
🌾🌾🌾🌾🌾
Faisal terus mencari dari satu warung ke warung yang lain yang ada di dalam pasar. Namun sejauh ini dia belum juga bisa mendapatkan apa yang menjadi keinginan dari istrinya.
Bahkan dia juga meminta bantuan pada para sahabat Tasya. Dadang, Agus dan juga Kipli mereka membantu Faisal untuk mencarikan apa yang diinginkan oleh Tasya.
Mereka semua tampak kebingungan karena belum juga bisa mendapatkan apa yang menjadi pencarian mereka. Padahal begitu besar pasar itu tapi belum juga mereka mendapatkannya.
"Bagaimana, udah dapat?" tanya Faisal kepada ketiganya.
Mereka bertiga menggeleng secara bersamaan dengan wajahnya yang lemas. Mereka merasa menyesal karena tidak bisa mendapatkan apa yang menjadi kegemaran dari sahabatnya itu.
"Bagaimana kalau kita cari di sepanjang jalan? Penjual cang ci men contohnya?" Dadang berinisiatif.
"Nah, bener tuh! Siapa tahu kita bisa mendapatkan dari penjual yang ada di lampu merah tersebut. Atau mungkin kita cari saja di warung-warung pinggir jalan biasanya ada tuh yang seperti itu." Kipli menyahut.
"Benar, kita bisa mencarinya di sana." Agus pun juga ikut nyumbang perkataan.
Setelah ada kesepakatan dari mereka berempat akhirnya mereka pergi dari pasar itu dengan mengendarai mobil Faisal. Mobil terus berjalan hingga sampai di pinggir taman.
"Kita berpencar, dan kita kumpul di sini lagi setengah jam setelah sekarang." ucap Faisal.
Setengah jam seharusnya sudah cukup untuk mereka mendapatkan apa yang dia cari, dan semoga saja itu benar dan mereka bisa mendapatkannya dan tentunya bisa membuat Tasya bahagia.
Mereka berempat benar-benar berpencar ke arah yang berbeda hanya untuk mencari permen karet saja seperti yang diinginkan oleh Tasya. Ternyata begitu susah untuk mendapatkan makanan yang sebenarnya sangat sepele.
Tidak peduli dengan matahari yang begitu terik mereka tetap mencari-cari dari satu warung ke warung yang lain, dan dari penjual keliling di taman juga di pinggir jalan bahkan di lampu merah.
"Aduh, kenapa susah banget sih untuk mendapatkan permen karet saja." Kipli terlihat mulai frustasi karena sudah merasa lelah namun belum bisa mendapatkannya. Karena tidak ingin mengecewakan Dia terpaksa kembali berjalan dan mendatangi warung yang lainnya.
Begitu juga dengan Dadang dia juga melakukan hal yang sama. Kakinya terus melangkah meski sudah sangat lelah, bahkan tidak peduli dengan keringat yang terus mengucur deras membasahi wajahnya.
Di sisi lain adalah Agus, dia juga terus mencari mengejar penjual keliling dan berharap bisa mendapatkannya meski hanya satu biji saja tapi ternyata belum dia dapatkan.
"Mau cari di mana? Ish kamu ini yang, Sya. Ingin kok yang susah begini. Kenapa tidak yang mudah saja sih, yang penting permen karet saja, kana akan mudah di dapat." ucapnya laku kembali berjalan.
Begitu pula dengan Faisal, dia lebih frustasi dari ketika temannya. Dia harus bisa mendapatkannya apa yang di mau oleh Tasya, jika dia tidak mendapatkannya entah apa yang akan terjadi kepada istrinya itu. Tentu saja dia akan menangis seperti anak kecil seperti saat tadi dia merengek.
"Mas, ada permen karet yang berbungkus kertas yang ada stikernya tidak?" Faisal langsung menghadang penjual yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Tidak ada mas kalau yang seperti itu, yang seperti itu sudah sangat jarang bahkan nyaris tidak ada." Jawab mas penjual itu.
"Oh begitu ya, Mas. Misalnya ada itu bisa di dapat di mana ya?" tanya Faisal. Semoga saja dia tau.
"Biasanya ada di pusat grosir snack, Mas. Biasanya masih ada tapi belum tau juga sih?"
"Itu letaknya di mana ya, Mas?"
"Mas terus saja, nanti ada pertigaan mas ambil yang kiri. Mas jalan lagi kira-kira satu kilo dan di paling ujung itulah tempatnya. Tapi saya tidak bisa menjamin loh ya, Mas."
"Iya, Mas. Terimakasih." Faisal langsung bergegas, dia berlari untuk pergi ke tempat yang di maksud oleh orang itu.
Faisal akan lebih cepat sampai jika mengendarai mobil dan dia benar-benar melakukan itu. Dia begitu buru-buru karena merasa sudah sangat lama meninggalkan istrinya pikirannya sudah semakin tidak tenang, tetapi dia belum bisa pulang sebelum mendapatkan apa yang istrinya mau.
Sampailah Faisal pada tempat yang ditunjukkan oleh penjual cangcimen tadi. Dia langsung berlari masuk dan langsung menemui penjualnya langsung.
"Permisi, Mas. Mau tanya, apakah ada permen karet yang berbungkus kertas tapi yang ada stikernya itu ya?"
"Yah, mas telat. Baru saja di beli oleh orang. Padahal hanya tinggal satu-satunya itu saja."
"Benar tidak ada yang lain, Mas?"
"Tidak ada, Mas. Coba saja mas kejar dia, dia pasti belum jauh. Dia seorang laki-laki ya seperti anak jalanan gitu lah." ucapnya.
"Baik, Mas. Terima kasih." Faisal kembali berlari, dia harus bisa mengejar orang itu, dan membelinya lagi meski hanya sebiji saja.
Faisal kembali mencari-cari, dia terus menoleh di tengah mobil yang terus berjalan.
"Apakah itu orangnya?" gumam Faisal. Dia melihat laki-laki yang seperti anak jalanan dengan menenteng wadah yang berisi permen karet yang dia inginkan.
"Tunggu!" Teriak Faisal setelah mobilnya berhenti.
Orang itu menoleh, dan betapa terkejutnya Faisal ternyata orang itu adalah Bimo.
"Bimo?" Faisal berlari mendekati.
"Faisal," Bimo pun juga berhenti.
"Ngapain kamu kesini, aku dengar Tasya sebentar lagi akan melahirkan kan? Seharusnya kamu menemaninya."
"Iya, tapi Tasya menginginkan sesuatu. Dan aku harus mencarikannya."
"Apa yang dia inginkan?"
"Hem...," Ragu Faisal menjawab. Bahwa Tasya menginginkan permen karet yang sama seperti yang ada di tangan Bimo.
"Apa?" Bimo semakin penasaran.
"Dia menginginkan permen karet seperti yang kamu bawa." jawab Faisal.
"Ini?" Hampir tidak percaya kalau Tasya masih menginginkan makanan seperti itu.
"Ambilah." Semua Bimo sodorkan pada Faisal.
"Ini beneran?" Faisal ingin memastikan.
"Iya, semoga saja dengan ini Tasya bisa memaafkan ku. Ambil saja. Nih." Bimo tersenyum.
"Terima kasih, Bimo. Sebenarnya Tasya sudah memaafkan mu. Dia juga ingin bertemu dengan mu, apa kamu tidak ingin bertemu dengannya?"
"Emang boleh?"
"Kenapa tidak, dia adalah temanmu."
Bimo begitu bahagia, dia akan mendapatkan maaf dari Tasya dan akan bisa bertemu dengannya.
Bukan hanya Bimo saja yang akhirnya ikut Faisal, tapi juga ketiga temannya yang sudah ikut bingung.
Di dalam mobil mereka masih diam-diam, tak ada yang bicara apalagi dengan Bimo. Paling mereka bertiga hanya akan berbisik saja dan tak akan terdengar oleh Bimo yang ada di sebelah Faisal.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....