Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Merasa lucu



🌾🌾🌾🌾🌾


Tangan Faisal seketika menepis tangan dari salah satu preman yang sudah melayang untuk memberikan pukulan pada Tasya. Jelas, itu tidak akan di biarkan, tidak akan pernah dibiarkan seorang pun menyakiti istri tercintanya.


Kembali tangan satunya melayang maju dengan cepat untuk menggapai wajah Tasya, namun Faisal kembali menangkapnya.


Dengan pergerakan cepat telapak tangan Faisal melesat menahan tangan yang mengepal hampir sampai di wajah istrinya. Kini Faisal berdiri, sedikit memberikan dorongan dengan tangan itu dan berhasil membuat preman itu mundur dia langkah.


Mata keduanya saling beradu dalam amarah, jelas tak ada kata damai lagi yang keluar, tak ada kata baik-baik untuk bisa saling menghargai juga untuk memaafkan. Tidak! jika itu sudah mengancam keselamatan istrinya tercinta.


Faisal berdiri, melindungi Tasya dan menjadi benteng untuknya yang akan selalu menahan apapun yang akan sampai padanya. Sekecil apapun perlawanan tidak akan pernah dia izinkan bisa sampai pada tubuh Tasya.


Masih dengan mata yang membulat dengan wajah yang begitu berbeda dari sebelumnya, tangan Faisal kini mencengkram kuat kepalan tangan preman itu, terus mencengkram dan semakin kuat ketika tangan itu ingin di tarik pemiliknya.


Perlahan tangan itu di putar ke kanan, begitu kuat dan semakin kuat hingga membubarkan sang empu meringis karena kesakitan.


Gila. Mungkin itulah kata yang preman itu pikirkan tentang Faisal. Lawan yang ada di hadapannya memiliki tubuh yang tidak sebanding dengannya namun tenaganya begitu luar biasa kuatnya. Apakah dia harus minta maaf sekarang?


Jika dia mengatakan kata maaf mungkin semua itu akan berakhir dengan baik, tapi jika tidak, bisa saja tangannya akan terus di pelintir dan bisa jadi akan patah tulang.


"Kurang ajar, berani kau melakukan itu pada temanku!" Satu temannya tidak terima melihat temannya yang terlihat sangat kesakitan. Dia berjalan mendekat dengan mata yang penuh dengan amarah juga penuh dengan tantangan.


"Aww! Lepas semprul!" meski sudah kesakitan tetap saja dia masih berani mengatai Faisal dengan kata-kata yang tidak baik. Sepertinya memang tidak ada niat untuk minta maaf nih orang.


Bukannya melepaskan Faisal malah sementara menjadi, dia semakin memutar dan dengan sekali gerakan.


Bruk...


Preman itu dihempas dengan satu putaran hinga berhasil jatuh di lantai rumah makan itu. Faisal ataupun Tasya yakin, mereka adalah orang-orang yang selalu membuat resah tempat itu, buktinya semua orang takut saat mereka datang dengan caranya yang kasar.


"Kurang ajar!" satu temannya begitu marah mendapati temannya sudah di banting dengan satu gerakan saja dari Faisal, kini dia yang maju dan sok-sokan ingin membalaskan dendamnya.


Woshh....


Tangannya yang melayang dengan kepalan kuat berhasil dihindari oleh Faisal dengan dia miring ke sebelah kanan, untuk saja Faisal dapat membaca serangannya kalau tidak mungkin pukulan itu akan berhasil mengenai wajahnya yang tampan dan sangat menawan itu.


Kegagalan pertama tidak membuat preman itu menyerah, matanya kian nyala seiring dengan satu tangan yang lain juga melayang maju untuk memberikan pukulan pada Faisal.


Woshhh....


Faisal menyeringai, serangannya kembali gagal karena Faisal kembali menghindar dengan miring ke sebelah kiri.


Terlihat preman itu semakin geram karena kedua kali kegagalan yang dia dapatkan, namun dia tetap tidak menyerah dalam hal itu dia kembali melawan dengan mengarahkan pukulan ke bagian perut Faisal yang tepat di hadapannya.


"Awas!" Tasya berteriak histeris. Hendak memperingatkan Faisal dari serangan preman itu. Tasya terlihat begitu tegang menatap betapa menyeramkan wajah preman itu dan juga serangan kedua tangannya yang menuju arah perut Faisal.


Tidak. Faisal tidak memerlukan peringatan itu karena dia tetap bisa menangkis pukulan dari preman itu dengan begitu tenang. Tangannya juga bergerak begitu lincah memukul tangan lawan yang kembali bergerak untuk melakukan penyerangan lagi.


Preman itu mendesis marah, tidak dapat di percaya kalau serangannya akan selalu gagal, pukulan yang sudah di tata dan di pikirkan sedemikian rupa tenyata tak mampu menyentuh sedikitpun tubuh Faisal.


"Suamiku di lawan," Tasya berkata dengan begitu bangga. Bagaimana tidak? Faisal sudah sangat jago sekarang dan terlihat lebih mumpuni dibandingkan dengan dirinya.


Satu preman yang sudah jatuh tadi kini ikut berdiri, mengambil kuda-kuda untuk ikut melawan juga.


''Hem, mau keroyokan atau satu lawan satu?" Tasya sudah siap untuk maju dan berdiri di samping Faisal, mulai dia merenggangkan otot-ototnya menandakan dia juga sudah siap untuk melakukan penyerangan.


Tetapi keinginan Tasya tidak diizinkan oleh Faisal tangannya menghalangi Tasya yang ingin membantunya, kecewa? Tasya sangat kecewa karena tidak bisa ikut berolahraga malam ini. Rasanya sudah sangat lama menggerakan otot-ototnya tapi malam ini Faisal pun juga melarangnya.


"Ah, mas Faisal nggak asyik," keluh Tasya dengan bibir yang berkatup-katup dengan kesal.


Sebelum mengikuti keluar Tasya malah asik duduk dan menghabiskan minuman yang belum habis, sebenarnya dia juga masih lapar tapi mau bagaimana lagi makanannya sudah berhamburan dan tidak mungkin bisa dimakan lagi.


Setelah minumannya habis barulah Tasya keluar dan ternyata di luar sudah terjadi perkelahian sengit antara Faisal dan juga kedua preman itu.


"Membantu tidak boleh, ya sudah jadi penonton saja," ucap Tasya begitu enteng. Itu pilihan terbaik kan daripada dia ikut lelah?


Berkali-kali serangan yang hendak didapatkan oleh Faisal namun dia selalu bisa menepisnya, tidak seperti kedua preman itu yang terlihat sangat marah Faisal malah terlihat begitu tenang.


Tidak ada rasa takut meski kedua preman itu terlihat tidak sebanding dengan dirinya. Faisal tetap berusaha mengimbangi perlawanan mereka supaya tetap tidak bisa melukai dirinya.


Bugh...


Satu serangan mematikan dari faisal mampu membuat satu preman itu terjatuh, dia tersungkur di tanah dan tak mampu untuk kembali berdiri.


Bugh....


Serangan kedua dia layangkan untuk preman yang satunya dan yang terjadi bersama, dia juga langsung ambruk di sebelah temannya hingga sama-sama tidak bisa untuk kembali memberikan perlawanan kepada Faisal.


Dengan santainya Faisal menepukkan kedua tangannya seolah menghilangkan debu yang menempel di telapak tangan dengan mata yang masih bagus ke arah dua preman tersebut. Faisal melangkah, mendekati mereka yang kini nampak takut.


"Kami minta maaf, kami tidak akan mengulanginya lagi," Mereka terlihat begitu memohon ampunan pada Faisal.


Mereka sudah begitu ketakutan ketika Faisal semakin mendekat, tetapi yang dilakukan oleh Faisal sesungguh di luar dia mengulurkan tangan untuk membantu kedua preman itu berdiri lalu tersenyum dengan begitu ramah.


"Tidak semua orang lemah dan bisa kalian lawan atau kendalikan begitu saja. Semoga saja ini menjadi pelajaran untuk kalian dan bisa menjadi lebih baik, atau kalau tidak saya bisa memanggil polisi hari ini juga dan meminta kalian untuk ditangkap. Saya yakin semua orang di sini juga setuju karena kalian pasti sangat meresahkan."


Begitu santai Faisal berbicara namun hal itu mampu membuat kedua preman itu merinding ketakutan. Tidak mungkin kan mereka akan bersedia di polisikan begitu saja, jelas mereka tidak mau masuk penjara.


"Jangan-jangan! Kami janji tidak akan ulangi lagi. Kami janji tidak akan membuat masalah lagi, tapi mohon jangan masukan kami ke dalam penjara," Suaranya sudah sangat jelas mengisyaratkan ketakutan.


"Baiklah, saya akan memaafkan kalian. Ingat, jangan anggap saya sendiri, mata-mata saya banyak di sini. Sekali kalian membuat ulah kalian akan tau sendiri akibatnya."


"Iya-iya! Kamu janji."


Kedua preman itu begitu memohon pada Faisal bahkan kedua tangan mereka saling menyatu untuk meyakinkan pada Faisal akan penyesalan mereka.


"Pergilah," pinta Faisal.


Kedua preman itu langsung ngacir begitu saja setelah mendapat perintah dari Faisal.


Tasya tersenyum, dia bertepuk tangan dengan melangkah mendekati Faisal.


"Hem, nggak sia-sia makannya banyak, tenaganya juga luar biasa," ucapnya.


Faisal menoleh, dia menyeringai penuh maksud setelah mendengar perkataan Tasya. Dengan santai Faisal melangkah mendekati dan membuat Tasya langsung diam dan menghentikan pergerakan tangannya.


"Hem, ma_mas mau apa?" Tasya kelimpungan sendiri sekarang.


"Iya, tenaganya sangat luar biasa. Untuk melakukan yang lain juga masih bisa," Faisal semakin menyeringai.


"Hem.. Hehe..." Tasya lari terbirit-birit untuk kabur dari hadapan Faisal dan masuk ke dalam mobil.


"Lucu sekali," gumam Faisal yang merasa lucu.


🌾🌾🌾🌾🌾