untuk terpuaskan. Dia harus bisa menahan semuanya karena dia tidak mau istrinya terus kepayahan karena harus terus menuruti apa yang menjadi keinginannya.
"Masak ayam dan sayurnya mas masak bayam, kamu mau bantu?" tanya Faisal berusaha bersikap seperti biasanya padahal sebenarnya dia sudah merasa panas dingin karena melihat itu.
"Boleh, tapi bagaimana kalau Tasya tidak bisa membantu dan malah mengacaukan semuanya. Bisa-bisa Mas akan bekerja dua kali dan akan semakin lelah."
Sebenarnya rasa ingin membantu dan berusaha untuk belajar supaya dia bisa melakukannya. Biar bagaimanapun seharusnya yang melakukan itu adalah dirinya bukan Faisal suaminya.
"Tidak, sini mas ajarin."
Faisal mendekat dan langsung menarik dalam Tasya menuntunnya untuk lebih dekat ke arah sayur bayam yang masih dia potong.
"Kamu potong bayamnya, biar mas yang memotong ayamnya. Kalau ada kamu pasti semuanya akan cepat selesai dan kamu juga bisa belajar."
Tasya pikir setelah Faisal melihat dia yang seperti itu dia akan marah atau mungkin malah akan menerkamnya lagi dan meminta haknya lagi tetapi ternyata tidak. Entah Faisal benar-benar tidak menginginkannya atau mungkin dia hanya berusaha menahannya.
"Nah, seperti itu. Setelah itu kamu kupas bawangnya."
Faisal kembali menoleh ke arah Tasya dan dia tersenyum. Sementara Tasya dia melakukannya dengan tidak tenang berkali-kali tangannya bergerak untuk menurunkan bajunya supaya tidak semakin terbuka.
Tetapi Apa yang dilakukan Tasya malah semakin membuat dia merasa tidak nyaman karena setiap yang bawah ditarik maka yang atas akan itu ku turun dan jelaslah akan memperlihatkan apa yang di atas. Sungguh membingungkan.
"Kalau Kamu memang tidak nyaman tidak usah dipaksakan untuk pakai itu kamu bisa memakai sarung punya Mas dan juga kaos Mas kamu bebas memakainya asal kamu nyaman."
"Mas sudah pesan baju yang nyaman untuk kami pakai sepertinya sore nanti juga datang, jadi kamu yang sabar ya."
Alhamdulillah ternyata Faisal begitu memperhatikan Tasya bahkan tanpa sepengetahuannya dia memesankan baju yang pastilah akan lebih nyaman jika dipakai oleh Tasya.
Sebentar lagi Tasya akan terlepas dari baju-baju yang membuatnya tidak nyaman.
"Tapi tidak apa-apa kan jika Mas meminta sesekali kamu memakai baju yang seperti itu ketika berada di dalam kamar, kan hanya Mas yang melihat."
Faisal tersenyum begitu berharap kalau Tasya tidak akan benar-benar melepaskan diri dari baju-baju tersebut ada kalanya dia melepaskan baju itu dengan mengganti baju yang nyaman namun juga ada kalanya Dia memakai baju tersebut untuk menyenangkan hatinya.
"Hem," Tasya mengangguk pelan pastilah Dia sangat malu dengan permintaan dari Faisal tersebut, tetapi dia akan tetap melakukan mengingat akan pahala yang akan dia dapat ketika suaminya bahagia karena dirinya.
"Alhamdulillah."
Faisal merasa lega karena ada kalanya dia akan dimanjakan oleh istrinya apalagi ketika dia menginginkannya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Makanan yang sederhana tapi mampu membuat Tasya juga Faisal begitu menikmatinya. Jauh dari kata mewah juga jauh dari kata mahal, hanya makanan yang di olah sendiri juga dengan bumbu-bumbu yang sederhana.
"Mas sangat pintar dalam urusan memasak, rasanya sangat enak juga sangat nikmat aku harus banyak belajar dari Mas."
Tasya begitu lahap dengan makanan yang dimasak oleh Faisal yang dibantu oleh dirinya. Bahkan dia begitu menikmati hingga rasanya tak ingin berhenti untuk mengunyah.
"Syukurlah kalau kamu menyukai jadi Mas lebih semangat untuk memasak."
Faisal pun sama dia juga menikmati hidangan tersebut, bukan hanya nikmat karena makanannya enak tetapi juga sangat senang karena akan ditemani oleh sang istri dan sang istri begitu menyukainya.
"Jangan dong Mas, besok-besok kalau Tasya sudah bisa masak biar Tasya saja yang masak dan Mas tinggal menikmati dan memberikan komentar untuk masakan Tasya."
Tidak ada rasa tidak nyaman lagi untuk Tasya saat ini Dia seolah melupakan pakaiannya yang gitu terbuka atas bawah. Semua itu karena perlahan mulai terbiasa dengan tatapan Faisal.
Tidak tahu saja kalau sebenarnya Faisal terus menahan diri supaya tidak hilang kendali.
Senyum Tasya, wajah cantiknya begitu membuat Faisal terpanah dia begitu mengagumi dan menyukai semua yang ada pada Tasya dan akan selalu seperti itu.
Faisal terdiam terpaku dalam tatapannya yang begitu dalam kepada Tasya yang tengah asyik berbicara juga sesekali mengunyah.
"Ke_kenapa?"
Melihat di pandang begitu dalam membuat Tasya kembali sangat gugup dan menggerakkan posisi duduknya bahkan berusaha untuk mengikuti kakinya dengan bajunya sendiri yang tetap saja tidak bisa.
"Tidak apa-apa, hanya saja..."
Faisal tidak melanjutkan perkataannya padahal dia hanya ingin mengatakan bahwa Tasya begitu sangat cantik.
"Sudah, Jangan dipikirkan makanlah hingga kenyang setelah itu istirahat. Kita tunggu pesanan baju kamu datang nanti sore kita jalan-jalan ke suatu tempat Mas yakin kamu akan sangat menyukainya."
Begitu perlahan dan sangat lembut perkataan Faisal untuk Tasya pria itu selalu saja penuh dengan kelembutan dan itulah yang membuat Tasya semakin nyaman kepadanya.
"Emangnya kita mau ke mana Mas?" Kembali Tasya berusaha menghilangkan rasa gugup dan juga rasa tidak nyamannya dia hanya ingin benar-benar bisa membiasakan diri kepada Faisal dan tidak memiliki malu hanya kepada Faisal saja ketika dia memakai pakaian yang seperti itu. Karena Faisal banyak melihatnya dan juga tidak akan berdosa untuk dirinya juga Faisal.
"Nanti kamu akan akan tau. Sekarang lakukan apa yang mas katakan."
Semakin besar rasa penasaran yang ada dalam diri Tasya. Tetapi dia tidak akan memaksa karena Faisal tentu memiliki alasan untuk tidak mengatakan kepadanya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung.....