Islandzandi

Islandzandi
Pergulatan Batin Freya



"Lo bego, ya?" tukas Rania, nyaris melempar ceker ayam yang sedang digigitinya begitu mendengar cerita Freya.


Mereka sedang berkumpul di kosan Qila sambil mencemili seblak ceker siang itu, menunggu kelas selanjutnya. Karena tebakan Arkana tempo hari, Freya benar-benar dibuat pusing soal perasaannya, dan akhirnya dia bercerita pada Rania, Qila, Dasya dan Juni.


Mempertanyakan sebenarnya bagaimana perasaannya pada Orion.


Bodoh memang, Freya yang merasakan tapi malah minta jawaban dari teman-temannya.


Freya merengut kemudian mengunyah seblaknya. "Kalau mau ngasih saran nggak usah ngatain juga, dong."


"Ya situ emang minta dikatain banget, Frey." Qila yang sejak tadi jadi pendengar ikut menimpali.


"Nah, tuh, Qila aja tau!" Rania menyahut sambil menunjuk-nunjuk Qila dengan ceker di tangannya. "Jelasin Qil, jelasin. Biar Mbak Freya paham."


"Lah kok gue?" Qila menunjuk dirinya sendiri dengan bingung.


"Dasya aja tuh. Dia kan fakgirl, udah khatam masalah cinta-cintaan."


"Yeee sembarangan." Dasya melempari Qila dengan stryrofoam seblaknya yang sudah kosong, membuat perempuan itu menjerit kesal.


"Lo ‘kan lagi dipepetin si Lukas tuh, Qil, kali aja bisa berbagi pandangan sama Freya soal memahami perasaan." Juni menjelaskan, memang cuma dia manusia paling normal di sini.


"Pinter Juni." Rania mengangguk-angguk puas.


Qila mengerang tapi akhirnya luluh juga begitu melihat tatapan nelangsa Freya. Sebingung itu temannya menghadapi masalah perasan. Akhirnya Qila berdehem dan memulai, "Yah, menurut pandangan gue sebagai cewek yang lagi dipepetin sama owner kafe Neo sih ya-"


"Bacot, prolog lo songong bener!" Kali ini Rania benar-benar melempari Qila dengan ceker ayamnya. Lukas, laki-laki jurusan sebelah yang sedang mendekati Qila memang dikenal tajir karena memiliki kafe yang saat ini tengah digandrungi anak muda.


Qila mengumpat dan menukas marah pada Rania. "Wooy, nggak usah anarkis juga, kampret!"


"Ini nggak akan beres-beres kalo gini terus." Dasya menghela napas, lelah dengan kelakuan dua temannya. Dia lalu menoleh pada Freya. "Frey, coba deh lo tanya sama diri lo sendiri, perasaan lo yang sebenernya tuh gimana. Lo nggak tau, karena lo nggak pernah berusaha mikirin perasaan lo buat Pak Orion 'kan? Karena lo mikirnya Pak Orion tuh terlalu unreachable, jadi lo berusaha ngejalanin hubungan kalian tanpa repot-repot mikirin perasaan lo yang sebenernya, iya 'kan?"


Freya mengangguk berkali-kali, takjub Dasya bisa menebak pemikirannya semudah itu.


"Lo tuh masih denial Frey, dan itu yang bikin lo nggak bisa pahamin perasaan lo yang sebenernya. Gue juga gitu sama Lukas." Qila yang sudah berhasil memiting Rania akhirnya ikut menimpali. "Lo pasti mikirnya gini, nggak mungkin dia suka gue, dia terlalu high class sementara gue terlalu rendahan, gue nggak boleh suka dia, gue pasti cuma halu kalau sampai gue beranggapan dia suka gue. Iya 'kan?"


Lagi-lagi Freya mengangguk setuju.


Memang yang berpengalaman lebih mampu memahaminya.


"Nah, tapi masalahnya Pak Orion tuh keliatan banget suka sama lo, Frey." Rania berujar susah payah sementara lehernya masih dipiting oleh Qila. "Dan lo nggak mungkin selamanya nolak ngeliat kenyataan itu 'kan? Qil, lepas ih, gue nggak bisa napas!"


"Waktu itu lo pernah cerita nggak suka liat Pak Orion dideketin sama mantannya 'kan?" tanya Juni kemudian. "Lo bahkan nurut aja diminta dateng ke Nightiest dan ngerawat dia pas lagi sakit semaleman."


"Freya tuh sebenernya tingkahnya udah kayak bucin tau. Tapi dianya masih nggak nyadar perasaannya gimana." Dasya menukas sambil menggeleng-geleng. "Ini baru namanya bucin bego."


Dua kali Freya dikatai bego hari itu. Tapi entah kenapa dia tidak merasa tersinggung. Karena mungkin teman-temannya memang benar?


"Lo suka Pak Orion, Frey."


"Lo nggak pernah ngomongin cowok sampai segitunya. Dari cara bicara lo, tatapan lo, semuanya ... ngejelasin lo suka dia."


Perkataan Arkana tempo hari kembali mengusiknya. Dia dan Arkana sudah bertahun-tahun saling mengenal. Arkana memang bisa membaca dirinya semudah itu.


Perlahan Freya menghela napas.


"Jadi gue harus apa?" tanyanya akhirnya.


Juni yang sejak tadi paling sabar akhirnya mendecak juga. "Confess sama sefakultas sana, Frey. Biar orang-orang tau."


"Ih seriusaaan."


"Accept your feeling first." Dasya mengangguk yakin. "Sisanya let it flow, liat gimana Pak Orion ambil tindakan soal hubungan kalian. Atau kalau lo mau ambil tindakan duluan ya nggak masalah. Cuma saran gue sih, liat aja dulu gimana langkah dia."


"Rasanya masih nggak nyata aja ngomongin hubungan gue sama Pak Orion. Kayak ... masa sih, orang kayak gue bisa punya hubungan sama seorang Baltsaros Orion Leandro?" Freya bergumam pelan.


"Bisa-bisanya orang yang udah kissing ampe tidur bareng ngomong gitu." Rania berdecak gemas.


Di sampingnya Juni menaboknya kencang. "Ran, ih ngomongnya! Kesannya Freya bandel banget."


Kedua mata Freya seketika melebar mendengar ini.


Apa mungkin?


"Qila, ih!" Juni kini berganti mencubit kaki Qila kesal. “Kita udah susah-susah yakinin dia, malah diancurin lagi."


"Aduh, aduh, iya." Qila mengerang sakit. "Engga kok, gue cuma asal ngomong aja. Lagian Pak Orion bukan tipe cowok gitu 'kan. Buat apa juga dia mainin anak orang."


Freya terdiam sejenak. Tapi kemudian mengangguk kecil. Iya, buat apa juga dia memikirkan kemungkinan kecil itu. Sejauh ini Orion yang dikenalnya bukan orang seperti itu.


Harusnya tidak ada lagi yang membuatnya ragu akan perasaannya 'kan?


Ponselnya tiba-tiba bergetar pendek. Sebuah pesan dari orang yang tengah sibuk dipikirkannya muncul.


Dosen Gila :


Freya, kenapa belum masuk kelas?


Kamu nggak lupa sekarang jadwal saya 'kan?


Kedua mata Freya seketika membola begitu dia melihat jam. Hampir pukul satu siang.


"Eh, udah mau jam satu woy! Sampai telat mampus kita!" Dia memekik heboh dan cepat-cepat mengemasi barangnya, membuat keempat temannya ikut bergegas juga dengan panik.


***


Kelimanya berlari seperti orang kesetanan menuju gedung dua tempat kelas Orion berlangsung. Setelah insiden Qila diusir dari kelas dengan saklek oleh Orion, mereka tentu panik dan tidak mau mengulang kesalahan yang sama.


Mungkin karena tadi Freya terlalu banyak makan dan minum, perutnya mendadak terasa nyeri ketika dia berlari. Sepertinya perutnya kram. Perempuan itu meringis dan melambatkan larinya Sambil menaiki tangga dia memegangi perutnya. Sekarang Freya tertinggal di belakang keempat temannya.


"Frey, cepetan!" Rania berseru heboh tanpa menoleh ke belakang dan begitu saja meninggalkan Freya.


Freya menghela napas ketika tersadar kini dia tertinggal sendirian di tangga. Tapi masa bodohlah. Perempuan itu berusaha tetap menaiki anak tangga, masih dengan sebelah tangan mencengkram perut.


Tiba-tiba seseorang dari belakang meraih lengannya yang bebas.


Freya menoleh dan segera bersitatap dengan Orion yang berdiri dengan sebelah tangan menahannya.


"Pak Ori? Kok di sini?" Freya bertanya terkejut. Kalau tahu Orion ada di luar kelas dia tidak perlu lari-lari 'kan dari tadi.


"Waktu kamu bales masih di kosan Qila, saya keluar kelas dulu, bilangnya sama mahasiswa lain mau ke toilet." Orion menjelaskan. "Biar kamu bisa tetep masuk kelas dan nggak perlu saya usir meskipun dateng telat."


Freya mengerjap berkali-kali, tidak sangka Orion rela melakukan itu hanya agar dia bisa masuk kelas. "Makasih, Pak."


"Kenapa kamu keringetan gitu? Tadi saya liat kamu kayak nahan sakit." Orion bertanya sambil menatap Freya cemas.


Naya meringis pelan. "Tadi saya makan kebanyakan, terus lari-lari ke sini biar nggak telat banget masuk kelas. Jadi aja perut saya kram."


Mendengar ini Orion menghela napas pelan. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan mulai mengelap keringat di pelipis Freya dengan telaten, seketika membuat perempuan itu tersentak. Beruntung tidak ada siapa-siapa di sekitar sini.


"Makanya chat saya tuh dibaca. Saya udah bilang kamu nggak usah buru-buru soalnya saya sengaja keluar kelas dulu." Dia lalu terdiam sejenak, dan menatap mata Freya. "Mau duduk di sini dulu? Nunggu kramnya ilang."


Dengan cepat Freya menggeleng. "Engga, Pak, jangan. Kasian temen-temen yang lain nunggu kelamaan."


"Apaan. Yang ada mereka seneng kali saya keluar kelas." Orion mendengus. "Yakin mau langsung masuk kelas aja?"


Freya mengangguk. "Iya, Pak. Tapi jalannya pelan-pelan aja."


Baru Freya sadari, sejak tadi Orion masih menggenggam lengannya. Genggaman itu lantas turun dan Orion berganti menautkan jemarinya dengan jari-jari Freya. Kedua mata Freya seketika membola.


"P-pak saya hafal jalan ke ruang kelas, nggak usah dipegangin gini, ga akan nyasar kok." Freya berujar dengan suara mencicit ketika Orion mulai melangkah bersamanya. Padahal dia mengatakan itu demi menyembunyikan kenyataan bahwa jantungnya mulai berulah lagi. Sialan, masa sih hanya karena genggaman tangan dia bereaksi sebegininya.


Di sampingnya Orion menoleh pada Frey dan memberikan tatapan datar. "Ya saya juga tau itu. Udah sih nggak usah banyak protes."


Freya menunduk lalu memandangi jarinya yang saling mengait dengan milik Orion. Tangan besar Orion kelihatan menyelimuti tangannya dengan sempurna.