
🌾🌾🌾🌾🌾
Begitu bahagia anak-anak setelah berada di rumah makan terdekat dari tempat tadi mereka berada. Apalagi saat ini sudah bisa menikmati makanan yang sengaja mereka pesan dengan izin Faisal.
Semua begitu lahap, begitu juga dengan Tasya yang memang selalu menikmati setiap makanan yang seperti apapun. Tak ada malu-malu tak ada rasa sungkan dan terus makan dengan lahap.
Tasya mah apa adanya tak ada lembut-lembutnya saat makan. Tapi itulah dia, tak ada yang di sembunyikan.
Biasanya para wanita akan makan dengan pelan dan lemah lembut apalagi saat berada di hadapan pria, tapi tidak dengan Tasya. Siapapun yang ada di hadapannya sama saja.
"Kak, enak banget ya makan di temani kakak tampan," celetuk Salwa dengan mulut yang penuh.
"Tapi ya, kak Tasya makannya gitu banget sedangkan kak tampan makannya kayak cewek lembut banget. Ngunyahnya di hitung ya, Kak?" imbuh Salwa seraya melihat ke arah Tasya dan Faisal bergantian.
Ya! mereka semua duduk di satu lingkar meja panjang dengan kursi-kursi di dua sisinya. Kebetulan Tasya berhadapan dengan Faisal jadi sangat mudah dilihat Salwa yang ada di sebelah Tasya.
"Hem," Faisal hanya tersenyum kecil saja dengan menoleh ke arah Salwa dan tak berani menoleh ke arah Tasya.
"Kakak kalau jadian sama kak Tasya cocok loh," celetuk Salwa.
Uhuk uhuk...
Dan kata-kata Salwa membuat Tasya tersedak hingga akhirnya batuk dan nasi yang ada di dalam mulutnya sebagian muncrat keluar lagi.
"Kamu tidak apa-apa!" cepat Faisal menyodorkan minum pada Tasya, hanya air putih sih tapi Faisal tak sengaja memberikan gelasnya sendiri yang sebagian sudah dia minum.
Memang tangan mereka tak saling bersentuhan karena Faisal juga meletakkan gelasnya di depan Tasya juga sontak Tasya mengambil lalu meneguknya hingga tandas.
"Cie cie cie..., bahkan minumnya saja gelas satu untuk berdua, cie."
Sejeli itu Salwa melihat semuanya, bahkan di saat yang dewasa saja tak ngeh dia begitu tau karena terus memperhatikan segalanya.
"Heh?" Tasya dan Faisal melongo secara bersamaan dengan mata melihat ke arah gelas yang masih ada di tangan Tasya.
Sementara Ilham hanya tersenyum dengan kejadian yang tidak di sengaja ini. Dia juga menggeleng namun tangannya mengelus punggung Faisal yang tepat duduk di sebelahnya.
"Sepertinya memang harus di prioritaskan."
"Mereka cocok ya, Kak. Aku setuju banget pokoknya," Salwa menoleh ke arah Ilham yang langsung mengangguk.
"Iya, co... ahh!" pekik Ilham saat tiba-tiba ada air panas tumpah di pangkuannya. Jelas Ilham langsung berdiri.
"Astaga, maaf maaf, Mas! sa_saya tidak sengaja. Ini gara-gara..." seorang gadis dengan rambut di kuncir tinggi dengan kemeja putih yang dia pakai. Sepertinya dia adalah salah satu pekerja di rumah makan itu.
Gadis itu menoleh ke arah belakang dan melihat seorang nenek yang hampir terjatuh tadi dan mendorongnya. Hingga akhirnya apa yang dia bawa tumpah dan mengenai Ilham.
Terlihat dia takut kena marah Ilham tapi juga merasa kasihan tapi sekaligus kesal melihat nenek yang kini sudah duduk dengan rasa tak bersalah.
"Mas, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak sengaja. Pasti panas ya," gadis itu hendak berinisiatif untuk mengeringkan baju koko Ilham dengan lap jelas itu akan langsung di tolak.
"Ti_tidak usah, saya bisa sendiri," Ilham mundur membuat tangan gadis itu tak sampai padanya.
"Mas beneran tidak apa-apa?" tetap saja khawatir karena itu bukan hanya air dingin tapi panas.
"Tidak apa-apa," suara Ilham terdengar gemetar tapi juga tertahan karena mungkin menahan sakit.
Ya! ternyata dia adalah Dina Zalianty. Pekerja di ruang makan itu.
"Sa_saya..."
"Kamu melakukan kesalahan lagi! kenapa kamu selalu ceroboh seperti ini, Dina! apa kamu memang tak ingin bekerja di sini lagi?!" omel sang pemilik rumah makan.
"Bukan seperti itu, Bu. Tadi...?" Dina melirik ke arah nenek yang sepertinya pendengarnya juga sudah berkurang karena dia tetap diam saja. Jadi, mana mungkin dia akan menyalahkan nenek itu.
"Apalagi, kamu mau alasan apalagi. Sepertinya kamu memang sudah tak suka kerja di sini ya!"
"Ma_maaf, Bu. I_ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Ini hanya masalah saya harap ibu bisa memaafkannya. Biarkan dia tetap bekerja di sini, saya juga tidak kenapa-napa kok," ucap Ilham yang tak tega juga melihat Dina yang sedih karena ini juga bukan kesalahannya.
Ancaman kehilangan pekerjaan tengah di depan mata siapa yang tidak akan sedih. Hari gini sangat susah mencari pekerjaan kan?
"Tapi ini bukan baru sekali dia melakukan kesalahan! ini tidak bisa di toleran lagi," sepertinya sang pemilik benar-benar sudah sangat marah dengan Dina.
"Saya tau, Bu. Tapi ini benar-benar bukan kesalahannya." Ilham tetap membela Dina.
"Baiklah, ini kesempatan terakhir untuk mu ya, Din. Sampai kamu berbuat kesalahan lagi ibu benar-benar tak bisa menerima kamu di sini lagi."
Sang pemilik rumah makan langsung pergi dari hadapan mereka.
Akhirnya Dina bisa bernafas lega, dia tak jadi kehilangan pekerjaannya. Kalau sampai kehilangan pekerjaan bagaimana dia akan membayar kontrakan.
"Mas, saya benar-benar terima kasih ya. Kalau sampai saya di pecat bisa ancur hidup saya. Mana banyak tunggakan lagi. Bayar kontrakan, bayar listrik, bayar air, bayar angsuran panci, juga bayar apa lagi ya?" Dina sampai lupa karena begitu banyak tunggakan yang harus dia bayar.
"Ya Allah, Mas. Pokoknya terima kasih banget ya. Hati mas benar-benar cakep kayak wajah mas. Terima kasih terimakasih!" begitu bahagianya Dina hingga dia juga langsung meraih tangan Ilham tanpa berpikir.
"I_iya, mbak mbak... to_tolong lepasin," perlahan Ilham melepaskan tangannya dari tangan Dina yang kini begitu heboh karena berterima kasih.
"Tapi Mas beneran nggak apa-apakan? i_itu nggak melepuh kan?" Dina melirik kecil ke bawah.
"Ti_tidak apa-apa," Ilham kembali mundur karena lirikan mata Dina.
"Astaghfirullah, maaf Mas!" Dina malu sendiri dan langsung ngacir pergi dari hadapan Ilham.
"Mas, mas tidak apa-apa kan?" kini Faisal yang bertanya. Sementara yang di tanya masih melongo.
"Mas," panggil Faisal lagi.
"Heh, ti_tidak apa-apa kok," dengan pelan Ilham kembali duduk. Ada-ada saja. Mimpi apa Ilham semalam bisa bertemu cewek kayak gitu. Mana dengan beraninya memegang dia lagi.
"Kak, kakak benar-benar tidak apa-apa kan? kok pipinya merah," celetuk Salwa.
"Hah!" Ilham melongo dengan kedua tangan menyentuh pipinya sendiri.
Tentu yang Salwa katakan memancing Faisal juga Tasya dan membuat mereka menoleh secara bersamaan pada Ilham.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....