Islandzandi

Islandzandi
Dating



"Gemesin banget, sih," gumamnya sambil menahan senyum. "Lupa umur apa gimana ini dosen."


Freya :


PAK NGGAK USAH NGEGEMESIN BISA?


"Ah, kok keliatannya bucin banget, ya?" Freya bergumam sendiri membaca ketikannya. Cepat-cepat dia hapus dan menggantinya dengan kalimat lain.


Freya :


PAK GEMES AMAT CASE HPNYA


Bener ya, Pak Ori tuh luaran L-men daleman Bebelac.


Pada akhirnya, Freya memilih mengomentari stiker karakter snoopy yang ditempel di bagian belakang case ponsel Orion. Sebetulnya agak tidak mengerti juga kenapa laki-laki itu, di usia yang tidak lagi muda, malah memilih menempeli case beningnya dengan karakter kartun.


Dosen Favoritku :


Heh, sembarangan


Daleman daleman, kayak kamu pernah liat aja daleman saya


Freya :


NGGAK GITU PAK KONSEPNYA


Susah ngomong sama orang tua


Dosen Favoritku :


HEH


Saya mau marah, tapi bener, jadi ya udah skip aja


Gimana nih? Ayo jalan


Freya menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Dia mengambil selfie dengan kameranya, lalu mengirimnya pada Orion.


You sent a picture to You Dosen Favoritku


Freya :


Pak, tapi saya masih dekil



Dosen Favoritku :


Cantik gitu, dekil apanya


Lagian pagi-pagi gini ngapain


kamu udah ngopi? Udah sarapan belum?


"Dih, bisaan ngalusnya." Freya bergumam meski dia tidak bisa menahan senyuman yang kini menghias bibirnya.


Freya kemudian menarik bahu Arkana agar pemuda yang juga tengah asik dengan ponselnya menoleh padanya.


"Ar, liat sini," ucap Freya dan langsung memotret wajah sahabatnya. Foto itu lantas segera dikirimkan pada Orion.


You sent a picture to Dosen Favoritku.



Freya :


Salahin dia aja, Pak


Pagi-pagi dia ke rumah saya, ngajakin lari pagi, padahal saya udah bilang lagi males gerak.


Eh, taunya dia malah stay di rumah saya sambil ngajakin ngopi, ya udah deh sayanya nggak bisa nolak hehe


Pesannya itu langsung terbaca, tapi tidak segera dibalas oleh Orion. Beberapa detik kemudian justru panggilan masuk dari pemuda itu. Freya mengerutkan kening meski tetap menerimanya.


"Halo, Pak?"


"Kok kamu barengan sama Jovan, sih? Lagian udah ada cowok tapi kamu masih pake pakaian kayak gitu?" Orion mengabaikan sapaannya.


Freya justru terkekeh mendengar suara jengkel Orion.


"Kan saya udah bilang, dia tadi ngajak lari pagi, tapi saya nolak, jadi ya udah kita ngaso sambil ngopi. Lagian apa salahnya pakaian saya? Udah biasa juga kok Arkana liat aku pake beginian."


"Hah...Temen kamu, tuh, ya pinter banget modusnya. Ganti bajunya! Terlalu sexy!" Orion mendengus dari seberang sana.


"Ck, Apaan sih, Pak." Freya lagi-lagi terkekeh. "Nggak usah cemburu, inget yang saya bilang waktu itu?"


"Hmm." Di seberang sana, Orion hanya menanggapi dengan gumaman panjang. "Emang kamu bilang apa? Coba kasih tau saya sekali lagi."


Freya memutar mata mendengar ini, tahu Orion hanya berusaha menggodanya. "Nggak boleh pura-pura lupa, nanti jadi pelupa beneran."


Sementara di sampingnya, Arkana yang sejak tadi mencuri dengar. Meski saat ini Orion tidak benar-benar ada di sini, dia tetap merasa seperti obat nyamuk. Laki-laki itu mengesah dan mencopot jepitan rambut yang tadi Freya pasangkan di poninya.


Dari sisi matanya, Freya menyadari ini. Dia refleks menukas.


"Heh, apaan yang dicopot? Cakep apaan?" Di sambungan telepon, Orion ikut heboh menukas mendengar perkataan Freya tadi


"Udah ah, gue balik aja, bete juga lama-lama jadi obat nyamuk," cetus Arkana sambil beranjak dari duduknya. Dia meninggalkan cup kopinya yang sudah kosong di atas meja sebelum berjalan pergi. "Dah!"


"Ah, nggak seru. Lo masih ada utang buat gue dandanin loh, ya!" Freya berseru pada punggung Arkana yang menjauh, dan hanya ditanggapi dengan lambaian tangan. Dia lalu kembali pada ponselnya.


"Bapak sih, ah, jadi aja Arkananya ngambek. Pulang tuh dia."


"Ya bagus, dong. Kan kita mau jalan," sahut Orion cepat.


"Jalan ke mana sih, Pak? Ngebet banget dari tadi."


"Ada deh pokonya." Orion kedengaran antusias. "Kamu siap-siap aja, bentar lagi saya jemput. Oke?"


"Ya udah, iya. Saya mandi dulu. Jangan terlalu cepet ke sininya, saya mau nyantai siap-siapnya." Freya berujar sambil beranjak bangun.


"Nggak usah cantik-cantik. Nanti banyak yang suka." Orion menyahut dengan serius.


Mendengar ini Freya terkekeh pelan. "Apa sih, Pak."


Kenyataannya, meski Freya berdandan cantik pun memang tidak akan ada yang naksir padanya.


Maksudnya, mana mungkin ‘kan manekin-manekin di balik kaca yang kini memakai pakaian adat bisa jatuh hati padanya?


Iya, jadi ini jalan-jalan yang Orion maksud. Jalan-jalan mengitari sebuah museum berisi peninggalan kebudayaan milik kota ini.


Sejak tadi Freya yang berjalan mengekori Orion sudah berulang kali menahan kuapannya.




Sementara laki-laki itu asik sendiri mengamati satu per satu koleksi di balik kaca sambil sesekali memotretnya menggunakan kamera di tangan.


Katanya sih, pemuda itu tengah berusaha mencari data penunjang untuk artikel ilmiah yang tengah digarapnya. Demi apa pun Freya tidak pernah menyangka agenda kencannya akan dihabiskan di museum seperti ini.


Kali ini Freya tidak bisa lagi menahan kuapannya. Dia menguap lebar, dan langsung menutupinya dengan tangan.


Orion yang semula tengah memotret sepasang manekin yang dipasangkan pakaian pernikahan khas daerah lantas menoleh. Dia terkekeh begitu menyadari Freya sudah bosan setengah hidup.


"Bosen, ya?" tanyanya sambil melihat hasil potretannya tadi, lalu kembali menoleh pada Freya. "Emang museum ini nggak menarik buat kamu?"


Freya memandang sekelilingnya. Perhatiannya terhenti pada replika suasana rumah rakyat pada masa penjajahan yang terletak di seberang manekin tadi. Benar-benar kelihatan nyata, dan entah kenapa malah membuat bulu kuduknya meremang.


Freya mengusap tengkuknya lalu kembali menatap Orion. "Mm, menarik, sih. Tapi saya nggak nyangka aja tujuan kita jalan tuh ke sini."


Orion terkekeh lagi mendengar ini. "Padahal tadi kamu keliatan excited?"


Sambil memasang senyum lebar, Orion balas menatap Freya. Dia menyusupkan sebelah tangannya ke saku sementara tangannya yang lain masih menggenggam kamera.


"Ya udah, abis ini kamu yang nentuin kita mau ke mana."


Freya terdiam sejenak. Tatapannya jatuh pada kamera di tangan Orion. Sebuah ide terlintas di benaknya. Dia lantas melirik jam di tangannya. Sepertinya masih ada waktu untuk sampai ke tempat itu.


"Bener ya, saya yang nentuin?" Freya memastikan sambil memasang cengiran. "Tapi agak jauh dari sini nggak apa-apa ‘kan?"


****


"Ini sih, bukan agak jauh lagi. Emang jauh banget." Orion menukas pada Freya yang berjalan di sampingnya dengan senyuman lebar.


Freya menoleh padanya dan tertawa kecil. "Nggak apa-apalah, Pak, sejauh-jauhnya perjalanan ke Lembang, akhirnya selalu bisa bikin relaks 'kan?"


Tawa Freya mau tidak mau membuat Orion ikut tersenyum. Meski perkataannya memang tidak salah. Udara segar yang tidak bisa dihirupnya di tengah hiruk pikuk kota, menyambutnya di sini. Belum lagi tempat wisata ini memang didesain secantik mungkin dengan bangunan dan nuansa khas Eropa, sehingga Orion dapat memanjakan matanya.


"Pak, foto saya di sini!" Freya berlari kecil menuju sebuah bangku di tengah taman bunga dan segera memasang pose.


Orion terkekeh kecil. "Jadi saya bertugas sebagai fotografer kamu gitu hari ini?"


"Iya." Freya mengangguk cepat tanpa berpikir. "Suruh siapa bawa kamera. Lagian tiap saya ke sini pasti selalu gerombolan dan nggak pernah dapet foto sendirian yang bagus."


"Malah curhat kamu," dengus Orion lalu tertawa kecil. Meski begitu dia tetap mengarahkan kameranya pada Freya dan membuat perempuan itu kembali berpose.


"Wah, bagus." Freya berdecak kagum begitu melihat hasil tangkapan kamera Orion. Dia lantas mendongak dan menatap Orion dengan serius. "Memori Bapak masih banyak? Kayaknya saya bakalan penuhin memori Bapak sama muka saya."


Lagi-lagi Orion terkekeh mendengar ini. Dia mengusak kepala Freya dengan gemas. "Iya, penuhin aja."


Freya tidak main-main dengan ucapannya. Dia berpose di setiap spot dan membiarkan Orion memotretnya dengan berbagai gaya. Hingga akhirnya, mereka tiba di wilayah kandang kelinci. Freya memekik gemas dan segera menghampiri kelinci-kelinci itu.


Dia membungkukan tubuhnya di depan kandang, demi melihat lebih dekat.


"Lucu banget, gendut-gendut." Freya bergumam gemas. Di sampingnya Orion terkekeh.


"Kamu suka kelinci?" tanyanya. Freya mengangguk cepat dan mengeluarkan ponselnya. Dia membidik kelinci-kelinci tadi dengan kamera ponselnya.


"Lucu. Mereka mirip banget sama Arkana." Freya tertawa sendiri sambil mengamati hasil potretannya. Teringat sahabatnya itu yang baginya memang terlihat mirip dengan kelinci. "Kirimin ke Arkana dulu, deh. Suruh dia liat kembarannya."


Di mata Freya, Arkana memang nampak serupa dengan kelinci berkat dua gigi depannya yang lebih besar dari gigi-giginya yang lain. Selain itu, Arkana juga memiliki wajah yang imut sehingga rasanya pas jika disandingkan dengan kelinci. Kendati begitu, dia tidak pernah suka disamakan dengan binatang menggemaskan itu. Arkana selalu berakhir mencak-mencak marah setiap kali Freya menyinggung kemiripannya dengan kelinci-alasan yang membuat Freya semakin senang menggoda sahabatnya itu.


Sementara itu Orion mendengus melihat Freya kini malah fokus pada ponselnya sambil tertawa-tawa. Tanpa mengatakan apa pun, laki-laki itu berjalan menjauh meninggalkan Freya.