Islandzandi

Islandzandi
Masalah ini jangan sampai ada yang tau



Di Svetovska Company…


Pukul 08.00 pagi…


Di bagian kreatif Islandzandi sedang dimarahi oleh bu. Khanza…


"Hah… Kamu itu… Berterima kasihlah pada wakil Direktur, Bu Eolia, karena dia yang sudah memberitahukanku kalau kamu izin selama hampir dua minggu lebih dan dia juga mengizinkamu untuk tetap bekerja disini…"


Islandzandi terdiam.


"Iya maafkan saya, dan terima kasih bu…" tersenyum kearah Bu Khanza.


"Apa hukumanmu yang waktu itu sudah beres?" tandas Bu Khanza tegas.


"Sudah, datanya sudah saya serahkan ke Aufar…"


"Lalu bagaimana dengan sketsa miniature untuk acara launching game baru?"


"Iya bu, saya akan berusaha yang terbaik untuk perusahaan ini!"


"Ya sudah, kamu boleh keluar dan mengerjakan pekerjaanmu!"


Islandzandi pun tersenyum kearah Bu Khanza dan pergi meninggalkan ruangan Bu Khanza. Sementara Bu Khanza terdiam memperhatikan Islandzandi.


"Hah... Sebenarnya ada hubungan apa antara Bu Eolia dan Islandzandi, sampai-sampai dia membela Islandzandi… (teringat saat pertama kali interview) Ah… Dia kan yang mengusulkan Islandzandi supaya diterima dan dia juga yang mengatur Islandzandi supaya masuk di bagian Kreatif… Apa mereka bersaudara? Kalau iya apa saya harus bersikap baik pada Islandzandi? (berfikir) Ah, tapi selama ini saya selalu memarahinya!" ucapnya sambil memukul keningnya kesal.


Sementara itu… Di luar ruangan Bu Khanza…


Islandzandi berjalan ke mejanya dan Aufar mendekatinya sambil tersenyum.


"Seneng liat wajah lo senyum lagi… Udah baikan lagi yah sama bokap lo?!"


"Terdiam melihat Aufar merasa bersalah lalu tersenyum) Thank you Aufar…"


"Karena lo udah nemenin gue selama gue lagi butuh seseorang… Saat gue sakit lo selalu ada buat gue, lo cowok yang sangat baik Aufar, gue harus rela lepasin lo… Semoga lo dapetin cewek yang lebih baik dari gue…" ucap Islandzandi dalam hati melihat kearah Aufar.


"Bukannya itu udah jadi tugas rutin gue ya saat lo lagi down kayak kemaren…"


"Welcome to Svetovska again Island…" ucap Alditra sambil tersenyum kearah Islandzandi.


Islandzandi kaget. "Hah, Eu.. Iya! Thank you Dit.."


"Liburannya udah selesai?" sindir Nadia ketus.


"Maybe..." ucap Islandzandi tersenyum.


"Hah… Heran ya sama kamu, pegawai baru tapi saat melanggar aturan hukuman kamu selalu ringan! Tapi kalau orang lain mungkin aja dikeluarin dari sini…" ucapnya menyindir.


Islandzandi hanya terdiam melihat kearah Nadia.


"Oh, tenang, mungkin tar lo nggak akan ada saingan kayak gue lagi…" sindirnya sambil tersenyum kearah Nadia.


Nadia dan Alditra terdiam tidak mengerti, sementara Aufar hanya terdiam tersenyum kearah Islandzandi. Begitu juga Alditra.


Aufar pun mulai bekerja bersama Nadia untuk mengerjakan tugasnya sementara Islandzandi pun sedang mengerjakan pekerjaannya.


Tak lama Alditra menggeserkan kursinya kedekat Islandzandi dan menanyakan tentang tugasnya. Islandzandi pun melihat kearah Nadia yang sedang sibuk bersama Aufar, lalu Islandzandi pun menerangkan tugasnya pada Aufar.


**


Sementara di ruangan Direktur…


Reyandra sedang berdiri di depan kaca terdiam berfikir.


Tak lama Eolia yang datang langsung memeluk Reyandra dari belakang…


"Hei, kau tau? Akhir-akhir ini kamu aneh… Aku sampai tidak bisa menghubungimu ataupun berbicara denganmu, padahal kita satu kantor… Aku tidak mengerti dirimu yang sekarang Rey… Lalu bagaimanna dengan Island? Aku dengar dia udah masuk lagi... Dia tidak cerita padamu?"


Reyandra melepaskan pelukan Eolia dan melihat kearah Eolia serius.


"Eolia, I'm getting married…"


Eolia terdiam seketika. "What? Hah, tapi Rey… kenapa tiba-tiba?"


"Sorry but I have to tell you now... Yesterday I can’t talk to you because I have to prove to the parents Island that I seriously wanted to marry her..." (Maaf tapi saya harus memberitahumu sekarang ... Kemarin saya tidak bisa berbicara denganmu karena saya harus membuktikan kepada orang tua Island bahwa saya serius ingin menikahinya.)


"Since when? Since when do you have the intention to marry her? Why didn’t you ever tell me you really want to marry her? Do you know, how your career when you married?" Eolia melihat kearah Reyandra kecewa.


(Sejak kapan? Sejak kapan kamu memiliki niat untuk menikahinya? Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku bahwa kamu benar-benar ingin menikahinya? Tahukah Anda, bagaimana karir Anda saat menikah?)


"I know, and I'll accept the risk, This is the most I later during this, I really loved Island and I don’t want to leave it again, I'm sorry Eolia..."


(Saya tahu, dan saya akan menerima risikonya, Ini yang paling saya nanti selama ini, saya sangat mencintai Island dan saya tidak ingin meninggalkannya lagi, maafkan saya Eolia)


Eolia tersenyum kecut tidak percaya. "Hah… I was disappointed with you Rey, you never consider me as your friend again ..."


(hah… aku kecewa sama kamu Rey, kamu gak pernah menganggap aku sebagai teman kamu lagi…)


"I didn’t tell you because I don’t want to hurt you ..."(Aku tidak memberitahumu karena aku tidak ingin menyakitimu)


"Then just tell me now what to don’t hurt me? It just the same Rey..." (Kalau begitu katakan padaku sekarang apa yang tidak menyakitiku? sama saja Rey..)


"I am really sorry…" (Maafkan Saya)


Eolia hanya terdiam pasrah berkaca-kaca dan tidak percaya pada keputusan Reyandra.


**


Di bagian kreatif...


Pukul 13.15…


Islandzandi sedang mengetik di komputer mengerjakan kerjaannya. Begitu pun dengan karyawan yang lain termasuk Bu Khanza…


Tak lama Eolia berjalan kearah Islandzandi melewati karyawan lain yang sdang bekerja, karyawan yang tau kehadiran Eolia langsung terdiam menunduk untuk memberi hormat, termasuk Bu Khanza yang sama terkejutnya dengan karyawan lain. Saat Eolia berhenti di depan meja Islandzandi.


"Bisa kita bicara sebentar?"


Islandzandi melihat Eolia kaget langsung terdiam, lalu melihat kearah Bu Khanza yang mengangguk kearahnya, Islandzandi pun berdiri dan mengikuti kemana Eolia pergi.


"Ada apaan sih?" ucap Nadia melihat kearah Aufar.


"Mana gue tau…"


"Aku perhatiin Island berurusan terus sama Eolia… Mereka ada hubungan ya?" timpal Alditra.


“Nggak!” jawab Nadia dan Aufar bersamaan.


Alditra hanya tersenyum melihat keduanya.


"Yang jelas Island pasti ada masalah sama Eolia…" jelas Nadia tidak terima.


Bu Kanza hanya terdiam. Tak lama Reyandra masuk ke ruangan Kreatif melihat kesekitar tidak melihat sosok Islandzandi, Bu Khanza yang melihat kearah Reyandra terkejut…


"Ah, Pak ada yang bisa saya bantu?" ucap Bu Khanza


"Apa kau melihat Eolia? Katanya tadi dia kesini?" tanya Reyandra melihat Islandzandi yidak berada di mejanya.


"Oh iya, tadi dia kesini, katanya dia ingin berbicara sama Island, saya juga tidak tau apa yang ingin mereka bicarakan dan kemana mereka pergi…" jelas Bu Khanza.


Reyandra melihat kearah Aufar lalu Alditra terdiam, lalu mengangguk. "Terima kasih!" sambil tersenyum kearah Bu Khanza.


"Sama-sama pak…"


"Nah, ini patut dicurigai… Apa hubungan Island sama Pak Direktur dan Wakil Direktur…"


Bu Khanza terdiam bingung. "Haaah, hari ini mereka aneh sekali… Sebenarnya ada apa ini? Apa ada hubungannya Islandzandi dengan wakil Direktur? Hm… "


Aufar hanya terdiam berfikir, begitupun dengan Alditra.


**


Diatap Svetovska Company…


Eolia dan Islandzandi berdiri saling terdiam. Tak lama Reyandra dengan berlari datang keatap tapi langsung bersembunyi di dinding Gedung bagian yang tinggi dan memperhatikan mereka.


"Apa kamu tau apa yang akan kamu perbuat sekarang ini? (ucapnya melihat Islandzandi yang masih terdiam) Aku tau, kamu kan yang memaksa Reyandra untuk harus menikahimu? Dengan pindah kesini saja dia sudah meninggalkan kesempatannya untuk lebih mengembangkan karirnya, sekarang dengan menikahimu, karirnya benar-benar akan hancur… Kalau kamu benar-benar sayang sama Reyandra, aku harap kamu pikirkan lagi untuk kehidupan Reyandra kelak…"



Islandzandi melihat Eolia serius. "Aku tau Reyandra, kalau dia sudah membuat keputusan seperti itu, dia nggak akan merubahnya lagi…"


"Kecuali kamu yang merubahnya…"



Islandzandi terdiam.


"Dia pasti sudah tau resiko yang akan dia terima… Kalau kamu masih mengharapkan Reyandra untuk berada disisimu, itu hanya akan jadi sia-sia, karena hati Reyandra akan selalu bersama aku, kamu juga tau Reyandra kan… Jadi mending kamu perbaiki hatimu dan lupakan Reyandra, karena Reyandra nggak akan pernah bisa kembali kesisimu lagi! Permisi…" ucap Islandzandi membungkuk hendak pergi.


"Jika kalian menikah, apa yang akan dikatakan oleh karyawan Svetovska? Karir, martabat, semua yang Reyandra bangun dari awal akan hancur jika semua tau kalau Reyandra akan menikah dengan salah seorang staf dari Svetovska sendiri, semua orang pasti akan membicarakannya dan mencibirnya... Kamu masih ingat dengan peraturan perusahaan? Ini akan dianggap pelangaran!"


Islandzandi terdiam sejenak lalu pergi meninggalkan Eolia yang sedang kesal melihat kepergian Islandzandi.


"Ya, setidaknya dia pasti akan berfikir ulang untuk menikah dengan Reyandra jika tau akibatnya untuk Reyandra!" ucap Eolia dalam hati sambil tersenyum penuh arti.


Sementara Reyandra tersenyum mendengarkan jawaban Islandzandi.


**


Di Svetovska Company…


Pukul 07.30 pagi…


Di ruangan bagian Kreatif…


Hanya ada Islandzandi, sementara yang lain masih belum datang.


Islandzandi sengaja datang pagi karena mau membereskan kerjaannya yang sebentar lagi beres.


Tak lama Alditra masuk keruangan…


"Pagi!" sapa Alditra sambil tersenyum.


"Hei… Pagi!"


"Sibuk amat… "


"Iya nih tinggal finishing…"


Alditra melihat sekeliling dan duduk di sebelah Islandzandi.


"Oh iya, gue perhatiin lo sering banget dipanggil sama Eolia… Emang lo apanya Eolia? Ah, atau lo emang bener ya mata-mata Eolia, supaya lo bisa lapor sama dia gimana kerja karyawan disini…"


Islandzandi terdiam kaget melihat Alditra. "Hah, kok lo bisa mikir kayak gitu?"


"Ya… Soalnya Bu Khanza sama Nadia selalu ngomongin lo… (terdiam melihat Islandzandi) Kalo emang iya, tolong jangan aduin gue ya…Soalnya gue butuh banget pekerjaan ini, gue niatnya mau nerusin kuliah gue lagi…"


Islandzandi tersenyum. "Ya nggaklah, gue bukan mata-matanya Eolia kok, tenang aja! Gue Cuma punya masalah aja sama dia… (terdiam melamun) Oh iya, emang lo mau kuliah dimana?"


"Universitas Saimdang… Gue mau nerusin kuliah lagi karena kemaren kuliah gue sempet ancur…"


Islandzandi kaget melihat kearah Alditra. "Hah…. Itu kan tempat kuliah gue… Emang lo kuliah di jurusan apa?"


"Management Informatika…"


"Hah… Serius lo?" ucap Islandzandi sambil tersenyum.


"Serius?!"


"Eeu, ya udah kapan lo daftar? Gue juga ke kampus hari jumat besok…"


"Emang lo mau nganter?"


"Ya maulah, daripada lo sendiri nggak tau arah tujuan lo di kampus…"


"Perginya sama Aufar?"


Islandzandi melihat Alditra. "Emangnya kenapa?"


"Nggak, gue ngerasa aja kalo Aufar kurang suka sama gue… Gue jadi rada canggung kalo ada dia…"


"Ah… Ya udah, kita pergi berdua aja… Gimana?"


"Lo nggak bawa mobil kan?"


"Nggak! Gue pulang malem terus nggak boleh bawa mobil sama bokap.. Mending diantar jemput aja katanya!"


"Dih... dasar anak papih!! (candanya sambil tertawa lalu berfikir) Eh,emang nggak ada yang marah nih?!"


"Marah? Siapa? Aufar? Kalo nggak salah dia masih ada kerjaan sama Nadia… So dia pasti nggak akan bareng!"


Islandzandi hanya tersenyum kearah Alditra.


Alditra tersenyum kecut. "Eeu… Magsud gue Direktur (melihat kearah Islandzandi yang sedang melihat kearah Alditra kaget) Eeu… sebenernya gue nggak mau ikut campur, tapi nggak sengaja beberapa kali gue liat lo di atap sama Direktur… Tadinya mau nyapa tapi nggak enak jadi Cuma bisa diem aja…"


Islandzandi mengingat kejadiannya saat di atap, lalu langsung terdiam. "Lo liat dan denger semuanya?"


"Sorry…" ucap Alditra melihat Isladzandi menyesal.


"Hah… (pasrah) Tadinya mau sembunyi-sembunyi tapi akhirnya ketauan juga… Sama lo lagi! Yang tau masalah ini hanya Aufar, Haura, Karin, Eolia dan lo… (terdiam) Gue sama Direktur emang pacaran… Dan selama ini gue bolos juga gara-gara ada masalah sama dia… Tapi sekarang udah baik kok…"


"Ooh… Jadi lo terus dipanggil sama Eolia itu gara-gara urusan ini?"


Islandzandi melihat Alditra terdiam). "Eu… Masalah ini…"


"Semua orang nggak boleh tau?! Gue ngerti! gue juga tau… Tenang aja, gue bukan cowok yang suka ngomongin orang laen…" ucap Alditra tersenyum kearah Islandzandi.


"Bisa gawat kalo semua orang tau kalo gue pacaran sama Direktur mereka… Lo tau sendiri kan fans fanatiknya Direktur kayak gimana… (cemberut kearah Alditra) Disini aja ada beberapa, belum di Divisi lain..."


Sementara Alditra terdiam melihat ke komputer Islandzandi.


"Lo kerjain ini sendiri? Hah, Dalam waktu sesingkat ini?!"


"Hm… Kalo nggak kena hukuman sih aku nggak akan mau ngerjain ini semua sendirian!"


Alditra berfikir. "Bukanya kamu juga buat miniature desain buat acara lauching itu ya?"


"Hmmh… Makanya sekarang gue beresin yang inidulu… Biar tar konsentrasi bikin miniatur..."


"Gue bantu ya…"


Islandzandi masih terdiam membuat laporannya. Sementara Alditra tersenyum kearah Islandzandi. Tak lama pegawai yang lain pun satu-persatu datang ke ruangan. Alditra pun kembali ketempat duduknya lalu mereka pun mengerjakan tugasnya masing-masing…