Islandzandi

Islandzandi
Luka Saya Bayaran Untuk Luka Bapak Di Masa Lalu



Braakkk!!


Pintu ruangan Kenan terbuka dengan keras oleh seseorang.


Kenan maupun Kiran pun terkejut dibuatnya dan melihat siapa yang berani masuk tanpa seijinnya.


"Om?" ucap Kenan dengan lidah yang kelu. Kiran yang melihat kearah Reyandra pun bingung, karena tentu saja Kenan belum memberitahu perihal kedatangan ayah kandung Freya.


Tanpa berbicara Reyandra berjalan dan duduk di sofa berhadapan dengan Kiran juga Kenan.


"Lanjutkan ceritamu Nona... Agar Kakak Sepupunya Freya ini mengetahui kebenarannya." ucapnya dingin sambil menumpang kaki kanannya diatas kaki kirinya.


"Sayang, dia adalah Ayah kandung Freya..." lirih Kenan sambil memejamkan mata, sementara mata Kiran hanya membola tidak percaya.


Pikiran Kenan terasa benar-benar kacau sekarang. Dia sama sekali tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Freya ngehubungin Kelana setelah tau kalau dia saling kenal sama Orion. Dia pengen tau dari mana Kelana kenal Orion." Kiran menjelaskan lagi, kali ini suaranya kedengaran bergetar. “Dan Kelana cerita tentang semua yang dia tau."


Kenan menatap kosong. Jantungnya terasa mencelus sampai ke dasar perut. "Semua yang dia tahu? Kelana... tau soal apa?"


"Soal kita. Soal masa lalu kita." Kiran menyahut, dia kembali terisak kini. "Dulu Kelana dan Orion emang deket banget, Ken. Dan ternyata, dulu Orion pernah cerita tentang masa lalunya di SMA."


Ini benar-benar membuat Kenan bungkam sepenuhnya. Tatapannya jatuh ke lantai di bawahnya, menatapnya dengan hampa.


"Jadi itu alasan Kelana selalu benci aku. Karena dia tau sebusuk apa aku dulu." Kenan bergumam pelan, lebih pada dirinya sendiri. "Sekarang, Freya juga tau soal hal itu."


Dan, dia pun begitu yakin bahwa Freya juga akan membenci dirinya, sama seperti Kelana. Atau mungkin, rasa bencinya akan jauh lebih besar. Dilihat terakhir Freya melihat dirinya tadi malam.


Dia memang pantas untuk dibenci atas apa yang telah dilakukannya di masa lalu. Bahkan dia pun begitu membenci dirinya sendiri. Kenan tidak akan menyalahkan orang-orang yang menaruh benci dan memandang buruk dirinya. Dia memang pantas mendapatkan itu semua.


"Om, aku harus temuin Freya, Om."


"Tidak bisa! Freya sedang tidak ingin diganggu, dia sedang menenangkan diri akibat ulah kalian... Kalian berdua, juga Orion.


Sekarang saya yang akan melindungi putri saya satu-satunya. Saya akan menjaganya dari kalian. Selama putri saya tidak mau bertemu dengan kalian, selama itu pulalah saya akan menentang kalian untuk tidak menemuinya, kecuali Freya sendiri yang menginginkannya." jelasnya dengan santai.


***


"Freya lagi nggak enak badan, Pak. Jadi hari ini nggak ke kampus."


Orion tertegun mendengar jawaban Rania. Seharian ini dia berusaha mencari Freya di kampus, tapi tidak menemukannya di mana pun. Dia juga berusaha menghubunginya, tapi tidak juga membuahkan hasil.


Ponsel perempuan itu sepertinya dinonaktifkan. Tadi pagi Orion menemukan riwayat teleponnya bersama Freya di malam hari, dia mencoba mengingat apa yang mereka bicarakan, tapi memorinya tidak bisa diajak bekerjasama. Orion memang mabuk berat semalam.


Dia sempat curiga jangan-jangan dirinya tanpa sadar malah mengocehkan semua rahasianya pada Freya lewat telepon. Tapi durasi panggilannya bahkan tidak sampai lima menit. Selain itu menurut Evan yang bersamanya semalaman, dia tidak mengatakan hal macam-macam di telepon. Jadi seharusnya tidak ada masalah.


"Nggak enak badan? Dia baik-baik aja?" Orion akhirnya bertanya.


Rania mengerjap pelan. "Katanya, sih cuma butuh istirahat, Pak."


"Kamu bisa ngehubungin dia?” tanya Orion lagi.


Kali ini Rania menggeleng pelan. "Freya ngabarin saya semalem, sih. Terus chat saya nggak di-read lagi. Tapi kayaknya dia baik-baik aja, Pak."


Orion menghela napas lantas mengangguk pelan. "Ya udah, makasih, ya. Kamu boleh pergi, Rania."


Rania mengangguk kecil dan berjalan meninggalkan ruang prodi. Di kursinya lagi-lagi Orion mengerling ponselnya. Benda pipih itu masih bergeming. Tidak ada notifikasi masuk dari Freya.


Mungkin benar kata Rania, Freya hanya butuh istirahat. Mungkin Orion harus memberinya waktu sejenak.


Untuk kesekian kalinya pemuda itu menghela napas. Ia beranjak bangun dari kursinya, hendak mencari udara segar di luar. Kakinya melangkah keluar, menyusuri koridor yang mulai sepi karena hari telah sore. Ketika dia hendak keluar dari gedung, dilihatnya sosok yang sejak tadi dicarinya. Tidak jauh darinya Freya tengah bicara dengan Rania.


Apa ini? Bukankah sebelumnya Rania bilang Freya tengah beristirahat di rumah?


Mulanya Orion hendak menghampiri, tapi ketika mendengar apa yang kedua gadis itu bicarakan, dia mengurungkan niatannya.


"Diem di rumah aja malah bikin gue makin kepikiran, Ran. Mending gue ke sini, ada rapat Medfo, ada yang bisa ngalihin fokus gue." Freya berujar sambil tersenyum tipis, senyum yang terlihat begitu dipaksakan.


Rania lantas menghela napas. "Lo masih nggak mau cerita?"


"Nanti, ya. Gue nggak bahas ini dulu." Freya lagi-lagi memaksakan senyum itu.


Ini membuat Orion terpaku. Apa mungkin Freya seperti itu karena pertengkaran mereka di mall? Apakah mungkin Freya mulai mengira-ngira tentang berbagai kemungkinan terburuk? Orion memejamkan mata sejenak. Sebelum otaknya sempat memerintah, kakinya telah lebih dulu bergerak menghampiri Freya. Membuat baik perempuan itu maupun Rania seketika tertegun.


"Pak Orion? Sejak kapan di situ?" Rania bertanya dengan terkejut.


Orion mengembuskan napas, memilih tidak menjawab pertanyaan itu. Dia menatap Freya lurus-lurus.


"Freya, kamu ... ngehindarin saya?" tanyanya.


Sejenak Freya hanya diam. Dia balas menatap Orion dengan kosong. Jenis tatapan yang membuat jantung Orion terasa mencelus.


Freya tidak pernah menatapnya seperti itu.


Perlahan Freya menggeleng. "Engga, saya nggak ngehindarin Pak Orion. Saya ... lagi persiapin diri buat bicara sama Pak Orion." Dia lantas menghela napas. "Dan karna Pak Orion ada di sini, saya rasa kita harus omongin ini sekarang."


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Freya berjalan mendahului.


Di belakangnya, Orion segera mengekor.


Mereka berhenti di parkiran belakang, yang sepi seperti biasa.


Freya berdiri di hadapan Orion, beberapa saat hanya diam sembari menundukan kepala.


"Freya ...."


"Pak, maaf." Freya akhirnya mendongak, menatap Orion dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Kening Orion mengerut mendengar ini. Dia melangkah mendekat, hendak menyentuh Freya, tetapi perempuan itu mengambil langkah mundur. Seakan ingin tetap memberi jarak.


"Maaf untuk apa?" Orion bertanya tidak mengerti.


"Saya ... saya nggak pernah tau orang yang ngeganggu Pak Orion di masa lalu itu kakak sepupu saya. Maaf, Pak. Saya minta maaf atas nama kakak saya." Freya berujar lagi dengan suara tercekat.


“Saya ngerasa buruk pernah ngehibur Pak Orion soal masalah ini, saya nggak bisa bayangin gimana perasaan Pak Orion. Maaf ...."


Di tempatnya Orion tertegun mendengar ini. Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin Freya tahu semua ini?


"Freya, itu... itu bukan salah kamu. Kamu nggak perlu minta maaf,” cetus Orion, tangannya meraih kedua bahu Freya.


Ini membuat Freya menatap Orion dengan nyalang. “Bukan salah saya? Kalau gitu kenapa Pak Orion ngelibatin saya di masalah ini?"


Jantung Orion terasa berhenti bekerja untuk sesaat.


Cengkramannya pada bahu Freya mengendur. Tubuhnya melemas seketika.


Freya benar-benar telah mengetahui semuanya.


Kali ini setitik air mata mengalir membasahi pipi Freya. Perempuan itu cepat-cepat menghapusnya dengan punggung tangan.


"Saya udah mikirin ini berkali-kali, saya pikirin di mana letak kesalahan saya sampai pantes nerima ini." Dia berhenti sejenak dan menatap Orion dengan matanya yang basah.


"Kenapa dia tega ngelakuin ini? Kenapa bisa-bisanya dia jadiin saya alat balas dendamnya? Tapi luka yang Pak Orion rasain terlalu dalam 'kan? Seenggaknya harus ada bayaran setimpal buat luka itu 'kan? Kak Kenan nggak sanggup bayar rasa sakit itu, jadi saya rasa harus saya yang ngegantiin 'kan?"


"Freya...."


"Saya pikir hubungan kita istimewa, Pak. Saya pikir perasaan ini bukan cuma milik saya. Tapi ternyata saya salah. Saya bener-bener ketipu." Air mata kembali membasahi pipinya, dan kali ini Freya tidak bersusah-susah menghapusnya. “Selamat, Pak Orion berhasil bikin saya terluka buat ngebayar luka Pak Orion di masa lalu. Saya harap itu cukup buat nebus kesalahan kak Kenan."


Setelah mengatakan itu, Freya berbalik pergi begitu saja. Meninggalkan Orion yang masih terpaku di tempatnya.