
"Justru karena itu lo, dia rela ngelakuin apa pun. Bahkan sampai ngerugiin dirinya sendiri sekalipun."
Baik Freya maupun Arkana menoleh ketika mendengar suara itu. Di belakang mereka, kini berdiri Giana yang entah sudah berapa lama berada di sana.
Gadis itu menatap keduanya dengan tatapan tidak terbaca.
"Gue nggak nyangka, lo sampai mukulin Marco buat sesuatu yang nggak lo tau pasti." Giana berujar lagi, kali ini menatap Arkana tajam.
Kening Arkana mengerut mendengar ini. "Apa maksud lo?"
Giana berjalan mendekat, lantas berdiri di hadapan Arkana dan Freya. Ditatapnya keduanya bergantian.
"Bukan Marco, Ar. Tapi gue. Gue orangnya." Giana berujar tanpa emosi. “Gue yang minta Mika kirimin foto itu, gue yang nyebarin foto itu di grup angkatan kalian. Gue orangnya."
Kedua mata Arkana melebar mendengar ini. Sementara Freya menatap Giana tidak percaya. Bisa-bisanya, orang yang sama sekali tidak dia duga justru pelaku sesungguhnya?
"Kenapa?" Arkana bertanya dengan suara rendah, seakan pemuda itu tengah berusaha menahan emosinya. "Kenapa lo lakuin itu? Freya nggak punya salah apa pun sama lo!"
Giana melepas tawa hambar mendengar ini. "Nggak punya salah, lo bilang? Menurut lo gara-gara siapa hubungan kita putus, hah? Gara-gara siapa?" Dia lalu beralih pada Frey dan menatapnya tajam. "Lo mau tau, Arkana suka sama lo. Selama jadian gue cuma jadi pelarian dari rasa suka Arkana buat lo. Menurut lo salah kalau gue marah gini? Salah? Lo pikir gimana perasaan gue?"
Perkataan Giana seketika membuat Freya membeku.
Arkana menyukainya, katanya?
Tapi itu tidak mungkin...
Jika Arkana menyukainya, lantas kenapa pemuda itu selalu mengencani perempuan lain?
Selama jadian gue cuma jadi pelarian dari rasa suka Arkana buat lo.
Apa karena itu? Itu alasannya?
Perlahan Freya menoleh pada Arkana. Sahabatnya itu tampak terguncang, seakan tidak menyangka Giana akan mengatakan itu. Meski begitu, dia tidak menyangkal sama sekali.
"Giana ... bisa-bisanya lo...."
Arkana mendesis pelan.
"Lo bilang lo mau hajar Marco sampe mampus karena lo pikir dia yang nyebarin foto itu ‘kan.” Giana menukas dan menatap Arkana dengan nyalang. "Kalau gitu hajar gue, Ar. Hajar gue sekarang."
Plak!
Giana terkesiap ketika sebuah tamparan mendarat dengan telak di sisi wajahnya, membuat rasa panas segera menjalari pipinya. Dia menyentuh bagian itu, lalu menatap Freya dengan kedua mata melebar.
Perempuan itu baru saja melayangkan satu tamparan untuknya.
Freya balas menatap Giana dengan nanar. Kedua tangannya terkepal setelah dia menghadiahi tamparan itu, sementara giginya bergemeletuk menahan marah.
"Dari tadi gue bertanya-tanya, siapa orang yang nyebarin foto-foto itu, apa tujuannya, apa salah gue. Dan waktu gue denger jawabannya dari mulut lo, gue nggak habis pikir." Freya berujar dengan suara gemetar.
"Bisa-bisanya lo nyakitin seseorang buat kesalahan yang nggak dia lakuin. Menurut lo, salah gue kalau cowok lo suka sama gue? Menurut lo, gue punya kendali buat perasaan cowok lo? Gue nggak tau apa-apa soal perasaannya. Kalau lo lupa, gue bahkan bantuin lo supaya hubungan lo tetep bertahan. Dan sekarang setelah hubungan lo berakhir, lo malah nyalahin gue, dan balas dendam sama gue? Gue nggak tau lagi, lo nggak punya hati atau nggak punya otak."
Setelah mengatakan itu, Freya berjalan pergi. Sengaja menubruk pundak Giana ketika melewatinya.
Pikirannya sekarang terasa semakin kacau. Dia benar-benar berantakan.
***
"Frey... bisa buka pintunya sebentar? Ayah mau bicara..." ucap Reyandra setelah dia buru-buru pulang karena mendengar permasalahan yang Freya alami dari anak buahnya.
Sementara di dalam kamar Gadis itu memilih tetap duduk bersandar pada pintu, mengubur wajahnya di kedua lutut. Lampu kamarnya bahkan tidak sempat dia nyalakan.
Membiarkan dirinya ditelan oleh kegelapan.
"Frey... Ayah sudah tau masalahmu dengan Kenan, Orion juga masalah photo-photomu yang tersebar di kampusmu---"
Klek...
Pintu kamar tiba-tiba terbuka perlahan.
"Emang aku ga bisa bahagia ya, Yah? Kenapa nasib aku selalu begini, Yah? Kenapa semua orang jadiin aku target buat sakit?"
Reyandra pun tanpa berkata apapun langsung memeluk Freya erat berusaha menenangkannya.
"Ada Ayah Nak, Kamu sekarang bisa ngandelin Ayah..."
"Nih... Minum, coklatnya..."
Setelah beberapa saat menenangkan Freya dengan susah payah, Akhirnya tangisan Freya pun berhenti dan Reyandra memperlihatkan photo-photo sang Ibu yang belum pernah Freya lihat sebelumnya, photo-photo kebersamaan Ayahnya bersama Ibunya.
"Yah... aku tau perbedaan diantara Ayah sama Ibu sangat jauh..."
"HM... 10 tahun..."
"Dan Ayah sangat mencintai Ibu, Ibu... sangat beruntung punya Ayah dan banyak yang sayang sama Ibu..."
"Kamu juga Frey, banyak yang menyayangimu.."
"Hah... trus kenapa aku selalu merasakan sakit? mau itu dari keluarga, orang yang disayangin juga sahabat... semua nyakitin aku tanpa mereka sadari..."
"Hah... Apa yang bisa Ayah lakukan supaya kamu merasa baik? Kamu mau Ayah bereskan masalah dikampus? atau mau kasih pelajaran buat Orion dan Kenan?"
Freya hanya tersenyum mendengar perhatian dari sang ayah yang sedikit canggung, lalu dia pun menggelengkan kepalanya.
"Atau... Kamu mau pindah ke luar negeri?" lanjutnya yang membuat Freya terdiam menatap Ayahnya.
"Kita akan memulai hidup baru di sana... kalau kamu mau, Ayah akan mengurus semuanya jika kamu setuju."
***
"Maafin Kakak Frey... Kakak mohon, kamu keluar dan temuin kakak ya... Frey..."
Kenan yang sedang berada diluar pintu Apartemen Reyandra berbicara ke arah monitor kamera. Sementara Freya dan Reyandra berdiri di dinding dekat pintu masuk Apartemen melihat Sosok Kenan di layar monitor.
"Kakak tau, kakak emang bodoh banget, ngelakuin kesalahan tanpa berpikir gimana dampaknya. Kakak nggak pernah berniat bikin kamu terseret ke masalah ini. Maafin Kakak. Maaf karena bikin kamu sakit. Maaf karena udah bikin kamu kecewa. Maaf karena Kakak bukan yang baik buat kamu.”
Freya merasakan matanya memanas lagi sekarang. Sudah berapa kali dia menangis sejak hari kemarin? Kenapa rasanya begitu sakit? Kenapa segalanya terasa begitu rumit sekarang?
Siapa yang sangka mengenal Orion bisa membawanya pada luka sebesar ini. Siapa sangka sosok yang dia pikir menjadi penyelamat dalam hidupnya yang sepi justru berbalik menjadi pengantar rasa sakit paling besar.
Meski begitu di sisi lain Freya tidak bisa benar-benar marah pada Orion. Benar dia terluka karena perbuatannya. Tapi dia tidak sanggup sepenuhnya menyalahkan Orion.
Pemuda itu juga terluka karena karena perbuatan kakak sepupunya itu. Pemuda itu hanya ingin mendapat balasan yang setimpal.
Mungkin memang Freya pantas mendapatkan ini.
Apa yang dia katakan pada Orion benar-benar berasal dari lubuk hatinya.
Tidak mengapa dia terluka sekarang. Dia berharap rasa lukanya ini bisa menebus kesalahan Kenan. Dia berharap dengan begitu Orion merasa jauh lebih baik.
Sementara Reyandra yang dengan setia menemani putrinya yang tengah tersakiti mengelus punggung Freya menyabarkan hati dan membesarkan hatinya agar tetap tegar.
"Kamu mau nemuin Kakakmu?" Freya menggeleng. Lalu berjalan ke ruang keluarga melihat handphone yang tergeletak dari kemarin di meja dengan keadaan mati.
"Ayah ke ruang kerja dulu ya.. ada hal yang harus Ayah kerjakan, kalau sudah beres Ayah akan menemanimu lagi." Freya pun mengangguk pasrah di sofa.
Freya lalu meraih ponselnya, lalu untuk pertama kalinya mengaktifkannya kembali. Puluhan notifikasi panggilan tidak terjawab dan pesan segera memenuhi ponselnya. Dari Orion, Kenan, Kelana, Arkana, Rania, dan teman-temannya yang lain.
Notifikasi-notifikasi itu lalu berganti menjadi notifikasi dari sosial medianya. Komentar baru dari pengguna yang bahkan tidak dikenalinya memenuhi postingannya.
Oh, Freya yang ini bukan?
Cakep sih tapi ya...
Lo pake pelet, ya? Wkwk
Nggak takut keciduk mbak? Eh 'kan emang udah keciduk wkwk
Seru nih kolom komentarnya rame
Mbaknya nongol, dong. Malu, ya?
Sampai menyerang sosial medianya juga? Seakan dia tidak bisa dibiarkan tenang sebentar saja, sekarang orang-orang mulai menyerangnya di sosial media juga?
Ponselnya tiba-tiba bergetar panjang. Kali ini panggilan masuk dari Orion.
Freya menatap ponsel di genggamannya dalam diam. Tidak berniat mengangkat panggilan itu sama sekali.
Membiarkan panggilan dari Orion terus masuk, beriringan dengan notifikasi berisi komentar penuh cemoohan di sosial medianya.
Memang ini 'kan yang Orion mau? Seharusnya Orion sudah puas sekarang.
Ya, seharusnya begitu.