
Tok Tok...
Penjelasan Orion seketika terhenti begitu pintu kelas diketuk. Tak lama, pintu itu mengayun terbuka, dan seorang perempuan melangkah masuk dengan ragu-ragu.
"Maaf Pak, saya terlambat. Tadi jalanan macet." kata Qila sambil tersenyum menyesal.
Di kursinya Rania mendengus kecil, menahan diri agar tidak mentertawai kebohongan temannya itu. Semua orang juga tau kalau Qila tinggal di kosan di samping kampus. Jalanan macet apa coba.
Orion menghela napas lalu melihat jam di tangannya. "Kamu tau udah terlambat berapa menit?"
Qila mengerjai dan ikut-ikutan melihat jam. "EU... Dua puluh menit, Pak."
"Lebih tepatnya dua puluh satu menit."
"I-Iya, maaf Pak." perempuan itu meneguk salivanya susah payah. "Saya boleh masuk kelas kan, Pak?"
Mendengar ini Orion bersidekap dan menatap Qila dengan kepala meneleng. "Kamu nggak tau aturannya? Toleransi keterlambatan saya cuma lima belas menit. Keluar."
Kedua mata Qila melebar, begitu pun dengan mahasiswi lain di dalam kelas. Tidak pernah mengira Orion bisa setegas itu.
"Oh iya, maaf Pak, saya permisi." Qila berujar, cepat-cepat berjalan keluar kelas dan menutup kembali pintunya.
"Pelajaran buat yang lain juga ya. Kalian kan sudah jadi mahasiswa tingkat atas, harus bisa mengatur waktu. Mengerti?!" jelas Orion pada mahasiswanya yang disambut gumaman mengerti.
Tetapi Rania bergeming dan mengerutkan keningnya, merasa janggal dengan ucapan Orion tadi.
"Katanya nggak suka mahasiswa telat, lah pas pertama Lo masuk kelas kan Lo telatnya lama banget ya, Frey?" gadis itu berbisik pada Freya yang berada di sampingnya, tetapi ketika dia menoleh ke samping, didapatinya Freya tengah menelungkupkan kepala di meja. "Ye... Malah tidur!"
Rania mendorong kepala Freya, membuat perempuan itu terkesiap dan langsung terbangun dari tidurnya.
"Apa?" Freya berbisik dengan suara serak, menatap sekelilingnya linglung.
"Ck, nggak biasanyao tidur di kelas? Emang semalem begadang?"
Freya berpangku dagu lalu memejamkan mata lagi. "Nggak bisa tidur."
Ya... Semalam kepalanya dipenuhi oleh Orion sampai Freya tidak bisa tidur.
Memang gila
"Dih.. Malah tidur lagi." gumam Rania sambil menggeleng-geleng. "Di marahin Pak Orion gue nggak tanggung jawab ya!"
Rania lalu memfokuskan atensinya pada penjelasan Orion sambil sesekali mencatat. Tapi, beberapa menit kemudian Orion kembali menghentikan penjelasannya.
"Rania."
Rania tersentak ketika tiba-tiba namanya dipanggil. "I- iya Pak?!"
"Kamu nggak liat temen kamu ketiduran di kelas? Kamu nggak peduli dia ketinggalan materi dari saya? Mau pinter sendiri aja kamu ya?" vetis Orion sambil berkacak pinggang.
Di tempatnya Rania melongo. Dia menoleh pada Dasya yang duduk di samping kirinya lalu berujar tanpa suara. "Ck, kok jadi gue yang dimarahin?"
"Bangunkan teman kamu!" Orion menukas lagi dengan suara yang tegas.
"Iya, Pak." Rania menyahut cepat lalu mengguncang bahu Freya keras-keras.
Perempuan itu akhirnya membuka matanya lagi. Dia menatap Rania yang balas menatapnya dengan horor, lalu maniknya beralih ke depan kelas. Di mana Orion tengah berkacak pinggang sambil memandamginya.
Tersadar dia baru saja tertangkap basah ketiduran, Freya langsung memperbaiki posisi duduknya dan menundukkan kepala menunjukan rasa bersalah.
"Maaf Pak."
"Freya?"
Anehnya, berbanding terbalik dengan wajah kesalnya, suara Orion kedengaran melembut ketika memanggil namanya. Atau mungkin telinga Freya mulai rusak?
Freya mendongak dan menatap Orion takut-takut.
"Nanti temui saya setelah kelas." Orion menukas dengan raut yang serius.
Ah, sial.
***
"Gila sih, Pak Orion diem-diem bisa nyeremin kayak gitu. Tau nggak sih, gue deg-degan parah dipelototin sama doi." Qila bercerita heboh setelah menelan sop buahnya.
Begitu selesai, Freya dan Rania bergabung bersama Dasya, Juni dan Qila di kantin. Karena setelah ini mereka berencana mengerjakan tugas kelompok di kosan Qila, kelimanya memilih mampir dulu ke kantin sambil membeli camilan. Gadis-gadis itu heboh membicarakan insiden di kelas Orion tadi siang.
"Ah, Lo belum seberapa!" Rania menyahut berapi-api, dia menunjuk-nunjuk Qila dengan sendoknya yang berlumur saus batagor. "Bayangin betapa dongkolnya gue dimarahin dia, padahal Freya yang enak-enakan tidur di kelas!"
Gerutuan Rania itu otomatis disambut gelak tawa dari Dasya. "Sumpah sih, gue juga kaget. Freya yang tidur, malah si Rania yang kena semprot... itu epik banget hahaha... kocak!"
"Tapi aneh nggak sih? Perasaan dulu Freya juga pernah telat, tapi dibiarin aja masuk kelas. Giliran Qila malah diusir." Juni berujar dengan kening berkerut. "Terus Freya tidur pun, malah Rania yang kena amuk. something's fishy?"
"Mah kan?" Rania menyahut bersemangat. "Kemaren aja Pak Orion nanya-nanya soal Freya ke gue, mana detail banget lagi pertanyaannya. Aneh nggak sih?"
Qila, Rania, Dasya dan Juni serempak menatap Freya dengan mata memincing. Freya yang sejak tadi berusaha menyibukkan diri dengan melahap batagornya akhirnya gerah juga. Perempuan itu mendecak kesal.
"Dih... siapa yang mikir macem-macem?" Dasya menyahut enteng. "Kita cuma mikirin kemungkinan Pak Orion naksir elo, Frey."
"YA ITU NAMANYA MACEM-MACEM, MUNAROH! ucap Freya hilang kesabaran.
"Aduh, santai dong, santai!" Qila melerai sambil menyingkirkan remahan kulit batagor di tangannya yang tadi melompat dari mulut Freya.
"Ya, abis Lo pada nggak jelas gitu mikirnya. Ngaco banget ada dosen demen mahasiswanya sendiri," ujar Freya masih emosi dan mengelap sudut bibirnya dengan belakang tangan.
"Kan dosennya masih muda, Frey. Ganteng lagi!" Rania menyahut dengan wajah usil.
"Ini Pak Orion, Frey. bukan sembarang dosen." Juni menambahkan sambil mengangguk-angguk.
Freya menghembuskan napasnya kesal. Teman-temannya ini tidak tahu saja seberapa pusingnya Freya memikirkan kemungkinan yang sama. Kemungkinan Orion memang benar-benar menyukainya.
Tapi itu tidak mungkin kan?
Tidak mungkin dosen seperti Orion menyukai mahasiswa sepertinya?!
Ini bener-benar mengganggu Freya.
Maksudnya, Freya tidak mau dibuat terlalu banyak berharap. Freya takut dirinya bersikap delusional dengan berfikir Orion menyukainya, padahal yang dilakukan dosennya itu cuma memberi perhatian sederhana.
Baru saja Freya hendak membuka mulut, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Sosok yang sejak tadi teman-temannya ributkan baru saja mengirimi Freya pesan.
Dosen Gila :
Freya, nggak usah ketemu di ruang prodi.
Saya tunggu di parkiran belakang.
Freya menghembuskan napas berat. 'Dosen Gila'nya itu benar-benar berencana membuatnya hilang akal, ya?!
***
"Kenapa cuma pesen minum aja? cake disini enak loh."
Orion bertanya setelah sepiring kue dan kopi pesanannya tiba. Freya sendiri hanya memesan satu gelas Japanese Iris. Sekarang mereka berada di Coffee Shop yang berjarak cukup jauh dari kampus. Karena Freya bilang dia masih harus menghadiri kerja kelompok sekitar setengah jam lagi, Orion berjanji akan mengantar Freya kembali ke kampus setelah ini.
Freya lantas menggeleng menanggapi pertanyaan Orion tadi. Dia memperhatikan Orion yang mulai melahap kuenya.
"Saya kan udah bilang saya udah makan batagor tadi, masih kenyang."
"HM... ya udah temenin saya makan aja, ya."
Freya menatap Orion tidak percaya. Jadi karena ini Orion memintanya bertemu?
"Tiba-tiba aja saya kepengen makanan yang manis. Mungkin karena stress ya? Makanan manis emang bisa ninglatin mood saya, sih." Orion menjelaskan tanpa diminta. "Gara-gara kemaren kita sarapan bareng, saya baru sadar, ternyata makan ditemenin orang itu lebih enak dibanding makan sendirian."
"Emangnya dosen-dosen yang lain nggak ada yang bisa diajak makan bareng, Pak?" Freya bertanya pelan, berharap semoga pertanyaannya tidak kedengaran menyinggung. "Kenapa harus saya?"
Orion mendongak, lalu mengulas senyum tipis, "Saya nyamannya sama kamu."
Kedua mata Freya melebar, dia cepat-cepat membuang wajah, menghindari tatapan Orion.
Sial. Apa itu tadi?
Freya berdehem lalu cepat-cepat menaruh paper bag yang sejak tadi dibawanya ke atas meja. Orion menatapnya dengan alis berjingkat.
"Ini Hoodienya, Pak. Maaf baru saya kembalikan." Freya mendorong paper bag itu ke arah Orion.
Orion terdiam sejenak. "Nggak usah dibalikin. Simpen aja di kamu."
"Hah, kenapa, Pak?" Freya bertanya bingung. "Udah saya cuci bersih kok, Pak. Beneran deh!"
Mendengar ini otomatis Orion tertawa. "Bukan karena itu, Freya. Udah, kamu bawa pulang lagi aja."
"Tapi Pak, masa..."
"Soal karpet juga setelah saya pikir-pikir kamu nggak usah ganti rugi." Orion menyela ucapan Freya.
Kedua mata Freya lagi-lagi melebar. "Serius, Pak?"
Astaga, tabungan gue selamat.
Orion terkekeh melihat reaksi Freya. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu menatap Freya dengan satu senyuman lebar.
"Iy, serius Freya. Tapi sebagai gantinya, kamu nggak boleh nolak setiap saya butuh kamu."
Freya meneguk salivanya susah payah mendengar ini. dia tidak tau, tawaran Orion tadi lebih baik atau justru lebih buruk daripada mengganti rugi karpet mahal yang dimuntahinya. Tapi di kepalanya, rasanya tidak ada yang lebih merugikan ketimbang mengeluarkan isi dompet hanya demi sebuah karpet.
Karena itu, sebelum Freya sempat berfikir lebih jauh, kepalanya mengangguk ragu-ragu. Membuat senyuman Orion kian melebar puas.