Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Syarat Sudiro



🌾🌾🌾🌾🌾


Plakkk....


"Tasya!" Pekik Faisal dan kedua orang tuanya.


Faisal juga kedua orang tuanya begitu terkejut dengan apa yang Tasya lakukan. Dia sangat berani menampar ayahnya sendiri di depan mereka semua.


Mungkin itulah ungkapan rasa yang ada di dalam hati Tasya dia sudah sangat muak dan sangat marah dengan apa yang selalu ayahnya lakukan.


Selalu saja uang, uang dan uang yang dia ingin. Selalu saja keuntungannya sendiri yang dia bicarakan tanpa memikirkan bagaimana perasaan Tasya dan betapa nelangsanya seorang anak yang memiliki ayah seperti dirinya.


"Dasar anak kurang ajar! Kamu berani menampar ayah!" Mata Sudiro seketika membulat dan kesadarannya seakan sudah mulai kembali.


Pastilah Sudiro akan sangat marah karena keberanian Tasya.


Tasya sama sekali tidak takut, dia malah berdiri dengan tegak dengan wajah yang tegak juga mata yang begitu nyalang penuh kemarahan.


Kedua mata saling bertatapan dengan sama-sama di kuasai amarah, bukan hanya Tasya tapi juga Sudiro.


"Dasar anak kurang ajar!" Tangan Sudiro terangkat siap melayangkan tamparan yang sama ke wajah anaknya. Tetapi, sebelum tangan itu menyentuh pipi Tasya Faisal sudah lebih dulu menangkapnya dan berdiri di depan Sudiro untuk menjadi benteng untuk Tasya.


Sementara Tasya dia sudah menutup mata seolah membiarkan begitu saja jika ayahnya ingin memukulnya. Tasya sudah terlalu lelah dengan keadaan ini.


Tapi, perlahan mata Tasya terbuka kembali karena tangan ayahnya tak kunjung mengenai wajahnya dan itu sangat membuatnya penasaran.


"Mas Faisal," Panggil Tasya begitu lirih.


Faisal menoleh sebentar ke arah Tasya matanya memicing seolah memberikan isyarat kalau Faisal selalu siap untuk melindunginya.


"Pa," Sementara Keisha begitu takut.


"Tidak apa-apa, Ma. Faisal pasti bisa menghadapi ini semua. Kita serahkan padanya," Ucap Rayyan yang mempercayakan sepenuhnya kepada Faisal.


"Siapa kamu, berani sekali kamu menghalangi ku untuk memberikan pelajaran pada anak tak tau diri ini! Lepaskan!" Tentu Sudiro sangat marah dengan kejadian ini.


Faisal belum melepaskan tangannya dan terlihat lebih kuat mencengkeramnya.


"Dia memang anakmu, tapi kamu tidak berhak melukainya."


"Aku berhak. Aku berhak melakukan apapun padanya. Dia anakku, bahkan jika aku membunuhnya itu juga berhak aku lakukan!"


"Anak tak tau diri seperti dia tak sepantasnya hidup sampai sekarang. Kalau tidak ada aku dia tidak akan pernah ada bukan? Dan sekarang aku menghendaki untuk membunuhnya dan lebih baik dia tidak hidup di dunia daripada menjadi anak durhaka!"


Begitu tak bisa berpikir si Sudiro. Dia mengatakan anaknya anak durhaka sementara apa yang dia lakukan sendiri.


Apa yang di lakukan oleh Tasya sudah benar, dia hanya ingin bisa bebas dan bisa menjalani hidup normal seperti yang lainnya. Dia hanya tidak mau menjadi bahan taruhan dari ayahnya yang memiliki sifat seperti itu.


Jika saja Sudiro adalah ayah yang penyayang juga bisa selalu membuat Tasya nyaman dan merasa aman bersamanya mungkin Tasya akan melakukan apapun yang dia minta. Bahkan jika hutang Sudiro karena memenuhi kebutuhan mereka juga dulu untuk mengobati penyakit ibunya mungkin Tasya akan bersedia menikah dengan laki-laki yang seperti apapun, tapi tidak! Tasya tidak sudi untuk menurut padanya sekarang.


"Istighfar, Pak. Istighfar! Dia anak anda yang seharusnya di limpahi kasih sayang juga mendapat perlindungan dari anda, bukan malah terus mendapatkan tekanan seperti ini. Istighfar, Pak," Ucap Faisal.


"Hahaha, siapa kamu! Berani sekali menceramahi ku dan menghalangi ku untuk menghajar dia," Mata Sudiro semakin melotot.


"Hahaha! Calon suami?! Mimpi!" Sudiro menarik tangannya paksa dan selangkah mundur dari hadapan Faisal.


"Saya tidak bermimpi. Saya datang ke sini untuk meminta izin untuk menikah dengan Tasya anak bapak," Ucap Faisal.


"Hah, punya apa kamu berani meminta izin untuk menikah dengannya? Dia tidak akan menikah dengan mu, dia akan menikah dengan tuan Alex karena dia bisa memberikan uang padaku. Apakah kamu bisa melakukan itu?" Matanya semakin memandang Faisal namun dengan meremehkan.


Mana mungkin kan orang seperti Faisal yang seperti biasa bisa membayar sama seperti yang di berikan tuan Alex padanya.


"Seratus juta, berikan seratus juta maka kamu bisa menikah dengannya."


Mata Tasya yang membulat mendengar nominal uang yang ayahnya itu minta pada Faisal.


Seratus juta? Itu bukan uang yang sedikit. Uang segitu banyak hanya untuk bisa menikah dengan Tasya? Sungguh! Tasya merasa sangat rendah sekarang sebagai manusia.


Itu bukan seperti syarat untuk pernikahan tapi itu seperti Tasya yang di jual oleh ayahnya.


"Ayah menjual ku!" Pekik Tasya dia sudah ingin maju tapi di halangi oleh Faisal. Faisal hanya tidak ingin sampai Sudiro melakukan sesuatu pada Tasya nantinya.


"Menjual? Yah! Ayah memang akan menjual mu kepada orang yang mau membeli mu dengan harga paling mahal! Kalau dia mau yang silahkan dia bisa membeli mu dari ayah dan dia bebas atas dirimu. Tapi kalau dia tidak mampu membeli mu berarti kamu harus menikah dengan tuan Alex, karena dia pasti bisa membayar seberapa pun yang ayah minta."


Ingin sekali Tasya membungkam mulut ayahnya itu supaya tak bisa lagi berbicara. Inilah yang Tasya takutkan, ayahnya yang mata duitan pasti akan meminta ini. Tapi tak mengira kalau uang segitu banyak yang dia minta. Bahkan yang membuat Tasya lebih tak percaya ayahnya itu terang-terangan mengatakan kalau dia menjualnya. Sakit, benar-benar sakit hati seorang anak.


"Dua ratus juta! Saya mampu membayar dua ratus juta!" Teriak seseorang dan jelas membuat semua orang menoleh.


"Tuan Alex!" Wajah Sudiro begitu berbinar melihat kedatangan tuan Alex apalagi dengan tawaran yang dia berikan. Dua ratus juta?


Semakin rendah harga diri Tasya. Dia seperti sebuah barang yang berada di tempat pelelangan yang akan terus di tawar hingga mendapatkan penawaran tertinggi.


"Saya akan bayar dua ratus juta dan anak kamu itu harus menjadi milikku."


Beserta para pengawalnya Tuan Alex berjalan mendekat, bersatu untuk memberikan penawaran untuk bisa mendapatkan Tasya. Tuan Alex terlihat begitu senang bisa melihat Tasya.


"Baik-baik, saya akan berikan Tasya kepada tuan Alex. Asalkan, uangnya bisa saya terima kan?" Begitu bersemangat Sudiro di depan semua orang. Dia benar-benar ayah yang tak patut di panggil ayah.


"Tentu, kamu akan mendapatkannya. Tapi, setelah anakmu menjadi istri keempat saya," Ucapnya.


"Siap, tak masalah. Bahkan saya akan membuat tuan menikah dengan Tasya hari ini juga."


Tasya menggeleng, jelas dia tidak mau untuk menikah dengan bandit tua itu, tapi dia juga tak bisa berharap lebih kepada Faisal dan orang tuanya yang sedari tadi hanya diam. Uang segitu banyak pastilah mereka akan sangat keberatan bukan? Apalagi hanya untuk gadis seperti dirinya yang tak ada apa-apanya.


Apakah Tasya hanya bisa pasrah sekarang. Dia juga tidak mungkin bisa lari lagi sekarang karena tuan Alex juga membawa anak buah yang tidak sedikit. Jika dia lari pasti juga akan tertangkap.


Miris. Yah! Itulah nasib yang Tasya dapatkan dalam hidupnya. Lagi-lagi dia hanya menyesalinya karena memiliki ayah seperti Sudiro. Kenapa dulu tidak di bunuh saja sebelum dia merasakan semua penghinaan ini.


"Ayah, lebih baik bunuh saja aku."


Tasya luruh begitu saja di lantai, dia tak mampu untuk berdiri dia telah kalah dan lebih baik mati daripada harus mengikuti apa yang ayahnya minta dan di rendahkah harga dirinya seperti ini selamanya.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....