
"Heh, jangan ngelamun. kalau kamu kesambet setan saya nggak bisa ngerukiah."
Freya tersentak ketika tiba-tiba Orion mendorong keningnya, dan menyeretnya kembali ke realita. Perempuan itu mengerjap beberapa kali. Memang sejak tadi pikirannya masih dipenuhi oleh pertemuannya dengan Giana.
Ngomong-ngomong sore ini Freya diminta menemani Orion berbelanja pakaian, katanya sih untuk dipakai ke pernikahan kerabatnya. Karena sebelumnya Freya sudah berjanji untuk datang setiap kali Orion membutuhkannya, maka dia tidak bisa menolak. Hal ini semata-mata dia lakukan demi menyelamatkan isi dompetnya dari ganti rugi karpet-mahal-Orion.
"Nggak ngelamun, Pak. Cuma bengong doang!" elak Freya.
"Sama aja, cantik!"
Freya mendengus, berusaha mengabaikan panggilan yang Orion sebut tadi.
"Ini bagus nggak?" tanya Orion sambil menunjukan sebuah kemeja maroon bermotif garis-garis.
Freya mengamati sebentar sebelum menggeleng. "Saya sih kurang suka warnanya."
Orion mengangguk lalu mengembalikan kemeja tadi ke gantungan. Bantuin saya pilihin baju yang pas, dong."
Akhirnya Freya ikut mencari. Sementara tangan dan matanya bekerja, dia bertanya pada Orion, "Bapak pernah punya sahabat?"
Orion menarik sebuah kemeja abu dari gantungan, mengamatinya sebentar sebelum mengembalikannya lagi ke tempat semula. Dia lalu menoleh pada Freya. "Kamu meragukan jiwa sosial saya?"
"Ya... Bukannya gitu! Maksudnya.."
"HM... sahabat ya? Ada sih, temen dari jaman kuliah." ucapnya sambil memilah-milah kemeja di tempat gantungan. "Kamu inget Nighties, klub tempat kita ketemu waktu itu? Owner-nya tuh temen Deket saya. Agak bajingan sih dia, tapi ya... aslinya baik. Kenapa emangnya?"
Freya mengangguk-angguk. "Menurut Bapak, wajar ga sih kalau sahabat ikut campur sama masalah hubungan sahabat dan pacarnya?"
Orion menghentikan kegiatannya lalu menoleh pada Freya. "Kamu mau ikut campur masalah hubungan siapa? Rania? Atau cowok yang waktu itu bikin kamu mabok? Siapa namanya... Arkana?"
Mendengar ini membuat Freya terkejut, "Kok Bapak bisa tau?"
Orion menggedikkan bahu. "Hmm... Kentara aja."
Akhirnya Freya menghela napas berat. "Iya, ini soal Arkana. Pacarnya ngedatengin saya, ternyata mereka lagi berantem. Dan pacarnya minta tolong saya buat ngebujuk Arkana biar mau baikan sama dia." Freya berhenti sejenak. "Menurut Bapak kalo beneran saya omongin hal ini, saya bertindak terlalu jauh nggak sih sebagai sahabat? Apa nggak terlalu ikut campur?"
Orion menatap Freya sebentar, lalu dengan hati-hati... "Kamu bukannya suka Arkana?"
"Ck... Saya udah mutusin buat lupain dia pak, capek juga suka ertaun-taun sendirian."
Sebelah alis Orion berjingkat. "Emang bisa segampang itu ngelupain seseorang yang kita suka?"
"Ya... Kan ini lagi berusaha, saya nggak akan pernah bisa lupa kalau nggak berusaha, iya kan?" cetus Freya. "Jadi menurut Bapak gimana? Kok jadi ngomongin perasaan saya sih?"
Orion lantas terkekeh. Dia menggaruk dagunya sebelum menjawab. "Selama kamu nggak ngelewatin batas sih, wajar-wajar aja ya. Yang harus diinget, kamu nggak boleh sampai memaksakan kehendak dia, jadi ya... kamu cuma bisa sebatas ngasih saran aja soal tindakan apa yang harus diambil. Sisanya, biar dia sama pacarnya yang mutusin sendiri. Paham?"
Freya terdiam memikirkan jawaban yang Orion berikan lalu mengangguk-angguk. "Makasih Pak, atas pencerahannya."
Orion terkekeh sebagai respon. "Gimana nih kemejanya, udah Nemu belum?"
Freya tersentak lalu segera menarik kemeja yang tepat ada di depannya. "Ini bagus, Pak." ucapnya sambil mengulurkan kemeja navy itu pada Orion.
Orion mengamatinya sebentar. "Bagus juga selera kamu."
Dia lalu membawa kemeja itu ke ruang ganti. Beberapa menit kemudian, Orion. kembali pada Freya. Tapi kali ini dia membawa sebuah gaun selutut dengan warna serupa dengan warna kemejanya.
"Loh, kenapa saya harus nyobain juga?" Freya bertanya bingung.
"Udah cobain aja. Saya mau liat kamu pake itu, cocok ga?" Orion mendorong Freya agar berjalan ke ruang ganti.
"Tapi saya nggak bawa uang, Pak." Freya panik, sejak tadi dia mencari kemeja untuk Orion matanya tentu saja menyadari nominal pada tag harga di setiap baju berjumlah besar dan tidak sesuai dengan isi dompetnya.
"Saya yang bayar." Sahut Orion dengan nada final, lalu memaksa Freya masuk ke ruang ganti dan menutup pintunya.
Freya menghela napas dan mau tidak mau mencoba gaun yang Orion pilihkan. Sejenak dia mengamati dirinya dipantulan cermin yang sedang memakai gaun itu . Mungkin ini yang dinamakan pakaian mahal, bahkan di mata Freya sendiri saja dia kelihatan lebih cantik dari biasanya dalam balutan gaun ini.
"Freya, gimana? Coba keluar saya mau liat." Orion mengetuk pintu ruang ganti.
Freya ragu-ragu membuka pintu, dan melangkah keluar.
Sejenak Orion hanya mengamati Freya dari atas kepala hingga ujung kaki. Tatapannya lalu berhenti di wajah Freya, senyum lebar terulas di bibirnya. "Cantik." Dia lantas mengangguk-angguk. "Ya udah, kita beli yang itu."
Cepat-cepat Freya masuk kembali ke ruang ganti dan menukar pakaiannya.
Wait... Tapi Pak Orion muji pakaiannya kan? Bukan gue?!
Ofcourse Frey... Mana mungkin Pak Orion muji gue.
Perempuan itu lalu mengamati wajahnya di cermin.
Liat aja, wajah gue berminyak gini. Masa iya yang begini dibilang cantik?
Hah... tapi, tatapannya tadi--- Oh ****! Frey, ada apa sama Otak Lo....
Freya mengesah memukul kepalanya. Berhenti berpikir macam-macam. Dia harus tetap waras.
Setelah menenangkan diri Freya berjalan keluar ruang ganti, dan mengekori Orion menuju kasir.
"Eh, Pak, tapi kenapa saya dibeliin dress ini ya?" Freya bertanya pelan.
Orion menoleh sekilas padanya. "Ya 'kan saya dateng ke nikahan temen saya sama kamu, baju kita harus matching dong biar bagus."
"Hah?" Kedua mata Freya melebar. "Maksudnya, saya nemenin Bapak ke undangan gitu?"
"Iya." Orion menyahut santai. Ia lalu menatap Freya dengan datar. "Kenapa? Kamu nggak mau? Jadi mendingan bayar ganti rugi karpet aja gitu?"
Cepat-cepat Freya menggeleng. "Engga kok Pak, engga. Saya suka ke nikahan orang. Makan gratis sampai kenyang."
Ya, tentu saja, lebih baik Freya mengikuti keinginan Orion daripada mengeluarkan uangnya untuk karpet sialan. Sudah dibelikan pakaian mahal, datang ke undangan. Ini sih untung namanya.
Orion lantas terkekeh mendengar jawaban Freya. "Oh iya Frey, kamu tenang aja. Gini-gini saya orang yang seneng melakukan timbal balik."
Kening Freya mengerut. "Maksudnya, Pak?"
"Kamu 'kan udah bantu saya dengan ngikutin permintaan saya. Sebagai balesannya saya juga bakal bantuin kamu kok." Orion berujar sambil tersenyum.
"Bantuin apa, Pak?"
Senyuman Orion makin lebar. "Kamu bilang kamu mau lupain sahabat kamu 'kan? Saya bisa bantu kamu supaya kamu bisa lebih cepet lupa sepenuhnya sama dia."