Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
I love you, Mas Ustadz



🌾🌾🌾🌾🌾


Meski terus memikirkan akan masalah yang telah dihadapi Faisal tetap berusaha tenang dan juga tidak grusa-grusu dalam menghadapi semua masalah itu.


Semua harus dihadapi dengan tenang dan juga dengan kepala dingin kan? Faisal tidak bisa fokus dengan masalah itu saja karena begitu banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan seperti biasanya. Tetapi bukan berarti dia hanya diam tidak berusaha itu berlatih apapun.


Faisal menerima saran dari Ilham dan mulai mempelajari ilmu bela diri meski saat ini dia masih belajar sendiri tidak menggunakan jasa guru atau juga tidak meminta papa atau kedua abang untuk melatih dia.


Meski Faisal tidak menggunakan jasa guru tetapi dia juga mudah mempelajari karena dia memiliki teknik untuk belajar ilmu bela diri karena di waktu kecil dia juga sering ikut belajar dan semua itu masih dia ingat sampai sekarang.


Bukan itu saja tetapi dia juga sering mengamati orang lain ketika berlatih hingga dia juga bisa melatih dirinya sendiri hanya dengan ingatan dia saja.


Hal baru yang terus dipelajari oleh Faisal ini membuat Tasya merasa sangat curiga Kenapa harus belajar sementara kemarin? Apakah mungkin tidak ada masalah yang tengah Faisal hadapi namun dia tidak mengatakan semuanya kepada Tasya?


Tasya menghampiri Faisal yang tengah berlatih di belakang rumah di pagi hari belum banyak orang yang lewat tempat itu bahkan tidak ada karena daerah itu memang sangat jarang dilewati oleh semua orang karena termasuk bagian dari pendopo milik Faisal.


"Mas," Panggil Tasya.


Mendengar suara Tasya Faisal berhenti berlatih dan langsung menoleh ke arah Tasya yang semakin dekat dengannya, bahkan bukan hanya dekat dengan tangan kosong tetapi Tasya juga membawa kopi dan juga pisang goreng yang dia bikin sendiri.


"Di minum dulu, Mas," Tasya meletakkan kedua wadah berbeda juga dengan isi yang berbeda ke meja.


Rasanya sangat bahagia setelah punya istri. Dulu tak akan ada yang membuatkan kopi apalagi pisang goreng di pagi hari seperti ini, tapi sekarang? Alhamdulillah.


Faisal menghampiri dengan tersenyum, dia sangat bahagia karena mendapatkan kasih sayang Tasya berupa perhatian yang sangat besar.


"Terima kasih, Sya," Faisal duduk di satu kursi dari kedua kursi yang ada di sana.


"Iya, Mas. Tapi maaf ya kalau rasanya tak enak. Lagi belajar soalnya."


Tasya terlihat malu ketika mengatakan hal itu. Dia benar-benar baru belajar dan rasanya pasti tidak akan baik karena dia tadi sudah mencobanya namun rasanya sangat tidak seperti pada umumnya. Tapi setelah yang terakhir dia percaya rasanya pasti enak.


"Pasti akan enak, Sya. Kan buatnya penuh dengan cinta," ucap Dirga.


Tasya tersenyum karena gurauan dari Faisal barusan meski hanya kata-kata yang sederhana tapi sangat mampu membuat Tasya merasa sangat malu.


Namun rasa malu-malu yang Tasya tunjukkan malah membuat dia menunduk dengan senyuman yang dia sembunyikan.


"Kenapa?" Faisal bertanya setelah dia menyeruput kopinya sebentar.


"Hem... ti_tidak," Tasya ikut bergabung duduk di kursi sebelahnya namun dia masih saja menunduk.


"Katakan saja, kalau aku sampai penasaran nanti cari tahunya malah dengan cara lain loh," Faisal terkekeh dengan perkataannya sendiri dan berhasil membuat Tasya sepertiga mengangkat wajannya.


"I_itu..." Tasya menunjuk Faisal yang sudah melepaskan kaosnya dan hanya meninggalkan dadanya yang bidang dan terlihat sangat jelas.


"Tidak apa-apa kan? Kamu sudah sering melihatnya bahkan kamu juga sudah sering memegangnya bukan, kenapa harus malu? Lagian yang ada di sini hanya ada kita berdua tidak ada yang lain. Kalau di depan sana pasti Mas tidak akan melakukan ini."


Meski yang dikatakan Faisal memang sangat benar tetapi tetap saja Tasya merasa sangat malu, jantungnya seolah ikut bekerja dan nafasnya ikut terengah seperti Faisal yang selesai latihan hari ini.


"Hem, sebenarnya Mas melakukan ini semua untuk apa sih?" tentu Tasya sangat penasaran dengan kegiatan baru Faisal ini. Dulu tidak seperti ini tetapi sekarang seperti diwajibkan dan tidak pernah ditinggalkan dalam sehari saja.


"Tidak apa-apa Mas kan hanya olahraga saja supaya badan bisa terlatih dan bisa kuat. Apalagi harus main bola setiap malam kan tubuh harus kuat dan penuh semangat biar bisa mencetak gol dan bisa mendapatkan kemenangan."


Faisal mengedipkan mata dengan genit membuat Tasya semakin malu namun kini senyumnya bercampur dengan mengerucutkan bibirnya.


"Tiap malam sepak bola biar cepat mendapatkan hasil syukur-syukur bisa langsung dua atau tiga, iya kan?"


Faisal yang telah tertawa sementara Tasya dia semakin malu dan memalingkan wajah seolah tidak berani lagi memandangi Faisal yang terus genit dan juga tersenyum bahkan bibirnya sesekali monyong ke arah Tasya.


"Apaan sih!" Suaranya terdengar sangat kesal meski kenyataan tidak seperti itu. Untuk menghilangkan rasa malunya Tasya langsung beranjak dan pergi meninggalkan Faisal untuk masuk lagi ke pendopo.


"Sya, kamu mau kemana? Sya! hahaha..." Faisal benar-benar keterlaluan diam terus menggoda Tasya sampai membuat pipinya terlihat begitu merah seperti itu tomat matang.


Setelah kepergian Tasya Faisal kembali menikmati kopinya dan juga mengambil sepotong pisang goreng dan langsung dinikmati sebagai teman kopi.


Dengan mengunyah Faisal terdiam dia akan lakukan apapun untuk melindungi istrinya itu pasti dia memang kuat dalam menghadapi siapapun karena dia juga memiliki keahlian itu tetapi bagi Faisal Tasya tetap tanggung jawabnya dan akan selalu seperti itu.


Sekuat apapun wanita dia tetap ada sisi lemahnya meski wanita itu seperti tidak membutuhkan laki-laki sebagai perlindungan tetap saja akan ada suatu saat dia sangat membutuhkannya.


Di balik kekuatan wanita pasti ada titik lemah yang suatu saat bisa dikalahkan tetapi dibalik kelembutan seorang laki-laki ada titik kekuatan yang akan bisa melindungi siapapun yang lemah termasuk istrinya sendiri.


🌾🌾🌾🌾🌾


Di dalam kamar Tasya masih saja menggerutu karena perbuatan Faisal barusan yang lagi-lagi menggodanya. Tapi sebenarnya Tasya sangat suka dengan apa yang dilakukan oleh Faisal karena perbuatannya itu mampu membuat Tasya selalu tersenyum.


Tasya menghampiri ranjang dia duduk di sana mengambil bantal dan dia taruh ke atas pangkuannya. Tasya terdiam memikirkan Faisal dan juga tersenyum.


"Aku mencintaimu, Mas."


Ya! tiga kata itu yang keluar dari bibir Tasya dia mengakui akan perasaannya kepada Faisal Tapi sayangnya dia masih malu untuk mengatakan langsung kepada Faisal dan dia hanya selalu mengatakannya ketika dia sendiri seperti saat ini.


"I_i love you, Mas Ustadz ku. Benar begitu kan?" Tasya hanya mengikuti bahasa trend saja 'I love you' padahal sebenarnya dia tidak tahu pasti akan arti dari kata itu dia hanya mendengar orang yang tengah jatuh cinta selalu mengatakan hal itu.


"Hihihi..." Tasya merasa malu sendiri karena perkataannya barusan sampai-sampai dia langsung menutup wajahnya sendiri dengan bantal yang tadi ada di pangkuannya. Tasya juga langsung merebahkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang bahkan dia juga berguling-guling sepertinya dia sangat bahagia.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....