Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Rencana Dari Rayyan



🌾🌾🌾🌾🌾


Entah apa yang membuat Tasya juga Faisal di panggil oleh sang papa pagi-pagi sekali. Belum juga mereka selesai sarapan sudah mendapatkan panggilan dan keduanya menjadi bergegas dan makan dengan cepat.


Keduanya berjalan dengan berdampingan, dengan Faisal yang seperti biasa dengan koko putih dan sarung juga peci sementara Tasya dengan celana hitam dengan tunik cokelat dengan jilbab pasmina berwarna hampir senada.


"Mas, kita di suruh ngapain?" Tasya berbisik dia sangat penasaran.


"Aku juga tidak tau, jadi kita tanya langsung saja pada papa," Faisal menoleh dia tersenyum melihat istrinya yang terlihat begitu penasaran itu.


"Kita tidak di suruh aneh-aneh kan?" Tasya bergidik meski dia baru berbicara entah hal aneh-aneh apa yang di maksud olehnya.


"Maksudnya aneh-aneh?" Faisal menghentikan langkah memandangi fokus ke arah Tasya.


Istrinya itu lagi-lagi malah meringis dan tak mau menjelaskan apa yang dia maksud.


"Sudah lah, yuk mas." Tak mau menjelaskan dan Tasya langsung merangkul lengan Faisal. Jelas perbuatannya itu membuat Faisal terpaku sejenak melihat tangan Tasya dan merambat ke wajah Tasya. Apakah dia sadar?


"Kenapa?" Melihat Faisal yang gak kunjung bergerak membuat Tasya menoleh jelas dia berpikir kalau Faisal tidak mengizinkan atau mungkin dia akan merasa malu.


"Tidak apa-apa, ayo," Hampir saja Tasya melepaskan tangannya tapi Faisal kembali menarik dan membuatnya semakin erat.


Faisal tersenyum dan membuat Tasya merasa sangat bahagia karena bisa menggandeng lengan Faisal. Dia sendiri juga tidak tau kenapa rasanya sangat menyenangkan bisa melakukan hal itu.


Keduanya kembali melangkah hingga sampai ke pendopo sang papa dan ternyata sudah di tunggu. Bukan hanya ada papanya saja si Rayyan tapi juga ada Keisha dan sang oma.


"Assalamu'alaikum," Sapa keduanya.


Keduanya merasa begitu penasaran kenapa ada mereka bertiga dalam satu waktu dan tempat, apakah memang ada hal yang penting yang harus di bicarakan?


"Wa'alaikumsalam," Semua menjawab sembari menoleh ke arah keduanya.


Keduanya semakin masuk dan mendekat, menyalami mereka secara bergantian kemudian duduk di satu bangku yang sama.


"Begini, papa langsung bicara saja ya. Hem, kalian kan sudah resmi menikah tapi para keluarga besar belum banyak yang tau. Jadi papa dan mama ingin mengadakan acara resepsi untuk kalian berdua. Bagaimana?"


Begitu serius Rayyan berbicara. Memang benar sih apa yang dia katakan kalau semua keluarga besar belum tau bahkan para warga sekeliling juga belum banyak yang tau.


Pernikahan mereka begitu sederhana kemarin dan di lakukan dengan cepat. Jangankan keluarga yang jauh, keluarga inti saja tidak tau.


"Kalau harus begitu saya ikut saja, Pa. Iya kan, Sya?" Faisal menoleh.


"Heh!" Tasya terkesiap, benarkah harus ada acara seperti itu juga? Lalu bagaimana dengan pihak keluarga Tasya. Tasya hanya akan sendiri bukan di acara itu, bagaimana kalau semua orang pada ingin tau bagaimana keluarganya? Bagaimana orang tuanya?


Tasya terdiam karena memikirkan hal itu, dia sangat ingin. Wanita mana yang tidak pernah memiliki mimpi untuk bisa mengadakan pesta di hari pernikahannya. Mengabadikan momen terindah yang di lakukan sekali dalam seumur hidup itu, tapi Tasya?


Tasya sangat takut kalau nanti akan banyak yang menanyakan perihal kebenaran keluarganya. Bagaimana juga kalau ada yang tau kalau ternyata ayahnya bukanlah orang yang baik dan suka mabuk, judi bahkan begitu banyak lagi keburukan yang di lakukan. Apalagi sekarang dia malah ada di dalam penjara.


"Sya, kamu kenapa?" Menangkap gelagat aneh dari Tasya Faisal langsung bertanya padanya, benar-benar sangat jelas kalau Tasya tengah sangat gelisah.


"Ti_tidak apa-apa kok. Sa_saya ikut saja bagaimana baiknya," Jawaban Tasya terdengar sangat berat seolah tidak ikhlas.


"Alhamdulillah, papa dan mama sudah siapkan semuanya. Besok malam acara akan di lakukan di hotel Asriya."


Tasya dan Faisal seketika membulatkan matanya. Besok? Secepat itu kah dan mereka baru mengatakan sekarang? Sungguh luar biasa kedua orang tua Faisal.


"Papa, papa beneran sudah siapkan segalanya?" Jelas Faisal sangat terkejut kan? Tak ada angin tak ada hujan dan langsung mendapatkan semua itu.


"Heh!" Kembali Tasya terkesiap. Tasya menjadi sering melamun setelah itu, sepertinya yang di pikirkan begitu berat, "i_iya, Ma."


"Dan ya, setelah resepsi papa mau kamu libur dulu dari semua aktivitas, Sal. Pergilah ke puncak habiskan waktu berdua di sana."


"Tapi, Pa?" Bagaimana mungkin Faisal bisa libur dari semua tugas-tugasnya lalu siapa yang akan menggantikan dirinya.


"Kamu tidak usah khawatir, ada Ilham yang akan menggantikan kamu sementara. Kedua abang mu juga papa minta pulang selama kamu pergi jadi kamu tenang-tenanglah di sana. Gunakan waktu sebaik mungkin, syukur-syukur pulangnya langsung membawa kabar baik. Iya kan, Ma?"


"Iya, pokoknya mama dan papa mau yang terbaik untuk kalian berdua." Sahut Keisha.


"Iya, Sal. Ajak istrimu jalan-jalan kalau perlu jangan hanya ke puncak ke mana gitu yang benar-benar membuat kalian rileks." Oma menimpali.


"I_iya oma. InsyaAllah." Faisal nyengir kuda begitu saja mendengar semua keinginan dari orang tuanya.


Faisal menoleh ke arah Tasya, istrinya masih saja diam. Apakah ada sesuatu hal yang dia pikir? Faisal yakin ada hal itu dan Faisal akan tanyakan nanti setelah mereka hanya berdua saja.


Faisal hanya menggenggam tangan Tasya dan membuat Tasya seketika menoleh. Keduanya saling tersenyum satunya untuk menyembunyikan yang di pikirkan yang satunya berniat memberikan kekuatan.


'Aku tau ada sesuatu yang kamu pikir, Sya. Dan aku harap nanti kamu tidak akan berbohong dan mengatakan semua kepadaku,' batin Faisal.


"Ya sudah, hanya itu yang ingin kamu katakan. Sekarang kalian kembalilah dan bersiap-siaplah untuk besok. Besok pagi kalian harus sudah sampai di hotel Asriya."


"Iya, Pa. Kami pamit dulu. Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam..."


🌾🌾🌾🌾🌾


Terus saja Tasya terdiam meski sudah sampai kamar, bahkan dia duduk dengan tak semangat dan sesekali termenung.


"Sya, kamu ada apa, katakan padaku," Faisal langsung duduk di hadapan Tasya menggenggam tangannya dan menunggu jawaban dengan sabar.


"Mas, Hem... Bagaimana kalau nanti semua keluarga kamu ingin tau tentang keluarga ku. Bagaimana kalau mereka tau kalau ayah..."


"Sudah lah. Jangan terlalu kamu pikirkan, jika hal itu terjadi biar aku yang menanganinya. Kamu tidak usah takut kalau ada yang bertanya biar mas yang menjawab," Faisal berbicara begitu lembut membuat Tasya menjadi tenang.


"Beneran tidak akan apa-apa kan?" Tasya masih saja takut. Jelas dia akan merasakan hal itu. Itu sangat wajar sih.


"Hem, tidak akan apa-apa. Lebih baik kita bersiap saja untuk semuanya. Dan kita juga harus siap ke puncak."


"Benarkah harus ke puncak?"


"Hem, tapi kalau kamu tidak suka aku bisa mengatakan pada papa. Kita tidak usah pergi juga tidak apa-apa, kita bisa juga kan menghabiskan waktu berdua di sini," Kembali mata Faisal mengerling nakal.


"Ihh... Apa sih!"


"Bukan apa-apa, hanya saja...?" Faisal terdiam tapi bibirnya sudah mulai mendekat.


Mata Tasya terus melihat apa yang akan Faisal lakukan dan ternyata kembali menyatukan bibir merah berdua.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....