Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Kebenaran Ayah Tasya



🌾🌾🌾🌾🌾


"Bayar semua hutang-hutangmu sekarang juga!" Suaranya begitu sadis dan begitu menekankan keluar dari orang yang begitu kuat dengan tangan yang mencengkram kasar baju seorang laki-laki yang dalam keadaan setengah sadar.


Matanya begitu sayu, begitu memerah dengan tubuh yang terus sempoyongan dan tak bisa berdiri dengan tegak. Sesekali mulutnya meracau tak jelas dan tertawa meremehkan yang semakin membuat marah orang yang ada di hadapannya.


"Tenang, saya pasti akan membayar semua hutang-hutangku saat anakku pulang. Apa kalian tau? Anakku sedang pergi untuk mencari uang untukku. Dia sangat berbakti padaku jadi katakan pada Tuan Alex untuk sabar," Ucap Sudiro.


"Jangan banyak bac*t loh! Kami sudah tak bisa percaya denganmu lagi. Kamu pikir anakmu itu pergi untuk mencari uang? Tidak! Dia pergi karena kabur!" Umpatnya.


"Kamu salah, dia tidak kabur. Dia akan kembali membawa uang dan akan membayar semua hutang-hutangku. Kalau dia tidak bawa uang bukankah saya sudah bilang akan membuat dia menikah dengan tuan Alex?" Sudiro menyungging sinis.


Tak ada rasa takut sama sekali dari Sudiro, dia tetap tenang atau mungkin karena dia masih dalam pengaruh minuman keras hingga dia begitu tenang seperti itu.


"Dasar pembohong!" Bugh...


Satu pukulan mendarat di perut Sudiro hingga dia terjengkang ke lantai begitu saja dan hampir kepalanya terbentur di tembok.


Meski ada sedikit meringis karena sakit tapi itu hanya sebentar karena setelahnya terganti dengan gelak tawa yang merasa tak bersalah apalagi merasa berdosa.


"Tenang, aku akan menyerahkan anak itu pada tuan Alex setelah pulang. Dia akan bebas memilikinya. Mau dia apain dia juga terserah saya sudah tidak peduli dengan anak kurang ajar yang tak tau diri itu," Suaranya sangat kesal. Terdapat amarah yang besar untuk anaknya.


"Bagiku dia tak lebih dari barang mahal yang harus menghasilkan uang. Jadi, saya minta tolong katakan pada tuan Alex untuk memberikan ku uang. Aku ingin minum. Berikan lagi untuk ku!" Suaranya melengking di bagian akhir.


Orang itu kembali mendekat dan kembali mencengkram baju Sudiro. Matanya membulat penuh dan semakin besar karena amarah.


"Dasar tidak tau diri! Kamu tidak bisa membayar hutangmu, tak bisa menyerahkan anakmu dan sekarang kamu mau minta uang lagi?! Cuih, jangan mimpi!.... Bugh..."


Kembali satu pukulan mendarat dan kembali membuat Sudiro terlentang di lantai bahkan orang itu juga melud*hi Sudiro dengan sadis.


Dengan cepat Sudiro mengusap wajahnya yang terkena ludah dari orang itu, dia mendorong dan berbalik memukul dan membuat lawannya terjengkang.


"Kurang ajar! Kamu berani meludah padaku? Kurang ajar!" Sudiro tidak terima dan hendak membabi buta orang itu.


Tapi Sudiro tetap tak akan bisa menang karena orang itu tidak hanya sendiri di sana melainkan ada dua orang lagi yang bersamanya. Perkelahian pun terjadi dan tentu Sudiro kalah karena kalah jumlah juga kalah kekuatan yang sedang tak sadar sepenuhnya.


"Kami akan datang lagi besok, awas kalau belum bisa menyiapkan uang atau bisa menyerahkan anakmu itu!" Ucapnya.


Sudiro begitu tak berdaya dia sudah terjengkang dan terlentang dengan kedua tangan merentang dan juga kedua kaki yang mengangkang.


Sudiro masih sadar matanya masih terbuka lebar dengan memandangi langit-langit dalam keadaan yang babak belur karena bekas pukulan tadi. Sementara orang-orang itu sudah langsung pergi dengan amarahnya yang tak berhasil lagi membawa apa yang mereka inginkan.


"Dasar anak kurang ajar. Anak yang menyusahkan, anak yang tak tau di untung!" Ucapan Sudiro dengan suaranya yang sangat lemah.


Kedatangan mobil di sama sekali tak membuat Sudiro menoleh, mungkin dia memang tidak mendengar karena dia yang masih dalam pengaruh minuman.


Tasya yang melihat itu seakan tak sanggup untuk melangkah. Bukan karena dia sedih melihat ayahnya yang terluka tapi sedih karena lagi-lagi ayahnya terlihat seperti ini. Babak belur dengan setengah sadar dan berada di depan pintu rumahnya.


Tasya menangis, tubuhnya lesu dan merasa sangat malu dengan Faisal dan kedua orang tuanya. Bagaimana mungkin mereka akan menjalin hubungan dengan anak dari orang yang seperti itu.


'Tidak, aku tidak boleh lemah,' batin Tasya.


Seketika hatinya berubah dengan kemarahan yang sangat besar, ingin sekali Tasya menambah luka ayahnya supaya dia sadar dan otaknya sedikit waras tapi itu tak mungkin dia lakukan kan?


Mata Tasya sudah beralih melotot dengan kaki yang sudah mulai melangkah dengan tergesa-gesa menghampiri ayahnya.


"Tasya!" Faisal langsung mengejar dia seolah tau apa yang ingin Tasya lakukan. Begitu besar amarah Tasya apapun bisa dia lakukan pada ayahnya.


"Hey, akhirnya kamu pulang, Sya," Sudiro bergerak perlahan hingga berhasil duduk dan perlahan berdiri dengan sempoyongan.


Matanya yang sayu memandangi Tasya yang ada di hadapannya yang kembali di penuhi dengan kucuran air mata. Tapi bukan karena sedih, melainkan merasa tak beruntung dan merasa menyesal memiliki seorang ayah seperti Sudiro.


Tasya juga ingin bisa merasakan hal yang di rasakan oleh anak-anak yang lain. Memiliki orang tua yang sayang juga yang akan melindungi bukan malah seperti ini, orang tua yang selalu memaafkan anaknya bahkan tega ingin menjualnya hanya karena minuman haram juga judi.


"Akhirnya kamu kembali, Sya. Sekarang serahkan uangnya. Ayah mau minum, ayah mau minum," Satu tangannya berada di pundak Tasya sementara yang satu menengadah di depan wajah anaknya itu.


"Kamu pasti pulang dengan uang kan, Sya. Sekarang serahkan uangnya dan kamu ikut ayah, tuan Alex sudah menunggumu. Dia sudah tidak sabar ingin menjadikan istri keempatnya, hahaha!"


'Tuan Alex? Berarti...?' batin Tasya.


"Benar-benar beruntung kamu, Sya. Setelah kamu menikah dengan tuan Alex kamu akan bahagia, semua kebutuhan mu akan terpenuhi begitu juga dengan bapak yang akan selalu mendapatkan uang, hahaha!"


Terus saja Sudiro meracau terus mengatakan keuntungan yang akan dia dapat juga yang akan Tasya dapat setelah menikah dengan tuan Alex yang entah seperti apa orangnya.


"Ini saatnya kamu membalas budi padaku, Sya. Dan hanya dengan kamu menikah dengan tuan Alex baru semua itu lunas."


"Ayo ikut ayah!" Tangannya beralih menarik lengan Tasya dengan mencengkram kasar. Sungguh tak punya rasa kasihan pada anaknya si Sudiro.


Tapi, sekeras dan sekuat apapun Sudiro menariknya tak mampu membuat Tasya bergerak apalagi bisa melangkah. Tasya tetap berdiri di tempat tanpa ada pergerakan.


Faisal juga orang tuanya menatap miris dengan nasib Tasya, pantas saja dia sangat malas untuk pulang dan ternyata seperti itulah kebenarannya. Jelas saja Tasya sangat tidak ingin bertemu dengan ayahnya.


Seorang anak mana yang mau melihat ayahnya yang akan hanya mementingkan uang dan kesenangan sendiri.


Ayah yang seharusnya bisa melindungi, memberikan kebahagiaan juga selalu berusaha mewujudkan mimpi anaknya itu bukan tidak di lakukan oleh Sudiro dan malah sebaliknya.


"Ayo ikut ayah, Sya. Tasya!" Sentakan Sudiro sama sekali tak membuat Tasya gentar sama sekali dia tetap tidak bergerak dari tempatnya. Matanya semakin melotot tapi air mata juga tidak berhenti keluar.


Plakkk....


"Tasya!" Pekik Faisal dan kedua orang tuanya.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....