Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Kegiatan Rutin



🌾🌾🌾🌾🌾


Terduduk Faisal di dalam pendopo sang papa, mendengar semua yang di katakan dalam diam. Mungkin memang belum saatnya dia bicara dan masih cukup untuk menjadi pendengar apa yang menjadi keluh kesah dari papanya itu.


"Sal, apa kamu tidak berniat untuk mencari pendamping dalam waktu dekat? Lihatlah, adikmu saja sudah menikah, apa kamu tidak merasa malu," kata sang papa.


"Bukan begitu, Pa. Hanya saja, Allah memang belum mempertemukan jodoh Faisal. Mungkin jodoh Faisal dan jodoh adek lebih duluan adek," akhirnya Faisal menjawab pertanyaan papanya.


Sebenarnya ada rasa malu sih, ada rasa minder gimana begitu saat para keluarga membicarakan dirinya yang belum mempunyai pasangan sementara adiknya sudah.


Tapi mau bagaimana lagi, Faisal memang belum menemukan yang cocok juga srek di hatinya.


"Bagaimana hubungan mu dengan Aira, apa kamu tidak berpikir dia saja yang kamu pilih menjadi pendamping mu? kalian juga sudah saling mengenal, Aira juga gadis baik," ucap Papa memberikan saran.


Faisal hanya diam namun dia tersenyum dalam wajah yang menunduk.


Diamnya Faisal membuat sang papa tau kalau Faisal memang tidak memilih Aira. Padahal dulu Faisal juga Aira sangat dekat dan sang papa pikir akan menjadi pasangan di kemudian hari namun ternyata tidak.


"Terserah kamu lah, Papa tidak akan memaksa kamu mau memilih siapapun. Bagi papa yang penting kamu bisa memilih wanita yang benar-benar baik. Yang bisa menjadi kebanggaan keluarga dan juga selalu bisa menjaga kehormatan dan harkat martabat kita," Akhirnya Rayyan sang papa hanya bisa memasrahkan semua pada Faisal.


Tak ada pantangan untuk Faisal. Tak seperti orang tua pada umumnya yang selalu mencarikan jodoh untuk anaknya Rayyan lebih memilih menyerahkan semua pada anaknya. Karena semua yang akan menjalani adalah anaknya jadi dia tidak akan ikut campur.


Dia tidak akan melakukan kesalahan lagi seperti yang di lakukan saat adiknya Faisal. Dia bersikeras menjodohkan tapi nyatanya jodohnya malah orang lain.


"Sekarang pergilah, anak-anak pasti sudah menunggu."


"Pa, Faisal izin. Nanti akan pergi keluar sebentar," pamit Faisal.


"Hem, pergilah," ternyata Rayyan langsung memberikan izin.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab Rayyan.


🌾🌾🌾🌾🌾


Setelah selesai memberikan ajaran pada anak-anak pondok Faisal langsung bergegas pergi dengan Hasan. Melakukan kegiatan rutin seperti biasanya.


Faisal turun dari mobil, dengan membopong buku-buku cerita juga buku-buku tentang pengetahuan agama.


Langkahnya di percepat setelah melihat para anak-anak jalanan yang memang sudah menunggu kedatangannya. Seperti biasa, satu minggu sekali Faisal akan selalu datang, memberikan buku-buku pada anak-anak juga makanan. Ada juga baju-baju atau mainan untuk mereka.


Faisal selalu tak tega melihat anak-anak yang kurang beruntung tidak seperti dirinya. Selalu berkecukupan, tinggal di tempat yang nyaman juga mendapat limpahan kasih sayang dari orang tuanya semenjak kecil.


Sementara mereka? mereka hanya memiliki teman-teman yang juga tinggal di jalanan. Hujan, panas, dingin selalu mereka dapatkan. Bahkan mereka juga sering tidak makan bahkan mendapat perlakuan tidak baik oleh orang-orang yang suka memanfaatkan mereka.


Semua anak-anak langsung berkerumun menyambut kedatangan Faisal, menerima apapun yang Faisal berikan. Mereka juga jelas saling berebut karena takut tidak kebagian, itulah jiwa murni anak-anak jalanan yang sangat takut.


Tidak besar tidak kecil mereka semua menginginkannya, ingin mendapatkan hal baru juga tentu makanan yang enak yang sangat jarang mereka makan.


"Jangan saling berebut ya! semua pasti kebagian kok," ucap Faisal yang tentu tidak sendiri ada Hasan yang menemani.


Meski sudah di peringatkan mereka tetap saja berebut apalagi ini adalah waktu makan siang dan tentu mereka sudah sangat lapar.


Semua yang sudah mendapatkan jatah langsung duduk di tepi trotoar, membuka nasi kotak dan melahapnya dengan cepat.


Ada kepuasan tersendiri dari Faisal saat bisa melihat mereka semua makan dan tersenyum bahagia menjajal baju baru yang Faisal berikan.


Entah bagaimana Ana bisa berbaur dengan anak-anak itu, bahkan mereka juga sangat akrab padanya.


"Kakak tadi udah makan, kalian saja," ucap Ana yang sebenarnya sangat ingin menolak tapi anak kecil itu terus saja menarik Ana hingga sampai di hadapan Faisal.


Kalau di tanya suruh jujur Ana sendiri juga belum makan, tapi Ana sendiri paling tidak suka kalau seperti itu, takut saja kalau ada orang yang mengatakan tukang minta-minta.


"Kak, minta nasi kotaknya satu lagi untuk kak ini!" teriak anak itu. Ternyata dia juga belum tau nama Ana mungkin mereka baru saja bertemu.


"I...ni..." ucapan Faisal tersendat saat tiba-tiba dia menoleh sembari menyodorkan nasi kotak yang ternyata Ana lah yang ada di depan nya. Dan akhirnya mereka berdua bertemu lagi.


"Ti_tidak usah, saya sudah makan tadi," Ana ingin menolak. Apalagi setelah melihat siapa yang memberikannya.


"Bohong, kalau kakak sudah makan bagaimana mungkin perut kakak tadi berbunyi!" sepertinya anak itu benar-benar membuka kartu Ana di hadapan Faisal.


"Hem, tidak baik menolak rezeki," kata Faisal dengan kekeuh menyodorkan.


"Hem, bagaimana ya," masih sangat enggan Ana untuk menerima, tangannya terangkat tapi tidak untuk menerima nasi kotak itu melainkan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Baiklah, terima kasih," dan akhirnya Ana menerima juga.


Keduanya tersenyum canggung di saat tangan keduanya begitu dekat hanya berjarak kotak nasi di tengah-tengah tangan mereka berdua.


"Kak, ayo kita makan di sebelah sana!" Ana kembali di tarik oleh anak itu.


Dengan senyum kecil Ana meninggalkan Faisal yang jelas masih melihatnya.


Bajunya masih sama, celananya juga masih sama, Semua penampilannya masih sama entah dia punya ganti baju atau tidak selama di kota ini dan itu terlihat jelas di mata Faisal.


"Ustadz, ada apa? ustadz mengenalnya?" Hasan berbicara di samping Faisal ikut mengamati Ana yang kini sudah duduk dengan jarak lumayan jauh dari mereka berdua.


Terlihat Ana sudah mulai membuka kotaknya, menatap makanan dengan penuh minat. Terlihat lehernya bergerak naik turun sepertinya dia sudah menelan ludahnya sendiri ketika melihat makanan enak.


Sesekali Ana tersenyum saat anak kecil yang mungkin usianya delapan tahunan itu berbicara, keduanya tersenyum bersama-sama dan mulai menikmati.


"Ustadz," panggil Hasan yang melihat Faisal tak berkedip, "Jaga pandangan, Ustadz," imbuhnya lagi.


"Astaghfirullah," akhirnya Faisal tersadar.


"Tidak apa-apa, hanya sekali tatapan kan? tadi belum berkedip kan? tak apa-apa," kata Hasan sembari terkekeh dan menepuk-nepuk bahu Faisal.


"Hem," Faisal menggeleng, Hasan ada-ada saja. Satu tatapan kalau dapat waktu lama juga sama saja.


"Kenapa, Ustadz. Cantik ya?" goda Hasan.


"Apa sih!" Faisal ingin membalik, dia tentu ingin pergi karena merasa kerjaannya sudah selesai. Tapi tidak karena...


"Hey, berhenti! Nih makanan tidak di kasih racun kan!" teriak Ana.


Ana panik saat melihat anak kecil yang ada di sebelahnya itu terus terbatuk-batuk.


"Astaghfirullah hal Azim," Faisal dan Hasan berlari mendekat.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung.....