
Freya tersenyum senang. Dia baru saja berniat mengetikan pesan lain, ketika tiba-tiba seseorang dari arah berlawanan menabraknya dengan begitu kencang. Freya terhuyung dan ponsel dalam genggamannya seketika meluncur bebas jatuh ke lantai koridor.
Kedua mata Freya melebar, dia mendongak untuk menatap pelaku yang barusan menabraknya.
Si penabrak rupanya adalah seorang perempuan cantik bertubuh langsing. Dia memakai mini dress ketat yang mencetak tubuh sempurnanya dengan indah. Perempuan itu menatap Naya dengan galak.
"Pake mata dong kalau jalan!" Perempuan itu menukas sinis. "Nggak liat apa gue lagi buru-buru?"
Freya mendecak. "Mbaknya yang nabrak saya duluan ya, hp saya sampai jatuh liat tuh. Kok malah Mbaknya yang ngegas sih?"
Padahal Freya sadar dirinya juga salah karena berjalan sambil memainkan ponsel hingga dia tidak memperhatikan langkahnya. Tapi ia jadi ikut-ikutan kesal karena perempuan di depannya ini malah bicara kasar begitu padanya.
Perempuan cantik itu mendecak dan kelihatan ingin membalas perkataan Freya. Tapi ponsel di tangannya berdenting pelan, dan dia langsung mengeceknya. Seulas senyum tiba-tiba menghias bibir tipisnya. Dia lalu mendongak lagi pada Freya dan menatapnya dengan tajam, senyumannya tadi hilang secepat kemunculannya.
"Kali ini gue maafin ya kelancangan lo, awas aja kita ketemu lagi nanti. Abis lo," katanya sambil menunjuk wajah Freya dengan telunjuk, lalu langsung berlalu pergi.
Freya tercengang di tempatnya. Apa-apaan tadi itu? Kelancangan katanya? Yang benar saja.
Sedetik kemudian Freya baru teringat pada ponselnya yang masih tergeletak menyedihkan di lantai. Cepat-cepat dia mengambilnya, dan segera mengerang begitu melihat keadaan layarnya yang kini retak.
"Ah, sialan!" Freya berbalik untuk mencari perempuan tadi, tapi dia sudah menghilang entah ke mana.
Sambil mendengus Freya mengecek lagi ponselnya. Kelihatannya sih hanya tempered glass-nya yang retak. Tapi tetap saja, retakannya begitu besar dan menyebar sampai ke seluruh layar. Padahal selama ini Freya selalu menjaga ponselnya baik-baik. Gara-gara perempuan galak tadi....
"Awas aja, sampai ketemu lagi, lo yang abis di tangan gue." Freya berbisik kesal pada dirinya sendiri.
Seseorang tiba-tiba menabok punggungnya kencang dari belakang. Freya mengaduh dan hampir mengumpat kasar kalau tidak melihat Rania yang kini tengah memasang cengiran lebar di wajah.
"Orang nyapa temennya tuh say hi, cipika cipiki, lo doang yang main gaplok, ya." Freya berdecak kesal.
Rania terkekeh lalu segera merangkul Freya dan membawanya berjalan menuju kantin.
"Apa sih pagi-pagi udah ngomel aja. PMS lo?" tanyanya.
Freya mendengus sambil menunjukan layar ponselnya yang retak, membuat Rania melongo.
"Abis lo apain tuh hp? Ditiban pake dosa?" celetuk Rania. "Dosa lo 'kan gede, wajar kalau layarnya retak gitu."
Freya menjitak kepala Rania menanggapi jokes garingnya itu. Dia lalu menceritakan kejadian yang baru dialaminya tadi dengan berapi-api.
"Ya, salah lo juga sih jalan nggak liat-liat." Rania menanggapi sambil mengedikan bahu. "Lagian tempered glass doang bisa diganti 'kan."
"Attitude mbaknya itu loh, Rania yang bikin gue gedek. Kayak gue abis nyolong pacarnya aja ampe disinisin gitu. Lagian dianya juga salah, kok." Freya menyahut kesal. Langkahnya lalu mendadak terhenti ketika mereka tiba di pinggiran parkiran mobil.
Matanya menangkap sosok si perempuan yang tadi menabraknya. Cepat-cepat ditahannya lengan Rania.
"Ran, itu tuh cewek yang tadi gue ceritain."
Rania ikut memandang perempuan yang dimaksud Freya. "Wew, cantik parah. Eh, tapi bajunya apa nggak berlebihan buat dipake ke kampus?"
Freya mengedikan bahu, tidak berniat menanggapi perkataan Rania. Alih-alih, dia malah melangkahkan kakinya menuju parkiran, hendak menghampiri perempuan itu.
Dengan gesit Rania menahan Freya. Dia bertanya heran, "Lo mau nyamperin dia? Ngapain?"
"Nyuruh dia minta maaflah. Sama minta ganti rugi tempered glass gue." Freya menyahut.
"Ih, elah, Frey, malu-maluin banget lo tempered glass doang minta ganti rugi! Udahlah lupain aja." Rania menukas cepat.
Padahal Rania cuma khawatir Freya berakhir mengenaskan kalau melihat penampilan perempuan galak itu. Rania tidak bisa membayangkan Freya habis dicakari dan dijambaki. Masalahnya, perempuan cantik itu kelihatan sekali bukan tandingan mereka.
"Ran, 'kan gue udah bilang yang jadi masalah tuh sikapnya itu. Enak aja dia ngomong gitu ke gue padahal dia juga salah-"
"Frey!" Rania tiba-tiba memukul lengan Freya keras, membuat perempuan itu berhenti mengoceh.
"Apa, sih?"
"Itu liat ke sana!" Rania berbisik heboh. "Itu... Pak Orion 'kan?"
Freya ikut menoleh ke parkiran dan benar kata Rania, ada Orion yang kelihatan baru memasuki parkiran, berjalan menghampiri perempuan itu. Dengan cepat, Freya bersembunyi di balik pilar, tetapi tetap mengintip apa yang Orion lakukan.
Detik selanjutnya dia segera menyesali keputusannya untuk mengintip.
Kedua mata Freya melebar. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Sebenarnya siapa perempuan itu?
Orio sendiri kelihatan terkejut mendapat perlakuan begitu. Dengan cepat dia memaksa perempuan itu melepas pelukannya dan mendorongnya menjauh. Setelahnya Orion memandang ke sekitar, seakan tengah mengecek apakah ada yang memergoki mereka. Beruntung, saat itu parkiran dan area sekitarnya memang sepi.
Orion kelihatan berbicara sebentar dengan perempuan itu. Freya tidak tahu bagaimana raut wajahnya, karena Orion berdiri memunggunginya. Tapi perempuan itu kelihatan merajuk beberapa kali.
Lalu tak lama, Orion berjalan menuju mobilnya diekori oleh perempuan itu. Keduanya masuk ke dalam mobil. Dan sampai mobilnya berlalu meninggalkan area parkiran, Freya masih berdiri terpaku di tempatnya.
Hati-hati Rania menyentuh lengan Freya. "Frey? Lo nggak apa-apa?"
Freya hanya diam, tidak mampu menjawab pertanyaan Rania tadi. Karena dia pun tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini.
Harusnya dia tak apa-apa ‘kan? Memangnya ada alasan untuknya merasakan hal tertentu setelah melihat apa yang Orion lakukan dengan perempuan itu?
Tapi Freya tidak tahu, dia benar-benar tidak yakin dengan apa yang dirasakannya kini.
Yang pasti, dia tak suka melihat perempuan itu memeluk dan mencium Orion.
Ada apa dengannya?
Dosen Gila :
Saya di depan rumah kamu, Freya.
Malam harinya, Freya tersentak kaget begitu melihat notifikasi pesan dari Dosen Gilanya itu. Sebenarnya Orion sudah mengiriminya pesan sejak siang tadi, seperti biasa, mengajaknya makan siang bersama. Tapi Freya mengabaikannya. Orion juga mengiriminya pesan lain, dan bahkan meneleponnya. Semuanya berakhir Freya abaikan. Lalu tiba-tiba saja dosen Gilanya itu mengabarinya sudah ada di depan rumah.
Apa maunya, sih?
Freya mengesah, lalu mengambil hoodienya dan bergegas turun ke bawah. Benar saja, di luar sana berdiri Orion di samping mobilnya yang terparkir di depan rumah Freya.
"Ada apa, Pak?" tanya Freya begitu tiba di hadapan Orion.
Sejenak Orion hanya memandangi Freya dari atas ke bawah. Ya memang sih saat itu Freya hanya memakai piyama pororo dibalut hoodie, rambutnya pun dibiarkan terurai berantakan. Tapi apa salahnya? Toh ini sudah malam. Orion saja hanya memakai kaus berlengan panjang dan celana santai.
Orion menghela napas. "Kamu ngehindarin saya?"
Kedua alis Freya berjingkat. "Engga kok, Pak."
"Terus kenapa chat sama telepon saya dibiarin aja?" Orion bertanya lagi.
Freya nyaris mendecak, tidak sangka Orion bisa bertingkah seperti remaja labil yang diabaikan pacarnya.
Eh, apa? Pacar?
Yang benar saja. Hubungan mereka bahkan tidak jelas.
"Oh, maaf Pak, saya nggak sempet cek hp seharian, lagi banyak tugas." Freya menjawab sekenanya.
Sesaat Orion hanya memandangi Feya dalam diam. Seakan tengah mempertimbangkan jawabannya tadi.
"Yakin?" tanyanya akhirnya.
"Iya."
"Bukan karena kamu ngeliat kejadian di parkiran?"
"Engga, kok." Freya menjawab cepat tapi kemudian segera menyadari kesalahannya. "Eh, maksudnya kejadian apa ya, Pak? Saya nggak ngerti."
Ah, sialan. Freya memang tidak bisa berbohong di depan Orion.
Orion terkekeh mendengar ini. Dia mendekat lalu mengusak puncak kepala Freya.
"Udah, nggak usah bohong," katanya. "Jadi bener 'kan kamu ngehindarin saya gini gara-gara kamu ngeliat saya sama Aubrey."
Oh jadi nama perempuan itu Aubrey ....