
“Makanya orang-orang di grup ini pada heboh, nggak nyangka aja ‘kan seorang dosen bisa bertingkah gitu.”
Tania terdiam sejenak sebelum menyahut, “Lah, emang apa salahnya kalau dia clubbing? Lo juga seminggu sekali silaturahmi sama penghuni klub ‘kan, Ar?”
Arkana mendecak mendengar ini. “Gue ini beda kali sama dia, Tan. Dia itu ‘kan orang akademisi masa iya mainnya di tempat begituan.”
“Eh, tapi ini grup apaan, sih?” Freyq yang malas mendengar perdebatan Arkana dan Tania meraih ponsel Arkana dan meraih ponsel Arkana dan melihat-lihat isi grup tempat foto tadi disebarkan. Dia merasa tidak habis pikir saja, untuk apa anggota grup itu menyebarkan foto yang diambil diam-diam dan menjadikannya topik gosip.
Detik selanjutnya, seakan tengah tersengat listrik, dia segera melempar ponsel Arkana ke ujung meja.
"ARKANA NGAPAIN LO JOIN GRUP GITUAN?!" Arkana seketika panik. Diambilnya ponselnya dan mengunci layarnya. Telinganya memerah.
"Haidar yang nge-invite paksa gue. Sesat emang dia," katanya lalu menyurukkan ponsel ke saku celana jins.
Menyebut nama salah satu teman satu prodinya, yang juga dikenal Freya dan Tania.
"Ya, terus kenapa lo nggak leave aja, sih?" Freya bertanya gemas, masih ngeri kala mengingat isi grup yang dipenuhi dengan tautan berjudul tak senonoh. Grup bernama "Fikom Berbagi" yang beranggotakan tiga puluhan anggota itu benar-benar dipenuhi konten laknat.
“Inget dosa, Arkan!"
"Lumayan buat pelipur lara, Frey. Lo nggak akan paham," cetus Arkana sambil memasang cengiran tidak berdosa.
"Sialan, kotor banget lo." 'Freya bergidik lalu mendorong Arkana menjauh darinya.
Sementara itu Freya kelihatan tengah berpikir keras. "Tapi dipikir-pikir bahaya juga, ya kalau foto tadi nyampe ke orang dekanat. Bisa bahayain Pak Ori 'kan?"
"Nah 'kan kata gue juga apa," sahut Arkana sambil mencomot batagor Tania, senang topik pembicaraan kembali pada aib si dosen baru dan bukan pada aibnya lagi.
"Tapi foto ini diambil diem-diem, sih. Orang yang nyebarinnya juga udah wanti-wanti biar jangan disebar ulang dan sampai bocor ke luar, cuma jadi rahasia antar anggota grup ini doang. Makanya kalian juga mending pura-pura nggak tau aja."
"Emang kenapa?" Freya bertanya bingung.
"Ngehindarin masalah kali. Bisa ribet nanti." Arkana mengedikan bahunya. Dia lalu kembali menatap Freya dengan penuh selidik. "Eh, tapi seriusan, lo nggak demen sama itu dosen 'kan? Soalnya sedenger gue udah banyak cewek yang ngefans sama dia." Tania sudah pasti salah satunya. Tapi Freya tidak.
"Enggalah. Gue mana suka sama om-om, apalagi yang tingkahnya begitu," sahut Freya tanpa berpikir. Arkana tersenyum mendengar ini, tangannya bergerak menepuk-nepuk kepala Freya.
"Anak pinter." Freya seharusnya tidak menarik kesimpulan secepat itu. Dia tidak akan pernah tahu apa yang sedang menanti di hadapannya. Dia tidak pernah tahu bagaimana semesta menjungkir balikkan dunianya dengan begitu mudah.
****
“Satu orang tolong bantu saya input nilai sehabis kelas. Siapa yang bersedia?”
Bahkan sebelum Orion menuntaskan kalimatnya, tangan-tangan para gadis sudah teracung dengan heboh. Para kaum hawa ini mengajukan diri dengan kelewat sukarela untuk membantu dosen muda mereka. Di kursinya Freya bertopang dagu sambil merotasikan mata dengan malas.
Ck... Kenapa sih mereka ini selalu antusias kalo udah berhubungan dengan orang tampan? Bahkan si Tania pun ikut-ikutan heboh ngangkat tangan mana sambil lambai-lambai lagi, Hah emang seberharap ya buat dipilih Orion?
Lagian kenapa juga sih malas banget buat masukin nilai sampe harus minta bantuan dari mahasiswanya? Padahal kan biasanya yang minta bantuan begini cuma dosen-dosen berusia sepuh.
gumam Freya sambil menatap malas memperhatikan teman-temannya itu.
Gue sih masih bisa ngertilah kalau dosen-dosennya yang emang udah berusia lanjut minta bantuan kayak gini. Tapi ini, Hello... seorang Orion loh? ti dosen kan masih muda ya, penglihatan juga masih bagus, nggak punya masalah kan kalo mandang layar komputer lama-lama, dan harusnya sih ya... masukin nilai bukan pekerjaan berat buat dia.
Lanjutnya sambil mendecih, mulai berpikir kalau poin plus yang dimiliki dosen barunya ini memang hanya tampangnya saja.
Sementara di muka kelas Orion menyapu pandang ke sepenjuru ruangan. Hampir semua mahasiswinya mengacungkan tangan. Hanya satu orang yang kelihatan paling enggan berada di kelas itu. Orion masih ingat wajah itu. Dia ingat tingkah konyol mahasiswinya itu di pertemuan sebelumnya.
Diam-diam Orion tersenyum tipis, entah kenapa
merasa sangat terhibur melihat tampang bosan dan muak milik Freya.
"Kamu yang duduk di pojok belakang," katanya.
Tania hampir melompat di kursinya.
"Saya, Pak?"
Orion juga ingat nama gadis itu.
Kedua bola mata Freya otomatis melebar, sementara teman-teman perempuannya mendengus kecewa.
“Eh, maaf pak... perasaan saya tadi nggak mengajukan diri, deh.” Freya berujar, berusaha kedengaran tetap sopan.
“Temen-temen yang lain banyak yang mau tuh, Pak.” lanjutnya sambil celingak celinguk kearah teman-temannya.
“Tapi saya maunya kamu,” sahut Orion sambil mengedikan bahu. “Kenapa? Apa kamu mau nolak?”
Sebetulnya Orion tidak punya alasan khusus. Dia pikir, tingkah kelewat genit mahasiswinya yang lain akan mengganggunya. Namun Freya yang setidaknya mampu bersikap cuek di hadapannya, mungkin tidak akan semengganggu itu.
Sementara itu Freya berhasil dibuat mengkeret begitu menyadari nada bicara dan raut wajah Orion mendadak berubah serius.
Sialan.
"Eh, e-engga kok Pak, iya saya bersedia!." Freya cepat-cepat berujar takut.
Orion tersenyum mendengar ini.
"Bagus. Nanti sore temui saya di ruang prodi. Dan jangan kabur kamu."
"Iya Pak, iya."
Ruang prodi sepi di sore hari.
Hampir semua dosen sudah pulang begitu selesai mengajar. Di ruangan besar ini, hanya tersisa Freya dan Orion yang duduk berhadapan dipisahkan oleh meja kerja dosen muda itu.
Freya tengah sibuk menginput nilai tugas teman-temannya ke dalam excel, sementara Orion masih memeriksa tugas-tugas lain.
“Capek, ya?” tanya Orion ketika Freya berhenti sejenak dan meregangkan badannya.
Ditanyai begitu membuat Freya balas menatap Orion.
“Ah, engga kok, Pak.”
Orio mengangguk-angguk mendengar ini. “Iya sih, lebih capek juga saya, harus meriksa setumpuk tugas mahasiswa yang isinya kebanyakan ngawur.”
Freya menahan diri untuk tidak mendecak dengan kesal mendengar ini.
Udah untung juga gue bantuin, masih aja ngebacot.
gumam Freya mendumal kecil.
Melihat raut kesal Freyq yang tidak bisa lagi disembunyikan, otomatis membuat Orion terkekeh. Pria itu melepas kaca mata baca yang digunakannya lalu menatap gadis
di hadapannya dengan senyum manis.
"Becanda, Freya Adira Putri. Saya tau pasti capek juga ngeinput nilai segitu banyak. Udah, kamu istirahat dulu aja, nanti dilanjut lagi," katanya.
Kekesalan Freya mereda. Entah karena mendengar kekehan Orion, atau karena senyuman manisnya, atau karena keduanya.
"Engga deh Pak, saya lanjutin aja biar cepet beres." Freya menolak tawaran Orion tadi dan meneruskan pekerjaannya.
"Buru-buru amat. Kamu nggak pengen kelamaan berduaan sama saya, ya?" tanya Orion lagi. "Kenapa? Padahal kata kamu saya ganteng?"
Freya hampir mengumpat mendengar Orion kembali membahas kejadian beberapa hari lalu. Dia mendongak dan mendapati dosennya itu tengah memasang cengiran tidak berdosa.
"Iya 'kan? Kamu sendiri yang bilang saya ganteng tempo hari lalu?"
Shiittt!! Masih dibahas lagi!
Meringis, akhirnya Freya merespons, "Aduh maaf, Pak buat kejadian itu. Tolong jangan dibahas lagi, ya."