
🌾🌾🌾🌾🌾
Si kembar terus melangkah dengan sangat pelan kayak siput itupun dengan wajah yang terus celingukan untuk bisa masuk ke kediaman tuan Alex dan bisa masuk semakin dalam.
Mengendap-endap begitu pelan dan juga terus dengan waspada, pastilah akan sangat takut jika sampai ketahuan. Tapi tidak takut sih sebenarnya, hanya memang lagi malas aja untuk bergerak. Udah lama nggak olahraga kata Ikhsan jadi tulang terasa kaku.
"Dimana ya kira-kira mereka berada. Apakah Faisal sudah menemukan Tasya berada?" Ikhsan menoleh ke belakang ke arah Akhsan yang terus membuntuti.
"Tau, tapi kita cari aja terus. Tapi tetap harus waspada," jawab Akhsan.
"Pasti, Bang."
Tumben untuk kali ini mereka berdua tidak berdebat dan tidak mempermasalahkan hal-hal sepele. Kalau iya mungkin akan kacau rencana mereka berdua.
Semakin dalam dengan langkah yang semakin tak sabaran. Memasuki satu persatu dari ruangan yang sepi namun tetap belum menemukan keberadaan Tasya ataupun Faisal.
Apakah mungkin Faisal juga tertangkap?
Beberapa penjaga yang terus lalu lalang keduanya lihat tapi untungnya mereka tidak melihat kedatangan mereka berdua. Syukur deh pokoknya.
Tak tak tak....
Suara langkah dari sepatu mahal terdengar, bukan hanya satu saja tetapi begitu banyak suara langkah kaki itu dan kini semakin dekat kepada mereka berdua, tentu mereka berdua akan langsung bersembunyi.
Laki-laki mungkin umurnya sama seperti ayah mereka berjalan langsung dengan diikuti oleh beberapa penjaga dengan tubuh mereka yang sama-sama kekar dan berotot.
Kalau dilihat-lihat sepertinya itu adalah orang kaya dan juga tidak mungkin dia adalah orang daerah sana terlihat dari penampilannya seperti seorang pengusaha besar.
"Kita ikuti dia saja bagaimana, Bang? Siapa tau ada petunjuk dari mereka." Ikhsan memberikan ide.
"Boleh, siapa tau kita bisa menemukan Tasya dan Faisal dengan mengikuti mereka."
Tentu Akhsan sangat setuju dengan apa yang Ikhsan sarankan, itu akan lebih baik daripada mereka terus melangkah ke tempat yang tidak jelas.
Orang yang terlihat begitu ramai-ramai itu masuk ke suatu ruangan keluarnya juga terdapat penjaga. Sekarang tidak akan bisa lagi untuk mengikuti mereka.
"Ah! buntu, Bang. Kita gak akan bisa masuk," Ikhsan terlihat sangat kecewa dengan berhenti namun tetap bersembunyi.
Melihat beberapa orang itu yang berdiri di samping pintu dengan menggendong kedua tangan mereka berdua pasti tidak akan mudah melalui mereka.
"Kita cari ide," Akhsan terdiam dengan mata melihat ke satu sumber arah.
Sementara Ikhsan? Sudah menjadi kebiasaan dia pasti akan diam tapi hanya celinguk-celinguk tanpa memikirkan apapun.
Biasanya Ikhsan tidak akan berpikir tapi langsung bertindak.
Tangannya merogoh saku celana dan mengambil sesuatu, kita tidak tahu tapi yang jelas sepertinya kebiasaannya akan kembali terjadi.
Prank...
Bukan hanya para penjaga saja yang sangat terkejut karena melihat kaca di salah satu lemari yang pecah tetapi Akhsan juga sama, dia sangat terkejut buktinya mata mereka langsung melongo memandangi adiknya.
"Apa yang kamu lakukan?!" pekik Akhsan tertahan.
"Bukan apa-apa hanya mengecoh lalat," jawab Ikhsan begitu enteng.
"Apa itu!" Para penjaga langsung berlari mendekati untuk memastikan keadaan di sana.
"Ayo, Bang!" cepat Ikhsan menarik tangan Akhsan dan mereka berdua bisa masuk juga ke ruangan yang sangat aneh karena di jaga banyak orang.
Keduanya langsung bergegas masuk sebelum para penjaga itu sadar akan kedatangan mereka. Jangan sampai mereka menyadari kalau semua itu hanyalah sebuah pengalihan saja untuk mereka.
Untung saja pintu di sana tidak dikunci jadinya mereka berdua bisa masuk dengan leluasa dan bisa mengetahui aktivitas apa yang terjadi di dalam.
"Astaghfirullahalazim!" pekik keduanya bersamaan dan langsung memberikan tubuh mereka berdua juga menutup mata sekaligus menggunakan telapak tangan supaya tidak melihat apa yang telah terjadi.
Aktivitas yang ada di dalam tentu sangat persimpangan dengan kebiasaan mereka berdua. Para perempuan tengah menari meliuk-liukkan tubuh mereka di hadapan para laki-laki.
Bagaimana mungkin mereka tidak langsung menyerukan istighfar secara bersamaan dan juga langsung Ingin kembali keluar.
Tetapi belum juga tangan berhasil membuka pintu lagi lengan mereka sudah ditarik oleh beberapa wanita dengan tubuh seksi juga pakaiannya yang tidak lazim, lebih tepatnya pakaian yang kurang baik.
"Hey semua, ada pria tampan di sini!" teriak salah satu dari mereka dan seketika semua wanita-wanita itu menyerbu Akhsan dan juga Ikhsan.
"Habislah kita, Bang." ucap Ikhsan dengan setia menutup mata.
"Kamu sih, pakai ajak-ajak masuk di tempat ini. Mana tempat lucknut begini lagi." gerutu Akhsan.
Benar-benar sial mereka berdua, bukan menemukan Tasya dan juga Faisal tetapi yang dia temukan malam para perempuan nakal yang kini berbondong-bondong mendekatinya.
"Ih, tampan sekali..." ucapnya dengan tangan yang mencolek dagu Ikhsan.
Ikhsan dibuat merinding karena ulat beberapa wanita di sana begitu juga dengan Abangnya yang sama-sama sudah dikerubungi oleh wanita.
Ini adalah misi paling mendebarkan untuk mereka berdua karena baru ini dia akan berhadapan dengan para wanita seperti ini, wanita yang begitu haus akan berlayar dari para laki-laki hidung belang dan juga akan selalu menyerahkan diri mereka kepadanya.
Tangan Ikhsan berkali-kali menyingkirkan tangan para wanita itu dan ingin segera membuka pintu untuk keluar begitu juga dengan Akhsan dia juga melakukan hal yang sama.
"Bang, kita harus cepat keluar, Bang. Bisa-bisa kita akan di lecehkan di sini," tubuh Ikhsan gemetar.
"Iya. Kita akan habis di sini," jawab Akhsan.
Keduanya terus berargumen dengan suara yang gemetar, bukan itu saja tapi mereka juga terus berusaha menggapai handle pintu namun tak kunjung teraih karena tangan mereka terus di tarik oleh para perempuan itu.
"Keluarkan senjatanya," perintah Akhsan.
"Senjata mana, Bang," Dengan merengek Ikhsan menjadi amnesia sekarang. Dia langsung lupa semua yang seharusnya dia lakukan.
"Yang mana saja!"
Sebenarnya bukan hanya Ikhsan saja yang tidak bisa mengambil apapun di dalam sakunya tapi Akhsan juga. Dia terus berusaha tapi tetap saja belum berhasil.
Mereka bisa melakukan apapun jika lawannya para laki-laki, tapi ini? Mereka seolah menjadi kaku dan tak mampu bergerak. Sungguh, ini adalah hal paling menegangkan untuk mereka berdua.
"Hua, bang... Lepas!" rengek Ikhsan.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung...