Islandzandi

Islandzandi
Kondisi Aufar



"Mmmmhhh..." seru Islandzandi yang baru membuka mata. Erik yang sedang sibuk dengan ponselnya pun kaget melihat Islandzandi sudah sadar.


"Island...?!"


"Mmhh.. Dimana ini?" ucapnya panik sambil beranjak duduk.


"Hey.. Hey.. Calm down Island, you're save now Island... Ini di rumah sakit"


"Bayinya??" ucapnya baru sadar langsung memegang perutnya yang memang masih buncit alias masih gede.


"Bayinya juga selamat, ini adalah suatu keajaiban Island.. lo udah di culik ketabrak dan kalian berdua masuh selamat... Gue bersyukur banget..."


"Reyandra mana?"


"Dia lagi di cafetaria.. Biasa gantian jaga.. dia dari kemaren kurang makan tidur... Udah nggak ke kantor juga... Semua ditanganin gue sama Eolia... Apa mau gue panggil?" Islandzandi hanya mengangguk. Lalu Erik pun mencoba menelpon Reyandra agar segera datang ke kamar rawat inap karena Islandzandi sudah sadar dan menanyakannya.


Islandzandi terdiam sejenak mengingat Alditra saat terakhir di dalam mobil sebelum terjadi kecelakaan.


"Alditra??" ucapnya sedikit berteriak melihat kearah Erik. Sementara Erik yang sudah selesai menelpon pun menunduk dan duduk di samping Island.


"He didn't survive, i'm sorry Island..."


"Nggak.. Ini nggak mungkin Alditra pasti selamat dia masih hidup kan? Dia.. Dia.." teriak Islandzandi histeris.


"Island... Tenanglah.."


"Aku mau ketemu dia.. Dia pasti lagi dirawat sama kayak aku kan? Hah??" di dalam kepanikan Erik tiba-tiba Reyandra masuk dan berlari kendekat Islandzandi.


"Island... It's okay... Saya disini... All be fine okay...."


"Rey.. Alditra Rey... Dia nggak salah... Om Jeni..."


"Shuuuuuttt... I know...Island i know.. Shuutttt... kau harus tenang please..." ucap Reyandra memeluk Islandzandi sambil menenangkannya, sementara Islandzandi menangis keras di pelukan Reyandra.


Pa Diandra, Bu Audrey dan Erik terdiam melihat kearah Islandzandi yang histeris.


***


Beberapa hari kemudian...


Setelah tidak pulang kerumah...


Sekarang terlihat Aufar sedang mengamuk dan mengacak-ngacak barang-barang di kamarnya. Dia pun terduduk menyesali apa yang dilakukan ayahnya pada Islandzandi...


Haura dan Karin pun dengan berani masuk kedalam kamar Aufar.


"Aufar!!" teriak Haura dan Karin. Haura memberi kode pada Karin agar Karin menenangkan Aufar. lalu Haura pun keluar dari kamar dan menelpon Erik. Sementara itu Karin dengan pelan mendekati Aufar dan duduk di sebelah Aufar.


"Island udah sadar Far..."


"Dia pasti benci banget sama gue.. Karena bokap gue nyoba nyelakain dia.. Sumpah Rin.. gue benci sama bokap gue, karena alesan gue dia tega nyakitin Island... Dan Alditra.. Dia.."


"Hey hey... Shuutt it's okay Far..." ucapnya memeluk Aufar. "Island tau kalo Alditra hanya boneka bokap lo.. Dia dan lo ga ada hubungannya sama semua ini... Island tau. dia nggak benci lo Far..." Aufar pun menangis dipelukan Karin.


***


Beberapa hari kemudian...


Di rumah sakit tempat Islandzandi dirawat...


Islandzandi yang sudah mulai pulih pun duduk di tempat tidur sambil disuapi Reyandra.


"Island... Nanti saat kamu keluar dari rumah sakit kita tinggal di LA ya?!"


"Hah? Nggak ah... aaku maunya disini Rey..."


"Saya mohon Island.. Demi kamu demi bayi kita... Saya takut kalau kamu masih disini ada yang masih mengincar kamu lagi... Saya mau kita di LA untuk beberapa bulan sampai suasana disini aman... Dan kamu juga bisa istirahat disana.. Ya... Saya janji disana saya nggak akan ninggalin kamu..."


"Tapi.. Nanti wisuda aku gimana?! Papah dan Mamam juga disini...."


"Hanya untuk beberapa bulan, kamu nggak wisuda pun nggak masalah.. Kamu bisa ikut tahun depan... Saya juga sudah meminta ijin Om Diandra dan tante Audrey..."


Islandzandi terdiam sejenak.


"Tapi sebelum pergi aku mau ketemu Aufar dan ke makam Alditra.."


"Baiklah..."


***


Makanya Haura dan Karin memutuskan untuk tinggal di rumah Aufar untuk menjaga Aufar takut terjadi yang tidak diinginkan sebelum tantenya datang kesini.


Haura dan Karin pun mengabarkan keadaan Aufar pada Reyandra dan otomatis Reyandra pun mengatakannya pada Islandzandi tanpa ada yang dia tutupi.


Dan disinilah sekarang Islandzandi berada.


Duduk di ruang tamu bersama Reyandra, Erik, Aslan, Haura membicarakan keadaan Aufar. Sementara Karin masihbada di kamar Aufar.


"Hey.. Island perut lo udah keliatan jadi nggak bisa ngejob dulu dong ya..."


"Hmm hmm..." Reyandra memberi peringatan pada Aslan.


"Hahaha.. Santai bos.. Cuma becanda.. Apa kalian mau diphoto bareng? Buat moment saat Island hamil kan jadi ada bukti gitu..."


"Boleh.. Gratis ya .."


"Deuh.. Punya laki Big Boss masa masih mau gratisan..."


"Iyalah yang kaya laki gue bukan gue... Lagian harus dihargain dong kerja gue selama ini selama jadi model di destiny..."


"Iyaa Iyaa.. Gratis khusus buat lo... Jadi kapan?"


"Hm... Pas hamil gede aja sebelum lahiran kita udah pulang lagi kesini kan Rey?"


"Iya.. kamu akan melahirkan disini ditemani Om dan Tante.."


"Hah... Gue bakalan kangen banget sama lo Island... Nggak da lo nggak rame..." ucap Haura manja sambil memeluk Islandzandi.


"Iisshh... Disini masih ada karin, Aufar, Aslan tentunya Erik pun ada kan.. Kita disana cuma beberapa bulan kok nggak selamanya.. Iya kan Rey?"


"Iya.. Sebulan sebelum Island lahir akan pulang kok..."


"Pokoknya terus kabarin kita disini ya..."


"Iya bawel ah..."


Tak lama Karin yang baru dari kamar Aufar pun berjalan menghampiri teman-temannya di ruang tamu.


"Island..."


"Karin..." ucap Islandzandi berdiri dan berhambur memeluk Karin.


"Hey.. Hati-hati.. Perut lo udah gede kasian anak Lo didalem... Jangan lari-lari nggak jelas lagi..." ucap Karin tersenyum kearah Islandzandi. Mereka pun duduk kembali.


"Jadi bisa gue ketemu Aufar?" ucap Islandzandi pada Karin.


"Hhmm... Gue juga udah bilang sama Aufar kalo ada lo disini awalnya dia nggak mau ketemu sama lo.. Tapi setelah gue bujuk dan ngasih penjelasan akhirnya dia mau nemuin lo... Secara personal..." melihat serius kearah Islandzandi dam Reyandra.


Islandzandi melihat kearah Reyandra meminta ijin dan Reyandra pun hanya mengangguk.


**


Tok Tok...


"Faar... Ini gue Island... Gue masuk ya..." ucap Islandzandi di balik pintu kamar Aufar lalu membuka pintunya pelan.


Islandzandi melihat keadaan Aufar sangat kacau melihat Aufar yang duduk di tempat tidur dengan wajah kusut terdiam pandangan kedepan tidak menggubris keberadaan Islandzandi yang baru saja duduk disampingnya.


"Hei..." ucapnya sambil menangkup wajah Aufar dengan kedua tangannya supaya Aufar melihat kearahnya. Dan mereka pun beradu pandang.


"Gue disini.. Maaf gue baru bisa jenguk lo... Dan mungkin ini terakhir gue ketemu lo disini..." Aufar masih terdiam menatap Islandzandi tanpa ekspresi.


"Far.. Gue udah maafin Om Jeni.. So lo jangan nyalahin diri lo lagi okay.. Gue nggak bisa liat lo kayak gini... Disini... Masih banyak yang butuh banget bantuan lo.. Karin.. Aslan.. Haura... Semua ada disisi lo, semua ngedukung lo termasuk gue sama Reyandra.. Jadi lo jangan kayak gini lagi ok?! Sadarlah Far... Gue mau lo kayak dulu lagi..." ucalnya sambil berkaca-kaca. Aufar pun melihat kearah Islandzandi mulai bereaksi dan menitikan air mata.


"Island..."


"Iyaa... ini gue Far, ini gue Islandzandi..." ucapnya sambil memeluk Aufar dan menangis sejadi jadinya begitupun dengan Aufar.




Reyandra yang melihat dari balik pintu yang terbuka pun hanya terdim melihat pemandangan mengharukan persahabatan antara Islndzandi dan Aufar sambil tersenyum.


Ya.. Setidaknya kewarasan Aufar kembali dengan hadirnya Island...