
🌾🌾🌾🌾🌾
Niatnya datang untuk mengatakan akan tujuannya yang ingin menemui ayahnya tapi kini Faisal malah di buat terkejut melihat keadaan Tasya yang masih terdapat luka-luka lebam yang mulai pudar dan juga luka yang sudah mulai mengering.
Matanya tak lepas dari wajah yang terlihat begitu berbeda, itu pastilah sangat berbeda dari biasanya yang begitu mulus dan tak terdapat noda sama sekali tapi kali ini noda-noda karena lebam begitu jelas.
"Astaghfirullah hal 'adzim," Faisal hanya bisa terus beristighfar dengan perasaan yang sangat kesal dan tak percaya.
Sebenarnya apa yang Tasya lakukan hingga membuat dia berada dalam keadaan yang seperti sekarang ini, juga siapa yang melakukan hingga dia terluka.
Dalam hatinya jelas terdapat rasa tak rela, meski mereka belum sah menjadi pasangan suami istri tapi harapan itu sudah jelas kan?
"Siapa yang melakukan ini, Sya?" Tanya Faisal. Begitu jelas raut wajah yang seolah ikut merasakan rasa sakit yang Tasya rasakan.
"Apa begitu sakit?" Tanyanya lagi, padahal satu belum di jawab sudah di tanya lagi dengan pertanyaan yang lain.
Ingin rasanya tangan itu menyentuh luka di wajah Tasya, mengelus nya atau mungkin meniupnya untuk sekedar meringankan sedikit rasa sakitnya tapi Faisal tidak bisa melakukan itu, dia masih belum pantas untuk melakukannya.
"Tidak sakit. Ya, hanya linu sedikit," Jawab Tasya begitu santai.
Tak sama dengan yang Faisal rasakan tapi Tasya begitu santainya seolah tak merasakan apapun. Bahkan wajahnya juga biasa-biasa saja seolah tak ada luka di sana.
"Apa yang membuat kamu menjadi seperti ini, Sya?" Pertanyaan Faisal begitu lembut meski sebenarnya perasaannya begitu campur aduk tak menentu.
"Bukan apa-apa, Mas. Bukan masalah besar, hanya latihan kuat saja," Jawabnya yang tetap dengan ekspresi yang sama. Benar-benar tak melihat betapa khawatirnya Faisal padanya dan Tasya malah biasa-biasa saja dan tak mau menjelaskan semua dan bagaimana bisa terjadi.
"Hem, tumben pagi-pagi mas sudah ke sini, apa apa?"
"Kenapa, apakah tidak boleh kalau aku datang pagi-pagi untuk bertemu dengan mu?" Setelahnya Faisal tersenyum karena merasa lucu melihat wajah Tasya setelah mendengar kata-katanya barusan.
"Sebenarnya, aku datang ke sini untuk mengajak kamu menemui ayahmu," Tanpa mengulur waktu lagi Faisal langsung mengatakan apa yang menjadi tujuannya.
Faisal ingin semuanya cepat berjalan sesuai apa yang sudah di rencanakan. Dia ingin secepatnya menjadikan Tasya pendampingnya dengan halal hingga tak ada halangan lagi dan takut akan adanya fitnah ketika mereka berdua bersama-sama.
Mendengar itu Tasya langsung terkesiap, padahal dia kemarin juga ingin melakukan itu, ingin mengajak Faisal untuk menemui ayahnya dan ternyata Faisal juga memikirkan itu. Benar-benar sudah sehati kan mereka.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu, apakah kamu tidak mau aku bertemu dengan ayahmu dan meminta izin untuk menikahi mu?"
"Bu_bukan seperti itu, Mas. Ta_tapi?" Tasya hanya ragu dan juga takut kalau ayahnya tidak akan mengizinkannya atau mungkin malah ingin meminta sesuatu yang aneh-aneh.
Padahal sangat jelas kalau ayah Tasya pasti akan melakukan apapun demi keuntungannya. Karena baginya anaknya itu seperti barang yang harus memberikan keuntungan, yang bisa di perlakukan seperti apapun semaunya.
"Apakah kamu takut?" Kembali Faisal berbicara.
Tasya terdiam, dia menunduk dengan lesu. Di bilang takut juga tidak di bilang berani juga tidak! Tasya benar-benar dalam kebimbangan.
Bagaimana dia bisa menghadapi ayahnya yang super duper dalam keburukan itu. Pemabuk, penjudi, dan juga tukang hutang yang tak menyadari kalau dia tidak akan bisa membayar.
Bukan takut, tapi lebih tepatnya Tasya akan merasa sangat malu kalau Faisal bertemu dengan ayahnya dan melihat bagaimana sifatnya.
Memang benar apa yang Faisal katakan tapi Tasya juga tidak yakin kalau setelah bertemu dengan ayahnya pernikahan mereka akan berjalan dengan lancar. Tasya malah takut kalau ayahnya_lah yang akan menjadi sumber kegagalan akan pernikahannya.
"Mas, apakah tidak ada cara lain? Misalnya? Kita menikah dulu baru menemui ayah?"
Faisal tau ada begitu besar ketakutan Tasya tentang itu. Seandainya tidak di perlukan ayahnya Tasya menjadi wali nikahnya maka Faisal juga akan menikahi Tasya tanpa mempertimbangkan apapun, tapi dalam pernikahan bukan semudah itu. Bukan hanya kedua sejoli aja yang harus bersatu tapi dua keluarga, yang jelas izin dari orang tua juga sangat di perlukan.
"Tidak bisa, Sya. Kita harus tetap bertemu dengan ayah kamu lebih dulu baru kita bisa kelangsungan pernikahan."
Begitu lesu Tasya, apakah benar hanya itu jalan satu-satunya? Apakah tidak bisa pernikahannya terjadi seperti apa yang dia ingin?
"Tidak usah takut, berdoalah pada Allah supaya semua urusan kita di mudahkan."
🌾🌾🌾🌾🌾
Bukan hanya berdua saja Faisal dan Tasya pergi untuk bertemu dengan ayahnya. Ada Rayyan sang papa juga Keisha mamanya Faisal.
Tasya menjadi pendiam saat ini saat berada di perjalanan. Rayyan berada di depan bersama Faisal yang menyetir sementara Tasya berada di belakang bersama Keisha.
Tasya merasa sangat canggung hingga dia terus diam tak berani berbicara tapi berbeda dengan batinnya yang terus bersuara tanpa henti.
'Mereka pasti akan menyesal kan setelah bertemu dengan ayah? Setelah itu pasti mereka akan menggagalkan pernikahan ini. Tapi sudahlah, kalau memang mereka menyesal dan memang berniat untuk menggagalkan mungkin ini memang yang terbaik.'
'Mereka adalah orang terhormat, orang terpandang juga orang yang baik. Sebenarnya aku merasa tidak cocok masuk di keluarga mereka. Apakah aku yang terlalu bermimpi untuk bisa menjadi bagian dari keluarga mereka? Ya Allah, jika aku memang tidak pantas menjadi bagian dari keluarga mereka maka gagalkan semuanya sebelum terjadi. Aku tidak mau nanti mereka menyesal setelah semua sudah berjalan,' batin Tasya yang terus berperang.
Tasya menoleh ketika tangan Keisha menyentuh bahunya. Perempuan yang juga berpakaian syar'i itu begitu meneduhkan, begitu membuat Tasya nyaman, seolah Tasya mendapatkan kasih sayang yang terputus dari ibu kandungnya.
"Nak, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Keisha yang begitu khawatir melihat diamnya Tasya sedari tadi.
"Hem," Tasya mengangguk pelan, senyumnya hanya begitu kecil itupun terkesan di paksakan.
"Ada apa, apakah ada yang mengganggu pikiran mu?" Begitu lembut Keisha berbicara, siapa yang tidak akan merasa tersanjung bisa berbicara dengan perempuan yang begitu lembut dan penuh kasih sepertinya. Siapapun yang ada di sampingnya pasti akan merasa sangat bahagia dan merasa beruntung.
"Tidak ada kok, hanya sedikit lelah saja," Ya! Tasya memang sangat lelah sebenarnya dengan kehidupan yang di jalani dengan ayahnya dia sudah bahagia karena sudah terlepas darinya dan sekarang dia akan kembali bertemu. Entah takdir seperti apa lagi yang akan dia dapat.
"Tidurlah kalau kamu merasa sangat lelah, sini," Pinta Keisha sembari menepuk pangkuannya meminta Tasya tidur di pangkuan.
"Ti_tidak usah," Jelas Tasya sangat sungkan kan?
"Tidak apa-apa, aku adalah ibumu bukan? Sini," Kekeuh Keisha meminta hingga Tasya tak berani menolak dan mengikuti apa yang di minta Keisha. Tidur di pangkuannya.
Tangan Keisha tak hanya diam, dia langsung mengelus rambut Tasya yang tidak tertutup apapun. Menunduk melihat wajah Tasya yang begitu gelisah.
'Seperti apa ayahmu, Nak. Sampai-sampai kamu gelisah seperti ini?' batin Keisha.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....