
"Saya pacarnya."
Wanita itu sejenak terpaku. Dia mengerjap beberapa kali. Lalu detik selanjutnya malah tergelak.
"Hahaha pacar? Yang bener aja!" cetusnya masih sambil tertawa dan menatap Orion dan Freya bergantian. Dia lalu tersadar raut serius kedua manusia itu, dan segera menghentikan tawanya. "Oh. Bener, ya? Aduh, sori. Soalnya kamu keliatan masih muda banget."
Dia menatap Freya sambil tersenyum menyesal.
"Cuma beda tujuh taun." Orion bergumam.
"Cuma beda tujuh taun." Wanita itu menirukan ucapan Orion sambil memasang tampang menjengkelkan. Dia lantas mendaratkan geplakan di lengan Orion. "Itu bukan 'cuma' namanya, Baltsaros."
Orion mengaduh lalu mengusap lengannya. "Aduh, sakit tau! Bar-barnya kenapa nggak ilang-ilang, sih?"
Sementara Freya di tempatnya terpaku menatap ini. Dia mengerjap tidak mengerti. Sebenarnya wanita di hadapannya ini siapa, sih?
Seakan mengerti pertanyaan yang kini berputar di kepala Freya, wanita itu lantas beralih menghampiri Freya. Dia tersenyum lebar, dan karena tubuhnya tinggi semampai, dia agak menunduk sehingga wajahnya setara dengan Freya.
"Halo, pacarnya Baltsaros, kenalin, aku Aluna. Panggil aja Luna. Calon kakak ipar kamu," katanya masih sambil tersenyum lebar. Tangannya lalu terangkat untuk mengusel-usel kedua pipi Freya dengan gemas. "Aduh, pantes Baltsaros suka kamu, gemesin begini. Siapa nama kamu?"
"F-Freya Adira Putri." Freya berujar kesusahan karena bibirnya terhimpit oleh pipinya yang kini dimainkan Luna.
Sementara pikiran Freya mendadak terasa kosong begitu mendengar ucapan wanita ini. Dia kakak Orion? Yang benar saja? Ya Tuhan
"Kak, ih! Jangan sembarangan!" Orion menepis lengan Luna dan menarik Freya agar berdiri di sampingnya. Dia lalu menoleh pada perempuan itu dengan cemas. "Kamu nggak apa-apa? Sakit nggak?"
Luna mendecak kecil. "Cuma aku uyel-uyel pipinya, Balt. Nggak usah lebay, deh."
Orion mendelik sementara Freya dengan cepat menguasai dirinya. Dia menatap Luna dengan tatapan menyesal. "Aduh, Kak, maaf. Saya nggak tau ..."
"Eh, kenapa minta maaf?" Luna menatap Freya dengan bingung.
Freya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tadi saya kurang sopan nyapanya. Jadi yah ..."
"Ah, ya ampun. Santai aja." Luna menukas sambil mengibaskan tangannya. "Aku tau kamu pasti ngira aku selingkuhan Baltsaros terus berniat ngelabrak 'kan? Nggak apa-apa, itu wajar. Aku juga yang salah karena bikin salah paham."
Wajah Freya terasa memanas karena Luna menjabarkan semua itu dengan blak-blakan.
"Salah paham itu wajar karena kita nggak saling kenal." Luna mengangguk-angguk mengamini perkataannya sendiri. Dia lalu kembali menatap Freya dengan senyum lebarnya. "Nah, karena aku pengen kenal sama cewek yang udah berhasil naklukin adikku yang aku kira selama ini udah bosen sama cewek, gimana kalau sore ini kita ketemuan?"
Freya mengerjap beberapa kali. Tidak mempercayai telinganya sendiri. "H-hah?"
"Frey, nggak apa-apa kalau kamu nggak mau." Orion berujar lembut.
"Aku udah belanja banyak bahan makanan. Rencananya mau masak-masak. Dipikir-pikir nggak akan abis kalau dimakan berdua sama Baltsaros." Luna meneruskan ucapannya dengan bersemangat seakan tidak mendengar perkataan Orion tadi. "Kita makan malem bareng, mau ya, Frey? Ya ya ya?"
Freya tidak punya pilihan. Akhirnya dia hanya tertawa canggung dan mengangguk. "Iya, Kak. Boleh."
"Pak, kenapa saya tegang banget, ya?" Freya menyentuh dadanya sendiri, merasakan jantungnya yang berdebar tidak main-main. Sore ini, dia dan Orion tengah berada dalam perjalanan menuju apartemen laki-laki itu untuk bertemu Luna.
Di sampingnya, Orion yang tengah menyetir terkekeh kecil. Dia lantas menggenggam sebelah tangan Freya yang diletakan di atas pangkuan, merematnya pelan demi memberi kekuatan.
"Tenang aja, Kak Luna baik kok. Dia cuma pengen deket sama kamu," katanya sambil tersenyum menenangkan. "Tapi kalau kamu nggak siap, nggak apa-apa, kita bisa puter balik sekarang. Nanti saya kasih alesan buat Kak Luna."
Dengan cepat Freya menggeleng, menolak tawaran Orion tadi. "Engga ah, nggak enak. Saya 'kan udah janji." Dia lalu tersentak ketika teringat sesuatu. "Eh, harusnya saya beli sesuatu ya, Pak? Masa dateng pake tangan kosong, sih?"
Orion tersenyum kecil mendengar ini. "Nggak usah, Frey. Percaya sama saya, waktu Kak Luna bilang dia beli banyak bahan makanan, dia bener-bener belanja banyak. Kalau kamu mau beli sesuatu lagi, yang ada nanti malah nggak kemakan."
Ini lantas membuat Orion tergelak. Sebelah tangannya bergerak mengusak puncak kepala Freya dengan gemas.
"Santai aja, Frey. Kita cuma ketemu kakak saya buat ngobrol-ngobrol, bukan pertemuan formal sampai kamu harus segitunya," cetus Orion. Dia lalu menambahkan sambil tersenyum usil, "Baru ketemu Kak Luna aja kamu udah sepanik ini ya, gimana nanti ketemu ayah saya coba?"
Perkataan Orion seketika membuat Freya mengerjap. "B-buat apa saya ketemu ayahnya Bapak?"
"Ya menurut kamu buat apa coba?" Alih-alih menjawab Orion justru balik bertanya sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Freya segera memalingkan wajah ketika tersadar Orion tengah menggodanya. "Udah ah, Bapak bukannya bikin saya tenang malah bikin saya makin kepikiran."
Sebenarnya Freya juga tidak mau terlalu berlebihan menyikapi pertemuan sore ini. Tapi reaksi Luna ketika mengetahui hubungannya dengan Orion tadi siang terus-menerus mengganggunya.
Iya sih, Freya tahu jarak umurnya dan Orion memang terbilang lumayan jauh. Sebelumnya dia tidak pernah benar-benar memikirkan ini. Orion selalu berhasil membuatnya nyaman sehingga kadang dia lupa ada jarak umur yang cukup jauh di antara mereka. Tapi ketika mendapati reaksi Luna seperti itu, mendadak Freya merasa tidak tenang. Jangan-jangan dia terlalu kekanakan jika disandingkan dengan Orion. Jangan-jangan dia terlihat tidak pantas berdiri di samping Orion sebagai pasangannya.
Keningnya mengerut ketika dia teringat dulu Aubrey juga selalu memanggilnya 'bocah kecil' dan memandangnya seakan dia bukan saingan yang sepadan. Dulu dia tidak memusingkan ini, tapi sekarang ...
Ah, sialan.
Tuk!
"Aduh!" Freya meringis ketika mendadak Orion menyentil keningnya.
"Ayo, ngelamunin apa? Sampai ngerut-ngerut gitu jidatnya." Orion menukas sambil mematikan mesin mobilnya. Rupanya mereka sudah sampai, Freya sampai tidak sadar.
Freya menghela napas dan menggeleng. Menolak menjawab pertanyaan Orion tadi. Dia tidak tahu bagaimana Orion menanggapi kecemasan mendadaknya ini, tapi rasanya ini bukan saat yang tepat untuk membahasnya. Perempuan itu lalu melepas seatbeltnya dalam diam.
Tetapi tiba-tiba, Orion menahan lengannya, membuatnya mendongak dan terkejut sendiri ketika melihat raut serius Orion.
"Freya, saya serius waktu bilang kita bisa puter balik. Kalau kamu nggak siap kita nggak usah naik ke atas." Orion berujar perlahan. "Makan-makan ini harusnya jadi momen yang menyenangkan buat saya, buat Kak Luna dan buat kamu. Kalau kamu ngerasa nggak tenang, kamu nggak perlu maksain. Yang penting itu rasa nyaman kamu."
Freya tercenung mendengar ini. Akhirnya, dia tersenyum kecil dan menggeleng. "Saya juga serius waktu bilang saya mau dateng, Pak. Nggak apa-apa, i can handle this."
Iya, setidaknya dia harus membuktikan pada Luna bahwa setidaknya dia merupakan pasangan yang pantas untuk Orion adiknya.
****
Rupanya Orion tidak berbohong ketika berkata Luna itu baik.
Baru beberapa jam Freya tiba di apartemen Orion, dia sudah merasa senyaman itu dengan Luna. Sambil membantu perempuan itu memasak, keduanya mengobrol sambil tertawa-tawa. Mungkin karena Luna memang tipikal orang yang mudah dekat dan bisa bersikap menyenangkan pada siapa saja, Freya jadi tidak merasa canggung berada di sisinya. Kecemasannya di mobil tadi, seperti menguap begitu saja.
Sementara Orion yang baru saja selesai mandi, terkejut sendiri ketika melihat kakaknya dan Freya yang sudah kelihatan begitu akrab. Sambil menyandarkan bahunya pada dinding pembatas dapur, dia tersenyum kecil memperhatikan Freya yang kini heboh bercerita sembari menata makanan di meja makan. Luna yang tengah memindahkan masakannya dari wajan ke piring saji nampak mendengarkan sambil terkekeh-kekeh.
Kedua perempuan itu bahkan tidak menyadari presensi Orion di sana.
"Terus pas aku liat ternyata dia lagi masak telur orak-arik dong, Kak! Ngakak banget masak begituan aja seriusnya minta ampun. Mana sambil liatin resep lagi." Freya menutup ceritanya dengan kekehan sementara Luna tergelak tidak percaya.
"Malu-maluin banget keturunan Leandro," cetusnya di tengah tawa. "Eh, tapi sebenernya Orion tuh biasanya nggak mau loh masak buat orang lain. Dulu bikinin aku mi instan aja dia ogahnya minta ampun."
"Oh, iya?" Freya menatap Luna dengan mata melebar. "Padahal waktu dicobain masakannya enak banget. Ada bakat masak deh, Pak Ori tuh, tapi mungkin males aja kalau harus masak-masak buat sendiri atau buat orang lain."
Luna berdecak dan menggeleng-geleng. "Kita liat aja ya, nanti kalau aku yang minta dibikinin telur orak-arik dia mau apa engga. Parah banget cewenya dimasakin tapi kakaknya sendiri nggak pernah "
Freya hanya tertawa kecil mendengar ini.