Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Menyampaikan Undangan



🌾🌾🌾🌾🌾


"Assalamu'alaikum..."


"Wa_wa'alaikum sa_salam..." Tasya melongo memandangi orang yang datang. Jaketnya terjun bebas sendiri dan kini teronggok begitu saja di atas lantai karena Tasya begitu terpaku.


"Ya Tuhan, bahkan aku belum sadar sepenuhnya. Dia ada di hadapanku. Benarkah mimpi ini masih berlanjut? apakah dia akan beneran mencium ku?" celetuk Tasya. Sepertinya dia benar-benar tidak percaya dengan kedatangan Faisal.


Tasya masih berpikir kalau dia hanya mimpi, tidak mungkin kan kalau dia benar-benar datang di hadapannya? tidak mungkin kan?


"Nih kepalaku benar-benar butuh di getok pakai palu nih kayaknya biar nggak sedeng begini," inbuhnya lagi.


Tentu, semua yang Tasya katakan di dengar oleh Faisal juga Hasan. Siapa yang mau mencium Tasya? itulah pikiran yang ada pada keduanya.


Tapi melihat Tasya yang begitu terpaku di hadapan Faisal bukankah itu artinya Faisal yang akan melakukannya? Kini Hasan menolehkan ke arah Faisal dengan penuh selidik.


"Ustadz, ustadz sudah main belakang dengan dia?" tanya Hasan.


"Jangan sembarangan deh ya," jawab Faisal. Mana mungkin kan dia sudah memiliki hubungan dengan Tasya di belakang semua orang!


Kini Faisal lebih menginginkan untuk membuat Tasya tersadar. Sepertinya dia ngigo atau mungkin dalam pengaruh sesuatu? Semoga saja bukan karena obat-obatan terlarang.


"Helo, Tasya. Tasya," panggil Faisal dengan tangan yang melambai-lambai di depan wajah Tasya, berusaha untuk menyadarkannya.


"Tapi kenapa tangannya begitu nyata?" matanya mengikuti pergerakan tangan Faisal hingga dengan gerakan cepat langsung menangkapnya.


Pluk pluk...


Bahkan Tasya sampai memukuli tangan Faisal berkali-kali. Tentu saat itu Faisal tengah berjuang untuk melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Tasya yang begitu kuat. Nih cewek ternyata tenaganya besar juga, padahal kalau di lihat tubuhnya sangat kecil.


"Tasya, apa yang kamu lakukan. Lepasin," mati-matian Faisal berjuang untuk melepaskan tapi nih cewek benar-benar butuh cara lain untuk di sadarkan.


Puk...


Yang geram adalah Hasan. Dia mengambil pecinya dan dia gunakan untuk memukul kepala Tasya.


"Kucrut eh kucrut!" ternyata ada latahnya juga nih cewek.


Kini Tasya sadar seratus persen dia melihat jelas Faisal dengan wajah bagaimana gitu sementara Hasan dengan wajahnya yang kesal.


"Mati aku," perlahan Tasya melepaskan tangan Faisal, dia meringis antara malu juga gagu, "hehe, maaf. Tadi nggak sengaja."


"Hehe, sengaja juga boleh," Hasan yang menjawab.


Faisal langsung menoleh dan melotot ke arah Hasan nih satu temannya butuh di getok juga sepertinya.


"Hehe, maaf. Saya tidak sengaja," kini Hasan malah menirukan kata-kata Tasya barusan.


Pipi Tasya benar-benar terasa panas, dia melakukan kesalahan barusan itu semua gara-gara dia bermimpi yang sangat aneh. Ini semua karena mimpi itu kalau tidak dia tidak akan menjadi seperti ini kan?


"Hehehe, maaf. Saya ada urusan," ingin Tasya melarikan diri dari sana. Dia malu bahkan bingung mau di kemanakan tuh wajahnya yang sudah merah seperti kepiting rebus.


"Eh, mau kemana kamu!?" seru Hasan.


"Ma_mau cuci muka, Mas. Sepertinya ini belum sadar sepenuhnya. Separuhnya masih nyangkut di pohon kelapa," ucap Tasya berkilah. Padahal dia hanya ingin kabur saja selama ada kesempatan.


Benar-benar dia kacau karena sebuah mimpi. Ini seperti bukan Tasya yang begitu tegas berani tanpa rasa malu tapi lihatlah sekarang?


Sekarang Tasya begitu malu di hadapan Faisal yang masih bingung karena tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Tasya.


"Tunggu!" kini Faisal yang berteriak menghentikan langkah Tasya.


'Mak, Tasya pengen ikut Mak saja lah daripada berhadapan dengannya seperti ini. Anakmu ini malu mak,' batin Tasya.


"Saya hanya mau memberikan ini. Ini undangan dari oma dan oma benar-benar berharap kamu akan datang." undangan itu akhirnya sampai juga di tangan Tasya.


"Undangan apa ini?" Tasya tak mengerti.


"Akan ada acara doa bersama untuk opa dan oma meminta kamu untuk datang. Bahkan oma mengundang kamu secara khusus. Semoga kamu punya waktu untuk datang."


Begitu berharap Faisal pada Tasya bahwa dia akan menghadiri undangannya.


Perlahan Tasya membuka undangan di hadapan Faisal yang masih menunggu. Ada sebuah tulisan arab yang tentu tidak bisa di baca oleh Tasya. Dia bingung, tapi dia sangat penasaran.


"Ini di bacanya bagaimana?" tanya Tasya, memperlihatkan tulisan itu pada Faisal yang masih ada di sana.


Padahal yang tertera hanya basmalah juga kata salam saja tapi menggunakan tulisan arab tapi mampu membuat Tasya begitu penasaran.


Tasya mendekat pada Faisal, berdiri di hadapannya dengan tangan mengulurkan undangan itu pada Faisal sementara satu jarinya menunjuk ke tulisan tersebut.


Faisal tersenyum, dia menyukai orang yang mempunyai penasaran tinggi tentang hal-hal baru seperti ini apalagi yang membuat penasaran adalah hal tentang agama.


"Ini adalah basmalah, sementara ini adalah salam," jawab Faisal juga dengan tangan yang langsung menunjukkan tapi jauh dari jari Tasya.


"Bagaimana bunyinya? tidak mungkin kan bunyinya hanya basmalah dan salam gitu saja."


Faisal semakin tersenyum mendengar keinginan besar dari Tasya yang ingin tau.


"Ini bunyinya Bismillahirrahmanirrahim, sementara yang ini adalah Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," jelas Faisal.


"Oh, ribet ya." celetuknya dan kembali menarik undangan itu untuk membaca yang lainnya.


"Tidak ada yang ribet, apalagi kalau sudah mempelajarinya. Semua itu akan terlihat indah."


"Benarkah? emang orang seperti ku masih bisa belajar?"


"Kenapa tidak, selama manusia masih bernafas tentu masih bisa belajar. Entah anak-anak, remaja atau bahkan orang tua sekaligus bisa belajar jika mereka menginginkannya."


"Apa untungnya?" Ternyata sebelum mempelajari lebih lanjut Tasya ingin tau segalanya, bahkan dari akar-akarnya.


"Tentu banyak keuntungan yang di dapat. Salah satunya hidup kita akan semakin baik dan terarah. Karena semua yang kita lakukan bisa di kendalikan oleh kita sendiri."


Tasya hanya manggut-manggut tak mengerti tapi berusaha terlihat mengerti. Tak mau sampai dia terlihat begitu bodoh kan?


Tasya mengamati Faisal setelah selesai membaca dia mengernyit karena melihat ujung bibir Faisal yang terluka. Itu bukan luka sembarangan tapi luka karena sebuah pukulan.


"I_itu kenapa, kamu berkelahi?" jari telunjuk Tasya mengarah ke sudut bibir Faisal tentu itu membuat tangan Faisal juga langsung reflek untuk menyentuhnya. Bahkan dia sangat tidak sadar.


"Itu tadi..." Hasan ingin angkat bicara tapi lagi di hentikan oleh Faisal. Entah apa alasan Faisal menghentikan ucapan Hasan saat ini.


"Hasan," ucap Faisal menahan kata-kata Hasan yang ingin terucap.


"Ada apa nih, sepertinya serius amat?"


"Bukan apa-apa. Hem, bagaimana? kamu akan datang kan?" tanya Faisal mengalihkan.


"Gimana ya?" jelas Tasya bingung. Bagaimana dia akan datang ke pesantren, tidak mungkin kan dengan keadaan yang seperti sekarang ini.


"Bisa kan?" sekali lagi Faisal memastikan.


"Hehe, akan saya usahakan, tapi saya tidak bisa janji. Saya sibuk banget," kilahnya. Padahal sibuk apa coba.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....