Islandzandi

Islandzandi
I'll Fix My Mistake



Kedua mata Orion kembali terbuka lebar. Dia melirik Freya yang kini tengah tertidur memunggunginya.


Freya sendiri sebenarnya tengah berusaha menyembunyikan wajahnya yang kini memerah. Dia berusaha menenangkan debaran jantungnya karena ulahnya sendiri pada Dosennya itu.


Tapi mendadak, sepasang lengan pemuda itu melingkari pinggangnya dari belakang. Dia menelusupkan kepalanya di leher Freya hingga napas hangatnya terasa menerpa permukaan kulitnya. Lalu dengan cepat, Orion mengecup pipinya. Lantas berbisik di samping telinganya.


"Selamat tidur juga, Sayang."


Setelah mengatakan itu, Orion melepas pelukannya dan menjauh dari Freya. Ikut berbaring memunggungi perempuan itu.


"Pak..."


"Tidur, Freya. Jangan macem-macem kalau kamu nggak mau saya kelewat batas."


Kedua mata Freya membola. Cepat-cepat dia kembali ke posisinya dan memejamkan mata, mengikuti perintah Orion untuk tertidur.


Setelah beberapa menit berlalu dalam hening, Orion perlahan mengubah posisi tidurnya. Dia tidur menyamping menghadap Freya yang masih memunggunginya. Bahu perempuan itu bergerak naik turun dengan tenang, menandakan dia telah sepenuhnya jatuh terlelap.


Orion tersenyum kecil. Hati-hati tangannya bergerak menaikan selimut Naya sampai ke bahu. Dalam diam dipandanginya punggung mungil perempuan itu.


"Makasih udah mau nerima saya, Freya." Orion berbisik pada keheningan malam. "I promise i'll fix my mistake."


***


"Frey, udah bangun? Freya?"


Freya mengerang pelan ketika suara ketukan pintu mengganggu tidurnya.


Perempuan itu perlahan membuka kedua matanya, dan terkesiap ketika hal pertama yang dilihatnya adalah wajah terlelap milik Orion. Bisa dirasakannya berat lengan Orion yang melingkari pinggangnya. Jantung Freya terasa berdebar cepat.


Seingatnya semalam sebelum tidur, mereka berbaring dalam posisi saling memunggungi. Bagaimana bisa saat terbangun posisinya berubah jadi begini?


"Dek? Buka dulu pintunya coba."


Lagi-lagi Freya terkesiap ketika mendengar suara Kenan dari depan pintu kamarnya. Ditepuknya lengan Orion berkali-kali, mencoba membangunkannya.


Perlahan Orion mengerang dan membuka matanya. "Apa ..."


"Sstt!" Freya mendesis tajam sembari menatap ke arah pintu dengan cemas. "Kakak saya ada di depan, Pak. Sana ngumpet dulu, kayaknya dia mau ngomong sesuatu."


Meski masih setengah sadar, akhirnya Orion beranjak bangun juga. Sambil mengucek matanya, dia menatap Freya bingung.


"Ngumpet di mana?" tanyanya dengan suara kering.


Di tengah panik pun Freya masih bisa merasa gemas melihat tingkah Orion yang persis seperti bocah baru dibangunkan dari tidur.


"Di sini aja sebentar ya, Pak. Maaf maaf." Freya menuntun Orion ke lemari pakaiannya, dan membantu laki-laki itu bersembunyi di sana.


Setelahnya dia bergegas membukakan pintu untuk Kenan.


"Lama banget, ngapain sih" Kenan berjalan masuk ke kamarnya dan mendudukan diri di kasur.


Freya mengekor lalu ikut duduk di samping Kenan. "Cape Kak, jadi terlalu pules tidurnya." Dia memasang cengiran kecil. "Kenapa, Kak?"


Kenan mengangguk paham lalu sejenak menatap Freya dalam diam. Sedetik kemudian, dia merengkuh adik sepupunya itu.



"Kak? Kenapa?" Freya bertanya heran.


"Semalem setelah kita ngobrol, Kakak jadi kepikiran kamu. Kakak sadar selama ini kamu selalu berjuang sendirian tanpa siapa-siapa." Kenan menghela napas dan mengeratkan pelukannya pada Freya. "Kakak juga ngebiarin kamu sendirian."


Freya terpekur mendengar ini.


"Kakak tau kedatangan ayah pasti bikin kamu sedih. Maaf karena Kakak nggak bisa banyak ngehibur. Maaf karena selama ini Kakak jarang ada buat kamu. Kakak mungkin bukan sepupu yang baik buat kamu," ujarnya sembari mengelus kepala Freya. "Tapi masalah ini jangan terlalu kamu pikirin. Jangan diambil pusing. Kalau kamu nggak mau ketemu Ayah jangan maksa. Nanti biar Kakak yang kasih pengertian.."


Freya agak terkejut mendengar ini. Tidak pernah mengira Kenan akan datang padanya dan menghiburnya perkara hal ini. Perlahan dia melepas pelukan mereka dan menatap Kenan.


"Nggak usah merasa bersalah, Kak. Aku tau ini nggak mudah buat Aku, tapi aku akan berusaha buat Nerima kehadiran Ayah." Freya tersenyum kecil dan menggenggam tangan kakaknya. "Ya... Meskipun mungkin nggak akan langsung, tapi aku akan berusaha buat ikut makan malam bareng pas Ayah pulang ke sini."


Kenan hanya tersenyum ke arah Freya. "Kalau ada apa-apa jangan ditanggung sendiri. Kabarin kakak biar Kakak bisa bisa lindungin kamu"


Freya tersenyum hangat pada Kenan lalu mengangguk. Senyuman Freya dengan cepat menular pada Kenan. Dia mengusak puncak kepala Freya dan berujar.


Freya terkekeh pelan mendengar ini. "Udah ah, jam berapa sekarang coba? Kakak nggak akan telat gitu?"


"Dih, kamu ngusir, ya?" Kenan mendecih tetapi akhirnya bangkit juga dari duduknya. "Kakak udah masakin sarapan tuh. Bi Imas tadi ngabarin bakalan datang ke sini agak sorean, katanya ada urusan di rumahnya."


Freya mengangguk sambil berjalan mengantar Kenan ke depan. Setelah memastikan kakaknya pergi, dia kembali naik ke kamarnya, dan menemukan Orion telah keluar dari lemari. Tengah berdiri di depan jendela, nampak melamun sembari melihat ke jalanan kosong di depan rumah.


"Pak? Kenapa?" tanya Freya sembari menyentuh lengan Orion.


Laki-laki itu tersentak seakan baru tersadar dari lamunannya.


"Hah...Engga. Saya baru sadar, apa yang terjadi di keluarga ini juga pasti berpengaruh besar buat Kakak kamu, ya."


"Hah, maksudnya, Pak?" Freya mengerutkan kening tidak mengerti.


Orion menghela napas lalu menggeleng. Ditatapnya Freya. "Kamu sendiri gimana? Soal Ayah kamu yang baru saja pulang."


Freya ikut menghela napas. Dia mendudukan dirinya di kursi belajar dan sejenak hanya terdiam.


"Kalau boleh jujur waktu kita nonton di bioskop dan asistennya ayah bilang kalo ayah lagi sakit, saya pengen banget pergi buat liat keadaan Ayah, meskipun selama ini Ayah nelantarin saya dan buat saya trauma, tapi dia adalah Ayah kandung saya kan?" Freya mengedikan bahunya.


"Kamu masih marah sama Ayah kamu?" Orion bertanya perlahan.


Freya lantas mengeluarkan sebuah bingkai foto dari laci meja belajarnya. Dia menunjukannya pada Orion.



Wanita dalam foto itu mengenakan gaun pengantin seorang diri.


"Ini Ibu saya. Cantik 'kan?" Freya tersenyum kecil mengamati foto itu.


"Kata Almarhum Kakek sama Nenek, Ibu saat di photo ini sangat-sangat-sangat bahagia karena menikah sama Ayah. Mereka bilang rintangan cinta diantara mereka sangatlah berat waktu sebelum menikah dan mereka juga bilang rasa cinta diantara Ibu dan Ayah itu nggak ada yang bisa mengukurnya dan sangat besar. Jadi... Saya mana bisa bener-bener marah sama Ayah kalau Ibu secinta itu sama Ayah."


Perlahan Orion berjalan menghampiri Freya yang terduduk di kursi. Dipeluknya perempuan itu sembari berkali-kali menepuk lembut punggungnya.


"Saya ngerti perasaan kamu," gumamnya pelan. "Semua pasti akan segera membaik, Frey."


Freya tersenyum kecil mendengarnya. Meski dia pun tidak yakin dengan itu. "Semoga ya Pak, semoga."


***


Pintu depan diketuk beberapa kali, membuat Orion yang tengah terduduk di depan televisi segera menoleh terkejut. Freya sedang mandi untuk bersiap ke kampus, tidak mungkin 'kan Orion membukakan pintu? Nanti apa yang harus dia jelaskan jika si tamu mempertanyakan alasan Orion ada di sini? Mungkin dibiarkan saja sampai tamunya pergi sendiri.


Akhirnya, ketukan di pintu berhenti juga. Orion bisa bernapas lega.


Namun kini, ponsel Freya yang diletakan di meja berdenting beberapa kali. Sebuah pesan datang. Orion melirik dari notifikasinya.


Arkana :


Frey? Lo ada kelas pagi 'kan?


Gue anter ya?


Gue juga bikinin bekel nih buat lo


Gue udah di depan rumah lo


Oh.



Bayangan ketika laki-laki itu berusaha mencium Freya lagi-lagi bermain di benak Orion. Dia mendecak pelan dan sebelum otaknya sempat mencegah, kakinya telah lebih dulu berjalan cepat menuju pintu depan.


Benar saja. Di depannya kini berdiri Arkana yang tengah menunduk menatap ponsel sementara tangannya yang lain menjinjing sebuah paper bag. Begitu pintu dibuka, dia segera mendongak.


"Frey, ini gue bikinin—"


Ucapan Arkana terputus. Kedua matanya seketika melebar begitu berhadapan dengan Orion.



"Pak Orion?" Tatapannya naik pada rambut basah Orion yang baru saja dikeramas.