
Flashback On
Di sebuah Rumah sakit ternama di Indonesia...
Di sebuah lorong depan ruang Operasi...
Reyandra, Diandra dan Audrey sedang duduk menunggu Islandzandi yang sedang melakukan tindakan C-Section atau disingkat dengan SC, karena menurut dokter yang menangani Island SC terpaksa dilakukan karena adanya komplikasi pada kehamilan dan beresiko pada keselamatan Island dan juga bayinya jika memaksakan persalinan normal. Jadi sangat tidak mungkin dengan kondisi Islandandi yang sangat lemah untuk bisa melahirkan normal.
Beberapa jam kemudian terdengar tangisan bayi, semua yang berada di luar ruang operasi pun tersenyum dan bergembira saling berpelukan. Sementara Reyandra masih terdiam melihat kearah pintu operasi yang belum dibuka.
“Alhamdulillah Pah... cucu kita...” ucap Audrey senang.
Diandra pun memeluk istrinya. Tak lama beberapa perawat dan dokter dari luar berlari dengan memakai baju operasi. Audrey, Diandra dan yang lain pun terkejut melihat para dokter dan suster yang buru-buru masuk ke ruang operasi. Tak lama seorang suster dengan membawa bayi keluar dari dalam ruang operasi, sementara lampu ruang operasi masih nyala tanda operasi belum selesai.
“Maaf, siapa yang akan meng’Adzani bayi ini?” ucap suster itu yang keluar sambil membawa sang bayi dipangkuannya.
Sementara Diandra terdiam melihat kearah Reyandra yang masih terdiam sedang fokus menatap pintu ruang operasi dengan cemas.
“Saya Kakeknya saya yang akan meng’Adzani...”
“Baiklah, silahkan bapak ikut saya...” ucap suster itu sambil berlalu dari hadapan mereka.
“Rey... kau yakin tidak akan meng’azdani?” tanya Diandra sekali lagi.
“Tidak Pah, saya akan menunggu Island disini...” ucap Reyandra tegas.
“Aku ikut pah...” melihat kearah Reyandra. “Nggak apa-apa kan kamu disini sendiri Rey?” Reyandra hanya melirik kearah Audrey sambil mengangguk.
Tak lama setelah kepergian orang tua Island yang menuju ke perinatologi...
“Hyung.... maaf kita baru datang!” ucap Erik yang setengah berlari menghampiri Reyandra.
“Rik... Island Rik... saya nggak sanggup liat Island disana...”
“Kenapa bisa di SC? Bukanya perkiraannya dia biasa meahirkan dengan normal?” tandas Haura ikut khawatir.
“Entahlah Ra... Memang awalnya baik-baik saja, sampai Island pendarahan dan kami langsung melarikannya kesini...”
“Hah... untung aja kita dalam perjalanan pulang ke Indonesia... Nggak tau kenapa dua hari kemaren ini aku emang pengen banget pulang dan ketemu Isand...” haura
“Hyung, kau harus yakin kalau Island akan baik-baik saja! Aku tau Island itu wanita yang kuat.. dia pasti akan selamat...”
“Bener Rey... Island pasti kuat, dia bisa ngelewatin ini semua!” ucap Haura menenangkan Reyandra, sementara Reyandra hanya mengangguk.
“Thanks...”
Tak lama lampu ruang Operasi pun mati, Reyandra pun segera beranjak di depan pintu ruangan itu. Dan pintu ruangan itu pun terbuka, 2 Dokter selaku yang bertanggung jawab mengoperasi Island berdiri di depan Reyandra dan Erik dengan menunduk...
”Bagaimana keadaan istri saya dok?!” tanya Reyandra mulai cemas.
Erik dan Haura yang tadinya berdiri di samping Reyandra pun mengikuti Reyandra dan ikut melihat reaksi kedua dokter itu cemas.
“Alhamduillah Pak... Operasi istri anda berhasil kami lakukan—” dokter itu terdiam sejenak seperti sedang berpikir untuk mengeluarkan kalimat selanjutnya, “—Tapi... Istri anda koma”
“What?”
“kami akan membawa istri anda ke ruang ICU untuk melihat perkembangan kesehatan istri Bapak...”
Reyandra yang mendengar itu pun langsung menjatuhkan lututnya ke lantai.
“Tolong lakukan yang terbaik untuk Island pak...” ucap Haura.
Erik dan haura pun membopong Reyandra untuk duduk di kursi.
“Hyung kau harus bertahan demi Island demi bayimu...”
“Rey... kau harus kuat! Island butuh kamu untuk berada disisinya dan mendukungnya selalu!”
Reyandra masih terdiam seakan tidak mendengarkan apa yang dikatakan Erik dan juga Haura saking terkeutnya mendengar istri tercintanya koma.
Lima hari kemudian...
Reyandra yang baru saja keluar dari ruang ICU melihat kearah Erik yang sedang berdiri di depan pintu ruangan itu. Erik mengerutkan kedua halisnya. Miris memang melihat kondisi Reyandra saat ini yang sangat kacau. Jenggot dan kumis yang sudah mulai tumbuh disekitar pipi dan dagunya. Badan yang mulai kurus. Mata yang sudah mulai menghitam karena dia benar-enar tidak mengurus dirinya sendiri. Dia malah terus fokus pada istrinya yang masih koma. Perushaan sudah diserahkan pada Erik juga Eolia.
Mereka berdua pun duduk di kursi depan ruang ICU.
“Saya nggak bisa Rik, sudah lima hari Island koma...”
“Terus saja berdoa Hyung... Island kuat! Dia pasti bisa melewati ini semua... Dia pasti bertahan buat putri kalian...” Erik melihat kearah Reyandra yang tidak bergeming.
Jujur saja Erik ingin sekali memukul wajah Reyandra dan menyadarkannya bahwa ada putrinya yang masih dirawat juga di ruang perinatologi yang harus dia lihat. Karena selama putrinya itu dilahirkan ternyata Reyandra tidak pernah menengok maupun melihat sang putri. Dia hanya terus fokus pada Island. Omongan Diandra dan juga Audrey yang menasehatinya untuk melihat putrinya walaupun sekejap saja pun tidak digemingnya.
***
“Island... bangunlah... putrimu sudah lahir, sekarang yang saya minta kamu bangun... Sudah terlalu lama kamu tidur... Saya tidak bisa hidup tanpamu Island... Maka dari itu bangunlah!” ucap Reyandra sambil menggenggam tangan Islandzandi. Tak lama ada pergerakan dari tangan Islandzandi, Reyandra yang melihat dan merasakan itu pun buru-buru memijit tombol untuk memanggil dokter ke ruangannya.
“Ahamdulillah... Tuhan dengar doa saya... Island.... Kau akan sembuh!” ucapnya tersenyum masih menggenggam tangan Islandzandi.
***
Di ruang rawat inap...
Islandzandi duduk bersandar di atas ranjang pasien sambil tersenyum menggendong putri kecilnya sambil tersenyum.
Sementara Reyandra yang duduk disampingnya juga tersenyum melihat kondisi Islandzandi yang makin membaik.
“Nak... Maafin Mamah ya Nak, Mamah nggak bisa jagain kamu dengan baik...” gumam Islandzandi pelan, namun masih terdengar oleh semua orang yang ada disana. Lalu Islandzandi pun menitikan air mata karena tidak menyangka bisa menggendong putri yang selama ini dia kandung dan dia jaga. Reyandra yang melihat air mata Islandzandi pun langsung menghapusnya sambil tersenyum.
“Sayang, kamu adalah Ibu yang baik, kamu sudah berjuang untuk sampai ke tahap ini, terima kasih... Karena kamu sudah bangun...” ucapnya sambil tersenyum lalu mengecup keningnya.
Audrey, Diandra Erik dan Haura yang menyaksikan interaksi keluarga kecil itu hanya bisa tersenyum penuh haru.
Islandzandi pun hanya terdiam menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Islandzandi pun meminta Audrey untuk mengambil putrinya agar digendong olehnya.
“Makasih ya mam udah jagain putri Island... Kedepannya akan merepotkan Mam lagi buat ngurus kayaknya liat keadaan Island kayak gini...”
“Kamu nggak usah sungkan, Nak. Putrimu adalah cucu kami, tentu saja kami akan merawatnya... Kamu fokus saja sama kesembuhan kamu... Ada suamimu yang akan selalu disisimu untuk menjagamu dan mendukungmu...”
Islandzandi menatap satu persatu orang yang ada dihadapannya lalu menatap Reyandra, lalu menggenggam tangan Reyandra yang terus setia sampingnya untuk menemaninya.
“Rey, maafin aku ya...” ucapnya sambil menangis melihat kearah Reyandra.
“Hey.. it’s okay, semua akan baik-baik aja Island... kamu akan sembuh...” ucap Reyandra sambil ikut meneteskan air mata melihat air muka Islandzandi yang mulai pucat.
“Tolong jaga putri kita Rey... kamu pasti bisa tanpa aku...”
“No... Island please jangan bilang seperti itu... kamu kuat Island...” Island pun menggeleng. Dan dengan sigap Reyandra pun langsung memeluk Islandzandi ssambil menanggis.
“Rey... aku nggak kuat...”
“No.. Island, saya harus bagaimana tanpa kamu... kamu harus kuat demi saya, demi putri kita...” ucapnya samil menangis memeluk Island.
Islandzandi yang sudah mulai kehilangan kesadaran sedikit demi sedikit melepas pelukan Reyandra dan menangkup wajah Reyandra.
“I love you Rey... always...” ucap Island lalu tidak sadarkan diri.
“No... Island please... bangun Island... Island... Islandddd!!”
Flashback Off
Hah... Hah... Hah... Hah..
Reyandra yang baru saja terbangun dengan kondisi keringat yang bercucuran di wajahnya sambil terengah-engah menetralkan napasnya yang tidak stabil.
Reyandra melihat jam di nakas masih menunjukan pukul dua pagi waktu Los Angles langsung beranjak dari tempat tidurnya dan keluar kamarnya.
“Pak.. Ada yang bisa saya bantu?” ucap Tama sang Assisten setianya yang duduk di ruang tengah Apartment nya.
“Hah... kamu disini lagi?” tanya Reyandra tidak terlalu kaget karena ini sudah ke lima kalinya Tama bermalam disini. “kamu tidak tidur?” lanjutnya sambil berjalan kearah dapur diikuti oleh Tama.
“Karena saya khawatir dengan kesehatan anda Pak. Jadi sebelum Anda tidur nyenyak saya akan berjaga disini...” Ucap Tama sambil merebut botol minum yang akan diminum oleh Reyandra. “Minum alkohol tidak baik untuk kesehatan anda Pak...”
“Tama!”
“Ini minumnya Pak, dan jangan lagi tergantung dengan obat... pulanglah dan lihat putri anda jika anda ingin tidur nyenyak! Dan juga besok anda harus meeting pagi-pagi! Jadi istirahatlah Pak ..” ucapnya tegas sambil menyodorkan segelas air putih. Reyandra pun hanya menghela napas karena tidak bisa melawan sanggahan asistennya itu lalu menurut meminum apa yang disodorkan Asistennya.