
"Saya cuma nyusulin Deka terus kejebak ujan, Pak, jadi nggak bisa balik ke taman belajar. Hp saya abis batere makanya nggak bisa dihubungin. Kalau ujannya reda saya juga pasti langsung ke sana lagi." Freya menjelaskan begitu Orion ikut duduk bersamanya dan Deka.
"Lagian emangnya saya anak kecil, yang sampai nggak hafal jalan balik ke taman belajar...."
Orion menghela napas. Dia menyugar rambutnya yang basah. Dipandanginya hujan yang masih belum juga reda. Dia juga tidak mengerti kenapa bersikap impulsif begitu dengan langsung mencari Freya di tengah hujan deras.
"Saya ... Panik waktu tau kamu mungkin nyasar dan nggak bisa dihubungin." Dia menambahkan dalam suara kecil, "Mungkin efek dari kejadian itu."
Freya ikut menghela napas. "Saya udah nggak apa-apa, Pak."
Dia lalu menoleh pada Freya dan menatapnya lama. Mungkin memang benar Orion hanya bersikap berlebihan tadi. Freya kelihatan baik-baik saja. Kenapa dia begitu mencemaskan perempuan ini, sih?
Tatapan Orion kemudian jatuh pada Deka yang sejak tadi diam.
"Kamu juga, kenapa pake kabur segala? Bikin orang-orang panik aja." Orion menyerang Deka sekarang.
Di tempatnya Deka mengkeret takut. Freya segera memeluk bocah itu dan menatap Orion galak. "Kok jadi marahin Deka?"
Orion menghembuskan napas pelan. "Bukan marahin."
"Aku nggak mau belajar."
Atensi Freya dan Orion segera teralihkan begitu mendengar suara kecil Deka.
"Aku nggak pernah ngerti sama pelajaran yang dikasih kakak-kakak." Deka berujar lagi dengan suara mencicit.
"Temen-temen yang lain selalu ngeledekin dan ngetawain aku karena aku paling bego di sana. Aku nggak suka diledekin, makanya mending nggak usah belajar sekalian."
Freya terhenyak mendengar ini. Tidak pernah mengira alasannya justru sesederhana itu.
Orion perlahan berdiri dari duduknya dan berjongkok di hadapan Deka sehingga kini wajah mereka sejajar. Diraihnya kedua bahu bocah itu.
"Deka, dengerin Kakak ya," ucap Orion. Freya bersumpah dia tidak pernah mendengar Orion bicara selembut ini. "Di dunia ini nggak ada usaha yang sia-sia. Jangan takut usaha kamu buat belajar itu bakalan berakhir sia-sia, karena kalau kamu serius, pasti bakalan ada jalan buat sukses."
Perlahan Deka memandang Orion dengan kedua mata bulatnya, tatapannya penuh tanda tanya.
"Waktu kecil Kakak juga pernah jadi murid paling bodoh dan dihina-hina sama temen-temen Kakak." Orion berujar lagi, dan ini berhasil membuat Freya menatapnya terkejut. "Tapi apa Kakak nyerah belajar? Engga, Kakak justru usaha makin keras. Buat buktiin kalau Kakak bisa sukses, buat bikin nyesel orang-orang yang pernah ngehina Kakak."
Freya tersenyum kecil. Tangannya lalu bergerak mengelus kepala Deka. "Iya, bener. Kamu mau tau, sekarang kakak ini berhasil jadi dosen. Kakak-kakak yang selama ini ngajarin kamu dan temen-temen kamu di taman belajar, murid dari Kakak ini. Hebat 'kan?"
Mendengar ini Deka menatap Orion dengan takjub. Freya melirik Freya sekilas lalu tertawa kecil. Digenggamnya kedua tangan mungil Deka dan berujar dengan meyakinkan, "Kamu juga bisa jadi orang hebat, orang sukses. Asal, jangan pernah nyerah. Usaha terus."
Perlahan Deka menganggukan kepalanya.
"Janji ya, besok-besok nggak akan kabur lagi?" Orion mengacungkan kelingkingnya pada Deka dan segera disambut bocah itu. Keduanya menautkan kelingking mereka.
Di tempatnya Freya terkekeh dan mengusak kepala Deka dengan gemas. "Anak pinter!"
Orion lantas menoleh pada Freya dan tersenyum lebar. Sesaat keduanya hanya bertukar pandang sambil tersenyum, sampai mendadak, seorang ibu lewat di jalanan depan mereka dan menukas, "Pak, Bu, ngapain ujan-ujan gitu nangkring di luar? Kasian tuh anaknya kedinginan."
Kedua mata Freya seketika membola. Dengan panik dia berseru pada ibu itu, "Bukan! Ini bukan anak saya!" Dia menyilangkan kedua tangannya dengan heboh. "Saya juga bukan ibu-ibu!"
Sementara Orion hanya tergelak. Geli sendiri karena ucapan iseng ibu-ibu tadi sebenarnya menyuarakan isi kepalanya.
"Kita emang udah cocok jadi orang tua deh kayaknya," katanya sambil terkekeh-kekeh.
Freya seketika bergidik. "Dih, Bapak aja ya, saya masih muda gini."
***
"Padahal saya masih bisa nyetir sendiri, Frey."
Freya berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sekarang keduanya sudah di dalam mobil Orion, dalam perjalanan pulang. Tadi, setelah hujan reda, Freya, Orion dan Deka kembali ke taman belajar. Mereka meneruskan sesi belajar yang tinggal tersisa beberapa menit, lalu anak-anak dibubarkan. Sementara anggota Shine lainnya satu per satu pulang, Naya berdalih ia memiliki urusan yang harus diselesaikan, padahal sebenarnya dia diam-diam pulang bersama Orion. Ah, bukan, dia mengantar pulang Orion dengan mobilnya.
Masih tetap fokus pada roda kemudi, Freya menjawab, "Bapak nggak berhenti bersin dari tadi loh, gimana ceritanya bisa fokus nyetir sendiri? Lagian anggap aja saya lagi balas budi."
Orion menggosok hidungnya yang memerah lalu menatap Freyq bingung. "Balas budi?"
"Ya Bapak 'kan jadi sakit gitu gara-gara nyari-nyari saya di tengah ujan." Freya menukas lalu menambahkan dalam gumaman yang masih bisa didengar Orion, "Lagian hidupnya kayak film India aja pake lari-larian di tengah ujan."
Orion bisa merasakan wajahnya memerah malu. "Saya nggak sakit," tukasnya cepat. "Dan saya nyariin kamu sambil ujan-ujanan bukan buat niruin film India ya, saya khawatir sama kamu. Paham nggak?"
"Iya, iya, paham. Makasih udah khawatirin saya, ya." Freya menoleh pada Orion dan memasang senyum lebar yang dipaksakan. Sedetik kemudian, senyumnya luntur lagi. "Dan Bapak udah sakit, udah bersin-bersin gitu. Bentar lagi juga pasti demam."
"Kamu nyumpahin saya?"
"Bukan nyumpahin, Pak. Itu fakta. Kalau orang ujan-ujanan ya pasti demam." Freya berujar sabar sambil mematikan mesin mobil. Mereka sudah tiba di parkiran apartemen Orion.
"Terus ini kamu pulangnya gimana coba?" Orion bertanya. "Saya pesenin ojek online aja, ya?"
Freya lantas menggeleng dan melepas seatbelt-nya. Ditatapnya Orion lurus-lurus. "Saya mau masakin bubur dulu buat Bapak, siapin obat, pastiin Bapak istirahat biar sembuh, baru saya pulang."
Orion mengerjap. "Seriusan?"
"Iya." Freya tanpa ragu mengangguk. "Kan Bapak jadi sakit gini gara-gara saya, ya saya harus tanggung jawablah biar Bapak bisa sembuh."
"Emang saya bakalan ngijinin kamu masuk apartemen saya?" Orion bertanya main-main.
Freya mengedikan bahunya. "Ya saya bakalan tetep maksa masuk kalaupun Bapak nolak."
Perlahan bibir Orion mengulas senyum lebar. "Wah Frey, udah berani ya sekarang kamu."
Kedua pipi Freya dengan cepat memerah malu.
"Apa sih, Pak. Dibilangin saya lakuin ini karena pengen balas budi. Paham nggak?" Dia membalikan perkataan Orion sebelumnya.
Orion terkekeh melihat wajah merona Freya. "Iya, iya, paham. Makasih ya mau balas budi sama saya."
Setelahnya, dia kembali bersin-bersin.
Freya menghela napas lalu segera turun dari mobil. "Udah ah, Pak cepet masuk, nanti makin parah tuh."
Sesuai janjinya, begitu tiba di dalam apartemen Orion, Freya segera bersiap memasak bubur. Dia yang semula sibuk mempersiapkan bahan-bahan di dapur, menoleh ketika merasakan tengah diperhatikan.
Benar saja, dilihatnya Orion tengah duduk di meja makan sambil bertopang dagu memperhatikannya. Senyum lebar terulas di bibirnya.
Yang membuat Freya panik adalah, Orion belum mengganti bajunya sama sekali.
"Bapak ngapain sih di situ?" Freya bertanya galak. "Sana mandi pake air panas, ganti bajunya. Nanti makin parah sakitnya, Pak."
Freya terkekeh kecil tapi tetap berdiri dari duduknya. Sebelum berlalu, dia mendekati Freya dan berbisik pelan, "Tau nggak, untuk pertama kalinya saya berasa punya istri yang ngurusin saya."
Setelah mengatakan itu, dia menjauh begitu saja. Meninggalkan Freya yang dibuat syok sendiri.
"Kenapa sih, Pak ...." Freya menggumam, heran sekali dengan perkataan Orion seharian ini. "Lagi ngebet nikah apa, ya. Tapi kok ributnya ke gue."
Freya menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir pemikiran itu dari kepalanya. Dia lalu melanjutkan pekerjaannya dalam diam.
Sampai buburnya matang, Orion tidak lagi mengganggu Freya. Perempuan itu memanggil namanya, meminta agar Orion datang ke dapur untuk mengambil buburnya. Tapi, hanya hening yang menyambut Freya.
"Apa ketiduran, ya?" Freya bertanya pada dirinya sendiri.