
🌾🌾🌾🌾🌾
Tangan Tasya perlahan bergerak, meraba-raba sebelahnya namun tak dia temukan apa yang dia cari. Siapa lagi yang dia cari kalau bukan suaminya si Faisal.
Perlahan matanya terbuka, melihat dengan jelas siapa tau dia tak bisa melihat karena masih terbawa rasa kantuk yang besar, tapi tetap saja, hanya guling yang ada di sebelahnya.
"Mas Faisal kemana?" perlahan Tasya beranjak, sedikit membenahi bajunya yang berantakan karena pergumulan yang dilakukan dengan Faisal beberapa jam yang lalu.
Matanya melihat kearah jam dinding, masih jam tiga dini hari tapi suaminya sudah tidak ada di tempat. Tasya menoleh ke kamar mandi, mungkin suaminya ada di sana namun sama sekali tidak di dengar suaranya. Lalu Faisal kemana?
"Mas, Mas!" teriak Tasya. Kakinya perlahan turun dari ranjang bergegas untuk mencari Faisal yang entah berantah.
Tasya berjalan keluar dari kamar untuk mencari suaminya yang sudah tidak ada di tempat. Sebenarnya di mana, yang membuat Tasya merasa bingung dan bergegas untuk menemukannya.
"Mas!" sekali lagi Tasya berteriak memanggil suaminya dan juga terus berjalan kemana tadi malam dan mata melihat.
Lampu dapur sudah menyala dan Tasya bergegas menghampiri tempat itu siapa tahu suaminya ada di sana. Sebelum sampai, Tasya lebih dulu menyalakan lampu ruang tengah supaya lebih jelas dia melihat sekitar.
"Mas! eh, Mas lagi ngapain?" Tasya merasa heran jelas juga penasaran setelah mendapati suaminya yang berada di dapur dan tengah memasak sesuatu.
Faisal menoleh, dia tersenyum melihat Tasya yang sudah semakin dekat kepadanya. Faisal hanya sebentar memandangi Tasya lalu kembali serius dengan apa yang ada di hadapannya.
"Mas laper, jadi bikin nasi godok. Kamu mau?" tanya Faisal yang tak lagi melihat Tasya.
Tasya sudah berdiri di sebelah Faisal, dia mengernyit dan semakin bingung saja karena Faisal tak biasa bangun hanya untuk makan. Faisal tidak pernah makan setelah tidur.
"Emang Mas besok mau puasa?" jelas Tasya bertanya sedemikian, saat ini cocok dengan sahur kan? mungkin saja kalau Faisal bangun dan masak karena mau sahur untuk puasa sunnah.
"Puasa, tidak. Mas hanya benar-benar lagi lapar saja."
"Tumben, Mas tidak biasanya bangun jam gini hanya untuk makan."
Faisal tidak lagi menjawab hanya tersenyum saja.
Keduanya kembali diam, Faisal sibuk dengan masakannya sementara Tasya hanya fokus melihat saja di sebelah Faisal.
Dilihat sepertinya enak, tapi Tasya sana sekali tidak kepingin. Tasya juga tidak biasa makan di jam-jam segitu jadi mana mungkin akan makan.
...****************...
Tasya hanya kembali menjadi penonton untuk Faisal, duduk menemani Faisal makan dan melihat begitu lahapnya saat makan.
"Kamu beneran tidak kepingin? nggak mau coba?" tanya Faisal. Sejenak Faisal menghentikan makannya, menyodorkan satu sendok penuh pada Tasya.
"Tidak, takut mules. Apalagi tuh cabenya, hem...," Tasya benar-benar gak habis pikir, Faisal bisa kuat makan dengan cabai segitu banyak.
"Ini enak, Sya. Coba saja," tetap Faisal menawarkan.
"Nggak ah, takut mules," kembali lagi Tasya menolak. Dia memang doyan pedas, tapi tidak segitunya juga.
"Udah ah, Tasya mau mandi dulu. Mas usah mandi?"
"Sudah, mas juga sudah shalat sunnah."
"Kok tidak bangunin Tasya," Tasya sedikit kesal.
"Kamu terlihat nyenyak banget Tasya sayang. Mas nggak tega bangunin kamu, mandi gih masih keburu untuk sunnah. Setelah ini kita ngaji sebentar sembari nungguin shubuh."
Faisal begitu menikmati makanan yang dibuat sendiri, sebenernya dia tidak terlalu suka dengan pedas tapi tidak tahu juga kenapa dia begitu ingin makanan yang begitu pedas, hingga akhirnya nasi godok buatannya sendiri begitu banyak cabe yang mengambang.
Rasanya tidak buruk bahkan Faisal terlihat menikmati dan tidak kepedasan sama sekali, memang sangat aneh tapi itulah kenyataannya yang terjadi.
🌾🌾🌾🌾🌾
Acara pernikahan Ilham hanya tinggal besok dan Sekarang semua orang terlihat begitu sibuk. Bukan hanya para pihak wedding organizer saja yang sibuk mempersiapkan segalanya tapi semua keluarga Faisal juga terlihat sangat sibuk.
Semua bebenah dan mempersiapkan diri mereka untuk acara besok yang akan dilangsungkan di sana. Hari ini mempelai wanita juga akan datang peserta pengasuh panti dan juga anak-anak panti dan semua orang menunggu kehadiran mereka semua, termasuk juga Tasya.
Tasya duduk bersama para perempuan sang Oma juga mamanya, mereka berkumpul dalam satu ruangan mempersiapkan seragam yang akan dikenakan besok ketika acara pernikahan.
Semua terlihat begitu antusias menyambut acara pernikahan Ilham dan Dina, meski mereka bukan asli keluarga inti dari mereka tapi mereka sudah seperti keluarga dan acaranya harus dilakukan dengan meriah. Semua keluarga Ilham juga sudah datang, tentu mereka juga sama sedang mempersiapkan segalanya.
"Sya, kamu kenapa. Kamu terlihat gelisah?" tanya Oma. Wajah Tasya memang sangat terlihat jelas kalau dia begitu gelisah.
"Tidak apa-apa, Oma." Tasya tersenyum, dia tidak mau mengakui apa yang dia rasakan saat ini. Sebenarnya, bukan gelisah karena menjelang pernikahan Ilham dan Dina melainkan Tasya begitu ke terpikirkan dengan perubahan Faisal yang kian waktu semakin aneh saja.
Apalagi tadi pagi, sebelum menuju tempat itu Faisal sempat muntah dan wajahnya terlihat sangat pucat, tentu saja Tasya akan sangat mengkhawatirkan suaminya itu yang sekarang tetap dia paksakan untuk membantu semua persiapan bersama Hasan.
"Benar kamu tidak apa-apa?" Oma masih belum percaya. Wajah Tasya sangat terlihat tidak baik-baik saja, seperti berpikir keras dan terlihat kalau ada masalah.
"Hem, sebenarnya Tasya hanya kepikiran Mas Faisal, Oma. Sepertinya dia lagi tidak enak badan." jawab Tasya yang akhirnya jujur.
"Faisal sakit?" Keisha yang menyahuti.
"Iya, Ma. Mas Faisal sepertinya sedang sakit, tapi Tasya suruh istirahat dia tidak mau karena dia ingin tetap membantu persiapan pernikahan Mas Ilham."
"Sudah di kasih obat?" Keisha terlihat khawatir, jelas Faisal adalah anaknya.
"Sudah, Ma. Tadi Tasya sudah kasih obat juga sudah Tasya buatkan minuman hangat," jawab Tasya.
"Sudah, kamu tidak usah khawatir. Faisal pasti baik-baik saja," ucap Oma menghibur. Berusaha menenangkan Tasya yang jelas juga khawatir.
Pikiran Tasya semakin neko-neko saat dia tidak melihat Faisal. Bagaimana kalau Faisal kembali muntah, dan pusing lagi? bagaimana kalau Faisal pingsan? itulah yang ada di pikiran Tasya saat ini.
"I_iya, Oma," meski Tasya sangat khawatir, namun dia tetap mengangguk dan juga tersenyum. Berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan Oma juga Keisha, mama mertuanya.
Tasya terus saja menoleh keluar, berharap akan bisa melih, Faisal yang melintas atau mungkin memang sengaja datang. Begitu tidak tenang pikiran Tasya, dia semakin khawatir.
"Pergilah, dan lihat keadaan Faisal," Oma tau kekhawatiran Tasya hingga dia menyuruh Tasya untuk melihat Faisal..
"Ta_tapi, Oma?" Tasya ragu untuk pergi, semua pekerjaan belum selesai tidak mungkin dia akan pergi begitu saja kan?
"Tidak apa-apa, ada banyak orang yang membantu. Kanu juga bisa kembali kalau sudah memastikan keadaan Faisal."
Begitu lemah lembut Oma berbicara. Selalu saja membuat Tasya begitu tenang.
"baiklah, Tasya pergi dulu ya, Oma, Mama." pamit Tasya.
Keduanya mengangguk bersamaan, memberikan izin untuk Tasya pergi menemui Faisal yang entah seperti apa sekarang keadaannya. Semoga saja baik-baik saja.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....