
🌾🌾🌾🌾🌾
"Akhsan, Ikhsan, kemana Faisal pergi? Acara belum benar-benar selesai tapi dia sudah pergi begitu saja, ish dasar adik kalian itu," tanya Rayyan bingung.
Rayyan benar-benar tidak tau Faisal dan Tasya pergi kemana karena mereka memang tidak bicara pada siapapun karena mereka juga pergi tidak akan lama. Apalagi melihat Faisal yang sudah pucat, tapi Hasan yang tau karena dia sempat di minta untuk menyetir mobilnya.
"Akhsan tidak tau, Pa. Mungkin Ikhsan?"
"Ikhsan juga tidak tau, tapi tadi pas di tempat acara Tasya sempat menyinggung soal rumah sakit, mungkin mereka ke sana untuk memeriksakan Faisal yang kurang sehat."
"Hem, semoga saja Faisal tidak kenapa-napa, semoga saja hanya masuk angin biasa saja," jawab Rayyan.
Dia juga melihat Faisal yang begitu pucat tadi, juga melihat beberapa kali Faisal yang lari untuk pergi ke toilet. Mungkin Tasya yang sangat khawatir dan membuat dia begitu buru-buru sampai tidak bilang sama siapapun.
"Alvaro, Alvino! sini main sama Opa," panggil Rayyan pada bocah kecil usia berbeda satu tahun tapi seperti anak kembar itu.
Merasa di panggil keduanya langsung menoleh, melihat kearah ayah masing-masing seperti meminta izin. Setelah ayahnya mengangguk baru mereka berdua berlari.
"Apakah papa kalian akan marah jika kalian bermain sama Opa?" Rayyan menowel hidung keduanya bergantian.
"Tidak, Opa," jawab keduanya bersamaan.
Rayyan yang duduk langsung mengangkat kedua cucunya itu ke tempat dia sisinya, duduk di tengah-tengah antara dia cucunya dan bermain bersama dengan mainan yang mereka bawa.
"Apa sih, Pa. Mana mungkin kami akan marah mereka kan cucu papa," ucap Ikhsan.
"Iya, Pa," Akhsan pun juga menambahi.
"Iya, papa tau," Rayyan semakin fokus dengan permainannya dengan kedua cucunya itu dan dua bocah itu juga terlihat sangat menikmati.
🌾🌾🌾🌾🌾
"Bagaimana, Dok. Kira-kira suami saya sakit apa ya?" Tasya begitu tidak sabar untuk mendengar penjelasan dari dokter setelah dia selesai menjelaskan semua yang Faisal alami.
Matanya membulat dengan wajah yang condong lebih dekat dengan dokter, Tasya benar-benar tak sabar untuk mendengar apa yang sebenarnya terjadi.
"Sepertinya bukan suami Anda yang harus di periksa, tapi anda sendiri," ucap dokter. Dokter itu tersenyum simpul dengan penuh arti yang tak bisa di mengerti oleh Tasya juga Faisal.
"Aku? Yang sakit itu suami saya, Dok. Jadi bagaimana mungkin saya yang di periksa?" jelas saja Tasya sangat tak habis pikir dengan apa yang dokter itu katakan.
Tasya sama sekali tidak mengalami masalah apapun, dia juga terlihat sangat sehat, dia terlihat bugar. Jadi? Bagaimana mungkin dia yang harus di periksa.
"Iya, kita akan pastikan dulu kemungkinan yang ada. Jika anda tidak apa-apa baru suami anda yang hari di periksa."
Tasya juga Faisal saling pandang, dia sangat bingung karena tak mengerti.
"Suster, bantu mbak ini untuk melakukan tes urine," pinta dokter.
"Baik, Dok," suster itu setuju dan langsung mendekat, "mari, Mbak."
"Mas," Tasya begitu ragu untuk beranjak, dia masih merasa ini tidak perlu di lakukan. Bukan dirinya yang sakit tapi Faisal.
"Sudah, turuti saja apa yang dokter minta," ucap Faisal. Dengan berat hati Tasya langsung berdiri, melangkah dan mengikuti suster itu dan masuk ke kamar mandi.
Tak lama suster kembali keluar setelah beberapa saat ada di dalam, menunggu Tasya di samping pintu.
"Dok, sebenarnya ada apa ini?" Faisal masih saja tak mengerti.
"Tenang, Mas. Mas akan segera mengetahuinya."
Dokter itu lagi-lagi tersenyum yang membuat Faisal semakin bingung.
Setelah pintu kamar mandi terbuka dokter itu beranjak, meminta Tasya untuk berbaring di brangkar sementara suster tadi masuk lagi ke kamar mandi.
Faisal langsung berdiri, mengikuti dokter yang tengah memeriksa Tasya yang berkali-kali mengerutkan kening. Terlihat jelas kalau dia sangat bingung.
Dengan di tuntun Faisal Tasya berjalan, kembali duduk di tempat semula.
Dokter itu terus saja tersenyum, sebenarnya apa yang dia pikirkan. Kenapa tidak secepatnya memberitahu mereka berdua?
Suster keluar dari kamar mandi, membawa hasil tes urine milik Tasya dan memberikannya pada dokter.
"Dok, sebenarnya apa yang terjadi?" Tasya nampak serius karena dokter kini diam dan terlihat fokus dengan penanya, mencoret-coret sesuatu di kertas yang tak mudah untuk mereka berdua baca.
"Bagaimana, Dok. Sekarang suami saya yang harus di periksa kan?"
"Tidak perlu, Mbak. Suami anda tidak memerlukan pemeriksaan apapun, suami anda baik-baik saja. Dia tidak sakit," jawab Dokter.
"Lalu?"
"Semua ini karena cinta suami anda yang begitu besar pada anda, Mbak. Jadi dia yang mengalami semua yang seharusnya anda yang mengalami."
"Maksudnya?" Tasya semakin bingung.
"Selamat, anda hamil," dokter itu kembali tersenyum.
"Ha_hamil?" Tasya langsung menoleh kearah Faisal sementara Faisal kearah Tasya. Mata mereka berdua terlihat begitu fokus dengan rasa yang masih tak percaya.
"Benar, Dok?" Keduanya menoleh kearah dokter dengan bersamaan dan dokter itu mengangguk.
Keduanya kembali saling pandang, tak mampu berkata-kata bagi Faisal. Perasaannya begitu campur aduk mengetahui Tasya yang telah hamil, sebentar lagi dia akan menjadi seorang Abi.
"Aku akan jadi Abi?" tanya Faisal. Bibirnya tersenyum namun matanya berkaca-kaca. Bingung untuk di jelaskan bagaimana perasaannya sekarang ini.
"Aku akan punya anak?" kini Tasya yang bertanya pada Faisal, tangannya sudah langsung memegangi perutnya sendiri.
Faisal mengangguk, antara percaya dan tidak tapi dia harus percaya karena dokter tidak mungkin berbohong.
Begitu bahagianya dan mereka berdua langsung berpelukan, mereka begitu girang dan seperti melupakan kalau di sana bukan hanya mereka berdua.
Ekhem...
Sengaja dokter itu berdekhem, menghentikan keduanya yang masih dalam suasana bahagia dan haru yang bercampur.
Cepat mereka saling melepaskan, malu? Itulah yang Tasya rasakan. Dia langsung menunduk dan menjadi pendiam sekarang berbeda dari beberapa menit yang lalu.
"Mohon di jaga dengan baik ya, Mbak, Mas. Usia kandungannya baru menginjak empat minggu dan masih sangat rawan. Jadi harus benar-benar di jaga. Jangan terlalu kecapean dan juga jangan mengangkat barang-barang berat, hindari pekerjaan yang memiliki resiko tinggi," ucap dokter.
"Baik, Dok."
"Ini ada resep, silahkan di tebus di apotik. Dan jangan lupa datang lagi satu bulan untuk pemeriksaan atau sewaktu-waktu ada keluhan."
"Baik, Dok."
Faisal yang terus menjawab, sementara Tasya dia terus saja diam. Tangannya masih terus berada di depan perutnya dan terus mengelusnya. Masih antara percaya dan tidak jika ternyata di dalam perutnya sudah ada yang mulai berkembang.
Setelah semua pemeriksaan dan juga sudah mendapatkan obat yang di resepkan Tasya dan Faisal bergegas pulang. Faisal terus saja menggandeng Tasya, tak dia biarkan Tasya berjalan dengan begitu buru-buru seperti sebelumnya.
"Hati-hati," katanya.
"Mas, jangan begini juga dong. Tasya susah berjalannya," protes Tasya. Faisal sudah mulai posesifnya sekarang. Tentu semua itu dia lakukan demi kebaikan Tasya dan anak yang masih di dalam kandungannya.
"Kamu harus hati-hati, Sya."
Faisal tak mengindahkan kata-kata Tasya, dia terus saja memegangi Tasya dengan erat saat keluar dari rumah sakit. Dan barulah dia lepas setelah sampai di mobilnya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....