
🌾🌾🌾🌾🌾
Katanya mau mengantarkan Tasya ke panti untuk membantu Dina di sana tapi kenyataannya Faisal masih sibuk di pesantren dan menyiapkan semuanya di sana juga.
Tasya yang sudah selesai membantu pekerjaan di pesantren hanya duduk saja menunggu Faisal juga terus melihat dari kejauhan apa yang Faisal lakukan sekarang.
"Beruntungnya aku. Hem, takdir Allah memang sangat baik," Tasya tersenyum senang melihat Faisal, keberuntungan memang sangat besar bagi Tasya karena bisa menjadi pendamping Faisal.
Laki-laki yang baik dan juga bisa selalu menuntunnya dalam hal kebaikan, mengajarnya untuk lebih mengenal Tuhan-nya. Tentunya membuat Tasya menjadi perempuan baik-baik sekarang.
"Hem, tapi aku harus menunggu sampai kapan?" Tasya merasa sangat jenuh menunggu Faisal. Gak ada hal lagi yang bisa dia lakukan sekarang.
Rasa gerah yang semakin lama dia rasakan membuat tangannya terangkat dan mengipas-ngipasi wajahnya sendiri yang terasa sangat panas. Tadi mendung tapi sekarang begitu panas.
"Cuaca benar-benar tidak menentu," katanya lagi.
Tasya melihat ke atas dan matahari terlihat begitu cerah dan mengeluarkan seluruh hawa panasnya hingga sampai ke bumi, bahkan Tasya yang berteduh pun juga merasa sangat kepanasan bagaimana yang lain?
"Eh, ustadz! Ustadz mau ngapain!"
Teriakan dari salah satu santri membuat Tasya terkejut, dia menoleh dan ternyata melihat Faisal yang sudah nangkring di pohon mangga.
Padahal tidak ada dahan yang mengganggu untuk mereka mendirikan tenda-tenda tapi Faisal sudah di sana, mau ngapain?
"Eh, mas Faisal mau ngapain tuh manjat-manjat?" Tasya jelas sangat penasaran.
Rasa penasaran yang sangat besar membuat Tasya beranjak lalu berjalan menghampiri tempat dimana Faisal berasa sekarang.
"Mas, Mas Faisal mau ngapain?" Tasya berhenti tepat di bawah pohon mendongak ke atas dan melihat Faisal yang ada di sana.
"Ngga apa-apa, hanya pengen ini saja sepertinya enak," jawab Faisal dengan memetik mangga yang ada di hadapannya.
"Enak?" Tasya menelan ludahnya sendiri dengan susah, enak dari mananya melihat saja sudah membuat gigi Tasya terasa ngilu.
"Iya, enak," begitu semangat Faisal juga begitu senang karena telah berhasil mendapatkan beberapa mangga yang ada di sana dan setelah mendapatnya Faisal seketika turun dan menghampiri Tasya.
"Kamu mau?" satu Faisal sodorkan pada Tasya.
Kemarin-kemarin katanya tidak bisa manjat tapi kenapa sekarang dia begitu mudah untuk bisa manjat? Apakah dengan sekejap saja Faisal bisa belajar?
Oh iya, Tasya melupakan bagaimana Faisal menyelamatkan nya waktu itu yang harus memanjat pohon supaya bisa masuk ke tempat Tuan Alex. Jangankan hanya pohon mangga kan? Pohon besar dan tinggi saja Faisal bisa lakukan.
"Di colek sambel sepertinya enak," Faisal melihat-lihat mangga itu yang ada di tangannya sendiri.
"Sam_sambel?" semakin ngelantur apa yang Faisal inginkan saat ini. Ini hal yang sangat aneh bagi Tasya.
"Mas, tunggu!" Tasya langsung berlari ketika Faisal sudah berjalan lebih dulu dan meninggalkannya.
Ada yang aneh pada Faisal, ini sangat tak biasa tapi inilah yang terjadi.
Faisal benar-benar masuk ke pendopo nya, pergi ke dapur dan bergegas melakukan apapun yang dia pikirkan.
"Mas, mas mau bikin apa sih?" Tasya terus mengikuti Faisal, melihat pergerakan Faisal juga tangannya yang terus sibuk dengan mengupas mangga tersebut juga memotongnya.
Faisal tidak menjawab tapi hanya tersenyum saja dan mengelus kepala Tasya daja bagian belakang itupun hanya sebentar lalu kembali dengan kesibukannya lagi.
Dengan santainya Faisal membuat sambal dan setelah selesai dia membawanya ke ruang tengah, Tasya pun tetap mengikutinya.
Melihat itu mulut Tasya terasa menghasilkan air liur begitu banyak, gigi-giginya juga terasa ngilu ketika Faisal mulai mencolek sambel dengan mangga yang masih muda itu.
"Ya Allah, kesambet apaan ini suamiku?" gumam Tasya, jelas dia sangat bingung.
"Mau? Ini enak loh, Sya." Faisal menawarkan lagi bahkan dia juga siap menyuapi Tasya namun dengan cepat Tasya menolak dengan cara menggeleng.
"Tidak ah, Tasya udah lebih dulu ngilu sebelum makan," tolak Tasya.
"Hem, kamu melewatkan rasa nikmat ini, Sya," kembali Faisal menyuapkan pada dirinya sendiri.
Terlihat sangat enak ketika Faisal yang makan, tak ada kening atau wajah yang mengkerut dan semua terlihat biasa-biasa saja. Sementara Tasya? Wajah Tasya yang terasa pegal sendiri karena terus mengkerut ketika melihat Faisal yang terus keenakan.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....