Islandzandi

Islandzandi
Orion & Emma



"Frey, jangan lupa dicatet poin-poin pentingnya, ya. Nanti pasti bakalan ada notulensi sih, tapi jaga-jaga lo juga nyatet biar ada bahan buat press release." Kevin, kepala departemen Media dan Informasi di himpunan mereka berujar mengingatkan pada Freya.


Yang diingatkan lantas mengacungkan jempol. "Sip. Nih, gue udah siapin notes biar gampang nyatetnya."


"Oke mantep." Kevin mengangguk puas lalu beralih pada Dasya, yang bertanggung jawab di bagian publikasi, untuk mengingatkan perihal live report agenda hari ini.


"Sya, nanti lo duduk di sebelah sana aja, gue bawa tripod, biar nge-live di IG lebih gampang."


"Sip sip." Dasya mengangguk mengerti.


Siang ini Himpunan Ilmu Komunikasi mengadakan hearing prodi, acara yang melibatkan mahasiswa, dosen-dosen, dan staf prodi untuk berkumpul dan mendiskusikan keluhan atau pun masukan bagi program studi mereka. Sebetulnya, acara ini diselenggarakan oleh departemen Hubungan Internal. Tetapi departemen Media dan Informasi juga diwajibkan untuk ikut bertugas dalam meliput dan mempublikasikan acara, dimulai dari siaran langsung di Instagram, dokumentasi sepanjang acara, sampai penulisan press release yang akan diunggah di laman website himpunan.


Freya yang kali ini bertanggung jawab menulis press release acara sudah bersiap dengan notes dan pulpennya, agar tidak ketinggalan poin-poin penting seperti kata Kevin tadi. Dia melirik teman-teman sedepartemennya yang juga sudah bersiap. Dasya dengan ponselnya untuk melangsungkaan live di Instagram himpunan mereka, Juni dengan kamera untuk mendokumentasikan seluruh kegiatan. Ada pula dua adik tingkatnya, Jendra dan Haekal, yang kini duduk di sampingnya.


Freya lantas melirik jam di tangannya, sebentar lagi acara akan dimulai. Dia lalu beralih menyapu pandang ke bagian depan aula, di mana kursi-kursi ditempatkan berjejer untuk para dosen. Sebagian besar dosen sudah tiba memenuhi kursi, tapi Orion tak ada di sana. Freya mengerutkan kening. Padahal Orion bukan tipikal orang yang datang terlambat.


Cepat-cepat dia mengeluarkan ponsel dan mengetikan pesan.


Freya :


Pak, di mana? Hearing prodinya bentar lagi mulai


Tepat ketika pesannya terkirim, sosok yang dicari-carinya muncul dari pintu masuk. Orion berjalan cepat menuju bagian depan aula sambil memasang senyum bersalah. Sesekali dia mengangguk sopan pada beberapa dosen senior yang dilewatinya. Mulanya pemuda itu hendak duduk di ujung barisan, tetapi langkahnya terhenti ketika Emma yang duduk di tengah melambai padanya.


"Pak Orion duduk sini aja."


Dari kursinya Freya bisa mendengar Emma berujar sambil menunjuk kursi kosong di sampingnya.


Tak pelak Orion pun duduk di samping perempuan itu. Emma lantas bergeser mendekat dan membisikan sesuatu di telinganya, membuat Orion ikut bergeser agar bisa mendengar dengan lebih baik. Keduanya kemudian tertawa pelan, entah menertawakan apa.


Freya yang memperhatikan semua itu mengesah dan mengipasi wajah dengan notes kecilnya. "Kok tiba-tiba panas, ya."


Haekal yang duduk di sampingnya lantas menoleh. "Kenapa, Kak? AC-nya kurang kenceng?"


"Iya kayaknya. Panas banget." Freya menukas sambil masih mengamati Orion dan Emma, keduanya makin asyik mengobrol, membuat Freya makin kencang mengipasi wajahnya.


"Hubin! Punten, AC-nya kencengin dong, ini ada yang kegerahan, nih!" Haekal tahu-tahu berseru dengan suara kelewat kencang pada anak-anak departemen Hubungan Internal. Suara kerasnya tadi otomatis menggelegar ke seluruh aula dan membuat orang-orang menoleh padanya.


Freya seketika panik ketika mendapati Orion juga kini menatapnya. Dia memukul pelan lengan Haekal.


"Kal, ih, nggak usah keras-keras dong ngomongnya! Pake ngatain gue kegerahan lagi!" desisnya kesal.


Haekal balas menatap Freya dengan bingung. "Lah, 'kan emang Kak Freya gerah tadi katanya? Gue niatnya udah baik minta AC dikencengin."


Dasya yang sejak tadi memperhatikan lantas terkekeh geli. "Kal, lo nggak paham. Si Freya bukan kegerahan gara-gara AC-nya kurang kenceng."


"Terus?" Haekal bertanya makin bingung.


Freya beralih pada Dasya dan mencubit pelan lengannya. "Diem atau gue sumpel mulut lo, hah?"


"Ih, galak!" Dasya meringis sambil menghempaskan tangan Freya dari lengannya. Dia lalu menambahkan dengan suara berbisik sehingga hanya Freya yang bisa mendengar, "Pak Orion yang bikin lo panas, malah gue yang kena."


"Sya!"


"Iya iya, gue diem." Dasya tergelak.


Haekal dan Jendra yang duduk bersebelahan kini malah sibuk bergosip. Telinga Freya mau tidak mau mulai mendengarkan obrolan mereka.


"Iya 'kan, bukan gue doang 'kan yang mikir gitu." Haekal berbisik antusias. "Soalnya Bu Emma tuh cantik banget cuy, mana body-nya juga aduhay. Gila aja 'kan kalo Pak Orion kaga naksir?"


Hah, apa ini?


"Ya elah, itu sih udah jadi rahasia umum di prodi. Gue yakin mereka pacaran diem-diem selama ini." Jendra menanggapi sambil mengibaskan tangan. "Waktu itu aja anak kelas sebelah ada yang pernah liat mereka makan siang berdua."


"Sumpah lo? Udah sih, bener-bener nggak perlu diraguin lagi." Haekal mengangguk-angguk bersemangat. "Gue nggak akan kaget kalau nanti mereka tiba-tiba sebar undangan, terus—“


"Heh!" Freya akhirnya habis sabar. Dia menoleh pada Haekal dan Jendra, menatap keduanya dengan mata membeliak. "Malah gibah lo pada! Lo 'kan harusnya dengerin diskusinya juga Kal, biar kalau gue ada yang miss, bisa nanya ke elo."


Dia memilih menyerang Haekal yang memang bertanggung jawab juga untuk bagian press release acara bersamanya.


"Ya elah, nanti juga ada notulensinya, Kak." Haekal mengedikan bahunya.


"Tetep aja harus dengerin!" Freta mendesis. Dia lalu beralih pada Jendra. "Lo juga, harusnya bantuin Juni ngedokum ‘kan? Malah duduk di sini sambil ngegibahin yang ga penting!"


Kali ini serangannya beralih pada Jendra, yang seharusnya juga bertanggung jawab untuk dokumentasi acara.


Jendra mencebikan bibirnya dimarahi begitu. "Orang tadi kata Bang Kevin yang ngedokumnya Kak Juni aja, satu kamera cukup."


Freya berdecak lalu memutar badannya kembali menghadap ke depan. Dia bertopang dagu dan menunduk menatap catatannya. Sial, kenapa dia jadi emosi begini, sih.


"Kak Freya lagi PMS kali, ya?" Haekal berbisik pada Jendra, tidak sadar bisikannya masih bisa didengar Freya. "Dari tadi ngomel mulu."


"Cewek kalau lagi PMS ngeri Kal, bisa abis kita." Jendra menyahut pelan.


"Ish, gue nggak lagi PMS, ya!" Freya kembali menoleh pada kedua anak itu dan mendesis tajam. Dia lalu berhenti sebentar sebelum menambahkan, "Dan setau gue Pak Orion udah punya cewek, bukan Bu Emma, bukan dosen lain. Makanya kalian jangan asal ngegosip."


Kedua mata Haekal melebar mendengar ini. Dia mendekat pada Freya dengan antusias. "Yang bener, Kak? Siapa tuh siapa?"


"Secakep Bu Emma nggak? Apa jangan-jangan lebih cakep?" Jendra bertanya tidak kalah penasaran.


Freya mengerjap beberapa kali. Bodohnya, dia malah menjerumuskan dirinya sendiri sekarang.


Sambil berdecak Freya mendorong kepala Haekal menjauh darinya.


"Udah sih, nggak usah kepo urusan dosen."


Haekal mengerang tidak terima sementara Jendra kini menatap Freya dengan mata memicing. Dia mengelus dagunya perlahan.


"Apa? Kenapa ngeliatin gue kayak gitu?" Freya bertanya gugup, mulai panik jika Jendra mencurigai hubungannya dengan Orion.


Aduh, sedari tadi dia bersikap terlalu berlebihan sih...


"Jangan-jangan ..." Jendra memulai perlahan.


"Jangan-jangan apa?" Freya bertanya panik.


"Jangan-jangan ... Kak Freya fansnya Pak Orion, ya?" tembak Jendra seketika. "Makanya nggak terima kita gibahin dia sama Bu Emma, iya 'kan?"


"Hah? Enggalah ngaco!" Freya berseru keras di luar kesadarannya. Terlampau keras, sampai mengalahkan suara temannya yang saat itu tengah mengutarakan keluhan tentang sistem pembuatan surat di administrasi prodi. Seisi aula lagi-lagi beralih menatapnya heran.