Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Kabur Bersama



🌾🌾🌾🌾🌾


Tasya benar-benar pergi dari pesantren setelah pagi hari. Sebenarnya dia sangat nyaman berada di sana, di tengah-tengah orang baik dan juga memberikan dampak positif untuk dirinya juga untuk kedepannya.


Tetapi, dia tidak ingin terlalu lama di sana karena dia merasa akan sangat merepotkan semua orang bahkan dia merasa masih belum pantas.


Tasya menyadari akan perasaannya, dia nyaman berada di dekat Faisal dia juga merasa selalu nyambung saat berbicara dengannya tapi dia masih butuh waktu untuk semakin memantapkan dirinya.


"Mas Faisal sangat baik, dia juga tidak terlihat main-main. Tapi ini masalah yang akan di jalani seumur hidup, bukan hanya sehari dua hari saja," gumam Tasya.


Langkahnya semakin jauh dari pesantren, sebenarnya Oma sudah mengatakan kalau Faisal yang akan mengantarnya sampai ke tempat tujuan Tasya, tapi dia sudah lebih dulu pergi. Padahal hanya di minta menunggu sebentar Faisal yang sedang shalat dhuha.


Di pandang tubuhnya sendiri penampilannya sama seperti kemarin saat dia berangkat dengan balutan celana juga tunik juga jilbab yang dia pinjam dari Salwa dia memang sengaja meninggalkan baju pemberian Oma.


Tak ketinggalan jaket pemberian Faisal, kenapa dia begitu nyaman hanya memakai jaketnya saja seolah aroma Faisal selalu melekat saat dia memakainya.


Tasya tersenyum seraya memakai jaket Faisal membenarkan hingga benar bisa menutupnya bahkan dia juga menutupi kepalanya.


"Ya Allah, kenapa aku jadi seperti ini, apakah aku sudah gila sekarang? aku sok tidak mau, sok meminta waktu nyatanya aku selalu ingin bersamanya. Rasa apa ini, benarkah ini yang di namakan cinta, tapi benarkah aku telah jatuh cinta pada Mas Faisal?" senyum Tasya semakin lebar.


Langkahnya berhenti, senyumnya bertambah lebar dengan angan-angan yang di penuhi dengan Faisal. Tasya begitu bahagia dengan semua angannya tapi jika mengingat lagi akan statusnya yang sangat berbeda, derajat yang tak sama juga semua yang tak sebanding membuat Tasya kembali berpikir dan senyum itu kembali pudar.


Apa kata orang kalau sampai tau orang yang di pilih Faisal bukanlah orang yang sepadan, bukan orang terpandang juga bukan orang terpelajar. Bahkan bukan orang yang pintar akan agama padahal Faisal sangat sempurna. Apakah pantas?


"Apakah tidak akan apa-apa? Kalau aku menerimanya apakah Mas Faisal tidak akan malu kalau sampai orang-orang tau kebenaran ku? aku bodoh, miskin, norak dan tentunya tak ada yang di banggain dariku," Tasya masih terdiam di tempat.


"Kenapa harus malu karena kata orang, kita yang akan menjalani semuanya, bukan mereka kan? lagian aku dan kamu halal untuk menjalin hubungan itu jadi kenapa harus memikirkan orang, kalau hubungan kita haram dan melanggar aturan agama dan negara baru kita malu."


Tasya seketika menoleh ke arah samping dan melihat wajah Faisal yang tersenyum, berdiri dengan condong ke arahnya dan menggendong kedua tangannya.


"Ma_mas Faisal, ke_kenapa di sini?" terkejut juga langsung gugup Tasya saat ini, kenapa Faisal tiba-tiba di belakangnya dan dia tidak menyadari kedatangannya? apakah dia begitu asyik berangan-angan tadi.


"Aku kan sudah mengatakan ingin mengantarkan mu," kini Faisal berdiri di hadapan Tasya.


Kepala tiba-tiba saja sangat gatal membuat Tasya langsung menggaruknya di hadapan Faisal.


"Kenapa, apakah ada kutunya?" iseng Faisal bertanya.


"Hah!" Tasya melongo tak suka. Kutu?


"Ih, apa sih! mana ada kutu, ini gara-gara aku grogi karena mas Faisal, bukan karena kutu," benar selalu jujur nih Tasya sampai-sampai dia grogi saja ngaku pada orangnya.


Tasya kembali berjalan menghindar dari Faisal dengan sedikit menyungging, sementara Faisal ikut jalan sembari terkekeh.


"Kenapa tertawa, nggak enak banget di lihatnya," Tasya berhenti sejenak untuk menegur Faisal lalu kembali berjalan.


Bukannya berhenti tapi Faisal malah terlihat seperti keenakan dan malah semakin terkekeh. Apakah begitu lucu?


"Kenapa mas mengikuti ku apakah mas tidak malu kalau sampai di pergoki fans fanatik mas? Juga, mas nggak takut kalau sampai ada fitnah karena kita berjalan berdua seperti ini?"


"Aku nggak punya fans fanatik kecuali hanya kamu saja," nih tumben Faisal begitu banyak bicara Tasya menjadi tak yakin kalau ini Faisal, kalau benar ini Faisal apakah dia sehat?


"Mas keliru minum obat?" Kembali lagi Tasya berhenti.


"Emangnya kenapa?" Faisal balik tanya.


"Mas genit amat," kembali Tasya berjalan.


Faisal mengernyit, dia di katain genit? "benarkah?"


Tasya tak menjawab dan hanya mengangguk saja sebagai jawaban.


Semakin mereka bersama semakin dekat jarak mereka dan... semakin Faisal banyak bicara membuat jantung Tasya semakin kuat bekerja. Atau entah sedang maraton atau mungkin estafet, melempar-lemparkan detakan yang ingin memaksa keluar.


'Nih kenapa aku jadi gugup seperti ini sih? ah, mas Faisal kenapa tidak pergi saja,' batin Tasya.


Batinnya meminta Faisal pergi tapi pada kenyataannya hatinya tidak rela, dia menyukai setiap kebersamaan terasa sangat nyaman.


"Kok diam," kembali Faisal berbicara.


"Bukan apa-apa," jawab Tasya dengan melengos.


"Sepertinya belum panas ya, kok pipinya udah merah saja," wajah Faisal mendongak melihat langit seolah mencari matahari sang sumber panas.


Dengan gerak cepat Tasya memeriksa kedua pipinya sendiri memang sedikit panas sih tapi apakah warnanya juga berubah merah?


"Dasar genit," Tasya melaju cepat tapi baru saja beberapa langkah dia berhenti matanya melihat beberapa orang yang tersenyum tak jauh di depannya. Siapa lagi mereka kalau bukan orang-orang yang mengejarnya kemarin.


"Astaga, mereka lagi," matanya melotot.


Faisal yang sudah berada di sampingnya juga berhenti dan melihat arah pandang Tasya. Bingung, jelas Faisal sangat bingung dia tidak mengenal orang-orang itu dan kenapa bisa membuat Tasya terdiam seperti ini.


"Mereka siapa?" tanya Faisal sedikit menoleh.


"Ini bukan waktunya bicara, kalau sempet aku cerita tapi bukan sekarang. Yang penting sekarang kita kabur," ucap Tasya.


Tak lagi mengatakan apapun tapi Tasya malah langsung menangkap pergelangan tangan Faisal, menariknya dan mereka berdua berlari bersama-sama.


Ada yang terlupakan entah Tasya ataupun Faisal, mereka terus lari dan melupakan kalau mereka belum halal untuk bersentuhan.


"Ayo cepat, kita harus bisa lari dari mereka. Mereka orang yang berbahaya," ajak Tasya semakin cepat berlari.


"Hey, berhenti! jangan lari kamu!" teriak salah satu dari orang itu yang sekarang juga sudah mengejarnya.


"Naik-naik!" pinta Tasya saat melihat ada sepeda di hadapannya. Tasya sudah naik di depan dan meminta Faisal yang membonceng.


"Naik? ini sepeda orang, Tasya. Bagaimana bisa kita memakainya," jelas Faisal tidak akan menerima begitu saja.


"Ish, naik atau nanti mas akan bonyok gara-gara mereka. Cepetan!" Tasya tak sabaran dan langsung menarik Faisal hingga benar membonceng di belakang. Sepeda pun melaju dengan cepat dengan kaki Tasya yang terus mengayuh.


Sesekali Faisal melihat ke belakang dan orang-orang itu masih terus mengejar mereka berdua.


Nih kenapa Faisal jadi pasrah begini, dia ikut saja kata Tasya dan membonceng dia. Tapi bukan berarti Faisal berpegangan Tasya melainkan dia berpegangan di belakang.


"Tasya, hati-hati nanti jatuh," ucap Faisal yang ikut merasa ngos-ngosan juga padahal Tasya yang terus mengayuh.


"Awasss!!" teriak Faisal secepat kilat dua menutup mata karena ada mobil, hampir saja mereka tertabrak mobil itu kalau saja Tasya tidak mengayuh semakin cepat lagi.


"Dasar anak-anak sialan! main sepeda jangan di jalan raya!" umpat sang pengendara mobil.


Namun Mobil yang berhenti berhasil menghentikan orang-orang yang mengejar mereka.


"Ada kalian! kalian juga mau mati!" imbuh orang itu.


Bukannya menjawab tapi salah satu satu mereka malah menendang ban mobil karena sangat kesal.


Cukup menegangkan bagi Faisal hingga jantungnya seakan ingin copot karena itu.


"Aku belum mau mati, Sya," ucap Faisal dengan mata yang masih terpejam.


"Siapa juga yang mau mati," jawab Tasya cepat.


Sudah sangat jauh mereka dari orang-orang tadi sepertinya mereka juga tak akan tertangkap tapi...


Pritttt....


Suara peluit menghentikan laju sepeda mereka berdua dan sang polisi yang sudah menghadangnya.


"Mati aku," ucap Tasya.


"Katanya nggak mau mati," celetuk Faisal.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung...