Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Butuh Waktu



🌾🌾🌾🌾🌾


"Menikah adalah bentuk salah satu bentuk dari ibadah, dan berkeluarga adalah bentuk dari penyempurnaan agama. Dengan berkeluarga berarti kamu telah mengamalkan ajaran yang di syari'atkan


Dan setelah berkeluarga kamu akan lebih fokus dalam ibadah." Kyai Hasyim berbicara pada Faisal.


Seolah beliau tau apa yang menjadi kegelisahan dari Faisal, sedari tadi dia diam, menghadap kiblat dengan terus memutar tasbihnya, yah! dia hanya bisa melakukan itu, menyerahkan semua takdir kepada Sang Pencipta.


Saking fokusnya Faisal sampai tak melihat akan kedatangan dari Kyai Hasyim yang kini sudah duduk di hadapannya. Sebenarnya beliau juga ada di sana tadi hanya saja beliau dengan jarak yang lumayan jauh.


"Abah," Menoleh si Faisal dengan perasaan yang masih saja campur aduk, terus saja dia menimang-nimang semuanya. Apakah ada keraguan? semua orang mempunyai perasaan itu, tak khayal Faisal juga mempunyai.


"Meski dia baru belajar, tapi saya yakin dia adalah perempuan yang baik. Justru, jika kamu menikah dengannya akan menjadi ladang pahala untukmu. Karena kamu akan mengemban tugas yang sangat besar untuk bisa membuat dia lebih baik dan lebih dekat kepada Sang Pemilik Kehidupan," ucap Kyai Hasyim lagi.


"Kisah kamu membuat Abah mengingat masa opa dan oma mu dulu. Hampir sama, bahkan Abah pikir memang sama. Tetapi, Alhamdulillah mereka bisa melaluinya dengan sangat baik dan bertahan hingga maut yang memisahkan."


Termenung Kyai Hasyim ketika bercerita masalah Opa juga Omanya Faisal, memang sangat benar.


"Tapi, Abah tidak mau memaksa mu. Karena itu semua urusan hatimu. Abah hanya memberikan saran dan mengingatkan mu. Abah tidak tau hatimu benar-benar sudah siap atau belum untuk berkeluarga, tapi menurut islam kamu sudah sangat pantas untuk menikah dan berkeluarga."


"Abah juga tidak mau mematenkan dengan siapa kamu akan menikah, karena itu juga harus bertepatan dengan takdir. Mintalah sama Sang Gusti takdir yang terbaik untukmu."


Seulas senyum Kyai Hasyim berikan sebelum dia beranjak dan bergerak untuk pergi dari hadapan Faisal.


Semua yang Kyai Hasyim katakan adalah benar, semua nyata.


Mata Faisal masih terus mengekor kemana Kyai Hasyim pergi, dan baru berpaling setelah beliau tidak terlihat dari pandangannya.


Hingga malam Faisal berasa di sana, terus bermunajat kepada Allah dan terus mengharapkan sebuah jawaban yang tepat.


Suara-suara hewan malam semakin memenuhi ruangan alam semesta menemani hembusan angin yang kian berhembus semakin dingin.


Faisal kelu dari masjid berniat untuk istirahat karena lelah sudah semakin menjemput.


"Tasya," langkahnya terhenti saat mata melihat keberadaan Tasya yang ada di salah satu bangku yang ada di taman.


Gadis itu nampak kedinginan, terlihat karena kedua tangannya bersedekap dada dan begitu erat. Angin yang berhembus menggerakkan hijabnya yang semakin jelas sebagai tanda kalau gadis itu merasa dingin.


Aneh? dia kedinginan tetapi malah berada di luar bahkan dia hanya sendiri tanpa ada siapapun bersamanya. Sebenarnya apa yang dia lakukan di sana.


Rasa penasaran membuat Faisal melangkahkan kaki dan mendekat. Entah apa sebenarnya niat dari faisal mendekat tetapi nuraninya mengatakan dia harus melakukan itu.


"Assalamu'alaikum," sapa Faisal dengan sangat lembut jelas hal itu membuat Tasya langsung menoleh ke arahnya.


Sedikit terkejut karena Tasya pikir semua orang sudah tidur karena semua tempat terlihat sudah sepi seolah tidak ada kehidupan lagi di sana. Tasya juga sontak bergerak mundur dari tempat duduknya sedikit menjauh padahal jarak dengan Faisal juga tidak dekat.


"Wa'alaikumsalam," jawab Tasya.


"Boleh bergabung?" tanya Faisal meminta izin untuk ikut duduk di sana namun tidak berada di bangku yang sama.


Tasya hanya mengangguk dan tersenyum kecil sebagai tanda dia memberikan izin kepada Faisal bahkan sebenarnya tanpa izinnya pun Faisal bebas melakukan itu ini tempatnya bukan tempat Tasya.


Keheningan sejenak terjadi di antara dua insan yang berbeda jenis, terlihat keduanya begitu canggung tak saling menatap bahkan melirik pun tidak.


Jantung juga hati memberikan iramanya masing-masing membunyikan suara-suara yang merdu meski mereka berdua tidak bisa mendengar namun bisa merasakan.


"Nggak bisa tidur," Hanya itu yang Tasya katakan.


Di sana kamar yang khusus disediakan untuk Tasya sangatlah nyaman bahkan sebenarnya kamar itu bisa ditempati Tasya semaunya dia, bahkan jika Tasya ingin tetap tinggal semua orang sangat bahagia dengan itu. Tetapi Tasya hanya mengatakan untuk semalam saja dia tinggal.


"Kenapa, apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" sedikit banyak Faisal ingin terus berbicara dengan Tasya entah kenapa dia merasa nyaman dengan apa yang dia lakukan sekarang. Apakah ini yang dinamakan sebuah awal mula dari ikatan yang sebenarnya sudah terjalin sejak mereka berdua diciptakan?


"Saya tidak tahu," lagi Tasya menjawab dengan sangat singkat.


Tasya merasakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, menikmati masa-masa baru dengan sebuah keyakinan yang benar-benar telah dia ikrarkan. Bukan hanya dari mulut saja melainkan dari hatinya.


Menikmati masa-masa ternyaman dan juga kenikmatan yang dia dapat dari langkah yang diambil untuk lebih mengenal Tuhan. Mengagumi keindahan alam semesta sebagian yang bisa dilihat oleh mata, membesarkan Keagungan Tuhan dan merasakan betapa kecilnya dirinya bahkan tidak ada apa-apanya dibanding alam semesta apalagi sang pemilik alam semesta, Allah SWT.


Tasya bisa dengan mudah mengikrarkan pengakuan akan keesaan Tuhan, tetapi semua itu butuh proses untuk benar-benar bisa menjalankan apa yang telah digariskan dan juga diwajibkan. Tasya hanya merasa bingung dengan siapa dia harus mempelajari semuanya?


Dia tidak pernah belajar, tidak memiliki guru, tidak memiliki teman dekat yang tahu akan agama apalagi keluarga yang bisa mengajarkannya tentang hal itu. Tetapi Tasya sangat ingin, lalu? dengan siapa dia harus belajar dia tidak mungkin bisa sendiri bukan?


"Tasya, Bolehkah aku menjadi bagian dari perjalanan hidupmu?" sebuah ungkapan hati juga harapan besar kembali Faisal katakan. Faisal ingin menjadi bagian dari hidup Tasya.


Bukan hanya menjadi teman melainkan menjadi semua dalam bentuk hubungan. Bisa teman, bisa guru, bisa pelindung, juga hubungan yang paling tertinggi dari seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dengan mengubah status menjadi mahram. Suami istri.


"Maksudnya?" Tasya terkesiap, secara langsung wajah langsung menoleh dan dua pasang mata itu kini saling bertemu.


"Demi menjauhkan diri dari fitnah di setiap pertemuan kita aku ingin mengikis jarak antara kita dengan menjadikanmu sebagai bagian dari hidupku, menjadi pelengkap dalam perjalanan hidup juga pelengkap dari agamaku dari separuh ibadah yang harus saling kita lengkapi."


"Maksudnya apa, aku benar tidak mengerti."


"Maukah kamu menikah denganku, Tasya," sepertinya Faisal benar sudah yakin dan sudah memantapkan diri untuk menjadikan Tasya sebagai bagian dari hidupnya.


Mata Tasya membulat antara Shock, bingung juga masih tak mengerti. Ini terlalu cepat untuk membina sebuah hubungan yang serius Tasya masih merasa takut kalau ini hanyalah sebuah mimpi indah yang terjadi kepadanya dan akan hilang setelah dia bangun.


"Tidak harus sekarang kamu menjawab, akan aku beri waktu untukmu berfikir. Semoga jawabanmu adalah jawaban yang terbaik." ucap Faisal.


Kembali Tasya memalingkan wajahnya menerawang jauh, merasakan suatu energi yang datang dan semakin kuat dalam hati, entah itu energi apa Tasya tidak tahu.


"Sekarang istirahatlah ini sudah sangat malam tidak baik untuk kesehatan, apalagi berada di luar. Anginnya sangat kencang jangan sampai kamu sakit," ucap Faisal lagi.


Faisal sangat baik, dia juga sangat sopan dan pengertian Tasya sangat menyadari itu. Tetapi, rasa tak pantas masih saja terus menghantui Tasya ketakutan terus saja datang. Tasya sangat takut kalau ini hanyalah sebuah fatamorgana yang penuh dengan kepalsuan. Datang dengan cepat begitu juga saat pergi dengan sangat kilat.


Tasya memang bodoh, tetapi dia tidak ingin begitu dibodohi oleh perasaan dan mengambil keputusan dengan cepat tanpa mempertimbangkan segalanya.


Jika Faisal benar-benar baik dan benar-benar serius kepadanya pastilah dia akan menunggu hingga jawaban benar-benar terucap dari bibirnya entah itu kapan.


"Hem," Tasya mengangguk juga tersenyum kecil dan dia juga mulai berdiri. Dia yang tidak biasa menuruti kata orang kini tanpa sadar dia sudah menurut dengan perintah dari faisal. Apakah ini sebuah pertanda?


"Assalamu'alaikum," pamit Tasya dan mulai melangkah pergi.


"Wa'alaikumsalam." jawab Faisal dengan mantap.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....