Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Serba Salah



🌾🌾🌾🌾🌾


Kaki Tasya kembali melangkah dengan santai setelah mengembalikan sepeda ke tempat semula, untung saja yang punya tak sadar kalau sepedanya hilang sebentar.


Kembali Tasya melangkah menuju pasar karena di sanalah tempatnya tinggal selama ini. Di sanalah tempat Tasya berlindung dari panas dan hujan juga dinginnya malam.


Yah! meski tempatnya juga tidak layak tetapi cukup bagi Tasya. Apalagi di sana Tasya mendapatkan kebahagiaan saat bersama dengan anak-anak yang lain. Seolah-olah Tasya mendapatkan sebuah kebahagiaan yang sangat besar dan mendapatkan tanggung jawab dari yang maha kuasa untuk menjaga dan menjamin keselamatan dari semua anak-anak jalanan yang seringkali dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab.


Sementara Faisal sesuai janjinya dia masih selalu berjalan di belakang Tasya untuk mengantarkan dia sampai ke tempat tujuan. Hingga akhirnya di depan pasar langkah keduanya terhenti karena ada Bimo dan kawan-kawan yang menghadang mereka.


Bimo menyapa dengan sok ramah kepada Tasya, sementara saat melihat Faisal ada di belakang Tasya matanya melirik tak suka dia sangat marah tetapi berusaha dia tahan supaya tidak terlihat di depan Tasya.


"Tasya, kamu dari mana saja semalam kamu tidak pulang kamu tidak apa-apa kan? tidak ada yang menyakiti kamu kan?" pertanyaan Bimo mengarah kepada Tasya tetapi matanya menatap ke arah Faisal seolah dia tengah menuduh kalau Faisal melakukan sesuatu yang tidak baik kepada Tasya.


"Saya baik-baik saja. Emangnya siapa yang berani menyakitiku?" Tasya balik bertanya. Karena selama ini tidak ada yang berani dan belum ada yang berhasil melukainya. Apalagi semalam keberadaan Tasya di tempat Faisal tempat paling aman yang pernah Tasya datangi semenjak dia lahir sampai sekarang.


"Syukurlah, aku pikir ada orang yang sengaja melakukan hal buruk kepadamu atau mungkin memanfaatkan untuk urusannya sendiri," makin sinis Bimo berbicara dengan mata yang terus memicing ke arah Faisal.


Faisal hanya tersenyum menanggapi ungkapan dari Bimo yang seolah menuduhnya yang tidak tidak. Mata Bimo terus saja memasang aura kebencian kepada Faisal tetapi yang dilakukan Faisal hanya senyum ramah dan tatapan yang penuh damai, itulah perbedaan antara Faisal dan Bimo.


Tasya mengikuti arah mata dari Bimo siapa lagi yang ditatapnya dengan begitu sinis kalau bukan Faisal.


"Bimo, kamu kenapa?" tanya Tasya penasaran. Belum pernah Tasya melihat mata Bimo yang memandang seseorang dengan penuh kebencian seperti itu, apakah mereka berdua ada masalah? Apakah ada sesuatu yang mereka berdua perebutkan?


Tasya sangat tidak sadar kalau dirinyalah yang di perebutkan oleh mereka berdua. Tapi bedanya, Bimo tak berani mengatakan langsung dan menyerang orang yang menyukai Tasya yaitu Faisal. Sementara Faisal, dia berani mengatakan langsung pada Tasya dan mengabaikan semua ancaman Bimo.


"Hehehe, tidak apa-apa kok Sya. Sya, kamu cantik dengan pakaian seperti itu," ucap Bimo yang begitu memuji penampilan Tasya tidak tertutup rapat dengan pakaian tertutup.


Seandainya saja Bimo melihat Tasya yang semalam pasti dia akan semakin terpana lagi kan? Alhamdulillah, Faisal yang menang dan bisa melihat kecantikan Tasya.


"Pujian mu norak," ketus Tasya.


Kakinya kembali melangkah dan melenggang begitu saja tak lagi mau berbicara dengan Bimo.


Mendengar itu Faisal hanya tersenyum kecil lalu kembali mengikuti Tasya yang sudah jalan terlebih dahulu.


"Apa loh, jangan berpikir kamu sudah menang ya!" mata Bimo kian melotot dengan tangan yang melayang ke udara seolah ingin memukul Faisal. Benar-benar brutal tuh anak.


"Sabar, Bos. Sabar." ketiga sahabatnya langsung memeluk dan menghentikan Bimo yang ingin mengejar Faisal, gak habis-habisnya tuh anak ingin melayangkan pukulan.


🌾🌾🌾🌾🌾


Tasya juga Faisal berhenti setelah sampai di tempat yang biasa Tasya gunakan untuk tempat tinggal. Sungguh tak tega Faisal melihatnya. Hanya sebuah ruko kosong yang tak lagi di gunakan dengan pintu yang sudah rusak.


Terlihat ada beberapa kardus yang di sandarkan di dinding apakah hanya dengan kardus itu Tasya dan yang lain tidur?


"Sya," panggil Faisal.


"Hallo!" Tasya juga berteriak sangat heboh menyambut anak-anak yang datang dan langsung memeluknya beramai-ramai.


'Subhanallah, begitu pintar Tasya menjaga anak-anak. Anak-anak begitu nyaman dengannya dan mere semua sangat bahagia. Tentulah dia bisa melakukan lebih kepada anak-anaknya kelak. Semoga saja Allah menakdirkan Tasya sebagai ibu dari anak-anak ku,' batin Faisal.


"Hallo kakak tampan. Kak tampan kesini juga?" tanya Salwa setelah melepaskan pelukan dari Tasya.


"Iya, kakak kesini untuk menjemput kalian semua," jawab Faisal.


Mata Tasya langsung membulat. Menjemput? apa maksud Faisal? Tidak mungkin kan Faisal akan mengajak semuanya pergi ke pesantren?


"Kita mau di ajak ke mana, Kak?" tanya Salwa yang sangat penasaran.


"Ke rumah baru yang lebih nyaman untuk kalian semua." jawab Faisal lagi dengan wajah yang sumringah.


"Tunggu-tunggu, maksud mas Faisal apa ya? tidak mungkin ke pesantren kan?"


"Kalau kalian mau kenapa tidak? aku sudah bicara dengan orang rumah ingin mengajak kalian semua ke pesantren. Kalian bisa tinggal di sana, bisa belajar di sana tanpa harus memikirkan bahaya yang bisa saja mengancam kalian. Bukannya itu lebih baik?" jawab Faisal.


"Maaf, saya belum bisa," tolak Tasya.


"Kenapa, Sya?"


"Ya, karena saya belum bisa," jawab Tasya lagi.


'Aku tidak boleh terlalu gampangan jadi cewek. Aku belum lama kenal dengannya bagaimana? ahh! tidak mungkin sih kalau masih Faisal seperti itu, dia kan keturunan orang terhormat. Mau apa tidak ya? Kalau di sini aku akan susah bertemu dengannya, tapi kalau di pesantren aku juga tidak mau merepotkan. Ah, serba salah kan?' batin Tasya bingung.


"Saya tidak kau maksa. Kalau belum siap ke pesantren aku sudah siapkan rumah untuk kalian semua tempati. Kali ini saya tidak menerima protes juga penolakan." kekeuh Faisal.


"Kok maksa gitu?"


"Ini demi keselamatan kamu dan anak-anak, Sya. Bagaimana kalau kalian tetap di sini dan orang-orang tadi tau. Mereka pasti akan melakukan sesuatu padamu dan mereka, iya kan?"


"Iya sih?" Tasya termenung.


"Anak-anak semua, sekarang beresin semua barang-barang kalian, kita pindah ke rumah yang lebih nyaman." pinta Faisal.


"Tapi?"


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Sya. Tapi pikirkan keselamatan kalian semua. Seandainya kamu mau lebih aman lagi kalau ke pesantren, tapi karena kamu masih tidak mau jadi ke rumah yang sudah saya siapkan juga aman," terang Faisal.


"Ayo kak kira beres-beres!" begitu antusias Salwa menarik tangan Tasya dan akhirnya Tasya tak bisa berkutik lagi selain mengikuti kemauan Faisal.


...----------------...


Bersambung.....