
🌾🌾🌾🌾🌾
Acara makan siang yang menenangkan bagi Ana terganggu dengan datangnya Bimo juga para bala tentaranya. Ternyata dia memiliki komplotan yang sepertinya usianya hampir sama.
"Sendiri aja nih?" ucap Bimo basa-basi. Tau Ana sendiri masih saja di tanya.
Ana tak menggubrisnya. Tetap menikmati makannya yang hanya sederhana. Nasi bungkus berlauk tempe goreng juga sayur kangkung, itu saja sudah nikmat banget untuk Ana. Di tambah menikmatinya di ruang terbuka meski di belakang pasar.
"Makan apa, tidak berniat untuk membagi gitu?" Bimo ikutan duduk di hadapan Ana memandang betapa menikmatinya Ana saat ini.
"Kenapa, apa kamu tidak mampu beli makan?" ledek Ana. Ana tau, dari tadi Bimo terus mondar-mandir cari mangsa tapi karena selalu di lihatin oleh Ana dia tak berani bergerak.
"Resek amat nih cewek. Belum pernah ngerasain pukulan gue nih," satu teman Bimo yang langsung tersulut emosi, dia sudah bersiap-siap untuk memberikan pukulan untuk Ana dengan terlihat jelas tangannya yang sudah menggerutuk.
Matanya juga langsung melotot mengisyaratkan kebencian pada Ana sementara yang di beri tatapan seperti itu tetap saja santai dengan menikmati makanannya.
"Weh, benar-benar minta di gibeng nih cewek. Sombong bener," imbuhnya lagi karena masih tak melihat pergerakan dari Ana.
Kaki sudah melangkah, sudah siap dengan tangannya yang mengepal. Ana hanya melirik sedikit dan kembali fokus dengan makanannya.
"Gus," Bimo yang menghentikan pergerakan satu temannya itu. Namanya adalah Agus.
Ada empat orang yang datang menghampiri Ana termasuk Bimo. Bimo, Agus, Dadang juga Kipli. Mereka adalah satu kelompok dengan umur yang sepertinya hampir sama, penampilan mereka juga tak beda-beda jauh. Hampir sama.
"Kamu membelanya, Bos?" Agus tak habis pikir.
Agus memang belum kenal dengan Ana dan ini adalah pertemuan pertamanya. Tapi yang jelas cewek di depannya ini sangat menyebalkan untuknya.
Sepertinya Bimo mulai tertarik dengan Ana, bisa jadi dia akan menjadikan Ana komplotannya juga. Tapi entah nanti akhirnya Bimo yang bisa mengendalikan Ana atau malah sebaliknya tak ada yang tau tapi yang jelas Ana tidak mungkin mau di kendalikan. Ana ingin bebas, tidak terikat dengan siapapun.
"Bos, gara-gara dia bos tidak dapat mangsa loh! gara-gara dia kita tidak bisa makan hari ini," Kipli yang bicara.
"Iya, nih perut laper banget, Bos. Tuh denger, ternak ku sudah demo," timpal Dadang.
Ya! mereka mencari uang dengan cara nyopet ataupun malak para pedagang dan udah beberapa hari ini mereka tidak bisa maksimal, bahkan tak mendapatkan pemasukan gara-gara Ana yang sudah seperti mata-mata.
"Kalian lapar?" tanya Ana enteng jelas mereka semua mengangguk.
Tangannya merogoh sakunya dan menemukan permen karet seperti biasa.
"Nih, satu, satu, satu, satu." dari ke empat pria semua mendapatkan jatah satu permen karet dari Ana.
Mata mereka membulat, mereka yang biasa makan enak hasil kerja mereka dan sekarang hanya mendapat satu permen karet saja?
"Permen karet?" serempak mereka semua.
"Ya, permen karet! itu halal dan juga lebih awet. Kalau kalian tahan bisa satu hari. Aku jamin tidak akan habis," jawab Ana sembari mengangguk.
Jelas akan awet tuh permen karet, benar juga kata Ana kalau itu akan bertahan lama.
"Weh, bener-bener nantangin nih cewek!" Agus kembali kesal, dia adalah pria yang paling gampang tersulut emosi dari mereka berempat. Emosinya selalu meledak kala ada orang yang dia anggap begitu songong. Ya, seperti Ana ini.
"Aku kasih tau ya, satu permen karet yang di berikan dengan ikhlas akan menjadi daging di tubuh kalian daripada makan daging tapi uangnya hasil dari nyopet atau nyuri. Yang ada hanya akan menjadi sesuatu yang menjijikkan. Ngerti nggak?" Lagi-lagi Ana memberikan nasehat bijak untuk mereka. Kemarin hanya Bimo saja dan sekarang semuanya mendapatkan jatahnya juga.
"Jadi daging apaan permen gini. Yang ada hanya menjadi ganjal gigi!" Agus kembali bersuara.
"Bagus pala luh!" Agus sepertinya benar-benar tak menerima apapun kata-kata Ana sementara yang ketiga masih diam mendengar perdebatan mereka.
Ana tak lagi menggubris dia lebih memilih minum air mineral yang dia beli bersamaan dengan nasi bungkus tadi.
"Heh, kucrut! ternyata di sini kamu ya!" kedatangan dua orang bertubuh besar membuat keempat pria itu menoleh sementara Ana hanya santai saja. Dia mah mana ada takut-takutnya.
"Nih cewek bikin masalah apa sama mereka?" gumam Bimo dengan melirik pada Ana.
"An, kamu bikin masalah sama mereka?" tanya Bimo.
"Buat apa cari masalah. Hidup sekali kok di bikin ribet dengan cari masalah. Nikmati aja lah," jawab Ana acuh.
"Lalu, mereka?" jelas Bimo bingung.
"Tau?" dua bahu Ana terangkat bahkan dia sendiri juga tidak tau letak kesalahannya. Tidak mungkin hanya karena dia panggil paman tadi kan?
"Heh, kucrut! lebih baik kamu pergi dari sini kalau kamu masih kasihan dengan nyawamu," sepertinya paman-paman itu tak menyukai keberadaan Ana.
Apakah mereka takut dengan seorang cewek kecil seperti Ana?
Masak iya mereka merasa terancam karena keberadaan Ana, Ana kan tidak ingin mengganggu mereka tapi entah juga sih kalau yang di lakukan mereka sama atau lebih parah dari Bimo dan teman-temannya pasti akan mendapatkan gangguan darinya.
"Emangnya kenapa, Paman? sini kan tempat umum siapa saja bebas datang juga tinggal. Lalu dimana masalahnya?"
"Jangan banyak kata deh loh! saya peringatkan sekali lagi ya! lebih baik kamu angkat kaki dari sekarang. Kalau tidak!"
"Kalau tidak kenapa, Paman. Mau traktir nasi goreng? hayuk lah, nih perut masih muat," jawab Ana.
"Nantangin nih anak ingusan!"
Sudah Ana prediksi sebelumnya hidup di tempat baru dan juga di alam liar seperti ini pasti tak akan mudah. Akan banyak tantangannya. Dan itu semua sudah dia perhitungkan.
Mungkin kalau Ana tak memiliki bekal sedikit kekuatan dia tak akan seberani seperti ini tapi dia memilikinya dan bisa dia gunakan untuk melindungi diri meski dia tidak tau seberapa kuat orang yang akan dia hadapi.
"Seret saja dia kalau tidak mau angkat kaki dari sini!" sang bos dari mereka datang.
Keempat pria yang ada di samping Ana hanya bisa diam dengan menelan saliva sendiri. Apa mereka takut? tidak! hanya saja berurusan dengan mereka akan berbuntut panjang.
"Baik, Bos!" jawabnya. Kakinya seketika melangkah dan menghampiri Ana yang tetap tenang. Jawara di lawan.
"An, aku ajarin jurus jitu mau nggak," bisik Bimo.
"Apa itu?" Ana menoleh.
"Jurus langkah seribu, alias LARI...!" dan benar saja, Bimo the CS lari semua meninggalkan Ana.
"Hadeuh, itu bukan jalan satu-satunya. Dasar." sementara Ana masih tetap bertahan.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung...