
🌾🌾🌾🌾🌾
"Astaga... ternyata mobil bagus gini terasa gerah juga. Pengap."
Tentu Faisal langsung menoleh, dia melongo melihat seorang gadis yang sedang membuka kerudung dan membuat rambut panjangnya tergerai indah. Bahkan ada juga yang menutupi wajahnya.
"Ta_Tasya!" pekik Faisal.
Faisal menoleh ke arah belakang dan langsung melihat wajah Tasya yang sebelah kanan. Terkejut, itu jelas karena Faisal tak menyangka kalau Tasya berada di dalam mobilnya.
Lagi? ya lagi-lagi Tasya berada di dalam mobil Faisal tanpa sepengetahuannya juga kembali memberikan komentar atas mobilnya.
Dua kali mobil Faisal menyelamatkan Tasya tapi sepertinya Tasya tetap memberikan komentar miring atas mobilnya. semoga saja tidak dengan orangnya.
"Ka_kamu?" Tasya sendiri juga sangat terkejut dia tidak mengira kalau mau pilih yang dia masukin adalah mobil Faisal. Kini mata keduanya membulat dan saling menatap penuh keterkejutan.
"Kamu di sini, sejak kapan?" jelas Faisal sangat bingung.
Sebelum menjawab Tasya lebih dulu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia meringis semanis mungkin supaya tidak mendapatkan komentar dari Faisal.
"Hehehe, sebelum mobil ini berjalan. Tetapi aku tidak tahu seberapa lama aku menunggu mobil ini berjalan karena aku ketiduran, capek," jawab Tasya dengan nyengir kuda.
Ini Tasya mengambil karet yang ada di tangan dan ia gunakan untuk mengikat rambutnya yang sangat panjang.
"Terima kasih ya. Eh! tapi kita sampai di mana?" mata Tasya mengamati luar dari jendela yang yang begitu bening jelas dia melihat begitu banyak orang yang lalu lalang dengan pakaian rapi.
"Buset, orangnya banyak banget. Ini di mana?" Tasya masih tak mengerti karena ini sudah sampai di dalam pesantren. Dia pernah datang tapi kan hanya di luar jadi tidak melihat dalamnya.
Faisal masih terdiam, namun bibirnya sedikit tertarik seraya mata mengamati Tasya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.
"Ini tempat kamu?" kini Tasya menoleh dan Faisal masih tak berkedip.
"Hey! kenapa menatapku seperti itu? nanti suka loh," begitu percaya diri Tasya mengatakan itu dia tersenyum dan kata-katanya membuat Faisal sadar.
Faisal menunduk, dia tersenyum mengikuti apa reaksi yang datang pada dirinya, dia senang dia sangat bahagia bisa melihat Tasya. Dia senang bisa membawa Tasya ke acara itu meski tidak sengaja.
'Meski awalnya usahaku tidak membuahkan hasil tapi Allah lah yang telah menentukan hasil akhir. Akhirnya Tasya datang meski dengan cara yang tidak di sengaja. Entah kenapa dia bersembunyi di mobil ku,' batin Faisal.
Jika saja Faisal menggunakan mobil yang biasanya mungkin Tasya memang sengaja untuk ikut dengannya, tapi padahal Faisal menggunakan mobil lain tidak mungkin Tasya tahu kalau itu mobilnya jelas dia tidak akan sengaja untuk ikut.
"Cie cie cie, ada yang senyum malu-malu nih," biasanya seorang laki-laki yang menggoda perempuan tetapi kini malah sebaliknya Tasya lah yang menggoda Faisal yang terus tersenyum dengan menunduk.
Dengan perlahan Tasya memakai hijabnya yang kesempitan, jelas terasa sangat susah untuk masuk tetapi mau bagaimana lagi hanya itu yang ada.
"Ih, ribet banget sih," ucap Tasya yang merasa kesal sendiri karena jilbabnya tak kunjung bisa dipakai.
Faisal masih tak sadar dia malah melihat Tasya yang kini tengah terlihat lucu saat wajahnya bergerak-gerak untuk memudahkan jilbabnya masuk ke wajahnya.
"Kenapa, jelek ya?" tanya Tasya dan lagi mengejutkan Faisal.
Faisal menggeleng tentu tidak jelek di matanya Tetapi malah sebaliknya terlihat menggemaskan.
"Tidak," jawab Faisal singkat. Faisal menoleh ke arah samping tempat duduknya dan kini dia melihat dengan sangat jelas paper bag yang teronggok begitu saja.
"Oh, oma mengirimkan ini untukmu. Kamu bisa memakai ini," tangan Faisal terangkat untuk memberikan paper bag untuk Tasya.
"Apa ini?" jelas Tasya kebingungan meski tangan sudah menerimanya.
"Baju pilihan oma untuk kamu. Sebenarnya aku tadi terus berkeliling mencari mu di pasar. Tapi karena aku tidak menemukan mu aku pulang," terang Faisal.
Tasya membuka paper bag yang Faisal berikan mengeluarkan isi di dalamnya jelas baju berwarna peach yang sangat lembut juga indah tentu dengan kerudung yang berwarna senada.
"Ini sangat berlebihan, tidak akan cocok jika dikenakan oleh gadis sepertiku. Ini terlalu alim sementara aku kan tidak begitu," ucap Tasya menyadari apa yang ada dalam dirinya sendiri.
"Pakailah, jangan pernah merasa rendah. Dan jangan menghiraukan suara orang yang mungkin berusaha untuk merendahkan mu, bisa jadi orang yang mengatakan itu karena iri padamu. Yakinlah," ucap Faisal.
"Tetapi ini benar-benar sangat berlebihan, ini tidak cocok denganku," Tasya masih sangat enggan.
Sebenarnya bukan karena cocok atau tidaknya tetapi Tasya merasa belum pantas memakai baju yang begitu tertutup, begitu syar'i juga mewah. Tasya masih jauh dari kata layak untuk memakainya.
Biasanya orang yang memakai pakaian seperti itu adalah orang yang berilmu tinggi akan agama, sementara Tasya? dia sendiri tidak. Jangankan punya ilmu agama dan mengetahui semuanya shalat saja dia belum pernah bahkan mengucapkan salam dan menjawab salam yang paling mudah saja dia masih belepotan.
"Ini sangat tidak cocok dengan ku," masih saja Tasya untuk sangat enggan untuk memakai baju yang diberikan oleh Faisal barusan.
Dia juga masih tertegun mengamati baju yang begitu indah yang tidak pernah ada dalam mimpinya sekaligus.
"Kamu di sini sebentar, biar aku panggilkan seseorang yang akan menemani mu untuk ganti," Faisal bergegas keluar.
Baru saja Faisal keluar ternyata dia sudah ditunggu oleh oma yang kini berjalan mendekatinya.
"Faisal, bagaimana? di mana Tasya?" Oma langsung bertanya tentang keberadaan Tasya. Oma begitu berharap kalau Faisal berhasil membawa Tasya ke acara itu.
"Assalamualaikum, Oma," Faisal seketika menyalami Oma yang sudah berdiri di hadapannya. Faisal tersenyum senang karena akhirnya dia bisa memenuhi apa yang menjadi keinginan sang Oma tercinta.
"Wa'alaikumsalam. Faisal, Di mana Tasya, kamu berhasil mengajak dia ke sini kan?" terlihat Oma sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Tasya, gadis yang namanya sama persis seperti dirinya. bahkan sifatnya juga tidak beda jauh, pemberani.
"Sepertinya Oma sudah sangat tidak sabar untuk bertemu Tasya, Ada apa Oma?" tanya Faisal menyelidiki.
"Bukan urusanmu," jawab Oma dengan suara ketusnya.
Oma langsung menghampiri mobil dan melihat apakah Tasya ada di sana atau tidak yang jelas ada.
"Kamu pintar, Sal," puji oma kala melihat Tasya ada di dalam mobil.
"Hem," Faisal mengangguk juga tersenyum.
"Pergi sana, dan jalankan tugasmu. Biar Tasya menjadi tugas oma," usir oma tentu hal itu membuat Faisal melongo.
"Sudah jangan melongo seperti itu, cepat sana! dari tadi udah di cari papa mu. Pergi sana," oma begitu kekeuh.
"Iya, Oma." Jawab Faisal pasrah.
Faisal pergi dari sana meninggalkan Tasya juga sang oma.
Sekali Faisal menoleh dan melihat Tasya yang sudah turun dari mobil dan tengah tersenyum dengan begitu kaku di hadapan oma.
"Mirip sih," gumam Faisal.
"Ustadz mantap. Sekalian saja ustadz di ajak ke pelaminan," celetuk Hasan yang entah sejak kapan berdiri di samping Faisal.
"Sembarangan!" seru Faisal laku bergegas jalan lagi.
"Ustadz, tunggu!" teriak Hasan dan berakhir berlari mengejar Faisal.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung.....