
🌾🌾🌾🌾🌾
"Assalamu'alaikum," Sapa Faisal.
Semua anak-anak termasuk Tasya langsung menoleh ke arah Faisal yang datang dan sudah langsung mengucapkan salam padanya.
Faisal tidak sendiri, ada satu pria yang belum pernah Tasya lihat sebelumnya. Dia adalah Ilham yang kini berdiri di posisi sedikit belakang Faisal di sebelah kiri.
"Wa_wa'alaikum sa_salam," jawaban Tasya begitu belepotan sepertinya dia juga tak bisa benar menjawab salam. Mungkin dia juga tidak hafal karena memang tidak pernah mengucapkannya.
Jelas, dia tidak pernah sekolah. Tidak juga pernah menghadiri acara-acara keagamaan yang akan membuat dia mendengar kata salam atau suara jawabannya.
Keseharian Tasya hanya membantu ibunya sebelum dia tiada dan setelah ibunya tiada dia sering kabur-kaburan dari rumah karena tidak mau melihat juga di kendalikan oleh ayahnya. Apalagi saat ayahnya memaksa Tasya untuk menikah dengan rentenir yang menjelma menjadi bandit tua.
"Halo Kak, kakak mau kasih kita makan lagi ya?" ucap Salwa. Ya karena biasanya Faisal akan turun langsung ke jalan dan mendatangi mereka karena ingin memberikan mereka makanan, tapi sepertinya kali ini tidak. Tujuannya berbeda deh.
"Hus! kita memang tidak masalah menjadi pengamen. Tapi jangan sampai menjadi peminta. Ngerti kan?" Tasya begitu tak suka dengan ucapan Salwa. Karena baginya selama kita bisa melakukan apapun yang menghasilkan tidak boleh kita meminta-minta dan hanya mengharapkan belas kasih dari tangan orang lain.
Mengamen juga adalah bentuk kerja menurut Tasya, seberapapun pemberian orang itu karena mereka menghargai cara kita. Ya meski dengan suara yang sebisanya.
Tetapi kalau meminta, itu bukan bagian pekerjaan kan? entahlah, itu hanya pendapat Tasya saja. Tasya yakin pendapat orang berbeda-beda begitu juga dengan para reader's yang sedang membaca.
"Iya, Kak. Maaf," jawab Salwa.
"Hem, maaf. Kakak memang tidak bawa apa-apa kesini, tapi kakak ingin mengajak kalian makan di sana. Apa kalian mau?" Faisal sedikit membungkuk di hadapan anak-anak yang sudah berdiri di hadapannya.
"Mau mau!" jelas semua menjawab dengan antusias. Mereka lapar juga haus bagaimana mungkin akan menolak ajakan Faisal untuk makan. Menolak rezeki kan tidak baik.
"Ayo kita ke sana," Faisal terlihat girang karena semua anak-anak setuju untuk ikut.
Semua anak-anak langsung berlari dan di ikuti Ilham sementara Faisal masih di sana karena Tasya masih enggan untuk bergerak.
Keduanya saling berhadapan, Faisal memandang Tasya sebentar sementara Tasya hanya melengos dengan mulut yang terus mengunyah permen karet.
"Permen karet sangat tidak bagus untuk pencernaan, bahkan bisa memblokir sistem pencernaan itu. Juga bisa mengakibatkan kembung atau begah karena terlalu banyak menelan air liur juga angin ke dalam perut," ucap Faisal.
"Itu Artinya sangat tidak baik terus makan permen karet. Boleh sih, tapi jangan keseringan. Tidak baik untuk kesehatan. Lebih baik ikut kami makan di sana," ajak Faisal tapi dengan cara yang halus.
Bagaimana mungkin Tasya akan menerima saran begitu saja. Makanan yang sudah menjadi teman sehari-hari dan sudah menjadi candu untuknya bagaimana bisa di hilangkan begitu saja.
Lagian siapa Faisal ngatur-ngatur hidup Tasya. Dia mau melakukan apapun ini atau itu bukan masalah untuknya kan sebenarnya?
"Bukan urusan mu," Tasya terlihat sangat ketus begitu tak menyukai perkataan Faisal tadi. Tapi dengan acuhnya dia tetap berjalan dan mengejar anak-anak yang sudah sangat jauh.
Bukan niat Faisal untuk mengendalikan apapun atau mengatur kehidupan Tasya, tidak! tapi apa salah jika memberitahu akan kebaikan? Tidak salah kan?
Bahkan bukan hanya Tasya saja yang mendapat perhatian itu, tapi semua orang yang di temui Faisal juga akan mendapatkannya. Faisal tak akan memandang siapa orangnya.
"Awas!" kedatangan seseorang yang sepertinya sengaja ingin membuat Tasya terjatuh membuat Faisal yang ada di belakang langsung bergerak cepat.
Tangan Faisal langsung menarik tangan Tasya hingga keduanya jatuh di trotoar dengan keadaan Faisal di bawah Tasya. Kalau saja tidak di tarik oleh Faisal mungkin Tasya akan jatuh di jalan dan tepat ada mobil lewat.
Sakit di bagian punggung Faisal sepertinya teralihkan dengan wajah Tasya yang tepat ada di atas wajahnya sendiri.
Bahkan Wajah Faisal tertutup rambut Tasya yang tergerai karena topinya entah mental kemana.
Mata, hidung, bibir juga semua yang ada di wajah bisa jelas di lihat oleh mata mereka masing-masing. Posisi itu tertahan dalam beberapa detik hingga akhirnya kedatangan Ilham langsung membuyarkan mata keduanya.
"Mas Faisal, Mas tidak apa-apa?" tanya Ilham begitu khawatir.
"Astaghfirullah hal azim," cepat Faisal menyingkir begitu juga dengan Tasya yang lebih dulu beranjak dengan cepat.
"Mas Faisal, mas tidak apa-apa kan?" tanya Ilham lagi. Sekali lagi memastikan kalau Faisal benar-benar tidak apa-apa.
"Ti_tidak, saya tidak apa-apa," jawaban Faisal terdengar sangat gugup.
Sementara Tasya, dia lebih gugup lagi. Dia terus menunduk setelah berhasil menemukan topinya dan semakin menyembunyikan wajahnya yang di yakini sangat merah kali ini.
"Ka_kamu tidak apa-apa kan?" Faisal lebih mengkhawatirkan Tasya ternyata daripada dirinya sendiri.
"Ti_tidak. Te_terimakasih sudah menolong saya," Tasya cepat ngacir pergi, mengejar anak-anak karena tak mau lebih gugup lagi di hadapan Faisal juga Ilham.
"Alhamdulillah," ucapan Faisal tetap keluar dengan sempurna meski Tasya sudah pergi dari hadapannya.
"Beneran Mas Faisal tidak apa-apa?" rupanya Ilham masih tak percaya.
"Tidak," jawab Faisal. Meski sebenarnya tetap sakit. Bohong kalau tidak sakit karena punggungnya terbentur trotoar yang sangat keras.
'Sebenarnya siapa orang itu. Kenapa dia ingin mencelakai Tasya?' batin Faisal. Matanya mencari-cari orang yang melakukan itu namun sudah tak terlihat.
Di sisi lain jelas ada mata yang menatap tak suka, dia sangat kesal melihat adegan yang sangat luar biasa ini. Siapa lagi kalau bukan Bimo. Sepertinya benar-benar kebakaran jenggot tuh anak.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....