Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Hak dan Kewajiban Tertunai



🌾🌾🌾🌾🌾


Tasya begitu gugup setelah selesai menjalankan salat sunah dua rakaat bersama Faisal. Dia terus menunduk bahkan masih sangat enggan untuk membuka mukena yang melekat pada tubuhnya. Faisal menoleh ke belakang dan melihat istrinya yang begitu malu.


Meskipun tidak jelas tetapi pipi Tasya terlihat sangat merah bahkan jari-jari tangannya saling menyatu dan memijat satu sama lain, Bukankah itu sangat jelas menandakan kalau Tasya benar-benar sangat gugup sekarang?


Faisal tidak mengatakan apapun tetapi tangannya langsung meraih dagu Tasya dan mengangkatnya perlahan hingga terlihatlah dengan jelas Bagaimana wajah Tasya saat ini.


Mata Tasya seolah tak berani melihat ke arah Faisal meski wajah mereka sudah saling berhadapan dan dengan jarak yang begitu dekat.


Terlihat mulut Faisal berkecamuk melantunkan sebuah doa yang Tasya sendiri tidak tahu Doa apa itu, namun setelah itu Faisal tiupkan di ubun-ubun Tasya dan kemudian Faisal mengecup kening Tasya dengan begitu lembut dan seolah terasa sampai ke dalam hati Tasya.


Tasya diam terpaku seolah tak mampu untuk menggerakkan anggota tubuhnya. Gugup, takut dan juga malu bercampur menjadi satu dalam dirinya dia ingin memberikan apa yang memang sudah menjadi hak dari Faisal tetapi semua rasa itu begitu menggebu dalam hatinya.


Apakah benar dia harus memberikan kepada Faisal saat ini?


"Aku tanya sekali lagi apakah kamu benar-benar sudah siap melaksanakan kewajiban mu? Apakah kamu akan memberikannya sekarang?"


Kembali Faisal meminta penjelasan kepada Tasya dia tidak mau kalau sampai apa yang akan mereka lakukan akan membuat sebuah penyesalan. Faisal memang menginginkannya tetapi dia tidak ingin memaksakan kehendak, karena hubungan itu harus dijalankan ketika keduanya saling ikhlas dan ridho maka semuanya akan berakhir baik.


Tasya terdiam dia bingung akan menjawab apa.


Tetapi, bukankah diam adalah tanda dia setuju?


"Apakah kamu tidak akan menyesal?" kembali Faisal menegaskan.


Tasya mengangguk dengan pelan kemudian dia menunduk karena rasa malu begitu besar menguasai.


Faisal tersenyum jawaban dari Tasya membuatnya berbunga-bunga karena sebentar lagi akan mendapatkan hak yang sudah seharusnya.


Tetapi sebenarnya setelah hubungan itu terjadi maka bertambah_lah beban yang akan berada di pundaknya. Melakukan sebuah hubungan dalam ikatan suci pernikahan bukan hanya memikirkan akan kenikmatan yang didapat saja melainkan juga harus memikirkan bagaimana kedepannya dan juga harus siap jika sewaktu-waktu memberikan rizki di tengah-tengah hubungan mereka.


Kebanyakan orang hanya memikirkan perasaan nikmat dan enak ketika melakukannya namun mereka tidak pernah berpikir untuk kedepannya dan tidak mempersiapkan semuanya dengan baik. Padahal sejatinya hubungan itu terjadi ketika keduanya benar-benar sudah siap untuk mengemban amanah yang lebih besar.


"Alhamdulillah..." ucap Faisal.


Dilepas dengan perlahan mukena yang dipakai oleh Tasya oleh Faisal dan terlihat Betapa cantiknya Tasya saat ini dengan semua kesempurnaan wajahnya juga rona malu yang menghiasi kedua pipinya.


Diangkat tubuh Tasya dengan pelan dengan mata yang tidak pernah terlepas dari wajah. Dan setelah sampai di sebelah ranjang diturunkan Tasya dengan perlahan.


Begitulah lembut perlakuan dari Faisal meski Tasya sangat gugup tetapi dia tidak merasa takut lagi karena yakin Faisal akan melakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Allahumma jannibnasy- syaithaana wa jan-nibisy-syaithaana maarazaqtana," di bisikan doa di telinga Tasya sebelum Faisal memulai penerbangan yang akan membuat mereka mendapatkan kenikmatan surga dunia.


Faisal benar-benar sudah siap dan sudah mantap dengan semua yang akan di peroleh di masa yang akan datang. Dia sudah siap dengan rezeki yang kemungkinan besar akan tumbuh di rahim yang perempuan di hadapannya yang akan penuh dengan kasih sayang.


'Wahai Allah! Jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau berikan kepada kami,' batin Faisal.


Mata Tasya terpejam kala Faisal mendekatkan wajahnya untuk memulai penerbangannya. Memberikan kecupan manis dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


Di tariknya selimut untuk menutup penerbangan mereka, tak ingin hubungan mereka di ganggu makhluk jahat dan tentunya mengikuti syariat.


Rasa takut juga gugup perlahan menghilang seiring dengan rasa nikmat yang di hadirkan.


Desir panas menggetarkan seluruhnya namun memberikan sensasi yang luar biasa dan semakin menggelora.


Setiap detak jantung terhitung sedekah dan setiap peluh terhitung sebagai pahala. Sungguh besar yang di dapat jika di lakukan dengan benar dan saling ridho. Bukan hanya kenikmatan surga dunia tapi juga pahala dari Sang Maha Pencipta yang menghadirkan cinta.


Cinta akan semakin besar, dan hubungan akan semakin erat.


Tak ada rasa malu yang ada hanya saling menunaikan kewajiban dan juga mendapatkan hak.


Sakit, itu pasti Tasya dapatkan. Ini adalah kali pertama dia melakukan.


Susah, itu pastilah Faisal dapatkan dari lembah sempit bersegel rapat dan harus di buka dengan perlahan karena tak mau menyakiti.


Sedikit usaha, sedikit pengorbanan yang akan menumbuhkan kenikmatan dari keduanya hingga benar-benar ke puncak tertinggi.


Hingga akhirnya, puncak di dapat dan syukur terlontar dalam hati dan terlepas melalui bibir.


'Ya Allah, berkahi kami anak-anak yang akan menentramkan hidup kami. Yang akan menjadi kebanggaan kami dan yang akan menjadi penerus kami untuk mensyiarkan agama-Mu,' batin Faisal lagi.


"Terima kasih, Sayang. Cup," kecupan di kening sebagai tanda terima kasih dari Faisal karena Tasya sudah rela memberikan hak nya.


"Hem," Tasya mengangguk dengan malu dengan pipi yang masih merona.


"Apakah masih sakit?" tanya Faisal khawatir.


"Hem," Tasya menggeleng, dia seolah tak kuat untuk bicara karena nafasnya juga masih terus terengah.


"Alhamdulillah kalau tidak sakit. Berarti boleh nambah dong," Faisal tersenyum genit.


"Hah!" Mata Tasya membulat.


Kalau seperti ini sepertinya Faisal tidak akan membiarkan Tasya tidur dengan nyenyak malam ini. Mungkin inilah yang di maksud semua para wanita yang baru pertama kali melakukan.


Mereka pertama melakukan tapi pasangannya meminta tambah dan akhirnya akan membuat sang istri susah jalan di pagi harinya.


Apakah itu juga akan berlaku untuk Tasya juga?


"Mas memang masih menginginkan tapi tidak sekarang. Kamu pasti sangat lelah, tidurlah."


Akhirnya Tasya bisa bernafas lega setidaknya dia bisa tidur malam ini.


Kedua tubuh saling menyatu di sisa-sisa peluh yang masih melekat. Saling memberikan peluk di bawah selimut yang mereka gunakan untuk menutupi tubuh mereka yang polos.


Perlahan mata mulai terpejam dan nafas mulai teratur kembali. Kedua, menjemput mimpi dengan harapan mimpi yang terindah di tengah-tengah cinta dan kasih sayang yang sudah menyatu


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung...


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Panasssss....


πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ