Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Mentraktir teman-teman



🌾🌾🌾🌾🌾


''Semua ini gara-gara mereka. Aku bukan hanya kehilangan semua harta dan juga usaha saja, tapi aku juga kehilangan keamanan. Aku menjadi buronan polisi dan semua ini gara-gara mereka.''


Tuan Alex terlihat sangat marah dan tentunya dia juga tidak bisa terima karena semua yang telah terjadi padanya sekarang.


Matanya melotot dengan memandang satu titik di antara bebatuan yang ada di sebuah sungai di tengah-tengah hutan di mana dia bersembunyi sekarang ini.


Tangannya mengepal sempurna dengan sesekali memukul batang pohon yang sama sekali tak berdosa. Jelas, semua itu adalah rupa dari amarahnya yang dia salurkan pada tersebut.


Untung saja pohon itu tidak bisa bicara, jika seandainya bisa pastilah dia akan menangis karena mendapatkan perlakukan buruk darinya atau kalau tidak dia akan memaki dan jika bisa dia pasti akan membalasnya dengan caranya sendiri. Tapi sayang, mereka hidup tapi tak bisa melakukan apapun.


Kemarahan Tuan Alex jelas sangat besar pada Tasya dan juga pada Faisal, semua yang terjadi padanya adalah karena perbuatan mereka.


Sebenarnya bukan karena mereka tapi karena tuan Alex sendiri namun dia tidak sadar dan menyalahkan orang lain akan kesalahannya.


''Tunggu saja apa yang bisa saya lakukan. Kalian hanya tidak tau saja kalian berhadapan dengan siapa,'' matanya semakin nyalang penuh dengan amarah dan juga kebencian namun bibirnya? bibirnya mengeluarkan smirk yang terlihat sangat menakutkan.


Nafas yang sudah tidak tersengal lagi karena lelah berlari kini dia secepatnya kembali melangkah. Mencari tempat yang bisa dia gunakan untuk bersembunyi dulu untuk sekarang.


Sekarang dia tak akan bisa datang di tempat-tempat keramaian lebih dulu karena jelas para polisi masih mengincar dirinya.


''Tunggu saja pembalasanku,'' gumamnya lagi dengan mata yang masih terus melotot seolah ingin keluar. Sepertinya dia akan sangat menakutkan jika berada di hadapan anak-anak kecil.


*******


Meski dalam keadaan yang masih belum bisa di katakan aman Tasya dan juga Faisal tetap mulai menjalankan kehidupan normal seperti biasanya.


Mereka terus melakukan aktivitas di pesantren dan sesekali mereka akan keluar jika ada acara.


Tentu mereka juga menyiapkan segala kemungkinan yang mungkin bisa terjadi sebagai pelindung mereka berdua. Mereka juga terus waspada saat berada di luar pesantren.


Yang sangat jelas Faisal tidak akan pernah membiarkan Tasya pergi sendiri meski hanya ke pasar untuk bertemu dengan teman-teman brandalnya.


Seperti saat ini Faisal sedang menemani Tasya ke pasar sekaligus untuk berterima kasih dengan mengajak mereka semua makan-makan bersama.


Tasya yang mengajak mereka makan-makan meski pada ujung-ujungnya Faisal yang akan membayarnya. Katanya uang suami adalah uang istri juga. Itulah pelajaran yang dia dapat di pesantren dan yang paling selalu dia ingat.


Tetapi berbeda ketika dengan uangnya sendiri, itu akan menjadi uangnya sendiri bukan uang bersama. Sungguh cepat belajar kan dia.


''Sekarang kalian tinggal pilih mau makan apa saja, terserah,'' katanya dengan sangat percaya diri.


Sama sekali tak ada keraguan dalam pengucapannya. Bahkan dia juga sama sekali tidak tolah-toleh ke arah Faisal yang hanya diam dengan sangat pasrah.


Lagian mereka semua juga sangat lelah kemarin dan hasil kerja mereka harus dia apresiasi juga kan dengan baik. Tak masalah dengan mentraktir makan mereka sekali itu tidak akan membuat Faisal menjadi miskin.


''Beneran nih!'' Kipli mendahului menjawab ucapan dari Tasya, ''ya jaga-jaga saja kan, biasanya kamu bilang seperti itu tapi ujung-ujungnya kami sendiri yang bayar seperti dulu. Bukannya untung kenyang tapi malah buntung buncit.''


''Ho'oh,'' Dadang dan juga Agus sama-sama menjawab, kompak banget mereka berdua.


''Idih nggak percaya, kalian mau bukti? aku punya uang banyak nih lihat,'' ucap Tasya. Tangannya merogoh saku dan mengeluarkan dompet berwarna hitam yang ternyata bukan kepunyaannya sendiri, punya siapa lagi kalau bukan punya Faisal yang dia ambil sebelum berangkat tadi.


Faisal melongo tak percaya kalau Tasya akan mengeluarkan dompet punya dia, Faisal pikir Tasya akan mengeluarkan dompetnya sendiri yang jelas juga ada uangnya karena Faisal selalu memberikan uang bulanan untuk Tasya yang sepertinya masih utuh karena Tasya tak pernah memakainya.


Semuanya sudah Faisal siapkan. Mulai dari sembako dan juga semua kebutuhan Tasya jadi uang Tasya pasti masih utuh kan? Tasya juga nggak suka neko-neko orangnya.


''Nyopet dari mana kamu, Sya?'' tanya Dadang.


''Nyopet dari kantong suaminya nih pasti. Hem, kalau itu sih jangankan dompetnya aja yang di minta semuanya juga akan di berikan. NYOH!'' seru Agus di akhir kalimat.


''Hahaha!!'' semuanya tertawa karena tau Tasya menunjukan dompet suaminya sebagai jaminan untuk mereka semuanya.


Plak.. plak.. plak...


Dengan sangat cepat Tasya memukul mereka bertiga satu persatu dengan dompet Faisal, tentu Tasya sangat kesal karena mendengarkan ucapan mereka bertiga yang benar adanya.


''Sepertinya kalian tidak mau makan gratis,'' tatapan Tasya begitu bengis melihat mereka bertiga yang sontak langsung menggeleng dengan kasar karena tak mau acara makan grati ini di tunda apalagi di batalkan.


''Tidak tidak! kita mau kok. Maaf lah Sya kami hanya bercanda jangan di ambil hati lah,'' Dadang mendahului bicara sebelum Tasya beranjak beneran dari tempatnya.


Lagi-lagi Faisal hanya tersenyum karena melihat mereka yang akan selalu takut dengan Tasya.


''Makanya, jangan aneh-aneh lah,'' Tasya kembali duduk dengan tenang di sebelah Faisal namun wajahnya masih terlihat di tekuk kusut olehnya.


''Baik, Bos,'' jawab mereka bersamaan.


''Sekarang pesanlah apapun yang kalian mau,'' titah Tasya yang seolah menjadi seorang bos besar di sana. Bagaimana mungkin tidak, dia bisa memerintah, membentak dan juga memeras. Luar biasa bukan?


Mereka benar-benar makan bersama dengan bahagia. Memakan makanan kemauan mereka yang di pesan dari rumah makan yang besar itu yang belum pernah mereka datangi sebelumnya. Pastilah Faisal akan merogoh saku yang tak sedikit melihat semua makanan yang mereka pesan.


Itu tak masalah untuk Faisal kan?


''Akhirnya bisa merasakan makanan dari rumah makan yang sebesar ini tanpa rasa takut di usir. Kalau saja tak ada kalian berdua pasti kami hanya akan ngiler saja ketika berjalan di depan.''


Tak peduli sedang mengunyah Dadang tetap berbicara dan tersenyum ke arah Tasya dan juga Faisal secara bergantian setelahnya kembali menyuapkan makanan yang ada di hadapannya dengan tangan saja tanpa sendok.


''Paling kita hanya akan bisa membeli nasi putih saja di sini jika tidak hari ini,'' Kipli juga sangat bahagia.


Meski akan mengeluarkan uang banyak namun Faisal sangat senang karena dapat melihat senyum bahagia pada Tasya.


'Alhamdulillah, tak ada yang di rugikan jika demi senyummu, Sya,' batin Faisal yang memandangi Tasya yang sedang tersenyum pada para teman-temannya itu.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....