Islandzandi

Islandzandi
S2 Freya Adira Putri



Mereka bertengkar lagi.


Lengkingan pekik penuh amarah sepasang suami istri itu memenuhi seisi rumah, membuat Freya yang masih berusia enam tahun seketika terisak.


Freya Adira Putri tidak pernah terbiasa dengan pertengkaran orang tua angkatnya itu. Dia masih terlalu kecil untuk mencoba mengerti apalagi bersikap tangguh. Menangis ketakutan adalah reaksi spontannya. Di saat seperti ini biasanya Kenan akan langsung berlari ke kamarnya, menghampiri Freya dan memeluknya erat. Kakaknya yang terpaut usia tujuh tahun itu merupakan satu-satunya pelindung yang Freya miliki. Tapi Kenan tidak kunjung datang. Pintu kamar Freya masih bergeming sementara teriakan Mama Haura dan Ayah Erik kian menjadi-jadi di luar sana. Freya bahkan bisa mendengar suara benda-benda berjatuhan. Tubuhnya gemetar ketakutan. Wajahnya sudah basah oleh air mata. Freya memejamkan kedua mata dan menutup kedua telinganya dengan tangan, berharap dengan begitu dia tidak perlu lagi mendengar keributan mengerikan dari luar ruangan. Meski tentu saja, upayanya tidak berhasil.


Perlahan Freya bangun dari duduknya dan berjalan keluar kamar. Masih sambil terisak, bocah itu melangkah cepat-cepat menuju tangga yang membawanya ke lantai satu. Dari sudut matanya, Freya bisa melihat Mama Haura dan Ayah Erik berdiri di ruangan seberang, sibuk saling meneriaki satu sama lain, kelihatan sama sekali tidak menyadari presensi anak mereka. Kaki-kaki pendek Freya membawanya menuruni anak tangga dengan cepat. Dia harus segera menemui Kenan, dia membutuhkan kakaknya, dia tidak mau ketakutan sendiri begini.


Langkah Freya lantas terhenti di ruang tengah. Seorang laki-laki tidak dia kenal nampak berbaring tertidur di atas sofa, nampaknya seusia dengan Kenan. Ini membuat Freya teringat bahwa sebelumnya Kenan bilang teman-teman sekolahnya akan datang ke rumah untuk mengerjakan tugas kelompok. Tapi teman-temannya yang lain tidak ada di sana, hanya tersisa laki-laki itu. Perlahan laki-laki itu pun terbangun dari tidurnya, mungkin lama kelamaan terusik juga dengan kebisingan yang timbul dari pertengkaran orang tua angkat Freya. Dia mengucek matanya dan memandang sekeliling dengan linglung. Tatapannya lantas berhenti pada Freya yang berdiri mematung, balas menatapnya dengan kedua mata basah oleh air mata. Tangis Freyq lagi-lagi pecah. Dia segera berderap menghampiri laki-laki itu dan mendudukan diri di sampingnya, seakan minta perlindungan. Freya ingat Kenan seringkali memperingatkannya untuk tidak bicara dengan orang asing. Tapi laki-laki ini teman Kenan, jadi mungkin tidak masalah mengabaikan peringatan kakaknya itu.


“Kak, aku takut." Freya berujar di sela tangisannya.


"Mama Haura sama Ayah Erik berantem lagi ... aku takut, Kak." Laki-laki itu sesaat bingung harus menanggapi bagaimana.


“Kamu adik Kenan?" Freya mengangguk, masih belum bisa menghentikan tangisannya. Dia mendongak menatap laki-laki di sampingnya.


"Kak Kenan ke mana? Aku takut." Laki-laki itu menggaruk rambutnya dan menggeleng.


"Nggak tau. Tadi aku ketiduran, bangun-bangun semua orang udah pergi dan udah kayak gini.” Dia lalu menatap ke arah lantai dua, di mana suara pertengkaran itu berasal. Ditatapnya Freyq dengan prihatin. "Ini... Sering terjadi?" Lagi, Freya mengangguk.


“Biasanya Kak Kenan selalu nemenin aku sampe Mama Haura dan Ayah Erik berenti berantem. Tapi aku nggak tau Kak Kenan ke mana sekarang." Kini laki-laki itu menghela napas. Dia berpikir sejenak, lalu segera meraih ranselnya. Dikeluarkan beberapa bungkus coklat dari sana, kemudian disodorkannya pada Freya.


"Ini, makan.” Bibir Freyq berkedut, tidak mengerti kenapa dia malah disuruh makan. Laki-laki itu membuka satu bungkus coklat dan kembali menyodorkannya pada Freyq. "Kalau lagi sedih, aku selalu makan coklat. Itu bisa ngebantu aku jadi lebih tenang. Kamu juga lagi ketakutan gini bisa coba makan coklat, biar perasaan kamu lebih baik. Kandungan coklat itu ngebantu ngerangsang produksi endhorpin yang bisa nyiptain perasaan bahagia." Dia lantas menghentikan ocehannya ketika menyadari raut kosong di wajah bocah kecil itu.


"Oke, percuma juga dijelasin, kamu nggak akan ngerti. Intinya, makan aja." Ragu-ragu Freya meraih coklat itu dan mulai menggigit ujungnya. Rasa manis bercampur pahit segera menyapa indera perasanya. Freya selalu suka coklat, tapi dia tidak pernah membayangkan akan menggigiti makanan ini di saat seperti ini. Laki-laki di sampingnya berkata bahwa coklat bisa membantu perasaannya lebih baik, jadi Freya terus memakannya meski tangisnya belum juga berhenti. Sedetik kemudian Freya merasakan sebuah tangan menepuk-nepuk puncak kepalanya dengan kaku. Freya lantas mendongak dan menemukan laki-laki di sampingnyalah yang melakukan itu. Cepat-cepat ia menarik kembali tangannya.


“Jangan nangis lagi,” katanya. Dia lalu menjatuhkan sisa coklatnya ke pangkuan Freya. Setelahnya, dia berdiri dan menyandang ranselnya di bahu.


“Kakak mau ke mana?” Freya bertanya panik, enggan ditinggalkan sendirian.


“Pulang,” jawabnya. Dia lantas cepat-cepat menambahkan, “Mau cari kakak kamu juga.”


Sebetulnya Freya ingin menahan laki-laki itu, tapi katanya dia akan mencarikan Kenan. Jadi Freya membiarkannya pergi.


"Makasih coklatnya, Kak." Freya bergumam sebelum laki-laki itu beranjak. Sepeninggal laki-laki itu, Freya kembali sendirian. Satu batang coklatnya sudah habis. Laki-laki itu ada benarnya, Freyq tidak lagi setakut sebelumnya. Saat itu orang tuanya sudah berhenti bertengkar, pekikan dan suara lemparan barang sudah tidak lagi terdengar sehingga kini seluruh rumah menjadi kembali sunyi. Dari lantai dua Freya bisa melihat Ayah Erik berjalan menuruni tangga dengan wajah kusut.


Padahal air mata Freya masih membekas di pipi, matanya masih sembab, dan raut takut masih tersisa di wajahnya. Tapi ayahnya bahkan enggan memberinya satu pelukan menenangkan, ayahnya lebih memilih pergi menjauh ketimbang menenangkannya. Freya kembali terisak. Kali ini tangisannya pecah dan mencuri kesunyian seisi rumahnya. Mamanya masih ada di lantai dua, mestinya mamanya turun dan menghampirinya. Harusnya Mama Haura yang datang dan memeluknya. Tapi alih-alih mamanya, Freya justru mendengar suara Kenan dari kejauhan. Kenan berderap menghampirinya dengan tangan membawa sekantong keresek minimarket.


"Dek, kenapa?" Kena bertanya panik sambil menarik kedua bahu Freya, mengamatinya dari atas ke bawah, berusaha mencari tahu barangkali adiknya itu terluka. "Apa ada yang sakit, Hmm? Di mana?" Freya menggeleng, lalu bertanya di sela tangisannya, “Kak Kenan ke mana aja dari tadi? Mama Haura sama Ayah Erik berantem lagi, aku takut."


Ini membuat kedua mata Kenan melebar. Dia segera menarik Freya ke dalam pelukannya.


“Maaf, tadi Kakak ke minimarket dulu, belanja cemilan buat kita. Maaf Kakak pergi kelamaan dan ninggalin kamu sendiri.” Dia lalu menghela napas. “Sekarang ayah sama mama di mana?”


“Ayah Erik pergi, Mama Haura masih di atas.” Freya menjawab dengan suara tersendat. “Ayah Erik liat aku nangis, tapi Ayah Erik nggak mau peluk aku. Ayah Erik malah pergi gitu aja, Kak.”


Kenan mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Freya saat mendengar cerita Freya.


“Maaf, Dek. Maafin Kakak. Harusnya Kakak ada di sini nemenin kamu tadi.” Hanya itu yang bisa diucapkannya. Dia lalu melepaskan pelukannya dan menatap adiknya. Dihapusnya air mata Freya. “Kita ke atas aja, ya?”


Freya mengangguk setuju. Keduanya lalu berjalan ke atas, masuk ke kamar dan mengunci diri di sana seharian. Hal yang selalu dilakukan keduanya ketika orang tua mereka bertengkar.


Kehadiran Kenan saat itu sudah lebih dari cukup untuk menghibur kesedihan Freya. Bocah kecil itu tidak sempat memikirkan hal lain, termasuk menanyakan tentang sosok laki-laki yang tadi menemaninya dan memberinya coklat.


Ya... Setelah kematian Kakek Diandra dan Nenek Audrey karena kecelakaan, Haura dan Erik pun menjadi wali dari Freya karena tidak ada saudara lagi yang menjaganya, jadi Erik selaku adik angkat dari Reyandra pun dengan sigap membawa Freya ke rumahnya, dan setelah satu tahun Freya diasuh oleh mereka berdua dengan kasih sayang yang penuh tiba-tiba masalah yang membuat hubungan mereka pun jadi merenggang dan jadi sering bertengkar.


Ya... Hubungan Haura dan Erik merenggang karena adanya wanita yang tiba-tiba saja datang kerumahnya sambil membawa Kenan dan mengatakan kalau Kenan adalah putranya. Dan saat tes DNA pun memang benar kalau Erik adalah Ayah kandung Kenan.


Erik yang tidak sadar akan kelakuannya yang suka berganti-ganti pasangan sebelum menikah dengan Haura menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


So... bagaimana kelanjutan cerita putri dari Reyandra dan Islandzandi kedepannya...


Nantikan ya... jgn lupa klik Fav, like juga komen biar author semangat terus nulisnya ... seee you bye...



Freya Adira Putri