
"Tapi kenapa ceritain ini sama saya?" Naya kemudian bertanya.
"Kenapa?" Aubrey mengulang sembari menelengkan kepala.
"Karena seperti yang udah gue bilang, lo itu bener-bener bukan tipenya Orion. Makanya gue nggak percaya kalau lo beneran ceweknya. Tapi ternyata reaksi Orion waktu gue main-main sama lo bener-bener nggak terduga. Gue rasa, lo itu spesial buat Orion."
Spesial?
Freya mengulang dalam hati.
"Gini ya, Orion nggak pernah serius sama cewek. Tapi sama lo, dia sampe sepeduli itu, padahal kayak yang gue bilang, lo itu bukan tipenya." Aubrey menjelaskan. "Apalagi kalau bukan spesial 'kan?”
Freya terdiam. Tidak tahu harus mempercayai ini atau tidak.
"Yang mau gue bilang adalah, jaga baik-baik hubungan lo sama Orion. Katakanlah lo tuh one in a million. Harus bersyukur lo," tukas Aubrey lagi sembari meminum kopinya. "Di luar sana banyak cewek yang mau ada di posisi lo tau."
Freya mengembuskan napasnya. Kemudian menatap Aubrey heran. "Aneh denger kalimat itu dari cewek yang pernah nyelakain saya."
"Hampir nyelakain.” Aubrey mengoreksi sambil mengedikan bahu. "Harus gue akuin, gue ngerasa bersalah sama lo. Makanya gue pengen hubungan lo sama Orion baik-baik aja."
Freya menyeringai tipis. "Ini permintaan maaf?”
Aubrey lagi-lagi mengedikan bahu. "Ya... Semacam itulah." Dia lalu beranjak bangun dari duduknya. "Udah ah, gue pergi dulu.”
Freya mendengus dan membiarkan Aubrey melenggang pergi. Untuk kedua kalinya, dia kembali sendirian. Namun kali ini pikiran tentang Orion memenuhi kepalanya.
Tadi Aubrey menceritakan sedikit tentang masa lalu Orion. Setelah dipikirkan, Freya tidak pernah tahu banyak tentang Orion. Dia meraih ponselnya dan sejenak meragu.
Tapi penjelasan Aubrey benar-benar membuatnya tergelitik untuk kembali mencari tahu.
Akhirnya, Freya membuka Instagramnya dan mencari satu akun. Dia ingat pernah melihat akun itu di bagian komentar postingan Orion.
Halo Kak Evan, ini Freya. Masih inget?
Ada yang pengen saya tanyain, kalau ada waktu boleh ketemu nggak?
Freya berhenti sejenak lalu cepat-cepat menambahkan.
Tapi saya nggak mau ketemu di Nightiest, Kak
***
"Pasti tentang Sean 'kan?"
Evan tak butuh waktu lama untuk menebak isi kepala Freya. Membuat gadis itu tersenyum malu dan mengangguk. Sore itu mereka duduk berhadapan di sebuah kafe dekat Nightiest.
"Iya. Saya pengen denger masalah ini dari sudut pandang lain,” sahut Freya. "Keliatannya Kak Evan deket sama Pak Ori, pasti tau banyak 'kan?"
Evan mendengus geli. Lucu juga mendengar Freya memanggilnya 'kakak' dan menyebut Orion 'Bapak'. Tapi dia mengabaikan hal itu.
"Kenapa nggak langsung tanya ke Orion?" tanya Evan kemudian.
"Pak Ori udah jelasin ke saya. Saya mau denger dari sudut pandang lain," jawab Freya.
Sejenak Freya memikirkan ini. Dia sudah memutuskan melepaskan Orion. Mungkinkah pemikirannya bisa berubah?
"Mungkin," gumam Freya pelan.
Evan mengangguk-angguk lalu meminum kopinya sebelum memulai.
"Rasa dendam Orion mungkin udah terlalu gede. Nggak usah gue jelasin lagi 'kan sebesar apa kesalahan yang udah dibuat sama Kakak sepupu lo. Gue bisa ngerti kalau Orion pengen balas dendam, meski emang caranya juga salah." Dia berhenti sejenak dan memandangi Freya. "Lo nggak ngerasa lo pantes nerima ini semua 'kan? Yang salah abang lo, nggak seharusnya lo ikut-ikutan kena."
Freya tersenyum kecil, agak tidak menyangka Evan akan menghiburnya begitu.
"Gue udah peringatin Orion. Karena gue tau, dari awal dia udah tertarik sama lo. Dia bakalan nyesel ngelakuin ini. Dan terbukti, emang bener pada akhirnya Orion nyesel. Berkali-kali dia datangin gue, minum-minum dan bilang kalau nggak seharusnya dia lakuin itu sama lo. Saat itu dia bingung sendiri, semacam hilang arah, nggak tau harus berbuat gimana lagi. Lo inget 'kan waktu dia mendadak ngejauh dan datang lagi? Itu bentuk dari rasa bingungnya. Dia nggak mau nyakitin lo lebih jauh, tapi nggak bisa lepasin lo gitu aja.” Evan memutari mulut cangkirnya dengan jemari lalu menatap Freya sekilas. "Gue sempet kasih saran, bisa aja dia kembali sama lo dan pura-pura seakan niatan balas dendamnya nggak pernah ada. Tapi dia nolak. Dia nggak mau dihantuin rasa bersalah sama lo."
"Pak Ori berniat jelasin semuanya sama saya setelah dia siap, tapi nyatanya dia nggak pernah siap." Freya meneruskan, mengingat perkataan Orion tempo hari. "Dan sebelum dia sempet, semuanya udah terlanjur kebongkar."
Evan mengangguk membenarkan.
"Gue tau, sekarang di mata lo Orion pasti lebih dari sekedar bajingan. Dia jahat pernah berniat ngelukain lo. Ngedeketin lo cuma buat balas dendam." Evan lantas menelengkan kepalanya. “Mungkin lo juga bertanya-tanya, apa perasaan Orion buat lo beneran nyata, atau bagian dari rencana balas dendamnya."
Freya mengangguk pelan, tidak menyangka Evan bisa menebaknya semudah itu.
"Gue cuma mau bilang, emang bener Orion punya niat jahat sama lo di awal. Tapi di tengah jalan dia sadar kesalahannya. Dia nyesel dan berniat buat perbaikin kesalahannya meski mungkin nggak sempet." Evan berujar perlahan sembari menatap Freya serius. "Kalau misalnya lo ragu sama perasaan Orion yang sebenernya, coba aja lo pikirin. Nggak mungkin 'kan Orion kembali sama lo setelah dia berusaha buat pergi? Sebesar itu keinginan dia buat bisa terus sama lo."
Freya terdiam memikirkan ini.
Benarkah? Benarkah seperti itu?
"Gue nggak minta lo maafin Orion. Mungkin itu terlalu berat buat lo," cetus Evan. Seulas senyum tipis kemudian terukir di bibirnya. "Tapi lo mau tau? Ketika lo maafin seseorang, lo juga udah ngebebasin diri lo sendiri. Dari rasa marah, dari dendam. Jadi memaafkan itu bukan buat orang lain, tapi buat diri lo sendiri."
Mendengar ini membuat Freya terpekur. Sebelumnya dia tidak pernah benar-benar memikirkan ini.
"Lo tau kenapa Orion sampai berbuat sejauh ini? Karena dia nggak pernah maafin Kenan. Karena dia ngejebak dirinya sendiri dalam rasa marah. Dia ngebiarin dirinya terus-terusan terluka. Orion nggak pernah maafin Kenan, secara nggak langsung dia nggak pernah ngebiarin dirinya sendiri untuk tenang. Sampai akhirnya, rasa marah itu berbalik nyakitin dirinya sendiri." Evan menghela napas dan menatap Freya lamat-lamat. "Gue berharap hal itu nggak terjadi sama lo.”
Freya tidak mengerti kenapa kedua kakinya membawanya menuju kosan Rania alih-alih menuju Apartment Ayahnya sendiri. Seperti ada tarikan magnet, begitu saja dia menaiki bus yang membawanya ke daerah kosan Rania, lalu langkahnya tersusun ke sana tanpa diperintah. Bahkan ketika dia mengetuk pintu dan berdiri memasang tampang memelas, Rania tidak tampak terkejut mendapati kehadirannya.
Mungkin, sahabatnya itu sudah bisa menebak dan memahami alasan Freya muncul di sini sekarang.
Maka tanpa basa-basi, Rania menggeser tubuhnya ke samping, mengizinkan Freya berjalan masuk ke kamar kosnya yang berantakan. Lihat, hanya orang tidak waras-dan punya banyak masalah seperti Freya yang sudi menginjakan kaki di ruangan seberantakan kamar kos Rania. Rania bisa menduga, kepala Freya sepertinya sudah benar-benar konslet sekarang. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain menerima kawannya itu untuk berlindung di sini.
"Lo belum pulang ke rumah dan ngobrol lagi sama Kak Kenan? Masih ngehindar?" Rania bertanya ketika Freya menjatuhkan tubuh di atas kasurnya. Dia mendudukan diri di kursi belajarnya, menekuk kedua kakinya ke atas dan mengamati Freya yang nampak seperti orang yang baru saja dikejar-kejar rentenir, begitu banyak pikiran.
Freya menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu memejamkan mata. Sebenarnya perkataan Evan tentang konsep memaafkan tengah mengisi kepalanya sekarang.
Bukannya dia enggan memaafkan Kenan, sih.
Hanya saja... dia belum siap bertemu kakak sepupunya itu. Mungkin memang benar dia masih marah pada Kenan, dan masih belum mau memaafkannya. Rasanya dia belum bisa menerima kakak sepupunya menjadi alasan terbesar dari masalahnya dengan Orion. Freya masih ingin menghukum Kenan sedikit lebih lama.
Mungkin dia akan memaafkan kakaknya. Mungkin. Itu pun nanti, entah kapan.