Islandzandi

Islandzandi
Kisah Orion II



Freya mengembuskan napas pelan. Hampir saja dia mengorek telinganya karena perkataan Orion sebelumnya.


Tidak mungkin juga 'kan Orion memanggilnya begitu...


"Muka kamu merah." Orion berbisik sambil menusuk pipi Freya dengan telunjuknya. Cengiran lebar masih setia menghias bibirnya.


Freya mendengus lalu mengubur wajahnya di telapak tangan.


"Ya lagian Bapak bikin salah paham mulu," sahut Freya dengan suara teredam.


"Hah, apa? Nggak kedenger tuh?" Orion malah terkekeh-kekeh.


"Ah, tau, ah!" kesal Freya.


Dia benar-benar hampir bangun sekarang. Tapi tentu saja tenaga Orion lebih kencang. Dia berhasil menahan Freya agar kembali berbaring di kasur. Kali ini laki-laki itu sampai menarik kepala Freya agar bersandar di dadanya, sementara tangannya yang lain melingkari pinggang perempuan itu. Benar-benar menahan Freya agar tidak ke mana-mana.


"Kan udah saya bilang gini dulu sebentar, biar saya cepet sembuh." Orion berujar.


Freya bisa merasakan wajahnya semakin memerah. Sepertinya Orion memang benar-benar berniat membuat jantungnya bekerja ekstra hari ini.


"Ya udah, tapi jangan diem-diem aja. Sambil cerita apa kek biar saya nggak ngantuk," cetus Freya, padahal maksudnya agar dia punya pengalih perhatian dari jantungnya yang berdebar kencang. Terlalu takut jika Orion bisa mendengar debaran jantungnya.


"Hm oke. Kamu mau cerita apa?" Orion bertanya sementara jemarinya bergerak memainkan ujung rambut Freya.


Sejenak Freya terdiam, lalu teringat pada obrolan mereka dengan Deka. Dia mendongak menatap Orion.


"Cerita yang Bapak kasih tau ke Deka tadi, itu beneran? Yang dulunya Bapak juga sempet diledekin orang-orang karena paling bodoh di kelas."


Gerakan jemari Orion pada rambut Freya terhenti begitu mendengar pertanyaan ini. Dia menunduk menatap Freya, dan seketika membuat Freya tersadar seberapa dekat jarak wajah mereka sekarang. Cepat-cepat Freya menundukan kembali wajahnya.


"Kalau nggak mau cerita juga nggak apa-apa, Pak."


"Iya, itu beneran cerita saya." Tak diduga Orion berujar.


Refleks Freya mendongak lagi dan menatap Orion dengan mata membola. "Beneran?"


Mau tak mau Orion terkekeh melihat raut wajah Freya. "Kamu pikir saya bohong?"


"Ya abis nggak nyangka aja seorang Baltsaros Orion Leandro pernah jadi murid paling bodoh dan diledekin orang-orang." Freya menjawab jujur.


Lagi-lagi Orion terkekeh. Dia menatap Freya lama sementara jemarinya bergerak menyingirkan rambut yang menghalangi mata perempuan itu.


"Sebenernya malah lebih parah dari itu. Cerita aslinya nggak sesederhana itu."


"Terus gimana?" Freya menatap Orion penasaran.


Perlahan Orion menghela napas.


"Kejadiannya dimulai pas saya kelas satu SMP. Waktu itu saya anaknya males banget, nggak suka belajar, nilai saya selalu jelek, urutan paling rendah seangkatan. Sampai akhirnya ayah saya janji bakal kasih sesuatu yang selama ini saya mau, asal saya harus ikut olimpiade matematika di sekolah."


Freya mendengus pelan. "Yang bener aja, murid paling bodoh disuruh ikut olimpiade."


Orion mendecak dan menyentil kening Freya, membuat perempuan itu mengaduh kesakitan. "Saya tuh sebenernya pemales doang, kalau belajar beneran ya jadi pinter."


Orion memperhatikan kening Freya yang memerah, dia tertawa kecil dan ikut mengusap kening perempuan itu dengan lembut.


"Iya, saya bener-bener belajar dan ngajuin diri ikut olimpiade."


"Olimpiade gitu biasanya guru yang nunjuk murid dengan nilai tinggi 'kan? Kok Bapak bisa ngajuin diri?" Freya menyela dengan penasaran.


Orion lantas menyeringai tipis.


"Ayah saya terbilang orang penting, dia punya koneksi sama petinggi sekolah. Makanya ya, saya agak diistimewakan sama sekolah-meskipun nilai saya jelek, kadang bikin masalah, semua guru selalu memperlakukan saya dengan baik. Mungkin ini juga yang akhinya bikin murid paling pinter di sekolah saya marah, nggak terima."


Orion berhenti sejenak, raut wajahnya berubah menjadi keruh. "Saya sama murid paling pinter ini emang nggak pernah akur. Karena olimpiade ini kita sampai ribut parah, saling ngehina sambil adu jotos. Dan besoknya, setelah seleksi olimpiade selesai, saya tiba-tiba dipanggil ke ruang kepala sekolah. Mereka bilang saya nyuri soal seleksi olimpiade. Bahkan ada murid-murid lain yang juga ngasih kesaksian kalau mereka liat saya nyuri soal itu."


Kedua mata Freya membola. "Bapak dijebak? Jangan bilang sama murid paling pinter itu?" Freya menggeleng tak percaya. "Tapi akhirnya nggak terbukti salah 'kan?"


Orion mendengus pelan. "Dulu belum ada CCTV di sekolah saya. Nggak ada bukti kalau tuduhan itu palsu. Tapi nggak ada juga yang bisa buktiin kalau saya nggak bersalah. Akhirnya setelah hasil seleksinya keluar, ternyata nilai saya sama kayak si murid paling pinter. Otomatis semua orang, termasuk para guru, percayanya saya bisa dapet nilai sebagus itu karena nyuri soal."


Freya mendecak kesal mendengar ini, ikut terbawa emosi. "Parah banget. Padahal 'kan Bapak beneran belajar. Kalau gitu sama aja mereka nggak percaya sama kemampuan Bapak 'kan?"


"Imej saya di sekolah selama ini murid paling bodoh. Tiba-tiba saya berani ikut olimpiade, dan dapet nilai bagus. Tapi ternyata ada tuduhan saya nyuri soal. Jelas-jelas semua orang bakal langsung yakin saya dapetin nilai itu karena soal curian 'kan?"


Freya terdiam. Memang terdengar tidak adil, tapi kalau pun dia ada di posisi para guru, pasti asumsi seperti itu yang akan diyakininya.


"Besoknya satu sekolah tau saya nyuri soal. Saya diasingin, diledekin, bahkan sampai dirundung. Dua taun saya diperlakukan kayak gitu." Orion tersenyum pahit mengingat masa-masa kelamnya. "Sampai sekarang saya masih inget senyuman puas orang itu tiap ngeliat saya diganggu murid lain."


"Orang itu, si murid paling pinter?" Freya memastikan.


Orion mengangguk perlahan.


"Jahat banget." Freya bergumam pelan. Dia mendekat dan untuk pertama kalinya membalas pelukan Orion. Menepuk-nepuk punggungnya memberi kekuatan.


"Pasti berat banget ada di masa-masa itu. Saya yakin orang itu bakalan dapet ganjaran dari perbuatannya sama Bapak."


Orion lantas tersenyum kecil.


"Sekarang, kamu paham kenapa saya benci orang itu." Perkataan itu menggantung di ujung lidahnya, tidak berani benar-benar dia ucapkan pada Freya.


Freya lalu sedikit menjauh untuk menatap Orion lagi. "Akhirnya gimana, Pak? Orang itu sempet minta maaf?"


"Nope." Orion menggeleng.


"Sebut saya lemah, tapi saya nggak tahan dibully terus-terusan. Saya minta pindah sekolah, dan akhirnya kelas tiga saya beneran pindah sekolah. Sampai sekarang pun, saya nggak pernah denger kata maaf dari dia."


Freya menghela napas pelan. Dia menatap Orion lama, kemudian menggeleng.


"Enggak, Bapak nggak lemah. Justru sebaliknya, Bapak kuat banget bisa bertahan di masa itu, dan bangkit sampai bisa ada di posisi sekarang ini. Yang lemah itu dia, yang udah nyakitin Bapak hanya karena dia ngerasa tersaingi." Freya berhenti sejenak lalu mengulas senyum paling tulus yang pernah diberikannya pada Orion. "Saya ... bangga sama Bapak."


Senyuman Freya dengan cepat menular pada Orion. Laki-laki itu ikut tersenyum, dan sebelum dia sempat berpikir, tangannya. bergerak menarik dagu Freya. Dengan cepat didaratkannya satu kecupan kilat di bibir perempuan itu. Singkat, tapi menyiratkan jutaan perasaannya.


Kedua mata Freya membola sementara pipinya memerah seketika.


"Thanks for saying that, Frey," katanya dengan jemari mengusap rona merah di pipi Freya.